BAB 22
Orang-orang mendecakkan kalimat senada, tidak mengira bahwa Sebastian dan Katya akan berjodoh.
Katya dan Sebastian menghabiskan banyak waktu di tempat indah itu. Selain di badan amal yang rutin dihadiri Katya, mereka juga melewatkan waktu di Porrobello Beach yang menawan hingga mengikuti tur di Royal Yacht Britannia. Sebastian mengajak serta semua anak di Solitude, membuat mereka diolok-olok Georgina karena berbulan madu dengan serombongan remaja yang mengikuti.
Allah memang suka membuat kejutan, memasangkan hal-hal yang sejak awal dirasa mustahil
bersama. Katya luar biasa bahagia karenanya. Sambutan Thelma menjadi hal yang paling tak terduga.
Anak itu menghambur ke dalam pelukannya, membisikkan betapa mereka merindukan Katya. Saat kembali ke London bersama Phil dan Thelma, Katya tidak berhenti mengucap syukur.
Sebastian sudah menyiapkan segalanya dengan cermat. Phil menempati sebuah apartemen studio yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal pasangan Meir. Anak itu akan segera melanjutkan sekolahnya.
Thelma memilih serumah dengan Katya dan Sebastian untuk sementara.
Ternyata, hidup Katya masih enggan menjauh dari pacuan adrenalin. Hari itu, sedianya Katya akan menemani Bridget ke dokter kandungan. Hubungan mereka kian dekat seiring waktu. Thelma sejak pagi memaksa ikut dengan Phil dan Sebastian ke kantor Belle Femme. Hanya ada Katya sendiri saat bel berdentang. Mengira Bridget yang datang menjemputnya, perempuan itu membuka pintu dengan penuh semangat.
Katya menyipitkan mata saat melihat seseorang yang tak dikenalnya berdiri di depan pintu.
Perempuan matang itu cantik dan bergaya. "Maaf, Anda mencari siapa?" tanyanya setelah sang tamu cuma membatu tanpa ekspresi. Kata-kata Katya seakan menyentaknya, membuat perempuan itu
mengerjap. Di ujung lorong, lift terbuka. Seseorang berjalan keluar, perhatian Katya teralihkan untuk sejenak.
"Kau seharusnya tidak menikahinya. Aku mengorbankan segalanya karena ingin bersamanya, Tapi, kau menghancurkan semuanya." Kebencian yang menusuk terpentang di matanya. "Kau memanfaatkan usia mudamu untuk menjeratnya. Kau sudah merebutnya dariku!"
Bibir Katya terbuka, tidak mengira akan mendengar kata-kata penuh penghinaan dari perempuan yang tak dikenalnya. "Maaf, sepertinya Anda salah orang." Dia bersiap untuk menutup pintu, Tapi, tamunya malah memajukan kaki untuk menghalangi.
"Kalau aku tak bisa mendapatkannya, maka kau juga tidak!" Sebuah benda teracung di depan hidung Katya. Tangan tamunya bergerak mantap, memegang sebuah revolver. Semuanya terjadi begitu cepat.
Ketika perempuan itu menarik pelatuknya, Katya terlalu terkejut untuk bergerak. Dia membaru dan cuma mampu melafalkan nama Allah. Namun, ternyata tidak terjadi apa pun kecuali suara klik yang bergema.
Hal itu seakan menonjok ulu hati Katya. Tamu tak diundang itu kaget saat menyadari pistolnya tidak bekerja dengan sempurna. Katya memanfaatkan momen tersebut untuk bergerak secepat yang dia mampu, memukul tangan kanan perempuan di depannya yang menggenggam pistol. Orang asing itu agak terhuyung, meneriakkan kata makian saat revolvernya terlepas. Katya maju tanpa ragu,
mempertahankan hidupnya. Dia menghadiahi perempuan itu sebuah jab yang diikuti dengan uppercut, hasil pelajaran tinju yang diikutinya berbulan-bulan.
Tamu tak diundang itu terlempar ke belakang dengan kepala terdongak. Katya maju lagi, bersiap memberikan long book untuk menjatuhkan perempuan itu saat David Ballard menyerbu. David dengan sigap meringkus perempuan itu, menguncinya di lantai, serta menendang revolver sejauh mungkin.
"Kau baik-baik saja, Kat?" tanyanya cemas dengan napas terengah. David yang baru keluar dari lift segera berlari sekencang mungking saat melihat ada orang mengacungkan senjata di depan pintu apartemen milik Sebastian.
"Aku... tidak apa-apa," Katya terduduk di lantai, mengucap syukur dengan suara lirih. Pengalaman barusan sungguh mengerikan. Di masa lalu, dia hanya berhadapan dengan orang murka bermodalkan tinju semata. Tapi, tamunya ini malah membawa senjata, berniat untuk mengakhiri hidup Katya.
Lututnya terasa luar biasa lemas, kedua tangannya pun trernor. Jantung Katya sepertinya memang benar-benar berhenti sesaat. Dia memandang tanpa daya saat petugas keamanan yang dihubungi David, datang dan membawa pergi tamu tak diundang itu.
Polisi datang secepat mungkin, disusul Sebastian yang menyerbu masuk dengan wajah luar biasa pucat. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya setelah yakin kalau Katya baik-baik saja.
"Kenapa ada banyak orang yang tertarik untuk..." Kalimatnya tak selesai. Katya yang sejak tadi menahan emosi yang bergolak di perutnya, menangis keras. "Aku... aku bahkan tak kenal siapa perempuan tadi."
Setelah Katya lebih tenang, Sebastian memberitahunya nama orang yang mengacungkan pistol tadi.
"Namanya Pippa, dia sudah bekerja di Belle Femme belasan tahun. Belum lama ini dia bercerai
dengan suaminya. Saat itu, suaminya malah sempat datang ke kantor dan menuduhku punya hubungan gelap dengan istrinya. Aku...."
Katya melepaskan pelukan Sebastian. "Kalian benar-benar punya hubungan asmara? Pantas saja dia menuduhku telah menjeratmu."
"Tentu saja tidak!" Sebastian mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Aku orang yang setia, Kat...,"
Laki-laki itu pura-pura cemberut. "Seharusnya aku sudah mulai curiga. Tapi, saat itu ku kira suami Pippa cuma cemburu buta. Setelah itu," Sebastian seperti mengingat-ingat saat keningnya berkerut samar, "Pippa bersikap lebih... apa ya? Lebih agresif, atau setidaknya mencoba menunjukkan bahwa kami dekat. Dia memelukku di depan banyak orang, hal-hal seperti itu. Aku merasa risih, tapi salahku karena tidak melakukan apa pun. Kukira, dia melakukan itu karena menyayangiku. Dia dulunya tangan kanan ibuku. Jadi, aku sudah mengenalnya sejak kecil."
Katya bersandar pada suaminya, memandangi tangannya yang sudah berhenti gemetar tapi masih terasa dingin. "Kurasa dia terobsesi padamu. Memangnya kau melakukan apa setelah dia bercerai?"
tanyanya ingin tahu.
"Aku tidak melakukan apa pun!" Sebastian membela diri. "Sebentar! Tadi aku sempat bertemu Pippa sebelum dia dibawa polisi. Dia bilang, aku yang memintanya melakukan ini. Bahwa kami punya hubungan serius yang hancur karenamu. Astaga, Pippa sudah gila! Memang, kami pernah
membicarakan soal perceraiannya. Itu pun cuma sekali. Aku tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang bisa membuatnya salah paham. Aku cuma menghiburnya, mengatakan akan membantunya kalau
dia kesulitan. Itu hal yang wajar, kan?" Suara Sebastian terdengar putus asa. "Aku benci harus
merasakan jantung yang mau meledak tiap kali mendengar sesuatu menimpamu," dia memeluk Katya dari belakang, menautkan jatijarinya di perut sang istri.
Katya pernah mendengar banyak obsesi semacam itu. Psikolog yang diundang Mary setiap minggu di Good Karma sudah memberinya banyak pengetahuan. "Kurasa, perempuan itu menggalarni gangguan erotomania. Dia yakin kau memendam perasaan cinta padanya. Tapi, setahu ku penderitanya lebih banyak laki-laki."
Perempuan itu merasakan kecupan Sebastian di rambutnya.
"Kenapa kau bisa tahu hal-hal seperti ini? Oh, jangan dijawab. Pasti itu karena kelas khusus di Good Karma, kan?" tanya Sebastian.
Katya akhirnya bisa tertawa. Rasa takutnya sudah nyaris nol, jantungnya pun sudah berdenyut ke angka normal. "Hidupku memang penuh warna, kan? Tidak semua orang bertemu manusiamanusia mengerikan sepertiku. Kau jangan mengeluh lagi, Seb. Kau harus bersyukur karena aku membuat hidupmu tak lagi membosankan."
Ya, hidup pasangan Meir itu memang menjadi kian semarak saat Bridget akhirnya melahirkan. Katya, Sebastian, Phil, dan Thelma menunggui di rumah sakit. Katya begitu cemas hingga cuma mampu berjalan mondar-mandir. Sebastian mengomelinya karena membuat yang lain kian gugup. Megan dan Gary yang datang belakangan pun mengatakan hal yang sama.
Bayi perempuan itu menjiplak mata, hidung, dan dagu Sebastian, Sementara bibir dan rambutnya milik Bridget. Mereka menamainya Shahira Meir, Pertama kali Katya menggendong bayi mungil itu, kasih sayang mengalir deras di pembuluh darahnya.
Ini seharusnya menjadi momen pahit dan manis. Shahira selamanya akan mengingatkan Katya pada hubungan Sebastian dan Bridget. Asmara yang mereka punya di masa lalu, bahkan nyaris berakhir di pelaminan. Tapi, Katya tidak melihatnya seperti itu. Di matanya, inilah rezeki tak terduga yang
diberikan Allah.
Shahira memang bukan darah dagingnya. Tapi, bukankah hubungan darah tidak selalu bermakna segalanya. Katya juga punya Thelma yang makin lengket dengannya, selalu mendengarkan kata- katanya. Dan Phil yang menunjukkan bahwa dia kelak akan tumbuh menjadi laki-laki yang lembut hati. Keduanya menyayangi Katya.
Dan yang tak kalah penting, Katya memiliki suami terbaik yang bisa dibayangkannya. Sebastian yang mencintainya demikian besar dan menunjukkan bahwa dia adalah salah satu ayah terbaik yang pernah ada. Sebastian juga sedang bersemangat mempelajari agama barunya. Gary berhasil mencarikan guru mengaji yang bersedia datang dua kali seminggu ke apartemen mereka.
Kini, hidup Katya dilengkapi dengan kehadiran Shahira. Semua berada di jalan yang tepat. Dunia Katya penuh warna. Seakan tak cukup sibuk, dia dan Sebastian benar-benar berencana membuka badan amal mirip Solitude di London. Mereka sedang melakukan banyak persiapan. Phil dan Thelma begitu antusias mendengar rencana itu. Jadi, apalagi yang harus dikeluhkan?