• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Gejala Interferensi Sintaksis

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 66-90)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Beberapa Gejala Interferensi Sintaksis

1. Ada beberapa gejala interferensi sintaksis bahasa Daerah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar dalam tuturan lisan adalah (1) penanggalan subjek, (2) urutan kata, (3) penggunaan kata ganti yang berlebihan, (4) penggunaan partikel agentif sama untuk menggantikan partikel agentif oleh, (5) penggunaan partikel sama untuk menyatakan kepada, (6) penggunaan partikel sama untuk menyatakan dengan, (7) penggunaan partikel proposisi di untuk menggantikan patikel preposisi ke. (8) penggunaan partikel preposisi di untuk menyatakan partikel preposisi pada, (9) penggunaan partikel preposisi di untuk menyatakan partikel preposisi dari, (10) penanggalan partikel pada untuk menytakan waktu, (11) penggunaan kata baru sebagai kata tumpuan kalimat,

(12) penanggalan preposisi oleh dalam kalimat pasif yang bersifat wajib, (13) pengingkaran di awal kalimat. (14) pemakaian kata ganti.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas, maka setiap komponen tersebut akan disajikan dalam bentuk contoh-contoh data.

1. Penanggalan Subjek

Gejala penanggalan subyek hanya terlihat dalam kalimat pemberitaan aktif, sedangkan dalam kalimat pemberitaan pasif gejala ini tidak ditemukan. Contoh data interferensi sebagai berikut:

(1) Bapak menyuruh membuatmakalah.

(2) Mungkin tidak membayar juga.

(3) Membina juga di Hartaco, dua tempatnya mengajar.

Analisis :

a. Salah satu matra keumuman bahasa-bahasa adalah adanya unsur fungsi sintaksis yang sama, yaitu terdiri dari sebuah subjek dan predikat (Sudaryanto, 1992 : 9). Subjek dalam bahasa Indonesia dapat berupa kata ganti, kata benda, kata kerja, kelompok kata, kelompok kata yang dimulai kata yang, atau barang siapa, kalimat yang dimulai dengan bahwa, bahwasanya, ( Slametmulyana dalam Kamaruddin, dkk, 1998: 56 ). Berdasarkan tuturan mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kalimat dalam

data tersebut tidak mempunyai subyek pelaku yang mendahului predikatnya, sehingga diperoleh bentuk yang seharusnya :

(1) Bapak menyuruh membuat makalah.

(2) Mungkin mereka tidak membayar juga.

(3) Dia membina juga di Hartako, dua tempat mengajarnya.

b. Dalam bahasa Daerah, kata ganti umumnya tidak dinyatakan berupa kata ganti yang berdiri sendiri, sebelum predikat seperti dalam bahasa Indonesia. Untuk menyatakan subjek itu, bahasa Daerah umumnya menggunakan sufiks yaitu –ak, -kik untuk orang pertama, -ko atau –kik untuk orang kedua, dan –I untuk orang ketiga walaupun bahasa Daerah mempunyai kata ganti untuk masing-masing persona I, II, III tersebut. Pola inilah yang mempengaruhi dwibahasawan Daerah-Indonesia menanggalkan subjek pelaku misalnya :

(1) Alakik inanre maega.

(2) Laoko baliwi majjama tomatowannu.

(3) Maelo manengngi lao ri Pare – pare anak sikolae.

Dengan demikian, di depan predikat yang digarisbawahi pada contoh di atas seharusnya ada kata ganti atau kata lain yang bertindak sebagai subjek pelaku.

2. Urutan Kata

Interferensi akibat pengurutan kata yang menyimpang dari kaidah-kaidah atau pola bahasa Indonesia dapat terjadi pada tataran kalimat ataupun prase.

a. Penempatan subjek pelaku di belakang kalimat dalam kalimat aktif.

Contoh Data Interferensi :

(1) Padahal, di rumahnya menunggunya.

(2) Kalau memasukkan judul orang, kayaknya tidak segampang dulu.

(3) Harus banyak membaca orang itu baru jadi.

(4) Mesti berjalan orang.

(5) Selalu menangis mamaknya.

Analisis :

b. Dalam kalimat aktif bahasa Indonesia dikenal susunan S - P ( subjek predikat). Pola inilah yang merupakan pola dasar kalimat bahasa Indonesia. Walaupun terdapat susunan predikat – subjek itu adalah akibat kaidah transpormasi yakni permutasi yang berfungsi pemfokusan. Berdasarkan pola dasar bahasa Indonesia, maka pada data di atas seharusnya berbentuk :

(1) Padahal anaknya menunggu di rumahnya.

(2) Kalau orang mau memasukkan judul, kayaknya tidak segampang dulu.

(3) Orang harus banyak membaca baru bias jadi.

(4) Orang mesti berjalan.

(5) Mamaknya selalu menangis.

c. Pola dasar bahasa Daerah mengenal susunan P–S (predikat - subjek) yang Subjeknya dinyatakan dengan sufiks –ak / -kik untuk orang I, -ko /- kik untuk orang II, dan –I untuk orang III. Pola dasar kalimat P – S ini hanya dapat diubah menjadi susunan S – P kalau terjadi pemfokusan terhadap subyek sehingga diterapkan kaidah transformasi yakni permutasi.

d. Oleh karena pola dasar kalimat bahasa Daerah bersusunan P – S, maka dwibahasawan Daerah – Indonesia cenderung menerapkan kaidah bahasa Daerah ini ke dalam pemakaian bahasa Indonesia terutama yang belum dapat memisahkan secara tegas kedua kaidah yang berbeda ini ke dalam penggunaan bahasanya.

e. Penempatan deiktis sebelum kata yang ditunjuknya.

Interferensi akibat penempatan deiktis sebelum kata yang ditunjuknya dapat dilihat ada kalimat di bawah ini:

(1) Mengapa itu orang demoterus ?

(2) Biasanya itu teman-teman walaupun dia tahu bahwa mau prosentase selalu juga mengharapkan kita.

(3) Memang itu skripsi harus punya manfaat teoritis.

(4) Itu tman-teman tidak ada rasa tanggun bugisbnya.

(5) Memang itu skripsi harus punya manfaatsecara teoritis.

(6) Baru itu definisi operasional berbeda sekali dengan definisi istilah.

(7) Itu yang mau cepat selesai punya orientasi yang jelas.

(8) Itu aktivitas dongeng bias berhenti kalau sudah sarjana.

(9) Itu judul yang cocok buat kamu.

(10) Karena itu judul ada semua kelemahannya.

(11) Harus diupayakan betul, supaya itu judulyang terbaik yang dipilih.

(12) Itu film bias juga diangkat menjadi skripsi.

(13) Jadi itu dongeng, ada nilai pelajaran di dalamnya (14) Ini kerja sosial namanya.

(15) Pernah itu dosen berkata,”apa kegiatanmu di situ?”

(16) Kesibukan apa saja pada waktu kamu mengurus itu festival?

(17) Bagaimanakah itu keadannyasenat ? Analisis :

a. Dalam bahasa Indonesia, deiktis sebagai perangkat frase selalu ditempatkan sesudah kata yang ditunjukinya.

Berdasarkan susunan ini, bentuk-bentuk yang terdapat dalam kalimat data di atas, seharusnya sebagai berikut:

(1) Mengapa orang itu demoterus?

(2) Biasanya teman-teman itu, walaupun dia tahu bahwa mau presentase selalu juga mengharapkan kita.

(3) Memang, skripsi itu harus mempunyai manfaat teoritis.

(4) Teman-teman itu tidak ada rasa tanggun-bugisbnya.

(5) Definisi operasional itu berbeda sekali dengan definisi istilah.

(6) Yang mau cepat selesai itu, punya orientasi yang jelas.

(7) Aktivitas dongeng itu, bias berhenti kalau sudah sarjana.

(8) Judul itu yang cocok buat kamu.

(9) Karena biasanya, judul itu ada semua kelemahannya.

(10) Harus diupayakan betul, supaya judul itu, yang terbaik yang dipilih.

(11) Jadi dongeng itu, ada nilai pelajaran di dalamnya.

(12) Kerja sosial ini namanya.

(13) Pernah dosen itu berkata,”apa kegiatanmu di situ?”

(14) Film itu bias juga diangkat menjadi skripsi.

(15) Kesibukan apa saja pada waktu kamu mengurus festival itu?

(16) Bagaimana keadaan senat itu?

b. Pola penggunaa deiktris dalam bahasa Daerah ialah deiktris boleh mendahului dan boleh pula mengikuti kata yang ditunjukinya.

Contoh:

1. Iaro manu e

2. Iaro to matoa e maeloi cemme ri salo e

Apabila deiktris mendahului kata yang ditujukinya, maka kata yang ditunjuknya mendapat akhiran -e.

c. Akibat pola penggunaan deiktris bahasa daerah ini memungkinkan dwibahasawan Daerah-Indonesia yang belum mengetahui bentuk penggunaan deiktris bahasa Indonesia menempatkan deiktris di muka kata yang ditunjuknya.

3. Penggunaan Kata Ganti Yang Berlebihan Contoh data interferensi :

1. Apakah anda mau melihat Ketuanya IMM FKIP ? 2. Perjuangan untuk menarik simpatinya rakyat.

3. Apakah penghasilan utamanya penduduk di sini ?

4. Sambutannya masyarakat waktu pertama datang kesana.

5. Keluarganya Rahman berada di Palu sekarang.

6. Mereka memancing emosinya keamanan.

7. Ia mengatakan bahwa banyak juga urusannya HMJ.

Analisis :

a. Dalam bahasa Indonesia, pola konstruksi posesif seperti di atas kurang tepat. Konstruksi posesif yang dimaksudkan adalah kata benda tambah morfem terikat-nya ditambah dengan kata benda.

Konstruksi posesif yang unsure-unsurnya memiliki hubungan posesif tidak menggunakan imbuhan morfem terikat –nya. Melainkan diperkirakan dengan kaaidah formal B Ø B atau cukup dengan B B saja. Dengan demikian maka data di atas seharusnya :

1. Apakah anda mau melihat ketua IMM FKIP ? 2. Perjuangan untuk menarik simpatik rakyat.

3. Apakah penghasilan utama penduduk di sana ? 4. sambutan masyarakat waktu pertama datang kesana.

5. Keluarga rahman berada di Palu sekarang.

6. Mereka memncing emosi keamanan.

7. Ia mengatakan bahwa banyak juga urusanHMJ.

b. Dalam bahasa Daerah konstruksi posesif semacam itu dinyatakan dengan pola. Dengan demikian maka dapatlah ditemukan bentuk antara lain:

1. Bolana pamarenta. 1. Rumahnya pemerintah 2. Sepatunna anak sikola e 2. Sepatunya anak sekolah c. Bentuk kontruksi posesif seperti di atas terjadi akibat interferensi kontruksi posesif bahasa daerah dalam penggunaan bahasa Indonesia, bagi dwibahasawan Daerah-Indonesia.

4. Penggunaan partikel agentif sama untuk menggantikan partikel agentif oleh pada kalimat pasif.

Contohdatainterferensi:

(a) Ia dibantu sama temannya yang bernama sanusia.

(b) Ada dijjual sama Bu Yuli.

(c) Hal ini tidak sempat diketahui sama samua desa.

Analisis:

a. Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia oleh slamet mulyana dibentuk dengan rumus sebagai berikut:

Gatra pangkal + kata kerja dengan awalan di-, atau didahului oleh kau, ku, dan yang sederajat dengan itu.(Slamet Mulyana dalam kamaruddin, dkk, 1978:82). Berdasarkan rumusan tersebut di atas, dapat dikemukakan contoh antara lain:

(1) Rumah itu selalu dibersihkan oleh Andi.

(2) Anak kecil itu dtabrak mobil kemarin.

(3) Saya dipukul oleh ibu guru kemarin.

Pemakaian partikel agentif oleh dalam kalimat pasif B1 bersifat mana suka, kecuali kalau pelaku difokuskan atau pelaku disela oleh keterangan atau kata lain dengan predikat pemakainnya bersifat wajib.

Contoh:

(1) Pesananmu telah dipenuhi oleh ibuku.

(2) Tugas itu telah selesai dikerjakan oleh adik.

Dengan demikian, partikel sama pada data di atas seharusnya dinyatakan dengan partikel agentif oleh.

b. Rumusan kalimat pasif bahasa daerah dapat dianalogikan dengan rumusan kalimat pasif bahasa Indonesia dari Slamet Maulyana (dalam Kamaruddin, 1978:83) sebagai berikut:

(Gatral pangkal) + (sufiks KG) + (partikel agentif ri- + pelaku).

Apabila pelaku dinyatakan maka pemakaian partikel agentif ri bersifat wajib asal kata kerjanya juga berimbuhan ri. Bentuk agentif ri tersebut merupakan bentuk partikel agentif yang satu-satunya dalam nahasa daerah. Contoh:

1. Ritikkengngi La Mellongri polisie.

*ditangkap ia La Mellong oleh polisi itu.

(La Mellong ditangkap oleh polisi itu).

2. Rilellungngi La Baso rinenekna.

*Dikejar ia La Baso oleh neneknya.

(La Baso dikejar oleh neneknya) 3. Utti ku taneng.

*Pisang saya tanam (Pisang saya tanam)

4. Pong pao natebbang La Beddu.

*Pohon mangga ditebang La Beddu.

(Pohon mangga ditebang (oleh) La Beddu).

Sebagai prtikel direktif, ri (BB) berpadanan dengan di, ke, dari, kepada, pada (BI). Kata pada (BI) sering diganti dengan sama pada pemakaian sehari-hari. Umpamanya:

Buku itu ada sama kakak.

*(Buku itu ada pada kakak).

5. Penggunaan partikel sama untuk menyatakan kepada (ke). Contoh data interferensi.

(a) Tetapi tidak ada yang mereka lakukan sebagai wujud sumbangsihnya samabangsa dan Negara.

(b) Dia membawa daging, tetapi kita pulang kampung semua, akhirnya daging itu diberikan sama orang lain.

(c) Akhirnya, kita kayak jengkel sama mereka.

(d) Sering menghadap sama pembimbing.

(e) Hal itu kta serahkan saja sama Allah.

6. Penggunaan artikel sama untuk menyatakan dengan. Contoh data interferensi:

(a) Apakah ibu desa tidak cemburu kalau kita dekat sama pak desa ? (b) Hal itu berawal karena persoalan sedikit sama korcam.

(c) Ia, karena dosenku belum datang, pak…. Sama pak ……

(d) Saya mendapat banyak judul, tetapi judul lagu sama judul sinetron.

Analisis:

a. Dari contoh data interferensi yang tertuliskan pada data 5 dan 6 diatas, ditemukan penggunan kata samauntuk menyatakan

kepada dan dengan. Dalam bahasa Indonesia dengan merupakan preposisi yang berfungsi menandai hubugan kesertaan atau cara, sedangkan kepada merupakan preposisi gabungan yang berfungsi menandai hubungan arah ke suatu tempat.

b. Karena partikel ri- dalam bahasa daerah cenderung mengalami over-differentiation dengan partikel dengan dan sama, serta kepada dalam bahasa Indonesia.

c. Kepada partikel ri- dalam bahasa daerah selain sebagai partikel direktif juga sebagai partikel agentif (yang dalam bahasa Indonesia dibedakan dan di nyatakan dengan oleh), maka dwibahasawan Daerah-Indonesia cenderung tidak membedakan kedua partikel tersebut, sehingga partikel agentif oleh dalam bahasa Indonesia sering diganti dengan partikel konektif dengan atau sama.

7. Penggunaan partikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi ke Contoh data interferensi:

(a) Setelah itu, kita jalan-jalan di maros.

(b) Tidak lagi pernah pergi di sana.

(c) Karena mahasiswa itu, menyuruhnya untuk mengantar pergi di mana-mana.

(d) Mobil yang di pakai pergi di sungguminasa.

(e) Teman itu datang di rumah dulu.

(f) Saya, kalau pergi dikampus, ….

(g) Kalau dulu, saya bias pergi di organisasi.

(h) ….. pergidi tempat-tempat lain.

(i) ….., saya mendingan saja pulang di rumah tidur.

(j) Ada tadi teman, tetapi sudah kembali lagi di ruangan.

(k) Orang pergi disana turut meramaikan saja.

(l) Saya malu pergi di situ bertanya.

Analisis :

b. Dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa partikel preposisi direktif, antara lain di, dan ke. pemakaian kedua partikel preposisi tersebut dibedakan dengan asas bahwa di gunakan untuk menyatakan sebuah tempat dan ke digunakan untuk menyatakan arah sesuatu.

Contoh preposisi di:

1. Kursi baru itu diletakkan di kamar tamu.

2. Andi sedang berada di sekolah, ketika bapak mulai sakit.

3. Andha bersembunyi di bawah kolong ranjang.

4. Di mana ada gula di situ ada semut.

5. Saya tidak pernah mengingat di mana saya berada ketika itu.

Contoh preposisi ke:

1. Ia berangkat ke sekolah tepat pukul tujuh.

2. Bersediakan anda pergi keBantimurung ? 3. Ke mana saja rencana perjalanan Anda ? 4. Saya tidak jadi berangkat ke Jakarta.

5. Silahkan pergi ke pasar berbelanja sekarang juga.

Jika kita memperhatikan contoh data di atas maka data tersebut dapat digolongkan menurut kata verbal yang konteksnya menunjukkan pertanyaan arah, seperti: jalan-jalan, pergi, datang, pulang, kembali.

Menurut konteksnya dalam pemakaian B1, kata-kata verbal yang menurut pernyataan arah tersebut menuntut penggunaan partikel preposisi ke yang dinyatakan oleh dwibahasawan Daerah-Indonesia dengan di.

c. Dalam bahasa daerah dikenal preposisi ri- yang mempunyai persesuaian (korespondensi) bentuk di dalam B1. Preposisi ri- dalam BB berfungsi baik untuk menyatakan tempat maupun untuk menyatakan arah. Contoh:

Preposisi (kata depan)ri- yang menyatakan arah:

1. Lao ri sikola e.

*pergi dia ke sekolah.

(Dia pergi ke sekolah).

2. Jokkai ri masigie massumpajang.

*Pergi mereka ke mesjid sembahyang.

(Mereka pergi ke Masjid sembahyang).

3. Caritamu tengmattama ri akkalengku.

*Ceritamu tak masuk ke akalku.

(Ceritamu tidak masuk ke akalku).

4. Attamakik ri bolae.

*Masuk anda ke rumah.

(Masuk ke rumah)

Preposisi ri yang menyatakan tempat:

1. Kupapakeangi ciccing barunna ri limanna.

*Kupasang cincing barunya di tangannya.

(saya memasangkan cincing baru di tangannya) 2. Tangngabenni nakuinappa lettu ri Bulukumba.

*Tengah malam aku sampai di Bulukumba.

(Tengah malam aku sampai di Bulukumba) 3. Aja mu accule ri tengngana watattanae.

*Jangan kamu bermain di tengahnya jalanan.

(Jangan kamu bermain di tengan jalanan).

Ternyata kata-kata Verbal yang menyatakan arah dalam hal tertentu cenderung dibantu dengan kata pergi.

a. Dalam bahasa Daerah partikelri dapat berfungsi untuk menyatakan tempat dan arah. Bentuk preposisi ri ini mempunyai korespondensi bentuk di dalam Bahasa Indonesia. Sementara bentuk di dalam BI mempunyai fungsi untuk menyatakan tempat saja. Kenyataan ini menyebabkan dwibahasawan DaerahIndonesia cenderung mengidentifikasiri dengan di sehingga timbullah intenferensi penggunaan partikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi ke (under differentiation).

8. Penggunaan partikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi pada Contoh data interferensi :

…. Yang penting kita banyak konsultasi di pembimbing.

9. Penggunaan artikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi dari contoh data interferensi:

Jangan sampai kita menggebrak di luar dan ada juga yang menggebrak di dalam.

Analisis:

b. Sebagaimana yang telah dinyatakan pada poin (6) dan (7) atas bawah B1 mengenal differensiasi partikel preposisi yang menyatakan tempat dan arah. Partikel tersebut ialah di, ke, dari, pada, kepada yang digunakan menurut konteksnya masing-masing.

c. Dalam poin itu pula ditegaskan bahwa BB hanya mengenal partikel ri untuk menyatakan tempat dan arah. Dalam bahasa Indonesia, hal demikian itu dibedakan dengan menggunakan partikel tertentu untuk menyatakan arah dan tempat.

d. Karena BB hanya mengenal partikel preposisi ri- untuk menyatakan tempat dan arah, maka dwibahasawan Daerah-Indonesia cenderung membaurkan penggunaan partikel preposisi yang bermacam-macam dalam pembicaraannya ketika mempergunakan bahasa Indonesia.

10. Penanggalan partikel pada untuk menyatakan waktu. Contoh data interferensi:

(1) ….., saya berangkat hari Ahad.

(2) …., kalau kepemimpinan islamhari jumat sampai hari Sabtu.

(3) Kalau Muballigat hari Ahad.

(4) Kegiatan hari jum’at apa namanya ? Analisis:

a. Dalam BI terutama pemakaian BI yang baku umumnya dituntut pernyataan pada secara eksplisit di depan kata yang menyatakan waktu.

Misalnya:

(a) Pada hari Senin.

(b) Pada tanggal 8 Oktober 1897.

(c) Pada bulan januari.

(d) Pada masa itu.

(e) Pada pukul tujuh pagi.

Kalau kita memperhatikan data di atas maka waktu dalam data itu menyatakan hari. Penggolongan waktu masih ada beberapa antara lain waktu yang menyatakan tanggal dan yang menyatakan pukul.

Dengan demikian di depan kata kata yang menyatakan waktu itu seharusnya digunakan partikel pada sehingga penggunaan B1 (yang baku) dapat dimantapkan terutama untuk menghindari salah tafsir yang mungkin terjadi.

b. Dalam BB partikel penunjuk waktu di depan kata-kata yang dinyatakan dalam poin (a) di atas, tidak lazim. Contoh:

1. Maeloi botting I Samsul tanggalak dua uleng mangoloe.

*Mau kawin si Samsul tanggal dua bulan depan.

(Si Samsul mau kawin pada tanggal dua bulan depan).

2. Pakansi anak sikolae tanggalak limanna.

*Libur anak sekolah tanggal limanya.

(Anak sekolah libur pada tanggal lima).

3. Pada magassuai taue ri essona ahad, maelo mappepaccing masigik.

*Berkumpul orang pada hari Ahad untuk membersihkan masjid.

(Orang-orang berkumpul pada hari Ahad untuk membersihkan mesjid).

c. Dalam bahasa daerah penggunaan partikel pada yang menunjukkan waktu tidak lazim di pergunakan hal yang demikian inilah yang menyebabkan dwibahasawan Daerah-Indonesia sering menanggalkan partikel pada (petunjuk waktu) Ketika mereka berbahasa Indonesia.

11. Penggunaan kata baru sebagai kata tumpuan kalimat.

Contoh Data interferensi:

(1) Baru ada juga yang biasa masa bodoh saja.

(2) Baru ada juga yang mau terima beres.

(3) Baru setelah itu, kita bias jalan-jalan ke Maros.

(4) Baru definisi operasional itu berbeda dengan definisi istilah.

(5) Baru orientasi kita itu bukan karena horornya.

(6) Baru mahasiswa harus kompak dengan rakyat.

Analisis:

a. Slamet Mulyana (dalam Kamaruddin, 1978:101) mengatakan bahwa kata tumpuan kalimat ialah kata-kata yang pada hakekatnya dalam

pembentukan kalimat tidak memegang peranan atau tugas, tetapi hanya digunakan untuk memulai kalimat. Kata-kata semacam ini sebagian besar hanya terdapat dalam kesusasteraan Melayu kuno.

Hanya bebrapa saja yang dijumpai dalam kesusasteraan modern, misalnya: maka, ada pun dan akan. Akan tetapi kata itu pun sudah berubah fungsi karena kata-kata tersebut telah mempunyai tugas penuh dalam pembentukan kalimat. Dalam B1 kata-kata baru tidak lazim berfungsi sebagai kata tumpuan kalimat. Dengan demikian, baru pada awal kalimat data di atas seharusnya ditanggalkan.

b. Dalam BB digunakan na-(inappa) sebagai tumpuan kalimat. Contoh:

(1) Nainappa rekko purani malewekkik jokka ri Maros.

*Baru jika selesai biasanya kita pergi ke Maros.

(Jika selesai, biasanya kita pergi ke Maros).

(2) Nainappa maega tau deksiseng naelo makkareso.

*Baru banyak orang yang sama sekali tidak mau bekerja keras.

(Banyak orang yang sama sekali tidak mau bekerja keras).

Dari contoh di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nainappa dalam BB sebagai tumpuan kalimat dapat dikorelasikan dengan baru dalam BI.

c. Karena na(inappa) dalam BB digunakan sebagai tumpuan kalimat, maka dwibahasawan Daerah-Indonesia cenderung menggunakan salinan na(inappa) tersebut yaitu baru sebagai kata tumpuan kalimat dalam berbahasa Indonesia.

12. Penanggalan preposisi oleh pada kalimat pasif yang tergolong kategori wajib.

Contoh data interferensi:

Apa judul makalah yang disurukan dosen ? Analisis:

a. Dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam kalimat pasif jika verba predikat yang tidak diikuti langsung oleh pelengkap pelaku (mantan S kalimat aktif), maka bentuk oleh wajib hadir. Atas dasar itulah maka kalimat tersebut di atas seharusnya menjadi: “ Apa judul makalah yang disuruhkan oleh dosen?”

b. Dalam struktur BB, unsur kalimat bentuk pasif yang berfungsi sebagai subyek dikenai perbuatan atau tindakan yang dinyatakan oleh unsure yang berfungsi sebagai predikat. Dengan demikian subyek kalimat pasif berperan sebagai penderita. Contoh:

(1) Aga nasuroakko gurunnu?

(Apa yang disuruhkan oleh gurumu?) (2) Rilellungngi La Beu ri nenekna.

*Dikejar La Beu oleh neneknya.

(La Beu dikejar oleh neneknya).

c. Sebagai pengaruh struktur kalimat pasif BB, seperti pada contoh di atas, maka dwibahasawan Daerah-Indonesia cenderung membentuk susunan kalimat pasif bahasa Indonesia, dengan melihat struktur

kalimat pasif BB, sehingga dengan cara itulah interferensi dapat terjadi.

13. Pengingkaran di awal kalimat.

Contoh data interferensi:

(a) Tidak kau lihat agustinakah ? (b) Tidak pergi kerja itu sopir.

(c) Tidak capaikah engkau bila di lokasi banyak kegiatan ? (d) Tidak tahu dia mengomentari judulnya.

(e) Tidak tertarik orang membeli buku.

(f) Tidak tahu saya masalahnya.

(g) Tidak berminat saya.

Analisis:

a. Pengingkaran atau nagasi dalam BB ada dua bentuk yakni pengingkaran seluruh kalimat dan pengingkaran sebagian kalimat.

Contoh data interferensi di atas merupakan pengingkaran seluruh kalimat. Pengingkaran kalimat di lakukan dengan menambahkan kata ingkar yang sesuai di awal frasa predikatnya. Dalam bahasa Indonesia terdapat empat kata ingkar yaitu tidak (tak). Bukan, jangan, dan belum.

Contoh:

(1) Dia tidak bekerja hari ini.

(2) Demonstran itu bukan mahasiswa.

(3) Ayah belum berangkat ke Bandung.

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 66-90)

Dokumen terkait