• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realisme Natural Ilmiah

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 161-166)

BAB 8 PANDANGAN REALISME

B. PERKEMBANGAN PANDANGAN REALISME

2. Realisme Natural Ilmiah

151

o Apapun yang dilakukan guru, hendaknya membantu untuk pengembangan hakikat manusia. Pada peserta didik ditunjukkan kepentingan yang praktis dari setiap sistem nilai.

o Pelajaran dalam subjek yang sama diperuntukkan bagi semua anak.

152

Realisme natural ilmiah memandang teori pengetahuan (epistemology), sebagai dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal atau jiwa (mind) manusia. Substansialitas, sebab akibat dan aturan-aturan alam bukan suatu proyeksi akal, atau jiwa manusia, melainkan merupakan suatu penampilan atau penampakan dari dunia atau alam itu sendiri. Teori kebenaran yang dipergunakan oleh kaum realism natural ilmiah adalah teori “korespondensi”, yang menyatakan bahwa kebenaran itu adalah persesuaian terhadap fakta dengan situasi yang nyata, kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan mengenai fakta dengan faktanya sendiri, atau antara pikiran dengan realitas situasi lingkungannya. Teori ini sebagai suatu penolakan terhadap teori koherensi, yang umum dipergunakan oleh kaum idealis, yang mengemukakan bahwa pengetahuan itu benar karena selaras atau bertalian dengan pengetahuannya yang telah ada. Menurut teori korespondensi, pengetahuan baru dikatakan benar apabila sesuai dengan teori atau pengetahuan terdahulu yang telah ada, karena teori yang telah ada tersebut adalah benar, sesuai dengan fakta, sesuai dengan situasi nyata.

Jadi, menurut realisme ilmiah, pengetahuan yang sahih adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris, dengan jalan observasi, atau penginderaan. Sejalan dengan teori pengetahuan

“empirisme”, yaitu pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, sehingga merupakan sumber dari pengetahuan manusia.

Pandangan tentang nilai, mereka menolak pendapat bahwa nilai memiliki sanksi supernatural, karena yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya adalah kebaikan. Sebaliknya, kejahatan adalah yang menjauhkan manusia dari lingkungannya. Esensi manusia dan alam adalah tetap, sehingga nilai yang menghubungkan antara yang satu dengan yang lainnya adalah tetap. Realisme natural mengajarkan bahwa baik dan salah adalah hasil pengalaman kita tentang alam, bukan dari

153

prinsip-prinsip nilai agama. Moralitas dilandasi oleh hasil penelitian ilmiah yang menunjukan kemanfaatannya pada manusia sebagai spesies tertinggi dari hewan. Sakit adalah jahat, dan sehat adalah baik. Manusia harus meningkatkan kebaikan-kebaikan dengan menggunakan ukuran- ukuran untuk memperbaiki konstitusi genetic, mengatasi kesejahteraan dengan perbaikan lingkungan hidup.

Konsep pendidikan realism natural, Brucher (1950) mengemukakan bahwa pendidikan berkaitan dengan dunia disini dan sekarang. Dunia bukan sesuatu yang eksternal, tidak abadi, melainkan diatur oleh hukum alam. Jiwa (mind) merupakan produk alam dan bersifat biologis, berkembang dengan cara menyesuaikan diri dengan alam. Pendidikan menurut realism natural harus ilmiah dan objek penelitiannya adalah kenyataan dalam alam. Oleh karena itu, kurikulum yang baik adalah yang berdasarkan data dan realitas. Mereka mendasarkan penelitian ilmiah melalui pendidikan psikologi dan sosiologi dalam menentukan kurikulumnya. Psikologi yang dianut oleh mereka adalah behavioristik. Ide atau jiwa peserta didik yang bersifat supernatural tidak memperoleh tempat dalam pandangan mereka.

Pendidikan cenderung pada naturalism, materialism, dan mekanistik.

Terdapat persamaan wawasan tentang proses pendidikan diantara berbagai aliran realism. Hal tersebut dikemukakan Kneller (1971) sebagai berikut : “To impart a selection of this knowledge to the growing person in the school’s most important task. The initiative in education, therefore, lies with the teacher as transmitter of the cultural heritage. It is the teacher, not the student, who must decide what subject matter should be studied in class. If this subject matter can be made to satisfy the student personal needs and interest, so much the better. But satisfying the student personally is far less important than imparting the right subject matter”.

154

Baik realisme rasional maupun natural ilmiah sependapat bahwa menanamkan dan pemilihan pengetahuan yang akan diberikan disekolah adalah penting. Inisiatif dalam pendidikan adalah terletak pada pendidik, dan yang menentukan bahan pelajaran yang akan dibahas dalam kelas adalah pendidik, bukan peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberikan kepuasan pada minat dan kebutuhan peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat, dan kebutuhan peserta didik hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan merupakan suatu strategi mengajar yang bermanfaat.

Dalam perkembangannya, terdapat pandangan-pandangan lain yang berkembang. Diantaranya adalah “Neo-Realisme” dari Frederick Breed, dan “Realisme Kritis” dari Immanuel Kant (Sadulloh, 2007). Menurut pandangan Breed, filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. Prinsip demokrasi adalah hormat dan menghormati atas hak-hak individu. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai menerima arah tuntunan sosial dan individual.

Istilah demokrasi harus didefinisikan kembali sebagai pengawasan dan kesejahteraan sosial. Breed mengatakan bahwa sekolah harus menghantarkan pewarisan sosial sedemikian rupa untuk menanamkan kepada generasi muda dengan kenyataan bahwa kebenaran merupakan unsur penting dari tradisi masyarakat. Ia menekankan keharusan menolong pemuda untuk menyesuaikan diri pada fakta yang sebenarnya, pada alam realitas yang bebas, yang menjadi unsur utama atau yang menjadi tulang punggung pengalaman manusia.

Realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant, seorang pesintesis yan besar. Ia mensitesiskan pandangan-pandangan yan berbeda, antara empirisme dan rasionalisme, antara skepitisme dan paham kepastian, antara eudaeomanisme dengan puritanisme. Ia bukan

155

melakukan eklektisisme yang dangkal. Melainkan, suatu sintesis asli yang menolak kekurangan-kekurangan dari kedua belah pihak yang disintesiskannya. Dan ia membangun filsafat yang kuat. Hasil pemikiran Kant, merupakan titik temu antara idealism dan realism, yang bermuara pada empirismenya Locke dan David Hume, dengan rasionalisme dari Descartes. Dilihat dari idealism, ia seorang realism kritis. Oleh karena itu, banyak orang yang mempelajari filsafat dan sejarah filsafat, menanamkan ia sebagai krisisme. Kritisme Kant dimulai dengan penyelidikan kemampuan dan batas-batas rasio, berbeda dengan filosof- filosof sebelumnya yang secara dogmatis apriori mempercayai kemampuan rasio secara bulat.

Menurut Kant, semua pengetahuan dimulai dari pengalaman, namun tidak berarti semuanya dari pengalaman. Objek luar dikenal melalui indera, namun pikiran atau rasio, atau pengertian, mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. Pikiran tanpa isi adalah kosong, dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta (Thoughts without content are empty, percepts without concepts are blind) kata Kant (Henderson, 1959). Menurut Kant, pengalaman tidak hanya sekedar warna, suara, bau yang diterima alat indera, melainkan diatur dan disusun menjadi suatu bentuk yang terorganisasi oleh pikiran kita. Pengalaman merupakan suatu interpretasi tentang benda-benda yang kita terima melalui alat indera kita, yang diintrepretasikan dengan mempergunakan struktur dari pengorganisasian benda-benda.

Kant mengemukakan pula bahwa manusia telah dilengkapi dengan seperangkat kemauan, sehingga kita dapat memberi bentuk terhadap data mentah yang kita amati. Dengan demikian, kita mungkin memiliki pengetahuan apriori, yang tidak perlu untuk mengalami sendiri untuk mendapatkan pengetahuan yang fundamental, dan tidak didasarkan pada pengalaman. Manusia tidak bisa mengetahui realitas yang

156

sebenarnya, melainkan suatu realitas di luar pengalaman, dan merupakan objek pengetahuan. Kant mengakui, bahwa manusia tidak hanya memiliki kemampuan alamiah, tapi juga memiliki kemampuan agama dan moral.

Henderson merupakan salah seorang filosof yang dapat digolongkan pada aliran ini. Ia berpendapat bahwa semua aliran filsafat

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 161-166)