• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEJUTAN YANG BISA MEMBUAT SALAH SANGKA

Dalam dokumen Book Love in Edinburgh by Indah Hanaco (Halaman 79-84)

BAB 13

Yvonne langsung antusias. "Kau yang punya Belle Femme? Aku kolektor parfummu, tahu!"

Katya menambahkan, "Dia sangat kesal saat tahu kau ada di Edinburgh dan kalian tidak sempat bertemu."

Sebastian tertawa. "Baiklah, aku akan mengirimimu produk terbaru sebelum diluncurkan di pasaran musim panas nanti. Janji."

"Serius?" Mata Yvonne membulat. "Wah, kau baik sekali. Terima kasih, Sebastian." Keduanya berjabat tangan sambil menggumamkan beberapa kalimat sebelum Yvonne masuk lebih dulu.

"Aku cuma sendiri, tidak enak kalau...," Katya menatap Sebastian dengan ekspresi menyesal. "Maaf ya, Seb, bukannya aku tidak sopan. Silakan masuk, sekarang sudah ada Yvonne."

Sebastian melewati ambang pintu dan berujar, "Kau bukannya tidak sopan. Memang seharusnya jangan mempersilakan laki-laki masuk kalau kau cuma sendiri di rumah. Itu berisiko."

Katya sempat melihat Yvonne memandangnya dengan percikan tanda tanya yang bermain di matanya.

Katya memberi isyarat dengan gerakan mengangkat bahu yang samar. Dia sendiri sama butanya dengan Yvonne. Kedatangan Sebastian ke flatnya benar-benar tidak terduga.

"Kau ingin minum sesuatu? Tapi, kami tidak punya persediaan...."

"Aku datang ke sini bukan untuk minum, Aku cuma ingin melihat kondisimu. Duduklah! Memar di rahangmu itu benar-benar mengerikan. Aku ngilu melihatnya."

Katya menurut, duduk di sofa di seberang tamunya. "Kau sudah makan?" tanyanya. Itu bukan

pertanyaan kreatif. Tapi, Katya tak tahu bagaimana harus bersikap. Sebastian terlalu mengejutkannya.

"Kat, apa yang terjadi? Kenapa ada orang yang memukulimu?"

"Ceritanya panjang...."

Sebastian malah bersandar dengan santai. Kedua tangannya bersedekap. "Aku punya waktu untuk mendengarkan. Ceritakan padaku."

Katya ingin menolak karena masalahnya tidak ada hubungannya dengan Sebastian, Bibirnya nyaris mengucapkan kalimat penolakan saat tatapannya terpaku di wajah tamunya. Kemudian lidah Katya menjadi pengkhianat, menolak mentah-mentah perintah otaknya. Kata-kata meluncur begitu saja, tidak bisa terkendali.

"Ada penghuni lantai empat bernama Leif. Dalam beberapa kesempatan dia pernah bilang... ingin menjadi relawan dan gencar bertanya padaku. Mengajak makan malam segala. Entah kenapa... aku tidak pernah nyaman tiap kali bicara dengannya. Rasanya ada yang salah. Dia...."

"Si Leif ini menggodamu, ya? Kau menolaknya dan dia marah sampai nekat memukulimu?" suara Sebastian meninggi. Tubuh laki-laki itu pun menjadi tegak, bersiaga.

Katya merasa tidak nyaman karena secara otomatis memori saat Leif berusaha mendekatinya,

menghunjam kepalanya. "Bukan begitu tepatnya. Aku tidak tahu apakah Leif benar-benar berminat jadi relawan atau tidak. Yang pasti, kami tidak pernah bertemu di We are Family atau Solitude, misalnya. Belakangan Leif sepertinya menyerah mengajakku bicara. Lalu, dua minggu lalu aku

bertemu seorang gadis muda di lift. Seperti biasa, aku akan pergi ke We are Family. Gadis itu terluka, maksudku... dia baru dipukuli. Mata lebam, ada sisa darah di sekitar hidung dan bibir, bahkan ada...,"

Katya berhenti.

"Apa?" desak Sebastian dengan suara lembut. Tenggorokan Katya terasa membengkak karena mengingat kembali pemandangan di pagi itu.

"Gadis itu bernama Muriel, Ada bekas sundutan rokok di lengannya. Dia bahkan kesulitan berjalan.

Pagi itu, aku tidak datang ke We are Family dan membawa Muriel ke Good Karma. Mary segera memanggil dokter untuk mengobati gadis itu. Kondisinya mengerikan. Katanya, dia harus menunggu berjam-jam hingga pacarnya tidur, agar dia bisa keluar dari flat." Suara Katya melemah. Bulu

tangannya selalu meremang tiap kali mengingat saat itu.

"Boleh aku menebak sisanya?" pinta Sebastian. Bahkan sebelum Katya memberi isyarat apa pun, laki- laki itu sudah kembali bicara. "Muriel ini ternyata kekasih Leif yang disekap sekian lama dan disiksa dalam banyak kesempatan. Begitu laki-laki jahat itu tahu kalau pacarnya hilang dan ternyata kau yang membantu Muriel, dia segera membalas dendam padamu. Begitu?"

Sebenarnya, kisah horor itu tidak pantas ditertawakan. Namun, Katya tidak mampu menahan gelinya.

"Kau berlebihan. Bagian yang disekap itu tidak benar. Menurut versi Muriel, dia belum lama pacaran dengan Leif. Selama ini dia tinggal di rumah yang tidak nyaman. Ayahnya pemabuk dan ibunya tak berdaya. Apakah ibunya juga korban kekerasan, aku tidak tahu. Menurutnya, Leif awalnya orang yang lembut hingga perlahan mulai berubah. Seperti korban kekerasan lainnya, Muriel menyalahkan

dirinya. Leif berubah karena dirinya bukan gadis yang baik, beginilah kira-kira."

Pintu terbuka, Alyna muncul dan memandang Sebastian dengan tatapan penuh ingin tahu. "Halo, apa kau pacar Katya? Dia tidak pernah membawa pacarnya ke sini. Kau yang pertama dan itu sungguh kemajuan besar."

Wajah Katya memanas secepat cahaya. Alyna memang sering bicara lugas hingga kadang memalukan.

"Ini peserta Underground Magnate yang pernah kuceritakan itu," beritahunya dengan suara kaku.

Bibir Alyna membulat.

"Kau sudah menipu Katya dan yang lain. Apa kau tahu dia berkali-kali membicarakan soal itu?

Telingaku sampai sakit karenanya."

Katya buru-buru menggeleng. "Jangan percaya kata-katanya! Bukan itu yang terjadi."

Alyna tampak menahan tawa sebelum akhirnya mengangkat bahu, "Terserah kau saja." Perempuan itu masih bicara dengan Sebastian selama beberapa saat. Katya menggunakan kesempatan ini untuk

membuatkan segelas cokelat untuk Sebastian. Bagaimanapun, laki-laki itu adalah tamu. Segelas minuman wajib disuguhkan, Meski kemudian Sebastian mengajukan protes.

"Aku kan sudah bilang, aku datang ke sini bukan untuk minum."

Katya melirik sekilas ke arah Alyna yang sedang menuju pintu kamarnya. "Aku tahu kau tidak ingin minum. Tapi, tetap saja, tidak sopan jika membiarkan tamu kehausan."

Sebastian tidak bergerak. "Sekarang, maukah kau cerita kenapa Leif bisa memukulmu? Rahangmu itu lumayan parah." Matanya menyipit.

"Rahangku sudah mending. Rusukku yang masih agak sakit. Aku tidak leluasa bergerak."

Alis Sebastian bergerak ke atas. "Bagian mana saja yang luka? Kau sudah ke dokter, kan?"

Kata-kata ini memberi efek yang tak terduga. Mirip selimut hangat yang didapat seseorang usai kehujanan dan menggigil kedinginan.

"Aku sudah ke dokter, terima kasih untuk perhatianmu." Katya menutupi kegugupannya dengan tawa pelan yang terdengar aneh. "Muriel akhirnya mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Menurut dokter, luka fisiknya cukup parah. Mary punya beberapa rencana untuk Muriel. Mulai dari mencarikan

pekerjaan hingga mengembalikan gadis itu kepada keluarganya. Tapi, sayang, hal pertama yang dilakukan Muriel begitu luka-lukanya sembuh adalah...."

"Kembali ke pacarnya," tukas Sebastian. Katya mendesah tak berdaya.

"Ya, memang itu. Akibatnya lagi, Leif tahu siapa yang mengantarkan pacarnya ke Good Karma. Dia marah dan mencegatku di depan pintu masuk dua hari yang lalu. Kami sempat beradu mulut hingga dia mulai memukulku...," tangan Katya saling meremas. "Kalau kau melihat Leif, kau pasti iba. Karena kondisinya jauh lebih parah dibanding aku," kedua tangannya terentang ke udara.

Sebastian tampaknya tidak percaya. "Kau melakukan itu?"

Katya mengangguk mantap. "Kaupikir aku tidak belajar dari pengalaman masa lalu? Setelah tiba di sini, aku belajar bela diri. Aku mengikuti kelas tinju dan taekwondo. Aku tidak mau dipukuli tanpa bisa melawan. Muriel histeris saat melihat Leif dan mulai memakiku."

"Kurasa aku memang harus minum agar tidak menyumpahi gadis itu," Sebastian meraih gelasnya.

Katya memperhatikan tiap gerak laki-laki itu tanpa bicara. Mereka tidak pernah berkomunikasi sejak Sebastian kembali ke London. Lalu mendadak laki-laki itu muncul, seakan datang setelah tahu soal insiden yang dialaminya, Katya tidak tahu bagaimana dia harus membuat kesimpulan.

"Kau datang ke sini karena sedang mengecek apakah donasimu digunakan dengan bijak atau tidak.

Iya?" Katya memberanikan diri untuk bertanya.

Sebastian mengabaikan pertanyaan Katya terang-terangan. "Apa dokter sudah memeriksarnu dengan teliti? Yakin kalau tidak ada masalah serius? Aku...," Sebastian menatap Katya dengan murung. "Aku ingin menggantikanmu menerima pukulan. Tapi, itu mustahil, kan?"

"Seb... kau belum menjawab pertanyaanku," tukas Katya dengan wajah panas-dingin. Dia berpura-pura tidak mendengar kata-kata laki-laki itu. Katya tidak ingin memikirkan segala hal yang menempatkan dirinya dan Sebastian dalam satu tempat. Ada terlalu banyak kerumitan.

"Aku datang ke sini setelah mendengar kalau kau terluka, bukan karena soal donasi. Sekitar pukul

sepuluh pagi tadi Stuart meneleponku. Dia minta pendapatku tentang rencana renovasi beberapa bagian di lantai dua markas Solitude. Nah, saat itu aku bertanya tentang kabar kalian, dia

menyinggung peristiwa yang kaualarni ini. Setelah itu, aku langsung memesan penerbangan ke sini.

Dari bandara aku segera ke hotel untuk menyimpan barang-barang dan mandi. Stuart tadi mengantarku ke sini."

Katya tidak tahu apakah dia bisa lebih kaget lagi andai mendengar berita bahwa berenang di kolam buaya akan membuat seseorang masuk surga. Apalagi Sebastian memandanginya dengan serius, membuat otaknya kesulitan untuk bekerja dan mencerna informasi itu sebagaimana harusnya.

"Katakan bahwa kau sedang bergurau. Aku tidak akan percaya!" Sebastian mengangkat bahu, menirukan gaya Alyna saat dia berkata, "Terserah padamu saja."

Bibir Katya terbuka. "Seingatku, kau yang kukenal tidak seperti ini."

"Apa? Kau pasti menilaiku aneh hanya karena aku datang ke sini setelah mendengannu dipukuli seseorang. Aku tidak memaksamu untuk percaya. Yang jelas, andai bisa, aku ingin menghajar orang yang sudah meni buat rahangmu memar mengerikan seperti itu. Aku mencemaskanmu, Kat." Tangan Sebastian mengepal, menunjukkan kegeraman.

"Kau... kau baik sekali sudah mencemaskanku," ucap Katya akhirnya. "Terima kasih."

Sebastian kembali meneguk cokelatnya. "Apa yang bisa kulakukan, Kat? Kau ingin sesuatu? Kalau boleh, aku ingin membawamu ke dokter lagi. Untuk memastikan kau baik-baik saja."

Ya Allah, Katya ingin menangis karena kata-kata Sebastian. Dia tidak pernah tahu bahwa Sebastian bisa membuatnya merasakan hal-hal yang tidak masuk akal. Geliat perasaan yang seharusnya tidak pernah ada. Akibat masa lalu dan masa depan. Ini adalah perasaan yang seharusnya tidak lagi dikecap Katya.

"Hei, kau malah melamun. Apa kau ingin istirahat, Kat? Aku akan pulang ke hotelku sekarang. Besok kita bisa bertemu lagi, kan?"

"Kau membuang waktu gara-gara aku."

Sebastian mengedikkan bahu. "Tadi aku memang membatalkan janji dengan seseorang. Satu hal yang pasti, aku tidak merasa kedatanganku ke sini cuma membuang waktu. Oh ya, dua bulan lagi aku akan ke Jakarta. Kau tidak merindukan negaramu, Kat? Tertarik untuk ikut?"

Jantung Katya seakan dientakkan dengan kasar hanya karena mendengar kata-kata Sebastian. Perasaan yang selama ini ditahannya dan dikenali Katya sebagai "kerinduan" pada tanah airnya, menggedor dadanya.

"Indonesia, ya...," Katya setengah melamun. Kesadaran menghantam benaknya. Dia tahu, suatu hari nanti dia harus kembali ke Indonesia. "Pulang?"

BAB 14

Dalam dokumen Book Love in Edinburgh by Indah Hanaco (Halaman 79-84)