PENDAHULUAN
Guru-guru Sufi secara tegas membeda-bedakan antara tulisan dan ceramah yang
diberikan untuk audiens khusus dan para pujangga, dengan nilai emosional serta kultural tersendiri. Semua ajaran Sufi, pada dasarnya diadakan untuk masa-masa mereka sendiri.
Pesan-pesan Sufi dalam bentuk tulisan dianggap memiliki efektikitas yang terbatas, baik kedalaman maupun daya tahannya. Hal ini karena "sesuatu yang begitu disebarkan pada wilayah (bidang) Waktu, akan jatuh korban untuk memorak-porandakan Waktu".
Akibatnya, seperti perumpamaan gelombang laut yang sering digunakan kaum Sufi, secara konstan Sufisme diperbarui oleh guru-guru penerus teladan.
Guru-guru ini tidak hanya menafsirkan ulang materi-materi Sufi lama; mereka memilih, menerima, mengenalkan dan mengerjakan materi-materi literal yang memungkinkan untuk melanjutkan fungsi dinamisnya.
Murid-murid Sufi mungkin berani, mungkin pula tidak, untuk membiasakan diri mereka dengan Sufisme Klasik tradisional. Bagaimanapun, ada Pembimbing Sufi yang
mengusulkan kurikulum ke masing-masing lingkaran atau murid; potongan-potongan dari materi Klasik, tulisan dan ceramah, dari ibadat-ibadat tradisional yang diterapkan pada tahap masyarakat tertentu, pada kelompok-kelompok khusus, pada individu tertentu.
Penggunaan materi-materi ini secara tegas memisahkan ideologi Sufi dari jenis lainnya yang telah tercatat. Sikap ini mencegah Sufisme dari kristalisasi, yang kemudian menjadi hasil karya ulama dan tradisionalisme. Pada awalnya, pengelompokan Sufi dimana fosilisasi ini mengambil tempat, perasaan mendalam mereka terhadap penggunaan materi Sufi secara berulang-ulang memberi peringatan terhadap calon Sufi, bahwa organisasi seperti itu telah "menggabungkan-dunia".
Bagian berikut berisi materi-materi yang diambil dari pemakaian saat ini dan dipertimbangkan oleh aliran-aliran Sufi kontemporer sebagai "penyerahan material sesaat", dapat diterapkan pada manusia dalam situasi sekarang.
Materi-materi itu sendiri bergeser jauh ke belakang dan seterusnya, diantara tulisan- tulisan dan ucapan kaum Sufi paling kuno yang tercatat, dan sekarang ini diperhitungkan sebagai ajaran dasar prinsip-prinsip Sufi.
Menarik untuk dicatat, dari sudut pandang psikologi kontemporer, bagaimana kelompok- kelompok studi -- dalam Sufisme di mana saja -- selalu menghadapi tantangan. Tantangan ini adalah, apakah kelompok akan menstabilisasi diri sejak awal pada penopang yang menyenangkan (seperti terpaan, latihan, tokoh otoritas) atau apakah grup memiliki stabilitas memadai untuk menggapai realitas yang melebihi keadaan lahiriahnya, faktor- faktor sosial.
Komposisi kelompoklah yang akan memutuskan hal-hal tersebut. Jika anggotanya sudah siap memiliki keseimbangan sosial yang kuat, mereka tidak perlu mengubah atmosfir studi mereka menjadi sumber stabilitas dan kepastian. Bila anggota sudah memperoleh kepuasan fisik dan intelektual, mereka tidak perlu berusaha menyaringnya dari kelompok Sufi mereka.
Mereka ini para pencari stabilitas sosial, intelektual dan emosional yang merupakan kandidat yang gagal untuk ajaran Sufi dalam aliran-aliran asli. Aliran-aliran tiruan (diketahui atau sebaliknya) menggunakan bagian luar Sufi --termasuk tulisan dan
ceramah berikut-- dan beroperasi sebagai kelompok-kelompok sosio-psikologis tersamar.
Aktivitas Sufi yang sangat bernilai ini bukan persyaratan untuk 'pengetahuan tentang manusia yang lebih tinggi'.
Namun ini bukan berarti bahwa pengelompokan-pengelompokan otomimetis yang dianggap banyak orang sebagai Sufi, secara tiba-tiba dapat dikenal oleh seorang kandidat sebagai pengelompokan sosial semata. Sebaliknya, jika murid bersungguh-sungguh membutuhkan kepastian, petualangan, katarsis, keseimbangan sosial dan psikologis, ia akan sangat berterima kasih dan tidak mempertanyakan lagi bila ditarik ke aktivitas tingkat rendah ini.
Ini karena ia akan menjawab untuk apa kelompok-kelompok yang ditawarkan dalam praktek, bukan apa yang dapat ditawarkan Sufisme.
Lagi, secara tradisional kelompok-kelompok para Pencari bergabung bersama dalam usaha memperingati praktek-praktek dan teori-teori Sufisme, dengan harapan bahwa hasrat mereka dapat terwujud atau menjadi sempurna dengan kehadiran guru yang asli.
Dasar studi ini lebih berbahaya daripada diusulkan secara umum, karena ketika keanggotaan dari suatu kelompok secara luas mengkomposisikan orang-orang yang menggunakannya untuk tujuan psikologis lebih rendah, kelompok sebagai keseluruhan akan cenderung kehilangan kapasitas dan hasrat untuk mengenal sumber-sumber di level lebih tinggi.
Dalam kasus demikian, perkembangan alamiah kepekaan sosial dalam pengelompokan, menghalangi aspirasi. Hanya pengenalan perbedaan tipe orang kepada kelompok, dalam usaha setidaknya memperbaikinya untuk suatu contoh masyarakat normal, kemungkinan akan menghidupkan kembali posibilitas kelompok. Tetapi suatu kelompok sosial jenis ini hampir secara definitif bermusuhan dengan pengenalan-pengenalan semacam; orang- orang yang tampak berpikir dengan cara berbeda dianggap bermusuhan atau tidak dapat dipilih.
APAKAH SUFISME?
Pertanyaannya bukan: "Apakah Sufisme?" melainkan: "Apa yang dapat dikatakan dan diajarkan tentang Sufisme?"
Alasan memasukkannya di dalam cara ini adalah, bahwa lebih penting mengetahui keadaan si penanya dan mengatakan kepadanya, apa yang bermanfaat baginya, daripada sesuatu yang lain. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw bersabda, "Berbicaralah kepada setiap orang sesuai dengan permahamannya."
Anda dapat membahayakan penanya dengan memberinya informasi faktual tentang Sufisme, jika kapasitas pengertiannya dilatih secara tidak sempurna atau salah.
Ini merupakan sebuah contoh. Pertanyaan yang baru saja dicatat ditanyakan. Anda menjawab, "Sufisme adalah pengembangan diri." Penanya akan mengasumsikan bahwa pengembangan diri bermakna seperti apa yang ia artikan.
Sekali lagi, jika Anda berkata benar, "Sufisme adalah kekayaan yang tidak terhingga."
Orang yang tamak atau bodoh akan mendambakannya karena makna yang mereka letakkan pada kata kekayaan.
Tetapi jangan tertipu dengan berpikir bahwa jika Anda meletakkannya ke dalam bentuk religius atau filosofis, manusia religius atau filosofis tidak akan membuat ketamakan serupa, salah mengartikan, sebagaimana dia pikir, maksud Anda.
(Idris ibnu Asyraf) INGATAN
Saat kita berkata, "Engkau adalah setetes air dari Lautan yang tidak terbatas," kita menunjuk pada kepribadian individualitas Anda saat ini, sebagai tetesan, pada seluruh kepribadian Anda di masa lalu, sebagai tetesan dan gelombang penerus, dan juga
pertalian lebih besar yang menyatukan seluruh bentuk ini dengan tetesan-tetesan lainnya, sebaik dengan Keseluruhan yang lebih besar.
Saat melihat Keseluruhan ini, kita akan memandang sekilas suatu keagungan tetesan dalam fungsinya sebagai bagian Lautan kesadaran.
Untuk mengetahui hubungan antara tetesan dan Lautan, kita harus berhenti memikirkan ketertarikan kita tentang tetesan.
Kita dapat melakukan ini hanya dengan melupakan apa sebenarnya diri kita ini, dan mengingat bagaimana diri kita di masa lalu, juga mengingat apakah diri kita saat ini, apakah sesungguhnya kita; karena hubungan dengan Lautan hanya dalam suspensi, bukan kekerasan. Merupakan suspensi yang menyebabkan kita membuat asumsi-asumsi
pengganti sementara yang ganjil tentang diri kita, dan juga membutakan diri terhadap realitas sejati.
Latihan mengingat keberadaan dan pengalaman-pengalaman terakhir dirancang untuk memberi kita kapasitas ingatan jauh ke belakang; mengingat bahwa yang mana dalam penundaan (suspensi) atau ditangguhkan, dan karena itulah kita menjadi lama, kendati kita tidak mengetahuinya.
Jika latihan pokok tentang mengingat ini tidak membimbing kita untuk mempertemukan jurang pemisah untuk mengingat leluhur kita, komitmen abadi, Perjanjian, maka salah satu dari tiga hal ini ada yang salah; guru, murid atau keadaan. Inilah mengapa kita mempunyai guru yang masih hidup, murid yang sadar dan keadaan yang benar.
Bahkan ucapan-ucapan sekarang hanya akan dicapai mereka yang dapat meraih.
Merupakan pemeliharaan fisik, tetapi bagian kecil dari realitas mereka. Bebaskan mereka dengan seorang guru, tidak sendirian.
(Haji Bahauddin dari Bukhara) PENGETAHUAN-TINDAKAN-CINTA
Cinta adalah Jalan menuju Kebenaran, Pengetahuan, Tindakan.
Tetapi hanya mereka yang mengetahui cinta sejati dapat mendekatinya dengan sarana cinta. Lainnya salah mengerti perasaan-perasaan lain terhadap cinta sejati tersebut.
Paling lemah dari semuanya adalah mereka yang mengidealkan cinta dan mencari untuk mendekatinya sebelum mereka memberinya sesuatu; atau mengambil sesuatu darinya.
Kebenaran adalah Jalan menuju Cinta, Pengetahuan, Tindakan. Tetapi hanya mereka yang dapat menemukan Kebenaran sejati dapat mengikuti Jalannya sebagai Jalan. Lainnya (tidak dengan benar karena mereka mayoritas) membayangkan bahwa mereka mungkin menemukan Kebenaran, kendati mereka tidak tahu ke mana mencarinya, sejak apa yang mereka sebut kebenaran adalah sesuatu yang kurang.
Pengetahuan adalah jalan menuju Tindakan, Cinta, Kebenaran. Tetapi karena bukan jenis pengetahuan yang dipertahankan masyarakat, mereka tidak mendapatkan manfaat
darinya. Di mana saja, tetapi mereka tidak dapat melihatnya, dan menyebutnya sementara ada di samping sepanjang masa.
Tindakan, juga, adalah Jalan. Adalah Jalan menuju Cinta, Kebenaran, Pengetahuan.
Tetapi tindakan apa, kapan dan di mana? Bertindak dengan siapa, dan apa tujuannya? Apa jenis tindakan yang kita maksudkan saat kita mengatakannya sebuah Jalan? Tindakan yang berbeda tersebut sebagai maksud, yang mungkin manusia menjalankannya tanpa mengetahuinya. Lagi, secara umum ia akan membenamkan dalam tindakan jenis lain, bahwa ia tidak akan dapat melakukan tindakan yang dibutuhkannya.