• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Moral, Etika, Nilai, Akhlak

Dalam dokumen “QUO VADIS” PENDIDIKAN KARAKTER (Halaman 63-74)

BAB II. KARAKTER DAN PENDIDIKAN

2.5. Pendidikan Moral, Etika, Nilai, Akhlak

13. Bersahabat/

komunikatif Sikap yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.

14. Cinta damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar

membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli

lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli

sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung

jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.

memberi arti untuk kata moral: ...concerning principle of right and wrong. Selanjutnya ...the moral standards, a moral question, the moral sense diartikan the power of distinguishing right and wrong. Sedang morale diartikan state of discipline and spirit, temper, state of mind, as axpressed in action.

Hampir sama dengan batasan-batasan tentang moral tersebut, menurut Damon (1988), moral diartikan sebagai aturan dalam berperilaku (code of conduct). Aturan tersebut berasal dari kesepakatan atau konsesus sosial yang bersifat universal. Sedangkan Nucci & Narvaes (2008) menyatakan bahwa moral merupakan faktor determinan atau penentu pembentukan karakter seseorang. Moral yang bermuatan aturan universal tersebut bertujuan untuk pengembangan ke arah kepribadian yang positif (intrapersonal) dan hubungan manusia yang harmonis (interpersonal). Karena itu moral digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat, atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Intinya, moral adalah ajaran tentang baik-buruk, benar-salah yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti.

Moral seseorang sering juga dikaitkan dengan adat- istiadat yang berlaku di masyarakat. Jika ingin mengukur tingkah laku seseorang, baik atau buruk dapat dilihat apakah perbuatan itu sesuai dengan adat istiadat yang umum diterima kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Dengan kata lain, moral adalah kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat tertentu, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan tersebut).

Jika dikaitkan dengan kata pendidikan, maka pendidikan moral adalah penyampaian nilai-nilai yang benar dan yang salah dengan didasarkan pada adat dan kebiasaan suatu masyarakat secara umum. Pembelajarannya lebih banyak

disampaikan dalam bentuk konsep dan teori tentang nilai benar (right) dan salah (wrong). Sedangkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak menyentuh ranah afektif (apresiatif) dan psikomotorik (tidak menjadi kebiasaan) dalam perilaku siswa.

Selanjutnya dalam pembicaraan sehari-hari, istilah moral sering dikacaukan dengan etika. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki individu atau kelompok masyarakat untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang dikerjakannya salah atau benar, buruk atau baik. Etika merupakan refleksi dari apa yang disebut self control, karena segala sesuatu dibuat dan diterapkan dari dan untuk kelompok masyarakat tertentu.

Secara akademis, etika adalah filsafat moral atau setidak-tidaknya ilmu tentang moral. Dengan demikian etika itu berada pada wilayah teoritis, bukan berada pada wilayah praksis. Moral juga dapat berada pada wilayah teoritis jika yang dimaksud adalah filsafat moral, atau konsep moral, bukan perilaku atau sikap moral.

Selain itu, etika juga merupakan ilmu tentang norma, nilai, dan ajaran moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat diantara sekelompok manusia. Norma moral berkaitan dengan bagaimana manusia hidup supaya menjadi manusia yang baik.

Norma moral atau ajaran moral ini dapat ditanamkan melalui pendidikan.

Pendidikan moral (moral education) dalam keseharian sering dipakai untuk menjelaskan aspek-aspek yang berkaitan dengan etika. Pembelajarannya lebih banyak disampaikan dalam bentuk konsep dan teori tentang nilai benar (right) dan salah (wrong) dengan didasarkan pada adat dan kebiasaan suatu masyarakat secara umum. Terminologi tertua untuk pendidikan moral adalah sebagai ilmu yang mengajarkan nilai-

nilai kebaikan dalam kehidupan manusia (Zheis, 2011). Namun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak mendapat porsi yang memadai, karena sangat normatif dan kurang bersinggungan dengan ranah afektif (apresiatif) dan psikomotorik (tidak menjadi kebiasaan) dalam perilaku.

Pendidikan moral atau internalisasi nilai-nilai moral inilah yang menjadi esensi dari pendidikan karakter (watak).

Hakikat pendidikan karakter tidak lain adalah penanaman nilai- nilai moral, baik moral kesusilaan maupun kesopanan.

Pendidikan karakter yang esensinya adalah internalisasi nilai- nilai moral termasuk dalam pengembangan domain afektif.

Domain afektif berkaitan dengan aspek batiniah (the internal side) yang tidak dapat diamati, maka dalam pemahamannya sering ditemukan konsep yang tumpang tindih.

Domain afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, rasa senang/tidak senang, apresiasi, sikap, nilai-nilai, moral, karakter dan lain-lain. Adanya tumpang tindih konsep terlihat dalam pendapat Ringness (1975:5) yang menyatakan sebagai berikut.

The affective domain includes all behavior connected with feelings and emotions. Thus, as was earlier stated, emotions, tastes and preferences, appreciations, attitudes and values, morals and character, and aspects of personality adjustment or mental health are included.

Jika kata moral berkaitan dengan manusia, maka etika dalam pandangan filsafat tidak mempersoalkan keadaan manusianya tetapi mempersoalkan bagaimana manusia harus berperilaku. Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos”, yang artinya tingkah laku atau perilaku. Perilaku manusia ditentukan oleh norma, dan norma dapat berasal dari aturan perundangan, agama, maupun kehidupan sehari-hari kelompok masyarakat.

Etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001), etika diartikan sebagai ilmu tentang etik. Jadi etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Etika merupakan cabang filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan baik dan buruk, dan ukuran yang dipergunakan adalah akal pikiran. Akallah yang menentukan apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk.

Sedangkan kata akhlak dalam Bahasa Indonesia disepadankan dengan budi pekerti. Para pakar pendidikan mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tidak memerlukan pertimbangan-pertimbangan pemikiran terlebih dahulu (Jatmika, 1996). Akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu (Megawangi, 2007b), dan didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan. Jadi akhlak memiliki arti yang lebih mendalam karena telah menjadi sifat dan watak yang dimiliki seseorang dan bersifat manusiawi dan bernilai. Sifat dan watak yang telah melekat pada diri pribadi maka menjadi kepribadian. Dapat juga dikatakan bahwa perangai adalah sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang.

Perbuatan akhlak setidaknya memiliki ciri, sebagai berikut: pertama, perbuatan tersebut telah mendarah daging atau mempribadi, sehingga menjadi identitas orang yang melakukannya. Kedua, perbuatan tersebut dilakukan dengan mudah, gampang, serta tanpa memerlukan pikiran lagi, sebagai akibat telah mempribadinya perbuatan tersebut. Ketiga,

perbuatan tersebut harus dilakukan atas kemauan dan pilihan sendiri, bukan paksaan dari luar. Keempat, perbuatan tersebut dilakukan atas dasar niat semata-mata. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat dikatakan akhlak terkait dengan perbuatan yang baik, terpuji, bernilai luhur, berguna bagi orang lain.

Perbuatan-perbuatan tersebut selanjutnya digunakan sebagai ukuran atau patokan dalam menentukan tingkah laku seseorang. Dengan dijadikannya akhlak tersebut sebagai patokan, maka ia menjadi moral.

Akhlak atau perangai seseorang ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Pendidikan akhlak adalah upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang.

Keluarga merupakan lingkungan yang paling penting dalam pembentukan watak, dan melalui keluarga dapat terbentuk kepribadian. Perangai dalam penerapannya bisa jadi menimbulkan penilaian positif atau negatif tergantung pada perilaku orang yang melakukan.

Jika dibandingkan ketiga kata tersebut (moral, etika, akhlak), maka etika adalah ilmu, moral adalah ajaran, dan akhlak adalah tingkah laku manusia (sikap etis). Jika akhlak juga diartikan dengan tingkah laku, maka tingkah laku itu harus dilakukan secara berulang-ulang. Bila terus menerus melakukan kebaikan dan memperlihatkan tingkah laku yang baik, maka seseorang disebut berakhlak. Selanjutnya seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya, didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Jika perbuatan itu terpaksa, bukanlah pencerminan dari akhlak.

Dalam penerapannya, pendidikan akhlak lebih ditekankan pada pembentukan sikap batiniyah agar memiliki spontanitas dalam berbuat kebaikan. Nilai benar dan salah diukur oleh nilai-nilai agamawi. Setiap umat, nilai-nilai itu tentu merujuk pada kitab suci masing-masing agama sebagai sumber norma yang harus dijunjung tinggi. Jika perilaku manusia sudah tidak merujuk lagi pada nilai-nilai agama tersebut, dapat dikategorikan kaum yang tidak berakhlak sekaligus dapat disebut kaum yang tidak bermoral.

Secara teoritis jika pendidikan akhlak (budi pekerti) secara intens dilaksanakan di lembaga pendidikan, akan menjadikan peserta didik memiliki kapasitas intelektual (intellectual resources) yang memungkinkan dirinya membuat keputusan secara bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Karena inti dari pendidikan akhlak pada hakekatnya adalah menjadikan peserta didik mampu menginternalisasi nilai-nilai (values) dan kebajikan (virtues) yang akan membentuknya menjadi manusia yang baik (good people).

Ada dua kegiatan yang menjadi inti dari pendidikan akhlak (budi pekerti). Pertama, membimbing hati nurani peserta didik agar berkembang menjadi lebih positif secara bertahap. Hasil yang diharapkan adalah agar terjadi perubahan kepribadian yang egosentris menjadi altruis. Kedua, memupuk, mengembangkan, menanamkan nilai-nilai dan sifat-sifat positif ke dalam pribadi anak. Pendidikan akhlak berupaya mengikis dan menjauhkan peserta didik dari sifat-sifat buruk. Titik tekan pendidikan moral/budi pekerti ini harus melibatkan aspek pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing) melalui sumber belajar dan nara sumber, keinginan atau kecintaan terhadap kebaikan (moral feeling/moral loving) dapat dilakukan melalui pola saling membelajarkan di antara siswa, dan mampu berbuat

kebaikan (moral action/moral doing). Ketiga aspek atau komponen inilah yang menurut Lickona (1991) menjadi landasan fundamental dalam pembentukan karakter yang baik.

Ketiga komponen tersebut digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1: Komponen Pendidikan Karakter yang Baik (Sumber Lickona, 1991)

Ketiga komponen pada gambar 2.1 dalam aplikasi pembentukan karakter harus terbangun secara terkait. Moral knowing meliputi: (a) kesadaran akan moral, (b) pengetahuan tentang nilai-nilai moral, (c) sudut pandang, yaitu kemampuan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa atau yang terjadi pada orang lain, (d) logika, yakni penalaran moral atau alasan tentang pentingnya moral, (e) menentukan sikap, yakni kemampuan dalam pengambilan keputusan, dan (f) pemahaman terhadap diri sendiri, adalah hal yang esensial yang perlu diajarkan kepada anak.

Namun pembentukan karakter sebagai moral knowing tidaklah cukup. Untuk itu perlu dilanjutkan dengan moral feeling (perasaan moral). Seringkali sisi emosional dari pendidikan karakter diabaikan dalam pembahasan-pembahasan

mengenai pendidikan moral, padahal hal ini sangatlah penting.

Dapat dikatakan bahwa “mengetahui yang benar tidak menjamin perilaku yang benar”. Banyak orang yang sangat pandai ketika berbicara mengenai yang benar dan yang salah, akan tetapi justru mereka memilih perbuatan yang salah.

Adanya ketidaksesuaian antara ucapan dangan perbuatan…”walk the tolk” kata Megawangi (2006).

Moral feeling yang harus ditanamkan meliputi: (a) kesadaran (baik dari sisi kognitif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang benar, maupun dari sisi emosional, yaitu perasaan adanya kewajiban untuk melakukan apa yang benar itu), (b) penghargaan diri, yaitu kemampuan untuk menghargai dan menghormati diri sendiri), (c) empati (kepekaan terhadap orang lain), (d) cinta kebaikan, (e) kontrol diri atau pengendalian diri, dan (f) kerendahan hati. Selanjutnya penanaman nilai-nilai moral terus berlanjut pada tahap yang paling penting, yaitu moral action (tindakan moral). Apabila seseorang memiliki kualitas moral intelek dan emosi, kita bisa memperkirakan bahwa mereka akan melakukan apa yang mereka ketahui dan rasakan. Tahap ini dikatakan penting, karena pada tahap ini motif/dorongan seseorang untuk berbuat baik atau menjalankan nilai-nilai moral tampak pada aspek kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit) yang ditampilkannya.

Ketiga komponen mendasar ini menurut Lickona harus diterapkan secara terpadu dalam mendidik karakter seseorang.

Ketersusunan tiga komponen moral yang saling berhubungan secara sinergis tersebut, menjadi syarat aktualisasi bagi pendidikan maupun pembentukan karakter dalam mengembangkan kecerdasan moral anak. Kecerdasan moral (moral intelligence) adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah dengan keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinannya tersebut dengan sikap

yang benar serta perilaku yang terhormat (Borba, 2008:4).

Pengembangan kecerdasan moral menjadi sesuatu yang sangat urgen dilakukan mulai dari lingkungan keluarga, karena kecerdasan moral terbangun dari beberapa kebajikan utama yang akan membantu anak dalam menyikapi dan menghadapi tantangan hidup yang penuh dengan kontradiktif. Lebih lanjut Borba (2008:7) menguraikan tujuh kebajikan utama yang perlu dimiliki anak dalam mengembangkan kecerdasan moral, yakni:

empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan.

Dengan desain pengembangan kecerdasan moral yang diaktualisasikan secara sistematis dan berkelanjutan, maka anak akan mampu mengembangkan nilai-nilai kehidupan dalam lingkungan sosial budaya yang melingkupinya. Selain itu, anak akan memiliki sejumlah kebajikan utama yang berguna bagi dirinya dalam menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Karena alasan-alasan di atas, sebagai bagian dari pendidikan moral, maka harus banyak kesempatan yang diberikan kepada anak untuk mengembangkan kebiasaan baik, dan memberikan praktek yang cukup untuk menjadi orang baik. Dengan demikian, penting bagi orang tua dan pendidik lainnya untuk memberikan kepada mereka pengalaman- pengalaman berkenaan dengan perilaku jujur, sopan, dan adil.

Dalam lembaga pendidikan formal guru diharapkan menjadi role model dari nilai-nilai karakter yang diharapkan.

Nilai-nilai karakter tersebut dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran, antar mata pelajaran, dan kurikulum. Jadi pendidikan karakter tidak harus diajarkan dalam mata pelajaran tersendiri.

Proses dan strategi yang diterapkan harus menjadi daya tarik dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Guru diharapkan

dapat menjadi inspirasi, pembelajaran harus menyenangkan, penguatan isi, dan metode yang mencerahkan siswa. Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa ialah interaksi edukatif, dialogis, dengan prinsip-prinsip demokrasi, kesetaraan, keberagaman, dan penghargaan. Nilai-nilai dasar kemanusiaan sebagai inti pendidikan karakter dibangkitkan, ditanamkan, dipelihara, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran, dan perilaku, sehingga menjadi budaya kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Schulman dan Mekler (1990) dalam bukunya Bringing up A Moral Child menekankan bahwa yang terpenting dalam pendidikan moral adalah membuat anak agar berperilaku santun dan baik serta berlaku adil. Demikian juga Nata (2000:54) menyatakan pandangannya bahwa pendidikan moral merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Jadi pendidikan akhlak lebih ditekankan pada pembentukan sikap batiniyah agar memiliki sikap spontan dalam berbuat kebaikan. Nilai benar dan salah diukur oleh nilai-nilai agama. Implementasinya sama halnya dengan pendidikan moral. Sedangkan pendidikan etika, pengambilan nilai-nilainya bersumber dari olah akal pikiran para filosof. Dalam skala bangsa, usaha untuk membangun karakter bangsa identik bahkan sama halnya dengan meluhurkan budi pekerti bangsa itu sendiri. Demikian pentingnya karakter, maka banyak teori, pengetahuan, ilmu, nilai, nasehat, bahkan pedoman hidup tentang pengembangan karakter baik bagi manusia telah tersedia untuk dijadikan dasar dalam pendidikan karakter, sehingga karakter bangsa akan semakin kuat. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, seperti dinyatakan Martin Luther King: “intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Dalam dokumen “QUO VADIS” PENDIDIKAN KARAKTER (Halaman 63-74)