• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 90-103)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Berikut ini akan dibahas temuan-temuan bentuk interferensi bahasa Bugis dalam pemakaian bahasa Indonesia. Gejala interferensi tediri dari dua unsur penting yaitu bahasa Bugis sebagai bahasa daerah dan

bahasa Indonesia sebagai bahasa penyerap. Penulis hanya menyajikan beberapa contoh data pada setiap jenis interferensi sekaligus diikuti pembahasannya, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca dalam memahami analisis penelitian ini.

Gejala interferensi sintaksis bahasa Daerah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar dalam tuturan lisan adalah (1) penanggalan subjek, (2) urutan kata, (3) penggunaan kata ganti yang berlebihan, (4) penggunaan partikel agentif sama untuk menggantikan partikel agentif oleh, (5) penggunaan partikel sama untuk menyatakan kepada, (6) penggunaan partikel sama untuk menyatakan dengan, (7) penggunaan partikel proposisi di untuk menggantikan patikel preposisi ke. (8) penggunaan partikel preposisi di untuk menyatakan partikel preposisi pada, (9) penggunaan partikel preposisi di untuk menyatakan partikel preposisi dari, (10) penanggalan partikel pada untuk menytakan waktu, (11) penggunaan kata baru sebagai kata tumpuan kalimat, (12) penanggalan preposisi oleh dalam kalimat pasif yang bersifat wajib, (13) pengingkaran di awal kalimat.

(14) pemakaian kata ganti.

Interferensi morfologi dapat terjadi apabila dalam pembentukan kata bahasa Indonesia menyerap unsur bahasa atau afiks lain, dalam hal ini terjadinya penyerapan unsur bahasa Bugis ke dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Persentuhan unsur kedua bahasa tersebut dapat menyebabkan perubahan sistem bahasa yang

bersangkutan. Misalnya kata yang berafiks bahasa daerah dan berkata dasar bahasa Indonesia dan sebaliknya, namun struktur morfemisnya mengikuti proses morfologi bahasa daerah atau sebaliknya. Dalam bahasa Indonesia ada tiga unsur proses morfologi yaitu: proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), proses pemajemukan (komposisi) (Ramlan, 1985:51-82)

Sama halnya dengan proses morfologis bahasa Indonesia, penelitian ini juga membahas tentang interferensi morfologis bahasa Bugis yang berupa afiksasi, pengulangan, serta pemajemukan.

Interferensi morfologi dapat terjadi pada proses pembentukan bentuk dasar bahasa Indonesia dengan pembubuhan afiks bahasa Bugis. Proses pembubuhan afiks tersebut dinamakan afiksasi. Afiks adalah morfem terikat yang berupa awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks) dan kombinasi afiks (konfiks) (Agustien dkk, 1999:15).

Pada penelitian ini ditemukanadanya interferensi yang terjadi karena adanya proses afiksasi yang meliputi pelesapan awalan, penambahan bentuk awalan, penambahan bentuk akhiran, pertukaran bentuk awalan, dan pertukaran bentuk akhiran. Sedangkan proses afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berbentuk tunggal atau kompleks (Ramlan: 1985:49).

1. Penanggalan Subjek

“Mungkin tidak membayar juga.”

Salah satu matra keumuman bahasa-bahasa adalah adanya unsur fungsi sintaksis yang sama, yaitu terdiri dari sebuah subjek dan predikat (Sudaryanto, 1992 : 9). Subjek dalam bahasa Indonesia dapat berupa kata ganti, kata benda, kata kerja, kelompok kata, kelompok kata yang dimulai kata yang, atau barang siapa, kalimat yang dimulai dengan bahwa, bahwasanya, (Slametmulyana dalam Kamaruddin, dkk, 1998: 56). Berdasarkan tuturan mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kalimat dalam data tersebut tidak mempunyai subyek pelaku yang mendahului predikatnya, sehingga diperoleh bentuk yang seharusnya: “Mungkin mereka tidak membayar juga.”

2. Urutan Kata

“Padahal, di rumahnya menunggunya.”

Dalam kalimat aktif bahasa Indonesia dikenal susunan S - P ( subjek predikat). Pola inilah yang merupakan pola dasar kalimat bahasa Indonesia.Walaupun terdapat susunan predikat – subjek itu adalah akibat kaidah transpormasi yakni permutasi yang berfungsi pemfokusan. Berdasarkan pola dasar bahasa Indonesia, maka pada data di atas seharusnya berbentuk : “Padahal anaknya menunggu di rumahnya.”

3. Penggunaan Kata Ganti Yang Berlebihan

“Apakah anda mau melihat Ketuanya IMM FKIP?”

Bahasa Indonesia, pola konstruksi posesif seperti di atas kurang tepat.Konstruksi posesif yang dimaksudkan adalah kata benda tambah morfem terikat-nya ditambah dengan kata benda.Konstruksi posesif yang unsur-unsurnya memiliki hubungan posesif tidak menggunakan imbuhan morfem terikat –nya.

Melainkan diperkirakan dengan kaaidah formal B Ø B atau cukup dengan B B saja. Dengan demikian maka data di atas seharusnya:“Apakah anda mau melihat ketua IMM FKIP?”\

4. Penggunaan partikel agentif sama untuk menggantikan partikel agentif oleh pada kalimat pasif.

“Ia dibantu sama temannya yang bernama sanusi.”

Pemakaian partikel agentif oleh dalam kalimat pasif B1 bersifat mana suka, kecuali kalau pelaku difokuskan atau pelaku disela oleh keterangan atau kata lain dengan predikat pemakainnya bersifat wajib.Dengan demikian, partikel sama pada data di atas seharusnya dinyatakan dengan partikel agentif oleh.

5. Penggunaan partikel sama untuk menyatakan kepadadan dengan (ke). Contoh data interferensi.

“Sering menghadap sama pembimbing.”

“Ia, karena dosenku belum datang, pak Akhir Sama pak Joko”

Data interferensi yang tertuliskan pada data 5 dan 6 diatas, ditemukan penggunan kata samauntuk menyatakan kepada dan

dengan. Dalam bahasa Indonesia dengan merupakan preposisi yang berfungsi menandai hubugan kesertaan atau cara, sedangkan kepada merupakan preposisi gabungan yang berfungsi menandai hubungan arah ke suatu tempat.

6. Penggunaan partikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi ke

“Setelah itu, kita jalan-jalan di maros.”

Dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa partikel preposisi direktif, antara lain di, dan ke.pemakaian kedua partikel preposisi tersebut dibedakan dengan asas bahwa di gunakan untuk menyatakan sebuah tempat dan ke digunakan untuk menyatakan arah sesuatu.

Jika kita memperhatikan contoh data di atas maka data tersebut dapat digolongkan menurut kata verbal yang konteksnya menunjukkan pertanyaan arah, seperti: jalan-jalan, pergi, datang, pulang, kembali. Menurut konteksnya dalam pemakaian B1, kata- kata verbal yang menurut pernyataan arah tersebut menuntut penggunaan partikel preposisi ke yang dinyatakan oleh dwibahasawan Daerah-Indonesia dengan di.

7. Penggunaan partikel preposisi di untuk menggantikan partikel preposisi padadan dari.

Yang penting kita banyak konsultasi di pembimbing.

“Jangan sampai kita menggebrak di luar dan ada juga yang menggebrak di dalam.”

Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas bawah B1 mengenal diferensiasi partikel preposisi yang menyatakan tempat dan arah.Partikel tersebut ialah di, ke, dari, pada, kepada yang digunakan menurut konteksnya masing-masing.

Dalam poin itu pula ditegaskan bahwa BB hanya mengenal partikel ri untuk menyatakan tempat dan arah. Dalam bahasa Indonesia, hal demikian itu dibedakan dengan menggunakan partikel tertentu untuk menyatakan arah dan tempat.

Karena BB hanya mengenal partikel preposisi ri- untuk menyatakan tempat dan arah, maka dwibahasawan Daerah- Indonesia cenderung membaurkan penggunaan partikel preposisi yang bermacam-macam dalam pembicaraannya ketika mempergunakan bahasa Indonesia.

8. Penanggalan partikel pada untuk menyatakan waktu.

“….., saya berangkat pada Ahad.”

“Pada pukul tujuh pagi.”

Dalam BI terutama pemakaian BI yang baku umumnya dituntut pernyataan pada secara eksplisit di depan kata yang menyatakan waktu.Kalau kita memperhatikan data di atas maka waktu dalam data itu menyatakan hari. Penggolongan waktu masih ada beberapa antara lain waktu yang menyatakan tanggal dan yang

menyatakan pukul. Dengan demikian di depan kata kata yang menyatakan waktu itu seharusnya digunakan partikel pada sehingga penggunaan B1 (yang baku) dapat dimantapkan terutama untuk menghindari salah tafsir yang mungkin terjadi.

9. Penggunaan kata baru sebagai kata tumpuan kalimat.

Baru ada juga yang biasa masa bodoh saja.”

Kata tumpuan kalimat ialah kata-kata yang pada hakekatnya dalam pembentukan kalimat tidak memegang peranan atau tugas, tetapi hanya digunakan untuk memulai kalimat.Kata-kata semacam ini sebagian besar hanya terdapat dalam kesusasteraan Melayu kuno. Hanya bebrapa saja yang dijumpai dalam kesusasteraan modern, misalnya: maka, ada pun dan akan. Akan tetapi kata itu pun sudah berubah fungsi karena kata-kata tersebut telah mempunyai tugas penuh dalam pembentukan kalimat.Dalam B1 kata-kata baru tidak lazim berfungsi sebagai kata tumpuan kalimat.Dengan demikian, baru pada awal kalimat data di atas seharusnya ditanggalkan.

10. Penanggalan preposisi oleh pada kalimat pasif yang tergolong kategori wajib.

“Aga nasuroakko gurunnu?

Dalam struktur BB, unsur kalimat bentuk pasif yang berfungsi sebagai subyek dikenai perbuatan atau tindakan yang dinyatakan

oleh unsur yang berfungsi sebagai predikat.Dengan demikian subyek kalimat pasif berperan sebagai penderita.

11. Pengingkaran di awal kalimat.

“Tidak kau lihat agustinakah ?

Pengingkaran atau nagasi dalam BB ada dua bentuk yakni pengingkaran seluruh kalimat dan pengingkaran sebagian kalimat.Contoh data interferensi di atas merupakan pengingkaran seluruh kalimat.Pengingkaran kalimat di lakukan dengan menambahkan kata ingkar yang sesuai di awal frasa predikatnya.Dalam bahasa Indonesia terdapat empat kata ingkar yaitu tidak (tak).Bukan, jangan, dan belum.

12. Pemakaian kata ganti.

“Kita, apa kegiatanta’ sekarang?

Sebagian besar dari pronominal persona BI memiliki lebih dari dua wujud.Hal ini disebabkan oleh budaya bangsa kita yang memperhatikan hubungan sosial antar umat manusia, (Hasan Alwi, dkk, 1993:274). Tata karma pemakaian pronominal dalam BI menggunakan tiga ukuran yaitu: (1) umur, (2) status sosial, (3) keakraban. Ketiga unsur di atas menentukan penggunaan pronominal.Dalam BI pronominal kita, merupakan bentuk pertama jamak inklusif, saya merupakan pronominal persona pertama tunggal, dan Anda atau Engkau merupakan pronominal persona kedua tunggal.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

B. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat di tarik adalah sebagai berikut:

1. Dalam penggunaan bahasa Indonesia lisan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unismuh Makassar yang berbahasa pertama bahasa Bugis, terdapat interferensi sintaksis dengan frekuensi yang tinggi ke dalam bahasa Indonesia yang digunakan mahasiswa.

2. Bentuk-bentuk inteferensi sinteksis dalam penelitian ini adalah (1) penanggalan subjek, (2) urutan kata, (3) penggunaan kata ganti yang berlebihan, (4) penggunaan partikel agentifsama untuk menggantikan partikel agentifoleh, (5) penggunaan partikel sama untuk menyatakan kepada, (6) penggunaan partikel sama untuk menyatakan dengan, (7) penggunaan partikel proposisi di untuk menggantikan patikel preposisi ke. (8) penggunaan partikel preposisi di untuk menyatakan partikel preposisi pada, (9) penggunaan partikel preposisi diuntuk menyatakan partikel preposisi dari, (10) penanggalan partikel pada untuk menytakan waktu,(11) penggunaan kata baru sebagai kata tumpuan kalimat,

(12) penanggalan preposisioleh dalam kalimat pasif yang bersifat wajib, (13) pengingkaran di awal kalimat. (14) pemakaian kata ganti.

C. Saran

Ada beberapa saran yang perlu dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini antara lain.

1. Guru atau calon guru bahasa perlu mengetahui kemungkinan kemungkinan interferensi serta bentuk-bentuk interferensi bahasa pertama dalam penggunaan bahasa kedua sehingga dapat merencanakan program pengajaran bahasa yang tepat.

2. Dalam percakapan sehari-hari jangan menggunakan bahasa Indonesia, perlu ada upaya untuk memperkecil atau menghindari kemungkinan interferensi antara bahasa pertama dengan bahasa kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Achsin, Amir. 1993. Mari Menyusun Skripsi.Ujungpandang: C.V. Putra Maspul.

Alwi, Hasan, dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta:

Departemen Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia.

Arikunto, Suharsimi. 1981. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik: PengantarPemahaman Bahasa Manusia.Jakarta: Yayasan Obor.

Damaianti, Vismaia. 2006. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung: Pusat Studi Literasi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.

Djajasudarma, T. Fatimah. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Huda Nuril, dkk. 1981. Interferensi Gramatikal Bahasa Madura Terhadap Bahasa Indonesia Tulis Murid Kelas VI SD Bugis Timur.(Laporan Penelitian).Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jos Daniel. 1988. Sintaksis. Jakarta: Gramedia.

Kamaruddin, dkk. 1978. Interferensi Gramatikal Bahasa Makassar Murid dalam Pemakaian Bahasa Indonesia (laporan Penelitian).Ujungpandang Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sulawesi Selatan.

Keraf, Gorys. 1991. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa.

Flores: Nusa Indah.

Kridalaksana, Harimurti. 1991. Kamus Linguistik.Jakarta : Gramedia.

Kusumaningrat. 2009. Semantik, Teori, dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Nawir, Abdul. 2001. Analisis Pemerolehan Bahasa pada Anak Usia 18 Bulan. Skripsi.FB Universitas Negeri Malang.

Neumann. 1988.Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Solo: CV Aneka Nurhadi, 1985.Tata Bahasa Pendidikan.Semarang : IKIP Semarang Press.

Moeliono, Anton M. 1989. Dinamika Kebahasaan: Aneka Masalah Bahasa Indonesia Mutakhir. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Moleong, J. Lexy. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mustakim, dkk.1994. Interferensi Bahasa Bugis dalam Surat Kabar Berbahasa Indonesia. Jakarta. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ohoiwutun, Paul. 2007. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. London: Cornel University Pres.

Oktavianus, 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa. Yogyakarta: Andalas University Press.Parawansa, Patudangi. 1981. Kajian Interferensi Morfologi pada Dwibahasawan Anak SD di Daerah Kabupaten Gowa Sul-Sel. (Disertasi).Malang IKIP Malang.

Panutti, Sudjiman.2006, Serba-serbi Semiotika, Jakarta: Gramedia Pustaka.

Pateda, Mansoer. 1990. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Pelenkahu, H. Noldy. 2011. Pemerolehan Bahasa Pertama Anak Kembar Usia Dua Tahun Delapan Bulan. Tesis.FB Universitas Haluleo Kendari.

Pena, Nur Sari. 2012. Prosedur Penelitian Teori dan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.

Rosmini. 1994. Interferensi Sintaksis Bahasa Makassar dalam Pemakaian Bahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas I SMPN 2 Bantaeng. (Skripsi) Ujungpandang: FPBS IKIP Ujungpandang.

Sasangka, 2000. Adjektiva dan Adverbia dalam Bahasa Indonesia.

Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Sihombing, P. 2003. Penelitian Pendidikan. Medan: Unimed.

Simanjuntak, Julianto. 1982. Teori Bahasa. Semarang: Citra Almamater.

Sitaresmi, Nunung dan Mahmud Fasya. 2011. Pengantar Semantik BahasaIndonesia. Bandung: UPI Press.

Slametmuljana. 1962. TataMakna(Semantik). Jakarta:Gramedia.

Sudaryanto 1982.Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Semarang:

Citra Almamater.

Sudaryanto. 1989. MenguakFungsiHakiki Bahasa.Yogyakarta:Duta WacanaUniversityPress.

Sutopo, H. B.. 2002. Otonomi Bahasa: Tujuh Strategi Tulis Pragmatik bagi Praktisi Bisnis dan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suwito, 1985.Sosiolinguistik.Pengantar Awal.Surakarta : Henary Offset.

Syaodih, Nana. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 90-103)

Dokumen terkait