• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Karakter Dalam

Dalam dokumen “QUO VADIS” PENDIDIKAN KARAKTER (Halaman 85-91)

BAB III. ESENSI PENDIDIKAN KARAKTER

3.3. Pendidikan Karakter Dalam

2007:59), yang telah dipublikasikan mengenai faktor-faktor resiko yang menyebabkan kegagalan anak di sekolah, seperti rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan motivasi rendah, tidak mampu mengontrol diri, tidak mampu bekerjasama dan bergaul, rendahnya rasa empati, dan tidak bisa berkomunikasi.

3.3. Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan Nasional

dan dimana saja. Menurut Lickona (1991), dalam dunia modern ini kita cenderung melupakan the virtuous life atau kehidupan yang penuh kebajikan, termasuk di dalamnya self- oriented virtuous atau kebajikan terhadap diri sendiri, seperti self control and moderation atau pengendalian diri dan kesabaran; dan otheroriented virtuous atau kebajikan terhadap orang lain, seperti generousity and compassion atau kesediaan berbagi dan merasakan kebaikan.

Melalui pendidikan karakter yang diinternalisasikan di berbagai tingkat dan jenjang pendidikan, diharapkan krisis karakter bangsa ini bisa segera diatasi. Lebih dari itu, pembentukan karakter sendiri merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, diantaranya membentuk insan cerdas, terampil dan berakhlak mulia (good and smart), yakni manusia yang tidak hanya pintar tetapi juga memiliki kepribadian yang baik dilandasi oleh nilai-nilai ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan nilai luhur budaya bangsa. Pembentukan manusia yang cerdas dan berakhlak mulia dalam Sarasamuscaya sargah 33, diistilahkan dengan “Pradnyan tur Purusothama”, yang berarti pintar dan berakhlak mulia.

Untuk menjadikan anak pintar dan berakhlak mulia, berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah, diantaranya membenahi sistem pendidikan di Indonesia, karena bagaimanapun pendidikan merupakan tulang punggung dalam memajukan pembangunan dan peradaban serta membangun karakter bangsa. Pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (USPN), dinyatakan bahwa “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Selain itu pasal 3 pada USPN No. 20 Tahun 2003, dengan tegas menyebutkan bahwa “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Dimuatnya kata-kata beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab yang terdapat dalam ketentuan umum UUSPN No. 20 Tahun 2003 point 2 menunjukkan bahwa implementasi pendidikan hendaknya berbasiskan kepada seperangkat nilai sebagai panduan antara keseimbangan ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Tujuan pendidikan nasional yang memberikan perhatian dan penekanan aspek pembinaan keimanan dan ketakwaan mengisyaratkan bahwa nilai dasar pembangunan karakter bangsa bersumber dan harus bermuara pada penguatan nilai-nilai ketuhanan sesuai dengan keyakinan agama yang diyakininya. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan karakter.

Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam UUSPN di atas jelas menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan dasar (SD/MI) sangat menitikberatkan pada pembinaan karakter yang berbasiskan pada etika, nilai dan moral. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pendidikan dasar merupakan salah satu jenjang yang bertujuan

untuk mengembangkan potensi dasar yang dimiliki anak sehingga memiliki sejumlah dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap/nilai. Kemampuan ini selanjutnya diperlukan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan keseharian sekaligus mampu melatih dan membiasakan mereka dalam mengambil keputusan sesuai dengan tingkat dan tahap perkembangannya. Kata dasar memiliki pengertian sebagai peletak kemampuan awal baik aspek intelektual, sosio-emosional, bahasa, fisik-motorik dan yang terpenting aspek kepribadian anak melalui pengembangan karakter serta penanaman aspek nilai dan moral seperti kedispilinan, kejujuran dan lain sebagainya.

Selain itu, pendidikan karakter juga memiliki korelasi positif pada keberhasilan akademik anak didik. Itulah sebabnya titik tekan dari mutu lulusan yang diharapkan adalah nilai moral yang tinggi dan hasil lulusan yang berkualitas, yang bermanfaat sesuai dengan harapan dan dapat diandalkan di masyarakat. Harapan dan sasaran ini dituangkan dalam profil mutu lulusan yang berkarakter, yakni kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan. Contoh:

seperti pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan (SKL) yang ditetapkan dalam PP Mendikbud tentang SKL Pendidikan Dasar dan Menengah No.

54 Tahun 2013, dijabarkan pada tabel berikut:

Standar Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/ SMLB/

Paket C.

Dimensi Kualifikasi Kemampuan Pengetahuan

(Kognitif) Memiliki pengetahuan yang faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban yang terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.

Sikap

(Afektif) Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Keterampilan

(Psikomotor) Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit sebagai pengembangan diri yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

Sebagai bahan banding, pemerintah Amerika juga sangat mendukung program pendidikan karakter yang diterapkan sejak pendidikan dasar. Hal ini terlihat pada kebijakan pendidikan tiap-tiap negara bagian yang memberikan porsi cukup besar dalam perancangan dan pelaksanaan pendidikan karakter. Hal ini bisa terlihat pada banyaknya sumber pendidikan karakter di Amerika yang bisa diperoleh.

Kebanyakan, program-program dalam kurikulum pendidikan karakter tersebut menekankan pada experiental study sebagai

sarana pengembangan karakter siswa.

Dalam penelitiannya, Mr. Doug Monk (The Monk Study) dari Kingwood Middle School di Humble, Texas, membandingkan evaluasi para guru terhadap murid sebelum dan sesudah diimplementasikannya kurikulum Lessons in Character. Dalam kurikulum yang lebih banyak mengajak murid untuk berinteraksi dalam kegiatan-kegiatan sosial dan mengembangkan kepekaan mereka, telah memberikan dampak positif dalam perubahan cara belajar, kepedulian dan rasa hormat terhadap para staf sekolah, dan meningkatnya keterlibatan para murid secara sukarela dalam proyek-proyek kemanusiaan (Brooks, 2005).

Pembelajaran yang menekankan pada hafalan dan metode drill selama ini hanyalah dalam penguasaan pengetahuan (kognitif) saja dengan terabaikannya pembentukan karakter. Li Lanqing, seorang politikus dan birokrat Cina yang memiliki pemahaman komprehensif dan mendalam tentang pendidikan menekankan bahayanya sistem pendidikan yang terlalu menekankan hapalan, drilling, dan cara mengajar yang kaku, termasuk sistem pendidikan yang berorientasi hanya untuk lulus dalam ujian. Karena itu, sistem ini menurut Lanqing harus ditinggalkan. Sebagai hasilnya, Cina yang relatif baru bangkit dari keterpurukan ekonomi, sosial, dan budaya akibat Revolusi Kebudayaan yang dijalankan oleh Mao, bisa begitu cepat mengejar ketertinggalannya dan menjadi negara yang maju.

Presiden Jiang Zemin sendiri pernah mengumpulkan semua anggota Politburo khusus untuk membahas bagaimana mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem pendidikan yang patut secara umur dan menyenangkan, dan pengembangan seluruh aspek dimensi manusia; aspek kognitif (intelektual), karakter, aestetika, dan fisik (atletik) (Li, 2005).

Gagasan Jiang Zemin ini mendapat sambutan postif dan diterapkan di sekolah-sekolah di negaranya, dan menjadikan anak-anak didik mereka berkarakter kuat. Upaya yang dilakukan Zemin di negaranya untuk menjadikan anak-anak berkarakter kuat dapat saja diadopsi untuk pendidikan karakter di Indonesia. Hanya saja harus disesuaikan dengan kondisi karakter dan budaya Indonesia.

Dalam dokumen “QUO VADIS” PENDIDIKAN KARAKTER (Halaman 85-91)