Pengertian A.
Bakat diyakini sebagai anugerah Tuhan YME kepada manusia.
Anugerah tersebut perlu dikembangkan melalui proses pendidikan.
Dengan bakat yang dimiliki, seseorang mampu meraih prestasi dalam berbagai bidang sesuai dengan bakatnya. Bakat yang dimiliki seseorang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dari segi jenisnya maupun dalam derajat atau tingkat pemilikan suatu bakat. Ani berbakat musik, adi berbakat dalam mengoperasikan angka-angka, sementara budi berbakat teknik, dan Rina berbakat sastra. Itulah keragamannya meskipun mereka seumur bahkan mungkin bersaudara belum tentu bakat mereka sama.
Begitu juga dari segi derajat atau tingkat pemilikan bakat tertentu misalnya Adrian dan Afif sama-sama berbakat sastra, namun Adrian lebih menonjol dibandingkan dengan Afif.
Mengingat begitu pentingnya bakat sebagai salah satu potensi peserta didik, maka pendidik hendaklah berperan membimbing mereka agar bakat yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tersebut dapat bekembang.
Oleh karena itu para pendidik perlu mengenali, memahami berabagai hal mengenai bakat, sehingga memudahkan mereka dalam membantu peserta didik dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Menurut Utami Munandar (1985), Bakat (attitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Berbeda dengan bakat,
“kemampuan” merupakan daya untuk malakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan suatu tindakan (performance) dapat dilakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Orang yang berbakat metematika diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang matematika. Jadi “prestasi”
merupakan perwujudan bakat dan kemampuan. Prestasi yang menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut, begitu juga sebaliknya.
Kartini Kartono (1979), bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan, dan keterampilan khusus tertentu. Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan potensinya.
Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif.
Suganda Purbakawatja (1982), Bakat sebagai “benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembang”
Dyke Bingham (dalam Ny. Moesono; 1989) bakat adalah : A Condition or set of characteristic regard symptomatic of and individuals ability to acquire with training some knowledge (usually specifie), skill or set of response, such as the ability to speak a language to produce music, etc.
Bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian karakteristik dari kemampuan seseorang untuk mencapai sesuatu dengan sedikit latihan (khusus) mengenai pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian respon misalnya kemampuan berbahasa, kemampuan mengarang lagu dan lain- lain.
Sarlito Wirawan Sarwono (1979), bakat adalah kondisi dalam diri seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Bakat merupakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih 1.
perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan
2. interaksi
dari faktor keturunan dan faktor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar, dan memiliki ciri khusus.
Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan 3. mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi
sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
Bakat mencakup ciri-ciri lain yan dapat memberi kondisi atau 4. suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk inteligensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu“ arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.
Jenis-jenis Bakat B.
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang memiliki individu ada yang bersifat umum dan ada khusus. Inteligensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus adalah seperangkat sifat yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan atau respon, seperti kemampuan berbahasa, musik, berhitung, olah raga dan sebagainya.
Dengan demikian kajian tentang bakat khusus itu terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas tertentu yang tidak tergantung pada latihan atau belajar sebelumnya. Sehubungan dengan pengertian tersebut terdapat berbagai jenis bakat yang dimiliki individu.
Raven mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut : bakat pemahaman verbal, kemampuan numerikal, skolastik, bakat kerani (kesekretariatan), pemahaman mekanik, tilikan (pandangan) ruang atau berfikir 3 dimensi, dan bakat bahasa. Selanjutnya ditinjau dari cara berfungsinya, bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu :
Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan 1. yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olah raga (sepak
bola, senam, renang) dan sebagainya.
Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk 2. merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang
(dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistic atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisir bakat sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sekelompok sifat-sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat C.
Berkembang atau tidaknya bakat yang ada pada diri seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi variabel yang berasal dari orang tersebut dan variabel yang berasal dari lingkungannya.
Variabel-variabel dalam Diri Siswa 1.
Interest
a. atau minat; minat seseorang akan berpengaruh terhadap pengembangan bakatnya. Seseorang yang berminat terhadap hitung menghitung, berpotensi menjadi ahli metematika
Motivasi
b. , rendahnya/kurangnya motivasi, maka bakat tidak akan berkembang atau tidak menonjol. Motivasi berkaitan dengan
“tujuan”. Jika kurang motivasi, sedikit saja ada halangan, sudah cukup untuk menghilangkan semangat berlatih.
Value
c. , bagaimana seseorang memberi arti terhadap pekerjaan itu. Misalnya bila seseorang memberi arti negatif terhadap pekerjaan musik, kurang dihargai, maka bakat itu juga terhambat berkembangnya.
Kepribadian
d. , Anak yang berkembang sesuai dengan bakatnya, akan memiliki kepribadian yang lebih positif, dibandingkan sukses-sukses yang dialaminya, serta penggunaan bakatnya mempengaruhi penyesuaian emosionalnya.
Konsep diri
e. , Ada pengaruh timbal balik antara kepribadian dengan konsep diri, karena kesuksesan yang diperolehnya.
Variabel Lingkungan yang Mempengaruhi Bakat 2.
Variabel lingkungan yang mempengaruhi berkembangnya bakat pada diri seseorang. Variabel-variabel dimaksud antara lain adalah :
Sarana
a. dan prasarana yang diperlakukan untuk memfasilitasi dalam mengeksperimen bakat yang dimiliki siswa, misalnya untuk bakat olah raga yaitu lapangan bermain, bakat musik yaitu alat musik, bakat elektronik yaitu alat-alat elektronik seperti komputer, radio, tv dan sejenisnya.
Lingkungan social, melalui proses sosialisasi misalnya b.
kebudayaan tertentu membentuk tingkah laku tertentu. Misalnya di Iran, mungkin tidak dapat berkembang bakat seni musik, tari, dll, karena di sana misalnya tidak dibolehkan bernyanyi.
Jadi kesempatan untuk mengekspresikan bakat tersebut sangat sedikit.
Lingkungan edukasi, pengembangan melalui proses pendidikan c. formal seperti sebagaimana diajarkan di sekolah.
Besar atau banyaknya latihan, pengembangan melalui proses d. training atau latihan.
Hambatan-hambatan yang ada dalam lingkungan misalnya e.
kemiskinan rangsangan mental, cara pengasuhan anak yang khusus, dan sebagainya
Kemungkinan untuk mengekspresikan atau mengutarakan bakat f.
misalnya apakah diberikan kesempatan untuk latihan yang cukup, apakah tersedia alat, dan sebagainya.
Cara-cara Identifikasi dan Pengungkapan Bakat D.
Untuk kepentingan pendidikan para pendidik perlu mengenali bakat peserta didiknya. Ciri-ciri sebagai berikut : 1) Peserta didik memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu bidang atau pekerjaan tertentu.
Ketertarikan yang kuat tersebut. 2) Tumbuhnya keinginan yang kuat untuk mencoba melakukan aktifitas dalam bidang atau keterampilan tertentu, 3) Apabila berada dalam kegiatan tersebut mereka menikmatinya, dan cepat menguasai keterampilan dalam bidang/keterampilan tersebut bila dibandingkan dengan anak lain seumur yang tidak berbakat. Cara lain untuk mengamati dan mengenali bakat peserta didik adalah dengan memberi kesempatan peserta didik melakukan sesuatu bidang bakat, dari penampilannya tersebut dapat diketahui apakah dia memiliki bakat atau tidak, misalnya bakat menari di lihat dari gerakannya, bakat menyanyi
dilihat dari bagaimana suara bernyanyi, bakat olah raga dari gerakan dan sebagainya.
Melalui tes bakat juga akan dikenali bakat seseorang. Pada umumnya tes bakat dapat menggambarkan kekuatan dan kelemahan orang yang dites.
Tes bakat tertulis yang terkenal adalah tes bakat differesial. Ada delapan sub tes tersebut yaitu :
Tes Bakat Verbal; ialah tes yang dipergunakan untuk mengungkap atau 1.
mengukur bakat seseorang dalam berbahasa. Seberapa baik seseorang dapat mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dinyatakan dalam bentuk kata- kata.
Tes Bakat Numerikal, ialah tes yang dipergunakan untuk mengungkap 2.
atau mengukur bakat seseorang mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah dengan angka- angka.
Tes Bakat Skolastik, ialah tes yang dipergunakan untuk mengungkap 3.
atau mengukur bakat seseorang dalam mata pelajaran persiapan akademis dan sejenisnya. Seberapa baik seseorang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas skolastik, mata-mata pelajaran persiapan akademi, dan yang sejenisnya.
Tes Bakat Berpikir Abstrak, ialah tes yang dipergunakan untuk 4.
mengungkap atau mengukur bakat seseorang dalam memecahkan masalah meskipun tanpa petunjuk yang berupa kata-kata maupun angka-angka. Seberapa baik mudah seseorang mengerti ide- ide dan konsep-konsep yang tidak memberi petunjuk-petunjuk pemecahannya.
Tes Bakat Klerikal, ialah tes yang dipergunakan untuk mengungkap 5. atau mengukur bakat seseorang dalam memecahkan hal-hal yang berkaitan tugas-tugas ketatausahaan. Seberapa cepat dan teliti seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugas tulis menulis, pekerjaan pembukuan yang sangat diperlukan dalam pekerjaan kantor, perusahaan dagang, pencatatan, pengecekan dan sebagainya.
Upaya Orang Tua dan Guru dalam Pengembangan Bakat E.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa bakat bersifat potensial, yang memerlukan pengembangan. Untuk pengembangan bakat ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh para orang tua dan guru, antara lain :
Perkaya anak dengan macam-macam pengalaman, dan membangun 1. motivasi belajar. Dengan cara ini anak akan dpat menemukan
dimana dia berbakat.
Dorong atau rangsanglah anak untuk meluaskan kemampuannya, 2.
setelah anak mengarang, anjurkan dia untuk menggambarkannya.
Bersimpati atau bersama-sama melakukan kegiatan dengan anak.
3. Berilah penghargaan atau pujian atas usaha yang dilakukannya 4.
sekecil apapun usaha tersebut.
Sediakanlah sasaran yang memadai untuk pengembangan bakat 5. anak.
Pengertian Emosi A.
Remaja berada pada periode yang banyak mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Kematangan hormon seks yang ditandai dengan datangnya menstruasi bagi remaja putri dan keluarnya mani melalui mimpi basah pada remaja putra dapat menimbulkan kebingungan dan perasaan cemas, khususnya apabila mereka belum disiapkan untuk menyikapi peristiwa tersebut secara positif. Begitu juga perubahan yang dialami tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan dan hubungan sosial remaja.
Para remaja mulai tertarik pada lawan jenis, ketertarikan ini di satu sisi dapat menimbulkan konflik dalam diri mereka karena muncul perasaan malu, kurang percaya diri dan kebingungan dalam penyesuaian diri agar bertingkah laku seperti yang diinginkan orang dewasa. Apabila mereka tidak mampu, mereka akan dicela dan dianggap tidak matang.
Sebaliknya masyarakat terutama orang tua masih memperlakukan mereka sebagai anak-anak dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri dalam mengambil keputusan tentang diri mereka sendiri, seperti memilih jurusan atau pendidikan lanjutan, dan memilih teman lawan jenis yang disukai.
Keadaan ini akan menimbulkan konflik dan perasaan tidak puas dalam diri remaja, sehingga dapat menjadi sumber timbulnya emosi negatif.