BAB IV. STRATEGI MEMPERKUAT
4.1. Strategi Pendidikan
Berbicara tentang strategi pendidikan, tentu kita akan mempersoalkan apakah visi dan tujuan pendidikan yang selama ini dilakukan sudah tercapai. Sejak 2400 tahun yang lalu Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart”, yang artinya selain menjadikan manusia berbudi luhur/bijak, juga sebagai manusia yang cerdas, kreatif, kritis, serta yang haus ilmu. Landasan pendidikan karakter ini sebetulnya sudah dijabarkan oleh pemerintah dalam Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada pasal 3, yang berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Namun kalau kita lihat kondisi karakter generasi Indonesia hingga sekarang, nampaknya penting dipertanyakan lagi “apa yang salah dengan sistem pendidikan nasional kita?”.
Quo vadiskah pendidikan karakter kita? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan selalu muncul ketika hasil pendidikan kita tidak sesuai dengan cita-cita yang telah digariskan dalam tujuan pendidikan nasional.
Banyaknya kasus-kasus tidak terpuji pada remaja seperti telah digambarkan pada bab I, adalah jauh dari gambaran remaja terdidik yang berbudi luhur dan bertanggung jawab. Juga perilaku orang dewasa lulusan sekolah lanjutan atau universitas yang tidak indevenden, etos kerja yang rendah, tidak kreatif dan bertindak tidak sesuai dengan kaidah-kaidah moral, yang juga merupakan buah dari bagaimana mereka dididik sebelumnya.
Jika kita mempertanyakan strategi pendidikan kita sudah benar atau tidak, dapat kita lihat dari orientasi operasionalnya. Strategi pendidikan kita sebetulnya lebih menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi (tidak sebanding dengan yang meminati bidang kejurunan), atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik (dengan ukuran IQ tinggi). Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan seperti teori Gardner (1993) tentang kecerdasan majemuk, sementara potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya.
Banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian keterampilan, musik/gambelan, imajinasi, dan pembentukan karakter) yang kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran kita. Kalaupun ada, orientasinya lebih kepada kognitif (hafalan), tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan kegairahan untuk belajar dan mendalami materi lebih lanjut.
Pendekatan yang terlalu kognitif mengubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai tinggi. Hal ini dapat mendorong para siswa untuk mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur seperti menyontek, menjiplak (plagiat), mengupah pembuatan skripsi termasuk tugas-tugas kuliah, dan sebagainya. Akibatnya, Indonesia kurang memiliki tenaga-
tenaga kerja terdidik yang terampil dan berkualitas.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Indonesia secara umum belum dapat dikatakan berhasil. Masih banyak lembaga pendidikan yang hanya menyentuh aspek pengetahuan semata. Padahal, pendidikan karakter tidak hanya membutuhkan teori atau konsep semata.
Selama ini sudah cukup banyak teori tentang kepribadian, akhlak, budi pekerti, karakter, yang telah dirumuskan dan diurai jelas dalam berbagai artikel, buku, dan banyak hasil penelitian.
Strategi pendidikan kita selama ini telah mengingkari hukum alam yang penuh keragaman potensi dan bakat, karena seluruh siswa atau peserta didik diseragamkan bakatnya hanya pada bidang akademis saja, maka jadilah sumber daya (SDM) kita yang kurang terampil. Seharusnya pendidikan kita menjadikan setiap individu sukses dan produktif sesuai dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Peserta didik tidak hanya harus memiliki kecerdasan kognitif saja, akan tetapi juga harus memiliki karakter yang baik.
Para peserta didik harus disiapkan untuk mampu berkiprah sesuai dengan jamannya. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan kita harus menghasilkan insan-insan mandiri, lebih kreatif lagi untuk berinovasi, semangat belajar, serta mempunyai kualitas karakter mulia, karakter yang lebih baik (integritas, percaya diri, tanggung jawab sosial, dan kerjasama yang baik). Kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum yang holistik berbasis karakter, yang menyentuh seluruh aspek kebutuhan anak (Megawangi, 2007b). Sementara guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya siswa dalam mengembangkan pribadinya secara utuh.
Guru atau pendidik memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral karena guru merupakan teladan bagi para siswa (Arifah D., 2010), menjadi figur utama, serta contoh bagi siswa. Oleh karena itu, dalam pendidikan karakter guru harus mulai dari dirinya sendiri agar apa-apa yang dilakukannya dengan baik menjadi baik pula pengaruhnya terhadap siswa (Mulyasa, 2011:63). Peran guru sangatlah vital sebagai sosok yang diidolakan siswanya. Guru diharapkan mampu menjadi model dalam pembelajaran pendidikan moral, baik pendidikan moral kebangsaan (nasionalisme) maupun pendidikan moral keagamaan (akhlak). Kegiatan pembiasaan dapat di integrasikan pada proses pembelajaran di sekolah, misalnya gotong royong, bhakti sosial, melakukan persembahyangan, dan sebagainya. Beberapa contoh kegiatan tersebut wajib diikuti oleh warga sekolah, termasuk guru, sehingga dalam hal ini peran guru tidak hanya sebagai “penganjur yang baik”
kepada anak didiknya.
Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti, seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain. Selain itu juga mencakup nilai-nilai kinerja pendukungnya, seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik (Bashori, 2010).
Sekolah harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai tersebut, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu, mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai tersebut di sekolah dan masyarakat.
Semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap
standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai- nilai inti. agar pendidikan karakter berhasil dalam penerapannya.