• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INTELIGENSI REMAJA

Dalam dokumen Fun Learning.pdf (Halaman 46-56)

Periodisasi perkembangan manusia berlangsung mulai dari fase prental, infancy, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan lanjut usia. Masing- masing fase itu memiliki karakteristik yang khas. Perpindahan dari suatu fase ke fase berikutnya terjadi perubahan, perubahan yang dialami masing- masing individu terdapat perbedaan baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Perkembangan inteligensi remaja juga mengalami perubahan (lebih bersifat kualitatif) yang mempengaruhi sikap dan perilaku remaja.

Untuk lebih memahami perkembangan inteligensi remaja, sistematika pembahsan dikembangkan sebagai berikut: (1) pengeritan inteligensi, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi, (3)

mahasiswa yang berintelegensi tinggi adalah lukisan mengenai mahasiswa pintar, selalu naik tingkat, memperoleh nilai baik, atau mahasiswa yang jempolan di kelasnya atau bintang kelas. Bahkan gambaran ini meluas pada citra fisik, yaitu sosok mahasiswa yang wajahnya bersih/berseri, berpakaian rapi, matanya bersinar atau berkacamata. Sebaliknya, mahasiswa yang berintelegensi rendah memiliki sosok seseorang yang lamban berfikir, sulit memahami pelajaran, prestasi belajar rendah, dan mulutnya lebih banyak menganga disertai tatapan mata kebingungan. Pendapat orang awam, seperti diparkan ini meskipun tidak memberi arti yang jelas tentang inteligensi, namun secara umum tidak jauh berbeda dari makna inteligensi yang dikemukakan para ahli.

Banyak rumusan yang dikemukakan ahli tentang definisi inteligensi, masing-masing ahli memberikan tekanan yang berbeda-beda sesuai dengan titik pandang untuk lebih memahami inteligensi yang sesungguhnya.

Berikut dikemukakan definisi dari beberapa ahli tersebut sebagai berikut:

Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang 1. untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

Inteligensi juga diibaratkan bagaikan listrik, mudah diukur tapi 2.

hampir mustahil untuk didefinisikan. Kalimat ini banyak benarnya, tes intekigensi sudah di buay sejak sekitar dalapan dekade yang lalu, akan tetapi sejauh ini belum ada definisi intigensiyang dapat diterima secara universal.

Beberapa ahli memandang bahwa inteligensi sebagai auatu 3. kumpulan trait-trait tertentu. Ineligensi dikaitkan dengan pengetahuan, pemikiran, kemampuan bertindak secara efektif dalam menghadapi situasi baru dan kemampuan mendapatkan serta memanfaatkan informasi.

Alfred Binet menyatakan bahwa Inteligensi adalah suatu kapasitas 4. intelektual umum yang antara lain mencakup kemampuan-

kemampuan:

Menalar dan Menilai (

a. reasoning and judgment)

Menyeluruh (

b. comprehension)

Mencipta dan merumuskan arah berfikir spesifik (

c. to take and

maintain a definite direction of thought)

Menyesuaikan fikiran pada pencapian hasil akhir (

d. to adapt

thinking to the attainment of a describe end) Memiliki kemampuan mengeritik diri sendiri (

e. to be outocritical)

Menurut Spearman bahwa aktivitas mental atau tingkah laku 5. individu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor umum {general factor (G)} dan faktor khusus {spesifik factor (S)} dengan kemampuan menalar secara abstrak.

Pengertian inteligensi menurut Cattel kombinasi sifat-sifat manusia 6. yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.

David Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai kumpulan 7. atau totalitas kemampuan seorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasioal, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

Lewis Madison Terman mendefinisikan inteligensi sebagai 8. kemampuan berfikir secara abstrak.

H.H Goddar mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan 9. pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.

Edward Lee Thomdike mengatakan bahwa inteligensi adalah 10. kemampuan dalam memberikan respons yang baik dari pandangan

kebenaran dan fakta.

George D. Stoddard mendefinisikan sebagai bentuk kemampuan 11. untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan: (a) mengandung kesukaran, (b) kompleks, yaitu mengandung berbagai jenis tugas yang harus dapat dibatasi dengan baik dalam arti bahwa individu yang inteligen mampu menyerap kemampuan baru dan memadukannya dengan kemampuan yang sedah dimiliki untuk kemudian digunakan untuk menghadapi masalah, (c) abstrak,

yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan analisis dan interprestasi, (d) ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakan proses mental yang efisien dari segi penggunaan waktu, (e) diarahkan pada satu tujuan, yaitu bukan dilakukan tanpa maksud melainkan mengikuti target yang jelas, (f) mempunyai nilai sosial, yaitu cara dan hasil pemecahan masalah dapat diterima oleh nilai dan norma sosial, dan (g) berasal dari sumbernya, yaitu pola pikir yang membangkitkan kreativitas untuk menciptakan yang baru dan lain.

Walters dan Gardener mendefinisikan inteligensi sebagai suatu 12. kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah

atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inteligensi itu adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi berfikir abstrak, menalar serta bertindak secara efisien dan efektif.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Inteligensi B.

Banyak faktor yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan inteligensi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi antara lain:

Faktor Pembawaan (Genetik) 1.

Banyak teori dan hasil penelitian menyatakan bahwa kapasitas inteligensi dipengaruhi oleh gen orang tua. Dalam hal ini ada yang mengatakan bahwa genetik ayah cenderung dominan mempengaruhi tingkat kecerdasan anaknya. Ahli lain mengatakan bahwa tingkat kecerdasan anak memang dipengaruhi faktor genetik, namun yang cenderung mempengaruhi tinggi atau rendahnya tingkat kecerdasan anak, teragantung faktor gen mana (ayah atau ibu)yang dominan mempengaruhinya pada saat terjadinya “konsepsi” individu.

Teori konvergensi mengemukakan bahwa anak yang lahir telah mempunyai potensi bawaan, tetapi potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik tanpa mendapat pendidikan dan latihan atau sentuhan dari lingkungan. Demikian pula halnya dengan inteligensi menandung potensi bawaan, tetapi untuk dapat berfungsi dan berkembang seoptimal mungkin

sebagaimana mestinya perlu mendapatkan pendidikan dan latihan dari lingkungan.

Faktor Gizi 2.

Perkembangan inteligensi baik dari segi kualitas maupun kuantitas tidak terlepas dari pengaruh faktor gizi. Kuat atau lemahnya fungsi inteligensi juga ditentukan oleh gizi yang memberikan energi/tenaga bagi anak sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kebutuhan akan makanan bernilai gizi tinggi (gizi berimbang) terutama yang besar pengaruhnya pada perkembangan inteligensi ialah pada fase prenatal (anak dalam kandungan) hingga usia balita, sedangkan usia diatas lima tahun pengaruhnya tidak signifikan lagi.

Faktor Kematangan 3.

Perkembangan fungsi inteligasi dipengaruhi oleh kematangan organ inteligensi itu sendiri. Menurut Piaget seorang psikolog dari Swiss membuat empat pentahapan kematangan dalam perkembangan inteligensi.

Tahap pertama disebut periode sensori motorik (0-2 tahun), tahap kedua disebut periode pre operasional (2-7 tahun), tahap ketiga disebut periode operasional konkrit (7-11 tahun), dan tahap keempat disebut periode operasional formal (11-16 tahun).

Pendapat Piaget tersebut membuktikan bahwa semakin bertambah usia seseorang, inteligensinya makin berfungsi dengan sempurna. Ini meenimbulkan perubahan-perubahan kualitatif dari fungsi inteligensi.

Perkembangan intelignsi semakin meningkat usia ke arah dewasa bahkan semakin tua, orang semakin cermat menganalisis suatu persoalan kaena didukung oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Jadi perkembangan inteligensi disini tidak lagi dari segi kuantitas dan strukturnya, tetapi lebih dari segi kualitas yaitu kemampuan menganalisis (memecahkan suatu permasalahan yang rumit) dengan baik.

Faktor Pembentukan 4.

Pendidikan dan latihan bersifat kognitif dapat memberikan sumbangan terhadap fungsi inteligensi seseorang. Misalnya: orang tua yang menyediakan fasilitas sarana seperti bahan bacaan majalah anak- anak dan sarana bermain yang memadai, semua ini dapat membentuk anak menjadi mengikatkan fungsi dan kualitas pikirannya, pada gilirannya

situasi ini akan meningkatkan perkembangan inteligensi anak dibanding anak seusianya.

Kebebasan Psikologis 5.

Perlu dikembangkan kebebasan psikologis pada anak agar inteligensinya berkembang dengan baik. Orang tua atau orang dewasa lainnya yang suka mengatur; mendikte, membatasi anak untuk berfikir dan melakukan sesuatu, membuat kecerdasan anak tidak berfungsi dan tidak berkembang dengan baik, terutama aspek kreativitas dan pola pikir. Mereka bebas memilih cara (metode) tertentu dalam memecahkan persoalan. Hal ini mempunyai sumbangan yang berarti dalam perkembangan inteligensi.

Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan inteligensi remaja, yaitu:

Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang 1.

sehingga ia mampu berfikir selektif.

Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah 2.

sehingga seseorang dapat berfikir proporsional

Adanya kebebasan berfikir, menimbulkan keberanian seorang 3.

dalam menyusun hipotesis yang radikal dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Hubungan Antara Inteligensi dan Hasil Belajar C.

Prestasi belajar merupakan suatu obyek yang sering menjadi pusat perhatian baik bagi guru maupun orang tua. Bila berbicara tentang prestasi belajar, jelas mempunyai kaitan yang erat dengan inteligensi tentunya tanpa mengabaikan faktor-faktor lain yang juga mempunyai sumbangan terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar peserta didik.

Ada sejumlah faktor lain ikut berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik, yaitu faktor internal mencakup fisik; kondisi panca indera dan fisik umumnya, dan psikologis, meliputi: (a) variable nonkognitif; minat, motivasi, dan kemampuan umum (inteligensi). Faktor eksternal mencakup pertama fisik, kondisi tempat belajar, sarana dan prasarana belajar, materi pelajaran, dan suasana lingkungan belajar, kedua sosial; dukungan sosial dan pengaruh budaya. Selengkapnya faktor-faktor yang berpengaruh ini divisualisasikan dalam diagram berikut ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar satu diantaranya adalah inteligensi. Seperti telah dipaparkan di muka, faktor inteligensi merupakan faktor yang cukup signifikan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Menurut Anastasi dan Willeman (dalam Sobani Irfan, 1986) menyatakan bahwa: dalam setiap kegiatan yang menuntut prestasi baik itu prestasi belajar, prestasi kerja, prestasi olahraga, seni, dan sebagainya inteligensi memegang peranan yang sangat penting.

Seseorang yang taraf inteligensi tinggi, akan lebih mudah menerima pelajaran bila dibandingkan dengan orang yang memiliki inteligensi rendah. Bagi individu yang inteligensinya tinggi, tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengerti dan memahami pelajaran yang baru karena ia mampu meganalisis dan mengerti hubungan antara masalah yang satu dan yang lainnya. Elida Prayitno (1990) juga mengemukakan bahwa individu yang mempunyai inteligensi tinggi mampu memecahkan masalah yang rumit dalam waktu yang relatif singkat dan tepat, sedangkan yang berinteligensi rendah hanya dapat menyelesaikan masalah-masalah yang sederhana saja. Willerman (dalam Mudjiran, 1988) mengatakan inteligensi mempunyai korelasi positif dengan hasil belajar, rata-rata korelasinya yaitu 0,50. Coleman (1975) juga menyatakan bahwa keberhasilan dalam kehidupan (termasuk belajar) dipengaruhi oleh faktor inteligensi (IQ) dan kecerdasan emosional.

Karakteristik Perkembangan Inteligensi Remaja D.

Pada periode remaja inteligensi berkembang semakin berkualitas dengan bertambahnya kemampuan remaja untuk menganalisis dan memikirkan hal-hal yang abstrak, akibatnya remaja makin kritis dan dapat berpikir dengan baik. Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh teori- teori dan ide sehingga menimbulkan sikap kritis terhadap lingkungannya.

Pendapat orang tua sering dibanding-bandingkan dengan teori yang diternalisasi remaja, akibatnya sering terjadi pertentangan antara sikap kritis remaja dan aturan-aturan, adat istiadat, kebiasaan, dan norma-norma yang berlaku di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat.

Sebagai akibat remaja telah mampu berpikir secara abstrak dan hipotesis, maka pola pikir remaja menunjukkan kekhususan sebagai berikut:

Timbul kesadaran berpikir tentang berbagai kemungkinan tentang 1.

dirinya.

Mulai memikirkan bayangan tentang dirinya pada masa yang akan 2.

datang.

Mampu memahami norma dan nilai-nilai yang berlaku 3.

dilingkungannya.

Bersifat kritis terhadap berbagai masalah yang dihadapi.

4.

Mampu menggunakan teori-teori dan ilmu pengetahuan yang 5. dimiliki.

Dapat mengasimilasikan fakta-fakta baru dan fakta-fakta lama 6.

Dapat membedakan mana yang penting dan mana yang tidak 7. penting.

Mampu mengambil manfaat dari pengalaman.

8.

Makin berkembangnya rasa toleransi tehadap orang lain yang 9.

berbeda pendapat dengannya.

Mulai mampu berfikir tentang masalah yang tidak konkrit, seperti 10.

pilihan pekerjaan, kelanjutan studi, dan perkawinan.

Mulai memiliki perimbangan-pertimbangan yang rasional.

11.

Taraf kecerdasan masing-masing individu tidak sama, ada yang 12. rendah, sedang, dan ada yang tergolong tinggi. Perbedaan itu telah ada sejak lahir, namun perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Untuk memperjelas pengklasifikasian inteligensi, berikut ini dikemukakan pengklasifikasian menurut Binet dan WAIS-R sebagai berikut.

Usaha Orang Tua dan Guru Membantu Perkembangan Inteligensi E. Remaja

Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa potensi intelektual tidak dapat berkembang dengan sempurna tanpa mendapatkan perlakuan dari lingkungan. Oleh karena itu keluarga dan sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan anak. Adapun yang dapat dilakukan antara lain:

Dalam proses belajar mengajar hendaknya orang tua atau guru lebih 1.

mengutamakan proses dari pada hasil. Misalnya dalam memberikan

pertanyaan kepada peserta didik tidak mengutamakan betul atau salah jawabannya semata, tetapi yang lebih penting dihargai adalah keberaniannya untuk mengemukakan pendapatnya itu.

Menggunakan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan 2. kemampuan berfikir. Misalnya metode penemuan (inquiri), diskusi

dan sejenisnya.

Guru membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang 3.

bersifat abstrak.

menyediakan fasilitas yang memadai untuk menumbuhkembangkan 4.

taraf kecerdasan anak, misalnya bahan bacaan, peralatan labor, permainan dan sebagainya.

memberikan tugas sekolah dengan berbagai macam metode yang 5. dapat merangsang dan mengembangkan daya pikir.

Perkembangan inteligensi remaja sedang berada pada tahap keempat yang disebut periode operasional formal. Dengan demikian, seyogyanya remaja telah mampu berfikir secara abstrak dan hipotesis, mampu berfikir berbagai kemungkinan tentang dirinya, kelanjutan studi, jenis pekerjaan yang cocok, manfaat penalaman hidup, dan hubungan antara berbagai macam fakta.

Inteligensi mempunyai korelasi positif dengan prestasi belajar.

Korelasi tersebut rata-rata berkisar 25 s.d 50 persen. Penemuan baru mengungakapkan penelitian yang dilakukan di luar negeri rata-rata korelasinya 0,695 lebih tinggi dari penelitian di lakukan di Indonesia, yaitu 0,347. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan inteligensi antara lain faktor bawaan (genetik), gizi, kematangan, pembentukan dan kebebasan psikologis, lingkungan dan budaya.

Inteligen : Intelligent; sebutan untuk tingkah laku mereka yang mempunyai inteligensi tinggi (cerdas, pandai) yang inteligensi teraktualisasi.

Inteligensi : Intelligence; 1. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi bar secara cepat dan efektif. 2.

Kemampuan menggunakan konsep abstarak secara efektif.

3. Kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali. 4. Sebutan untuk hasil pengukuran inteligensi.

Intelektual : Intellectua; 1. Berkenaan dengan inteligensi, 2. Mencirikan seseorang dengan minat-minat yang terutama sekali ditunjukan kepada ide-ide dan belajar, 3. Sebutan untuk kecakapan seseorang.

IQ : Secara normatif hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (Quotient) dan dinamai Intelligence Quotient disingkat menjadi IQ.

Kognitif : Cognitive; 1. Salah satu ranah dari Taxonomi Bloom, 2.

Nama salah satu aliran dalam psikologi yang pencetusnya Piaget dari Swiss, nama aliran dimaksud adalah psikologi kognitif, 3. Ada pertaliannya dengan kerja organ otak yang digunakan untuk berfikir.

Kreativitas merupakan suatu potensi yang telah ada sejak anak dilahirkan, namun potensi tersebut tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak mendapatkan pendidikan dan latihan dari lingkungannya.

Setiap individu memiliki potensi kreatif, yang membedakan antara individu yang satu dengan yang lain adalah besar atau kecilnya potensi tersebut. Ada seorang individu yang sangat kreatif karena memiliki potensi kreatifitas yang besar, sedangkan individu yang lain kreativitasnya terbatas sepertinya tidak kreatif, ini karena individ yang bersangkutan potensi kreativitasnya hanyalah kecil/tidak seperti individu yang lain.

Individu yang dikatakan kreatif adalah seseorang yang memiliki potensi kreativitas yang besar. Untuk mengetahui hal ini ada cirri-ciri yang dapat dididentifikasikan melalui sikap, perilaku, dan penampilannya.

Untuk mengidentifikasi cirri-ciri tersebut dapat dilakukan melalui tes/

psikotes dan/atau pengamatan, serta melihat atau mencermati hasil-hasil karyanya.

Kreativitas dapat berkembang apabila memiliki kondisi lingkungan yang memberikan stimulasi agar potensi kreatif yang dimiliki seseorang tertantang untuk berfungsi secara optimal. Pada pembahasan materi berikut ini akan disajikan jenis lingkungan yang dapat memupuk berkembangnya kreativitas seseorang. Disamping itu juga factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi berkembangnya kreativitas seseorang.

PERKEMBANGAN

Dalam dokumen Fun Learning.pdf (Halaman 46-56)