BAB III. ESENSI PENDIDIKAN KARAKTER
3.4. Basis Psikologis Pendidikan Karakter
Gagasan Jiang Zemin ini mendapat sambutan postif dan diterapkan di sekolah-sekolah di negaranya, dan menjadikan anak-anak didik mereka berkarakter kuat. Upaya yang dilakukan Zemin di negaranya untuk menjadikan anak-anak berkarakter kuat dapat saja diadopsi untuk pendidikan karakter di Indonesia. Hanya saja harus disesuaikan dengan kondisi karakter dan budaya Indonesia.
berpikir abstrak, dan menerima hubungan yang kompleks.
Otak kecil merupakan pusat penyeimbang, cerebellum qoutient, dan taat. Otak kecil menyimpan potensi orang yang rendah hati, tawaduk, sederhana, dan ketaatan. God Spot bagian otak yang menjadi pusat spiritual qoutient, kebermaknaan. Potensi God Spot ialah pengembangan kejiwaan yang berdimensi ketuhanan, hubungan yang bersifat vertikal atau sering disebut spiritual qoutient.
Manusia memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya, yang disebabkan perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan, sehingga manusia mampu menerima pengetahuan tentang alam semesta ini sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pendidikan berupaya menggabungkan emotional qoutient, intelligence qoutient, cerebellum qoutient dan spiritual quotient, sehingga diharapkan dapat mengembangkan potensi menjadi manusia yang memiliki moral qoutient, adversity qoutient, dan religious qoutient. Jika manusia mampu mengembangkan seluruh potensinya, maka manusia tersebut merupakan manusia yang holistik, yaitu manusia pembelajar sejati yang selalu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan yang luas, sehingga selalu ingin memberikan kontribusi positif kepada lingkungan hidupnya (Megawangi, 2005:8).
Berbicara tentang jenjang pendidikan, pendidikan dasar merupakan awal atau dasar untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih atas. Karena itu, pendidikan harus memberikan orientasi yang lebih pada usaha membekali anak didik dengan pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada penanaman dan pembinaan kepribadian dan karakter. Ini artinya, bahwa dalam pendidikan harus ada penyeimbangan otak kanan dan otak kiri anak. Karakter yang baik akan membuat anak tenteram hatinya (otak kanan) dan mudah
berkonsentrasi dalam menyerap pelajaran (otak kiri).
Tokoh dunia seperti Mahatma Gandhi juga pernah mengungkapkan kekhawatirannya dengan mengeluarkan pernyataan bahwa telah terjadi dosa besar di dunia pendidikan, dengan ungkapan: “education without character” (pendidikan tanpa karakter). Demikian juga dengan Martin Luther King dengan tegas menyatakan: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Demikian juga dengan Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman/marabahaya bagi masyarakat).
Alo Liliweri (2009:257) mengutip apa yang dikatakan Ki Hadjar Dewantoro, bahwa: “Pendidikan serba otak saja tidak cukup, tetapi harus ada pendidikan jiwa dan budi pekerti”. Kutipan tersebut menggambarkan bahwa dalam dunia pendidikan tidak cukup hanya menekankan pada nalar atau kepandaian (otak) saja, tetapi perlu nilai-nilai kearifan, rendah hati dan manusiawi”. Pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter telah lama didengung-dengungkan oleh tokoh pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, dengan pendidikan yang berpilar kepada Cipta, Rasa dan Karsa. Makna dari tiga pilar tersebut, bahwa pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan (knowledge) tetapi juga mengasah afeksi moral, sehingga menghasilkan karya bagi kepentingan umat manusia.
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Lalu bagaimana cara membangun karakter? Menurut John C. Maxwell (1991) dalam bukunya The 21 Indispensable Qualities of a Leader
menyatakan: “Karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan.
Karakter yang baik adalah sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, tapi dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan nyata, melalui pembiasaan, keberanian, usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan demi kesulitan saat menjalani kehidupan”.
Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.
Terkadang, karakter diri seseorang terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide “brilian” namun tidak mampu bekerjasama dengan teamwork-nya. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedangkan kecerdasan emosionalnya buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik, namun malas bekerja. Itu menunjukkan action-nya lebih lemah dibanding IQ dan EQ nya. Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Untuk itu pendidikan karakter harus menyeimbangkan ketiga kecerdasan tersebut, sehingga anak memiliki integritas pribadi yang kuat.
Dengan demikian, dalam perjalanan hidup manusia, pengembangan karakter menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis karena karakter seringkali diidentikkan dengan budi pekerti atau akhlak. Seseorang yang karakternya baik, identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya luhur atau akhlaknya baik, sementara itu orang yang karakternya buruk identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya tidak luhur atau akhlaknya tidak baik. Dalam skala makro, usaha untuk membangun karakter bangsa identik bahkan sama halnya dengan meluhurkan budi pekerti bangsa itu sendiri.
Demikian pentingnya karakter, maka banyak teori, pengetahuan, ilmu, nilai, nasehat, bahkan pedoman hidup
tentang pengembangan karakter bagi manusia telah tersedia untuk dijadikan dasar dalam pendidikan karakter, sehingga karakter bangsa akan semakin kuat. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, seperti dinyatakan Martin Luther King: “intelligence plus character…
that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).