BAB II LANDASAN TEORI
4.3 Pembahasan
peningkatan pada presentasi CAR, dan presentasi CAR di tahun 2014 adalah sebesar 16.10%. Ini menunjukkan bank tersebut mampu dalam membiayai operasi bank dengan baik, karena berdasarkan ketentuan Bank Indonesia nilai minimum CAR adalah sebesar 8%.
Tingginya nilai CAR juga menunjukkan bahwa modal bank semakin besar sehingga bank semakin leluasa dan memiliki peluang yang cukup besar untuk melakukan ekspansi pembiayaan dengan lebih aman kedalam aktivitas investasi yang menguntungkan. Di sisi lain, tingginya CAR dapat menambah kepercayaan masyarakat terhadap bank, karena jaminan dana masyarakat semakin tinggi. Dengan kondisi demikian maka akan meningkatkan perolehan laba dari bank tersebut.
Adapun tidak berpengaruhnya Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA) dikarenakan bank-bank yang beroperasi tidak mengoptimalkan modal yang ada. Hal ini dapat terjadi karena peraturan Bank Indonesia yang memberikan syarat nilai CAR sebesar 8% sehingga hal ini mengakibatkan banyak bank yang selalu berusaha menjaga CAR yang dimilikinya sesuai dengan ketentuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012) dan Imam Mukhlis (2012) yang menunjukkan bahwa CAR memiliki pengaruh negatif terhadap ROA.
4.3.2 Pengaruh BOPO terhadap Return On Asset (ROA)
Pengaruh BOPO terhadap Return On Assets (ROA) menunjukkan hasil negatif dan signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil koefisien regresi sebesar - 0.05514 dan probabilitas sebesar 0.0000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0.025. Koefisien yang memiliki tanda negatif menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank, karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Begitu juga hal sebaliknya yaitu jika semakin tinggi tingkat rasio BOPO maka kinerja manajemen pun semakin kurang bagus karena tidak efisien dalam mengggunakan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
BOPO menurut kamus keuangan adalah kelompok rasio yang mengukur efisiensi dan efektivitas operasional suatu perusahaan dengan jalur membandingkan satu terhadap lainnya. Rasio biaya operasional adalah perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bak dalam melakukan kegiatan operasi. Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya efisiensi biaya maka keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar.
BOPO memiliki hubungan yang negatif terhadap kinerja proftabilitas (ROA), sehingga hasil penelitian ini menunjukkan apabila nilai BOPO meningkat berarti efisiensi akan menurun, sehingga Return On Asset (ROA) yang diperoleh oleh bank akan menurun. Hal ini disebabkan karena tingkat efisiensi bank dalam
menjalankan operasinya berpengaruh terhadap pendapatan yang dihasilkan oleh bank tersebut. Apabila kegiatan operasional dilakukan dengan efisien, maka pendapatan yang dihasilkan oleh bank akan semakin besar. Dalam pengertian lain, semakin efisien kinerja operasional suatu bank maka keuntungan yang diperoleh oleh bank akan semakin besar. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012), Fahmy (2013), Wati (2013), Hermansyah (2012), dan Setiawan (2010) yang penelitiannya berkesimpulan bahwa perngaruh antara BOPO terhadap ROA adalah negatif dan signifikan.
4.3.3 Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Asset (ROA)
Pengaruh Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Assets (ROA) menunjukkan hasil negatif dan signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil koefisien regresi sebesar -0.083281 dan probabilitas sebesar 0.0000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0.025. Koefisien yang bertanda negatif menunjukkan bahwa semakin rendah NPF maka akan semakin meningkat pertumbuhan laba, begitu juga hal sebaliknya yaitu jika semakin tinggi NPF maka akan semakin menurun pertumbuhan laba.
Menurut Surat Edaran BI No. 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001, NPF diukur dari rasio perbandingan antara kredit bermasalah terhadap total kredit yang diberikan. NPF yang tinggi akan memperbesar biaya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas pembiayaan bank yang menyebabkan jumlah pembiayaan bermasalah
operasionalnya sehingga berpengaruh terhadap penurunan laba (ROA) yang diperoleh bank. Pembiayaan dalam hal ini adalah pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk pembiayaan kepada bank lain. Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar (KL), diragukan (D) dan macet (M). Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, besarnya NPF yang baik adalah di bawah 5%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fahmy (2013), dan Wati (2013) yang dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa pengaruh NPF terhadap ROA adalah negatif dan tidak signifikan.
4.3.4 Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Return On Asset (ROA)
Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Return On Assets (ROA) menunjukkan hasil positif dan signifikan. Hal tersebut sesuai dengan hasil koefisien regresi sebesar 0.013429 dan probabilitas sebesar 0.002 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0.025. Koefisien yang bertanda positif menunjukkan bahwa semakin tinggi FDR maka akan semakin meningkat pertumbuhan laba, begitu juga hal sebaliknya yaitu jika semakin rendah FDR maka akan semakin menurun nilai ROA.
Ketidak signifikannya pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Return On Asset (ROA) terjadi karena bank umum syariah yang beroperasi tidak mengoptimalkan pemberian pembiayaan kepada pihak ketiga.
Hal ini sebagaimana adanya karena peraturan Bank Indonesia yang terdapat pada PBI Nomor: 13/1/PBI/2011 yang memberikan syarat nilai LDR atau dalam prinsip
syariah dikenal sebagai FDR adalah sebesar 85%-110%. Hal ini akhirnya mengakibatkan bank-bank selalu menjaga agar FDR yang dimilikinya sesuai dengan ketentuan.
Akan tetapi jika terdapat bank yang tidak memenuhi ketetapan dari Bank Indonesia yaitu nilai FDR berada dibawah 85% dan hal ini terjadi secara berulang maka bank tersebut akan dikenakan sanksi sesuai ketetapan undang-undang Nomor 10 tahun 1998.
Hasil penelitian ini belum sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012), Setiawan (2010), Imam Mukhlis (2012) yang dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa pengaruh FDR terhadap ROA adalah positif dan signifikan.