• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGERTIAN BELAJAR DAN TEORI ORIENTASI PSIKOLOGIS

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 87-90)

BAB 5 FILSAFAT DAN ORIENTASI PSIKOLOGI

B. PENGERTIAN BELAJAR DAN TEORI ORIENTASI PSIKOLOGIS

1. Pengertian Belajar

Burton (1952) mendefinisikan belajar: “Learning is a change in the individual due to instruction of that individual and his environment, which fells a need and makes him more capable of dealing adequately with his environment”. Dari pengertian tersebut, kata ‘change

mengandung arti bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku baik dalam kebiasaan (habit), kecakapan (skills) atau perubahan pada aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Hilgard dalam Pasaribu dan Simanjuntak. 1983 mengemukakan “Belajar adalah suatu proses perubahan kegiatan karena reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut tidak dapt disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau kedaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebabkan obat-obatan”.

2. Teori-Teori Orientasi Psikologis

Teori-teori psikologis merupakan pandangan dunia yang komprensif yang berfungsi sebagai basis bagi pengajar dalam praktek pengajaran. Orientasi-orientasi pengajaran pada intinya berhubungan dengan pemahaman kondisi-kondisi yang diasosiasikan dengan pengajaran efektif. Dengan kata lain, apa yang memotivasi peserta didik untuk belajar dan lingkungan apa yang kondusif untuk belajar. Ada tiga orientasi psikologis yang sering digunakan untuk menghubungkan dengan filsafat, yaitu humanistik, behavioristik dan konstructivistik

a. Psikologi Humanistik

Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950, sebagai reaksi terhadap behaviourisme dan psikoanalitis. Aliran ini

78

secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis.

Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan tokoh-tokohnya Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre.

Psikologi humanistik menekankan kepada kebebasan personal, pilihan, kepekaan dan tanggung jawab personal. Psikologi humanisme juga memfokuskan pada prestasi, motivasi, perasaan, tindakan, dan kebutuhan akan umat manusia. Tujuan pendidikan menurut orientasi ini, adalah aktualisasi diri individual. Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama yakni: (1) psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia, (2) psikologi humanistik menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia, (3) psikologi humanistik menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah- kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.

Orientasi psikologi humanistik terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud pribadi yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Tujuan utama pendidik ialah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka sendiri.

Combs (1984) menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku orang, maka kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu.

Selanjutnya Combs mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Maslov, menyatakan

79

bahwa teori belajar psikologi humanistik didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal, yakni: (1) suatu usaha yang positif untuk berkembang, (2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.

b. Psikologi Behavioristik

Psikologi behavioristik didasarkan pada prinsip bahwa perilaku manusia yang diinginkan merupakan produk desain dan bukannya kebetulan. Menurut kaum behavioristik, manusia memiliki suatu ilusi keinginan bebas. Psikologi behavioristik memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku dan sistem, dan hal tersebut telah mendapat dukungan kuat dalam perkembangannya pada abad ke-20 di Amerika Serikat. Dalam pandangannya, perilaku dapat diamati dan dikuantifikasi memiliki maknanya sendiri, bukan hanya berfungsi sebagai perwujudan peristiwa-peristiwa mental yang mendasarinya. John B. Watson dan B.F Skninner adalah perintis psikologi dan promotor psikologi ini. Watson terlebih dahulu mengklaim bahwa perilaku manusia terdiri dari stimulasi spesifik yang muncul dari respon tertentu. Sebagian ia mendasari pada konsepsi barunya terhadap pembelajaran pada pengalaman klasik yang dilakukan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlof.

Teori belajar behavioristik adalah teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan

80

dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Beberapa psikolog behavioristik berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran atau penguatan dari lingkungan.

Oleh karena ini, tingkah laku belajar memiliki hubungan yang erat dengan reaksi behavioral dan stimulasi.

c. Psikologi Konstruktivistik

Berbeda dengan behaviorisme yang menekankan pada proses belajar, psikologi konstruktivistik memfokuskan pada proses pembelajaran dan bukan pada perilaku belajar. Sejak pertengahan tahun 1980-an, para peneliti telah berusaha untuk mengindentifikasi bagaimana para peserta didik mengkonstruksi pemahaman melalui proses kognitif mereka terhadap bahan yang mereka pelajari. Para peserta didik menciptakan atau membentuk pengetahuan mereka sendiri melalui tingkatan dan interaksi dengan dunia. Pendekatan konstruktivis sosial juga mempertimbangkan konteks sosial yang dimunculkan dalam pembelajaran dan menekankan pentingnya interaksi sosial dan negosiasi dalam pembelajaran. Berkenaan dengan praktek kelas, pendekatan konstruktivis mendukung kurikulum dan pengajaran student centred, yang mana peserta didik adalah kunci pembelajaran. Jadi, pemikiran kaum konstruktivis memfokuskan pada proses dan strategi mental yang digunakan para peserta didik untuk belajar.

C. BENTUK, MODEL TEORI BELAJAR DAN ORIENTASI

Dalam dokumen PDF 103.123.108.111 (Halaman 87-90)