BAB II LANDASAN TEORI
2.1.1.4 Bank Syariah
2.1.1.4.1 Definisi Bank Syariah
Secara umum yang dimaksud bank syariah adalah suatu sistem perbankan yang melaksanakan kegiatan usahanya dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.
Sedangkan menurut undang-undang nomor 21 tahun 2008, bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah, dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dan Unit Usaha Syariah. Bank syariah juga dikatakan sebagai bank yang sepenuhnya melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan bank konvensional yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah melalui Unit Usaha Syariah (UUS) yang dimilikinya, tidak boleh melakukan kegiatan usaha yang melanggar prinsip syariah (Sutan Remy S,2014).
Berdasarkan undang-undang nomor 10 tahun 1998, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatannya dengan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana dan pembayaran kegiatan usaha, atau kegiatan lain yang dinyatakan sesuai dengan prinsip syariah Islam.
2.1.1.4.2 Fungsi dan Peran Bank Syariah
Sesuai dengan Undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, fungsi bank syariah terbagi menjadi dua, yaitu fungsi umum dan fungsi khusus (Ikatan Bankir Indonesia, 2014) yang dapat dijabarkan sebagai berikut;
1. Fungsi Umum bank syariah sebagai;
a. Penghimpun dana (mudharib), bank syariah dapat menghimpun dana masyarakat sesuai dengan fungsinya sebagai pengelola dana (mudharib) dalam bentuk simpanan.
b. Penyalur dana (shahibul maal), dana yang telah dihimpun disalurkan dalam bentuk pembiayaan atau bentuk lainnya dalam bentuk investasi pembelian sukuk, serta penyertaan dalam bentuk bagi hasil.
c. Pelayanan jasa keuangan, melakukan pelayanan lalu lintas pembayaran dilakukan dalam berbagai aktivitas, seperti pengiriman uang, inkaso, penagihan berupa collection, kartu debit, kartu kredit dan lain sebagainya.
2. Fungsi Khusus yang dimiliki bank syariah adalah sebagai berikut;
a. Agent of Trust, lembaga kepercayaan bagi masyarakat dalam penempatan dan pengelolaan dana berdasarkan prinsip syariah.
b. Agent of Development, institusi yang memobilisasi dana untuk pembangunan ekonomi rakyat dan negara yang berbasis prinsip syariah.
c. Agent of Services, memberikan pelayanan jasa perbankan dalam bentuk berbagai transaksi keuangan kepada masyarakat guna mendukung kegiatan bisnis dan perekonomian.
d. Agent of Social, Bank syariah dan Unit usaha Syariah dapan menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya serta menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.
e. Agent of Business, Bank Syariah dapat berfungsi sebagai mudharib, yaitu sebagai pengelola dana yang dimiliki nasabah (shahibul maal) untuk berbagi hasil. Selain itu bank syariah juga berperan sebagai pemodal (shahibul maal) ketika berbagi hasil, berjual beli, atau transaksi lain yang berhubungan dengan pembiayaan.
Selain fungsi, bank syariah juga memiliki peran penting dalam sistem keuangan (Ikatan Bankir Indonesia, 2014) dalam hal berikut:
a. Pengalihan Aset (Aset Transmutation), sumber dana yang diberikan untuk pembiayaan berasal dari pemilik dana selaku unit surplus.
b. Transaksi (Transaction), bank memberikan layanan dan kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan berbagai transaksi keuangan yang menyangkut barang dan jasa.
c. Likuiditas (Liquidity), bank berperan untuk menjaga likuiditas masyarakat dengan adanya aliran dana dari unit surplus ke unit defisit melalui mekanisme pengelolaan penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat.
d. Broker for Business, bank juga dapat berperan sebagai broker untuk mempertemukan para pebisnis yang kemudian dapat menjembatani informasi yang tidak simestris dan dapat mengakibatkan efisiensi biaya ekonomi.
2.1.1.4.3 Sumber Dana Bank Syariah
Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuan bank dalam menghimpun dana masyarakat, baik berskala kecil maupun besar dengan masa pengendapan yang memadai (Ikatan Bankir Indonesia, 2014). Berdasarkan prinsip syariah, bank syariah dapat menarik dana pihak ketiga dalam bentuk:
1. Giro Syariah, pengelolaan dana masyarakat yang dihimpun bank syariah dalam bentuk giro dapat menggunakan akad wadiah yadh dhamanah dengan prinsip titipan. Yang dikatakan giro syariah adalah giro wadiah, yaitu simpanan dana dalam bentuk giro yang pengembaliannya tanpa memperoleh
imbalan, tetapi bank boleh memberi dalam bentuk bonus tanpa diperjanjikan dengan nasabah.
2. Deposito Mudharabah, yaitu simpanan pihak ketiga yang diamanahkan kepada bank yang penarikannya dilakukan pada waktu tertentu sesuai dengan perjanjian.
3. Tabungan Syariah, adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang telah disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau bilyet giro ataupun alat lain yang dipersamakan dengan itu. Dalam tabungan syariah, dana yang ditempatkan diperlakukan sebagai titipan (wadiah) dan dapat pula diperlakukan sebagai bagi hasil (mudharabah).
a. Tabungan Wadiah, adalah penempatan dana dalam bentuk tabungan dengan prinsip titipan (wadiah). Bank dapat memberikan imbalan yang bersifat bonus, karena tidak diperjanjikan dan bukan sebagai kewajiban.
b. Tabungan Mudharabah, adalah penempatan dana dalam bentuk tabungan dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Bank sebagai pengelola dana mudharib akan mengelola dana dan memberikan imbalan sesuai dengan kinerja dan porsi nisbah yang telah diperjanjikan.
2.1.1.4.4 Alokasi Penggunaan Dana Bank Syariah
Setelah dana dari pihak ketiga terkumpul, maka fungsi dari bank pun mulai berjalan, bank berkewajiban untuk menyalurkan dana tersebut melalui mekanisme pembiayaan. Tujuan bank melakukan alokasi dana adalah agar bank dapat mencapai tingkat profitabilitas yang cukup dan tingkat risiko yang rendah.
Selain itu untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan menjaga posisi likuiditas untuk tetap aman. Adapun alokasi dana pada bank syariah dalam aktiva yang menghasilkan adalah sebagai berikut:
Aktiva yang menghasilkan (Earning Asset);
Aktiva yang menghasilkan adalah asset bank yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan. Asset ini disalurkan pada bentuk investasi yang terdiri atas:
A. Surat-Surat Berharga;
1. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA), yang menggunakan akad Mudharabah.
2. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), yang menggunakan akad Ju’alah .
3. Fasilitas Simpanan Bank Syariah (FASBIS), yang menggunakan akad wadiah.
B. Pembiayaan (Sutan Remy S, 2014);
1. Mudharabah (Pembiayaan atas prinsip bagi hasil) 2. Murabahah (Pembiayaan berdasarkan prinsip jual-beli)
3. Musyarakah (Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan) 4. Istishna’ (Pembiayaan dengan meng-ambil bentuk transaksi
jual-beli)
5. Qardh ( Perjanjian pinjaman) 6. Ijarah ( Lease contract)
2.1.1.4.5 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional
Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan syariah atau prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan dan keadilan. Adapun perbedaan yang mendasar antara bank syariah dan bank konvensional sebagai berikut:
Tabel 2.1.1
No Prinsip Syariah Konvensional
1 Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah
Tidak terdapat dewan sejenis
2 Hubungan dengan nasabah dalam
bentuk hubungan kemitraan Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur.
3 Berdasarkan prinsip bagi hasil Besarnya disepakati pada waktu akad dengan berpedoman kepada kemungkinan untung rugi.
Memakai perangkat bunga
Besarnya disepakati pada waktu akad dengan asumsi akan selalu untung 4 Transaksi dilakukan melalui akad
yang berdasarkan Al-Qur’an Transaksi dilakukan melalui surat perjanjian yang berdasarkan hukum positif yang berlaku di Indonesia 5 Jumlah pembagian laba
meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan
Jumlah bunga tidak
meningkat sekalipun keuntungan meningkat
6 Kerugian ditanggung bersama Pembayaran bunga besarnya tetap