• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBUAH CATATAN: BEBERAPA TEMA PERENUNGAN

(Nabi Muhammad saw.)

SEBUAH CATATAN: BEBERAPA TEMA

Tentang Murid

Dalam jalan Darwis 'murid' adalah suatu persyaratan (kebutuhan) yang mendasar. Tetapi pemilahan harus dibuat antara orang-orang yang hanya membayangkan bahwa mereka (seolah) akan menjadi murid -- mereka yang haus (tamak) yang muncul tersembunyi -- dan mereka yang benar-benar dapat menjadi murid, serta di mana dan kapan tahap ini dapat terjadi secara menguntungkan.

Tentang Guru

Cara di mana seorang guru mengajar sering tidak dapat dimengerti, bagi para murid. Ini adalah umum, karena mereka mencoba memahami karya-karya (pekerjaan-pekerjaan) mengenai sesuatu, manakala dalam kenyataannya mereka sangat memerlukan manfaat- manfaatnya. Tanpa manfaat-manfaat itu, mereka tidak akan pernah dapat memahami karya-karya itu.

Tentang Persahabatan

Terdapat persahabatan kemanusiaan dan persahabatan atas penyebaran. Mereka yang tidak memiliki cukup, kerabat atau bentuk-bentuk lain persahabatan akan mencarinya, bahkan pada saat-saat dan tempat-tempat di mana pergaulan bersama dengan orang lain bermanfaat untuk penyebaran. Beberapa orang mengetahui mengenai hal ini, sebagian karena suatu kata (persahabatan) umumnya digunakan untuk menunjukkan

(melambangkan) dua pernyataan (keadaan), masing-masing dari mereka sangat berbeda.

Tentang Kepustakaan

Perhatian terhadap penggunaan tempat sering diambil sebagai bentuk penggunaan umum atau seluruh dunia. Ketika seorang guru mengatakan, "Jauhkan diri dari pustaka," dia berbicara mengenai pandangan tertentu dan waktu tertentu. Ini merupakan kegagalan diantara para muridnya yang salah paham dan mengabadikan pustaka sebagai kunci untuk memahami, atau yang lain melakukan sebaliknya, mengatakan, "Guru menolak pustaka, oleh karena itu kami akan seluruhnya, dan selalu, menolaknya."

Tentang Latihan (Lahiriah)

Kerakusan itu berpengaruh, meski terselubung dengan baik, atas watak (ciri-ciri) khusus dari mereka yang membayangkan, bahwa latihan lahiriah merupakan pintu masuk kepada pengetahuan. Mereka sama penting, dan sebagai tidak berkaitan secara bebas,

sebagaimana menggunakan sebuah tangan tanpa satu atau dua diantara jari-jari.

Tentang Penampilan

Orang awam menilai seseorang bukan dengan penampilan-penampilan dunia dalam (batin)-nya, tetapi dengan tindakan-tindakan yang tampak dari apa yang dia lihat seperti apa yang tampak dari luar, dan dengan apa yang orang-orang katakan mengenainya.

Sudut pandang (metode) ini cocok betapapun hanya untuk beberapa jenis penilaian, tidak untuk lainnya. Bagaimana seseorang tampak seperti itu, akan tergantung pada bagaimana seseorang tahu tentang dia. Sebagai contoh, seorang laki-laki tengah membawa sepotong tongkat berpaku besar di ujungnya, tidak harus disebut seorang pembunuh, dia bisa jadi seorang pawang gajah. Orang-orang terpilih sering melanggar prinsip-prinsip dangkal dari penampilan agar tidak terpengaruh oleh perilaku orang banyak dengan penilaian palsu dan juga pada waktu peragaan kepada mereka yang dapat melihatnya, tingkah laku itu sendiri bukan memperagakan nilai-nilai dari bagian dalam (batin).

Tentang Kepercayaan (Iman) dan Agama

Mereka yang dianggap sebagai penganut atau orang-orang beragama, dan yang tidak mampu karena kebiasaan berperilaku dalam sikap tertentu, mungkin disebut beragama, tetapi tidak dapat dianggap sebagai beriman. Jika, di lain pihak, ini merupakan

kepercayaan, maka beberapa kata lain harus digunakan untuk menyampaikan jenis dari kepercayaan yang tidak dihasilkan oleh orang tua atau orang-orang di sekitarnya.

Tentang Cinta

Apa yang secara umum disebut cinta, dapat menjadi berbahaya bagi pecinta (orang yang mencintai) dan sasaran cinta (orang yang dicintai). Jika ini merupakan akibat (hasil), karena tidak dapat disebut cinta oleh seorang Sufi, tetapi harus disebut pengikatan dimana seorang yang telah terikat (dengan kasih sayang) tidak mampu terhadap perilaku lain. Cinta tidak hanya memiliki perbedaan yang sangat besar, tetapi juga memiliki tingkat-tingkat yang berbeda. Jika manusia (orang) berpikir, bahwa cinta hanya berarti apa yang sejauh dia rasakan, dia dengan demikian akan menutupi dirinya sendiri dari cinta yang sejati.

Batapapun, jika dia benar-benar merasakan cinta sejati, dia akan tidak membuat kesalahan menyamaratakan tentang hal itu, agar mengenalnya hanya dengan cinta lahiriah atau daya tarik cinta.

Tentang Belajar di Dunia

Sufisme adalah suatu pengkajian yang tidak bersifat akademis. Bahan-bahannya diambil dari hampir setiap bentuk pengalaman manusia. Buku-bukunya dari para penanya dalam lingkaran keilmuan (halaqah) dan tidak menyerupai apa pun yang para sarjana

(cendekiawan) bahkan mengimpikannya. Hal ini karena hafalan, usaha dan buku-buku termasuk dalam jenis pengkajian ini, dan karena para guru Sufi disebut "Guru", bahwa kenyataan atas suatu komunikasi khusus, telah dikacaukan dengan kajian-kajian

akademis atau kajian tiruan. Oleh karena itu, kajian Sufi dan kajian umum dari keduanya berbeda kedudukannya seperti jika tikus dan gajah keduanya diberi nama yang sama.

Hingga suatu titik ketidaksamaan (berkaki empat, berwarna abu-abu, berekor) ini adalah ketidaktepatan bukan pada waktu (tertentu). Setelah itu, menjadi perlu untuk

membedakan diantara keduanya. Perbedaan ini berlaku di dalam lingkaran Sufi.

Tentang Pertemuan Darwis

Para murid yang dangkal membayangkan bahwa ketika para darwis bertemu, mereka semua dari tingkat yang sama. Atau bahwa seorang darwis dapat menghadiri pertemuan- pertemuan darwis lainnya, perbedaannya hanya pada tingkatan. Sesungguhnya,

komposisi suatu lingkaran keilmuan (halaqah) adalah sama pentingnya dengan lingkaran keilmuan (halaqah) itu sendiri. Demikian pula tingkatan jalan (pencapaian), mungkin dijalankan dengan baik di suatu pertemuan dan tidak pada kelompok atau pertemuan lain.

Inilah mengapa para guru di suatu lingkaran menjadi pengikut (murid) pada lingkaran lain.

Kumpulan dari kelompok orang-orang yang tertarik, para peminat (pecandu) keagamaan, dan calon murid dikelompokkan bersama, sering secara salah disebut 'lingkaran darwis'.

Lingkaran-lingkaran ini mungkin atau mungkin pula tidak menjadi langkah pendahuluan lingkaran-lingkaran seperti itu, tetapi mereka bukan lingkaran-lingkaran (halaqah) darwis.

Tentang Perbedaan antar Madzhab

Banyak hal yang dikatakan dan ditulis mengenai perbedaan-perbedaan pendapat, ajaran, dan tulisan-tulisan diantara kaum Sufi. Dan luar, hal itu mungkin berbeda, ditentukan (didikte) oleh lingkungan, tetapi secara mendasar tidak ada perbedaan. Memperdebatkan mengenai perbedaan-perbedaan Sufi adalah sama bodohnya dengan memperdebatkan apakah sebuah mantel dapat dipintal dengan kuncup tanaman kapas (jenis) ini atau itu.

Itulah tingkat kepentingannya.

Perumpamaan, Ungkapan dan Kiasan

Apabila gurumu berbicara kepadamu dengan bahasa aslimu, engkau harus memandang ungkapan-ungkapan yang ia gunakan sebagai bahasa ungkapan, dan tidak dimaksudkan diuraikan secara harfiah. Bila ia memberimu sebuah perumpamaan, engkau akan mengetahuinya sebelum engkau menerapkannya. Apabila sesuatu hal dikatakan dengan kiasan, itu diartikan dengan kiasan. Hal-hal yang bersifat harfiah tidak dapat diambil maknanya sebagai kiasan.

Tentang Pemahaman Tingkat Lebih Tinggi

Jika engkau menggunakan kemampuan pemikiran dan pemahaman umum untuk

mencoba menguraikan sesuatu yang tidak engkau mengerti dalam Sufisme, engkau akan tersesat. Karena akal terlalu 'pintar' untuk tugas tersebut.

Pengertian atau pemahaman datang hanya dengan (menyimpan) membiarkan kesulitan memahami tersebut dalam cengkeraman mentalmu. Banyak ujian gagal karena terlalu sukar untuk dimengerti. Berhati-hatilah terhadap kepelikan (hal yang sukar dimengerti atau pelik).

Tentang Kejengkelan dan Ketidakpedulian

Tidak ada seorang pun merasa jengkel jika tidak ada alasan. Jika engkau menjengkelkan orang lain, mungkin hal itu karena mereka membayangkan dirimu memang

menjengkelkan, atau mungkin engkau menjengkelkan mereka karena ucapan dan tingkah lakumu. Jika engkau atau orang lain tidak peduli oleh sumber kejengkelan, kemungkinan merasa terpuji atau tertekan. Engkau tidak dapat menilai dengan kejengkelan.

Tentang 'Keadaan'

Ada tiga dasar 'keadaan': palsu atau khayal, asli dan tidak berhubungan (tidak penting).

Seperti seorang dokter, syeikh-lah yang mengetahui seseorang dari lainnya, mengetahui penyakit atau keadaan kesehatan dengan tanda-tanda gejala adanya sesuatu. Ia juga mengetahui sifat disenangi atau disukai dengan penarikan kesimpulan umum dari

beberapa keadaan atau dengan cara lain. Kebodohan tertinggi adalah menduga bahwa ada atau tidak adanya suatu keadaan adalah di dalam 'keadaan' itu sendiri, yang menunjukkan baik atau buruk.

Tentang Membaca, Mendengar dan Hadir

Hal-hal penting berkait dengan lahiriah dari belajar (pengkajian) mungkin hanya merupakan tindakan menghadiri, tanpa reaksi-reaksi yang mendalam atau sungguh- sungguh, pada suatu pertemuan dengan sang Bijak. Hal itu pada suatu waktu dapat diartikan membaca, pada waktu lain berarti ujian (audisi). Kadang-kadang pembaca atau seorang diantara yang memulai (ditahbis). Pada waktu lain, dia tidak harus dianggap seperti itu. Ilmu ini telah dibuktikan dan hanya orang-orang yang melakukan

kecerobohan mengadakan percobaan dengan hal itu.

Tentang Penyesalan

Penyesalan berarti kembali atau meninggalkan/melepaskan sesuatu sepenuhnya, yakni terhadap kekuatan daya tarik. Kesenangan atau kepuasan yang diperoleh lewat

penyesalan dalam banyak kasus adalah sama buruk dengan kejahatan (pelanggaran) yang semula, dan tidak ada perbaikan permanen dapat diharapkan dari mereka yang

membanggakan diri mereka sendiri di dalam perbaikan (perubahan). Penyesalan dari orang-orang yang kurang pengetahuan atau bodoh adalah apabila orang-orang merasakan reaksi yang kuat untuk menghentikan (mengorbankan) sesuatu atau mencari

pengampunan untuk sesuatu. Ada suatu bentuk yang lebih tinggi, penyesalan dari sang Bijak (Guru), yang menuntun kepada pengetahuan dan cinta yang lebih agung.

Tentang Harapan dan Ketakutan

Bergerak diantara harapan dan ketakutan (ketakutan terhadap Allah dan berharap ampunan-Nya) adalah keadaan paling awal dari kesufian. Mereka yang berbeda dalam keadaan (tinggal dalam keadaan) ini, seperti bola yang dimainkan dari suatu sisi lapangan ke sisi yang lain. Setelah satu kali, pengalaman ini memiliki manfaatnya, dan setelah itu

adalah ketidakberuntungan. Mengikuti Jalan (pencapaian) tanpa sifat-sifat yang lebih rendah dari harapan dan ketakutan merupakan sasaran. Suatu sasaran yang lebih tinggi adalah ketika tidak ada suap maupun penipuan. Beberapa membutuhkan harapan dan ketakutan; mereka adalah orang-orang yang telah ditetapkan untuk hal-hal itu.

(Pahlawa-i-Zaif)