• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Belajar dan Pembelajaran Matematika

Belajar adalah cara untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Surya menjelaskan bahwa belajar diartikan sebagai langkah yang digunakan seseorang supaya mendapat perubahan perilaku secara keseluruhan, hasil dari pengalaman seseorang selama berinteraksi dengan lingkungannya.1

Sedangkan menurut Anthony Robbins, belajar ialah sebuah proses aktif dimana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai acuan atau pedoman.2

Belajar menurut Abdillah ialah sebuah usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku, baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk mencapai tujuan tertentu.3

1Rusman, Pembelajaran Tematik Terpadu Teori Praktik Dan Penilaian (Jakarta:

Rajawali Pers, 2015), 93.

2Trianto Ibnu Bandar Al-Tabani, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresis Dan Kontekstual (Jakarta: Kencana, 2014), 98.

3Kompri, Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2015), 218.

Berdasarkan penjelasan beberapa ahli di atas, jadi dapat diketahui bahwa belajar ialah aktivitas secara sadar yang dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dan mendapat perbaikan perbuatan yang tadinya tidak mampu menjadi mampu melakukan sesuatu.

Ataupun yang tadinya tidak terampil menjadi terampil, perubahan tersebut menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sebagai suatu hasil dari pengalaman dan latihan secara bertahap dan berkelanjutan.

Selain pendapat ahli, Islam juga memiliki pandangan mengenai pengertian belajar. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Surat Al- Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:

اَهُّي َ أَٰٓ َي ٱ َنير لَّ َّ

رفِ ْاوُحَّسَفَت ۡمُكَل َليرق اَذرإ ْآوُنَماَء رسرل َجَم ۡ ل ٱ

َف ٱ ْاوُح َسۡف رح َسۡفَي

ٱ ُ َّلل

َليرق اَذوَإِ ۡمُكَل ٱ

ْاوُ ُشُن َف ٱ ْاوُ ُشُن رعَفۡرَي ٱ ُ َّلل ٱ َنير لَّ َّ

َو ۡمُكنرم ْاوُنَماَء ٱ

َنير لَّ َّ

ْاوُتو ُ أ

َمۡلرع ۡل ٱ َو ٖت َجَرَد ٱ

ُ َّلل ٞيرربَخ َنوُلَمۡعَت اَمرب ١١

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:

“Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”4

Berdasarkan ayat di atas, dijelaskan bahwa Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat bagi orang-orang yang menuntut ilmu dan memiliki ilmu pengetahuan. Maka Allah SWT memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan baik dalam lembaga pendidikan formal ataupun non formal. Sebagaimana pada kenyataannya, belajar atau menuntut ilmu sangatlah penting agar bisa memperoleh pengetahuan yang

4QS. Al Mujadilah (58): 11.

baik dan juga benar. Yang mana bisa menjadi pedoman hidup serta memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Proses belajar dapat terjadi karena siswa memperoleh sesuatu dari lingkungan sekitar, maka belajar pada hakikatnya ialah proses interaksi terhadap semua keadaan yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan juga proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu.

Seseorang dikatakan belajar jika pikiran dan perasaannya aktif, dimana aktivitas perasaan dan pikirannya itu tidak dapat diamati oleh orang lain. Melainkan hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan itu sendiri. Guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa, guru hanya melihat dari kegiatan siswa sebagai suatu akibat dari adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Sebagai contoh siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan, berdiskusi, memecahkan masalah, membuat rangkuman, dan lain sebagainya. Itu semua adalah gejala yang tampak dari aktivitas mental dan emosional siswa.5

Benyamin S Bloom ialah ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konsep taksonomi belajar. Taksonomi belajar merupakan pengelompokan tujuan belajar berdasarkan kawasan atau domain belajar.

Menurut Bloom terdapat tiga domain belajar, yakni sebagai berikut:

5Tim Pengembang MKDP, Kurikulum & Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 124–25.

a. Cognitive Domain (kawasan kognitif), berarti perilaku yang merupakan proses berpikir yang termasuk hasil kerja otak.

b. Affective Domain (kawasan afektif), berarti perilaku yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecenderungan untuk membuat pilihan atau keputusan untuk bersaksi di dalam lingkungan tertentu.

c. Psychomotor Domain (kawasan psikomotor), berarti perilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia. Domain ini berbentuk gerakan tubuh, antara lain seperti berlari, melompat, melempar, berputar, memukul, menendang, dan lain-lain.6

2. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran ialah serangkaian kegiatan yang melibatkan informasi dan lingkungan yang disusun secara terencana untuk memudahkan siswa dalam belajar dan melakukan seluruh proses demi mencapai tujuan.7

Pembelajaran adalah sebuah sistem yang mana terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Komponen tersebut meliputi tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Dan keempat komponen tersebut harus diperhatikan oleh guru ketika memilih model pembelajaran yang akan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.8

Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang cara berpikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun

6Evelin Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 8–11.

7 Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2013), 75.

8 Rusman, Model-model Pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 10.

kualitatif. Selain itu pada matematika terdapat dasar mengenai cara mengembangkan pola pikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian).9

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika ialah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran khususnya matematika, yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi berupa cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil dan aksioma.

Pada pembelajaran matematika, semua pandangan harus digunakan secara proposional. Tidak boleh hanya menekankan pada keberadaan simbol belaka tanpa memperhatikan struktur yang terkait, juga tidak boleh mementingkan penalaran saja tanpa penguasaan rumus atau aturan/prosedur matematika yang memadai. Maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berfikir yang kreatif.

Salah satu kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah dilaksanakannya pembelajaran matematika ialah kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan ini perlu diperhatikan karena berkaitan dengan tujuan pembelajaran matematika yakni peningkatan potensi diri dan pembentukan kepribadian siswa.