BAB 5 FILSAFAT DAN ORIENTASI PSIKOLOGI
C. BENTUK, MODEL TEORI BELAJAR DAN ORIENTASI PSIKOLOGIS SERTA IMPLIKASINYA DALAM
1. Behaviourisme
80
dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Beberapa psikolog behavioristik berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran atau penguatan dari lingkungan.
Oleh karena ini, tingkah laku belajar memiliki hubungan yang erat dengan reaksi behavioral dan stimulasi.
c. Psikologi Konstruktivistik
Berbeda dengan behaviorisme yang menekankan pada proses belajar, psikologi konstruktivistik memfokuskan pada proses pembelajaran dan bukan pada perilaku belajar. Sejak pertengahan tahun 1980-an, para peneliti telah berusaha untuk mengindentifikasi bagaimana para peserta didik mengkonstruksi pemahaman melalui proses kognitif mereka terhadap bahan yang mereka pelajari. Para peserta didik menciptakan atau membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui tingkatan dan interaksi dengan dunia. Pendekatan konstruktivis sosial juga mempertimbangkan konteks sosial yang dimunculkan dalam pembelajaran dan menekankan pentingnya interaksi sosial dan negosiasi dalam pembelajaran. Berkenaan dengan praktek kelas, pendekatan konstruktivis mendukung kurikulum dan pengajaran student centred, yang mana peserta didik adalah kunci pembelajaran. Jadi, pemikiran kaum konstruktivis memfokuskan pada proses dan strategi mental yang digunakan para peserta didik untuk belajar.
C. BENTUK, MODEL TEORI BELAJAR DAN ORIENTASI
81
Tokoh utama aliran ini adalah J.B. Watson. Pandangan Watson tentang bentuk dan model pembelajaran terinspirasi dari Ivan Pavlov yang menjelaskan tentang tingkah laku manusia, yang kemudian dikembangkan oleh Guthric dan Skinner yang berhaluan behavioris.
Pavlov menyebutkan eksperimennya sebagai condition reflex karena yang dipelajari gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex dapat ditimbulkan oleh perangsang lain yang dahulunya tidak menimbulkan reflex sebelumnya.
Hasil eksperimen terungkap dari reaksi mengeluarkan air liur pada anjing setelah adanya perangsang. Reflek tersebut disebut reflek bersyarat (conditional reflex/CR), sedangkan makanan (perangsang) disebut perangsang tak bersyarat (Unconditioned Stimulus/US), dan keluarnya air liur disebut refleks tak bersyarat (Unconditioned reflex/UR). Teori ini menekankan bahwa belajar terdiri atas terbangunnya respons atas stimulus yang pada mulanya bersifat netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (congruity) stimulus dengan respos, stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu menimbulkan respon.
Implikasi teori belajar dalam pendidikan adalah : a) Tingkah laku pendidik mengharapkan murid menghafal secara mekanis/otomatis; b) Verbalitis karena tingkah laku mekanistis dan reflektif; c) pendidik membiasakan muridnya dengan latihan; d) Sekolah D (duduk), tidak ada inisiatif karena perasaan, pikiran tak mengarahkan tingkah laku; e) pendidik hanya memberi tugas tanpa disadari oleh muridnya; f) pendidik tidak memperhatikan individual differences; g) pendidik menggunakan
“learning by parts” yang tak ada hubungan; h) pendidik menyuapi murid saja dan murid menerima yang diolah Pendidik (Pendidik aktif). Hal ini terjadi karena (menurut teori belajar contioning): Terbentuknya tingkah laku sangat sederhana dan mekanistis reflektif; Peranan perasaan, kemauan, pikiran, kepribadian tak mengarahkan tingkah laku manusia
82
saja; Tak sanggup menganalisa tingkah laku yang kompleks dimana tenaga rohani sebagai pendorong; Terbentuknya tingkah laku karena habis formasi.
Hakikatnya perkembangan merupakan proses asosiasi satu sama lain menjadi keseluruhan. Salah satu tokoh aliran asosisasi adalah John Locke. Locke berpendapat bahwa pada permulaannya, jiwa anak itu adalah bersih seperti lembaran kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiris. Locke membedakan adanya dua macam pengalaman, yaitu: Pengalaman luar, yaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indera yang menimbulkan “sensation”;
dan Pengalaman dalam, yaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri yang menimbulkan “reflexions”. Kesan “sensation dan reflexions” merupakan pengertian sederhana (simple ideas) yang kemudian terasosiasi membentuk pengertian yang kompleks (Complex ideas).
Pembelajaran asosiasi diawali oleh urutan-urutan kata-kata tertentu yang berhubungan dan berpengaruh terhadap obyek-obyek, konsep- konsep, atau situasi sehingga bila kita menyebut yang satu cenderung menyebut yang lain. Misalnya ayah berasosiasi dengan ibu, kursi dengan meja. Terkait model pembelajaran saat ini dapat disebut dengan mode, gambar, dan demonstrasi. Thorndike berpendapat, bahwa dasar pembelajaran ialah asosiasi antara kesan panca indra (sense impression) dengan impulse untuk bertindak (impulse to action). Bentuk belajar oleh Thorndike disifatkan dengan “trial and error learning” atau “learning by selecting and connecting”. Belajar berlaku tiga hokum: 1) law of readiness; 2) law of exercise; 3) law of effect. Law of effect ini menunjukkan pada makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat dari hasil respon yang dilakukan. Apabila suatu hubungan atau koneksi disebut atau ditandai atau diikuti oleh keadaan yang memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan bertambah, sebaliknya apabila suatu
83
koneksi disebut atau disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan berkurang. Dalam Law of effect, segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk dipelajari begitu pula sebaliknya. Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons.
Berdasarkan teori belajar tersebut, implikasi bagi pendidikan sebagai berikut:
1) Tak memperhatikan individual differences.
2) Kadang-kadang lupa akan tujuan pokok, karena terlalu memperhatikan alat (tools)
3) Biasanya yang berhasil adalah murid yang struggle untuk menerima hadiah (reward)
Hal ini didasarkan pada pendapat teori diatas :
1) Manusia belajar karena kepuasan untuk memperoleh ganjaran/hadiah.
2) Tingkah laku terbentuk karena hasil trial & error dan law of effect.
3) Yang dilakukan seseorang disebabkan kesenangan sehingga berlangsung secara otomatis conditioning.
Praktik belajar tersebut cocok digunakan untuk memotivasi peserta didik dengan pemberian hadiah/ganjaran/reward. Penggunaannya hanya saat-saat tertentu dan dalam keadaan yang memungkinkan. Namun, jika dilakukan terus menerus kecenderungan peserta didik mau belajar karena akan memperoleh reward, dan jika reward ditiadakan peserta didik apakah masih mau belajar. Segala yang menyenangkan (law of effect) akan diingat oleh peserta didik dan akan mudah dipelajari oleh peserta didik, sehingga berdasarkan teori ini Pendidik harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
84
Sebagaimana tokoh behaviour lainnya, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan response, hanya saja Skinner membedakan dua macam response: 1) responden respon (reflextive response), yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang- perangsang tertentu, Perangsang ini disebut eliciting stimuli, menimbulkan respon yang relatif sama; dan 2) operant respon (instrumental response) yaitu respon yang timbul dan diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat response yang telah dilakukan oleh organisme.
Implikasi teori ini dalam dunia pendidikan adalah :
o Peserta didik yang telah belajar akan menjadi giat belajar jika mendapat hadiah
o Hadiah yang diberikan kepada peserta didik tidak harus berupa barang
o Inovasi Pengajaran sebagian besar disusun berdasarkan teori Skinner, yaitu memberikan dasar teknologi pendidikan yang banyak digunakan di Indonesia, modul dan pengajaran tuntas. Teori belajar ini cocok untuk pendidikan modern dengan menggunakan inovasi-inovasi baru misalnya belajar model konferensi dengan bantuan komputer yang saling berhubungan (internet) sehingga dapat meningkatkan Operant response peserta didik menjadi lebih intensif/kuat. Teori ini hingga saat ini masih berkembang di Amerika, demikian juga di Indonesia.