• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS ........................................................................... 15-47

B. Tarbiyah Jinsiyah

3. Bentuk-bentuk Tarbiyah Jinsiyah

Bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah dapat melibatkan berbagai aspek, termasuk pemahaman tentang identitas gender, kesehatan reproduksi, kesadaran tentang perlindungan diri, dan nilai-nilai moral terkait dengan seksualitas. Ulwan berpendapat bahwa bentuk pelaksanaan tarbiyah jinsiyah berupa pengajaran, penyadaran, dan penjelasan kepada anak sejak dini mengenai persoalan-persoalan yang terkait dengan jenis kelamin dan naluri (hasrat) agar ketika anak dewasa dan memahami berbagai persoalan hidup, anak kelak dapat mengenali apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang dalam Islam, serta menjadikan perilaku islami sebagai akhlak sehari-hari.39 Pengajaran merupakan proses memberikan pengetahuan dan informasi kepada anak, penyadaran artinya mengenali dan menghormati perbedaan jenis kelamin, serta memberikan penjelasan yang jelas dan terperinci kepada

38Akhmad Azhar, Pendidikan Seks Bagi Remaja Menurut Hukum Islam (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2001), h.9.

39Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam, terj. Arif Rahman Hakim dan Abdul Halim, Pendidikan Anak dalam Islam, h. 387.

anak mengenai hukum-hukum dan nilai-nilai terkait dengan jenis kelamin dan naluri (hasrat) dalam perspektif agama Islam.

Yusuf Madan memberikan penjelasan lebih detail tentang bentuk- bentuk tarbiyah jinsiyah pada anak sejak dini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw sebagai berikut:

1) Memberi nama yang baik untuk anak

Memberi nama yang baik kepada anak adalah tindakan yang indah dan disukai oleh Allah swt Salah satu aspek dari keindahan ini adalah memilih nama yang sesuai dengan jenis kelamin, baik untuk laki-laki maupun perempuan, serta menghindari nama-nama yang ambigu atau memiliki makna ganda.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami Nabi saw bersabda:

ا وَمَسَت

ِْءاسمبأ

ِْءايبنلأا

ْ بحأو ،

ِْءاسملأا لىإ

ِْالل

ُْدبع

ِْالل

ُْدبعو،

ِْنحمرلا

اهُقُدصأو

، ثراح

ْ ماََهَو اهُحَبقأو ،

، ب رَح

ُْةَرُمو

Artinya:

Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling benar adalah nama Harits dan Hammam dan yang paling jelek nama Harb dan Murrah. 40

Menggunakan nama-nama yang terkait dengan para nabi atau yang memiliki makna baik dalam Islam adalah salah satu cara untuk memberikan identitas agama kepada anak dan mengingatkan untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah swt.

40 HR. Abu Daud dan An Nasai. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan lighoirihi sebagaimana disebutkan dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1977.

2) Menanamkan rasa malu pada anak

Menanamkan rasa malu pada anak merupakan salah satu aspek penting. Ini melibatkan upaya untuk mengajarkan anak tentang norma- norma sosial dan nilai-nilai moral yang sesuai sejak usia dini. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menghindari kebiasaan membiarkan anak tampil telanjang di depan orang lain atau melakukan tindakan yang tidak pantas di depan umum, seperti keluar dari kamar mandi tanpa handuk atau berganti pakaian di tempat yang tidak sesuai. Selain itu, penting juga untuk mengajarkan anak tentang pentingnya berbusana dengan sopan, yang tidak hanya mencerminkan rasa hormat terhadap diri mereka sebagai muslim tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kesopanan dan kesederhanaan dalam Islam.

Hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi saw beliau bersabda:

ُْناَ يِْلإ ا

ْ ع ضِب

َْن وُع بَسَو

ْ وَأ

ْ ع ضِب

َْن و تِسَو

،ًةَب عُش اَهُلَض فَأَف

ُْل وَ ق

َْهلِإ َْل

َْلِإ

اَهَنَ دَأَوُهللا

ُْةَطاَمِإ ىَذَلأ ا

ِْنَع

ْ، ِق يِرَطلا

ُْءاَيَ لْاَو

ْ ةَب عُش

َْنِم

ُْناَ يِْلإ ا َْْ

Artinya:

Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman. (HR. Bukhari).41

Hadis ini mengajarkan bahwa iman memiliki banyak aspek yang berbeda dan salah satu aspek penting dari iman adalah rasa malu atau kehormatan diri.

41 Shahih: HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abu Dawud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Majah (no. 57), dari Shahabat Aba Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahihul Jami’ ash-Shaghir (no. 2800).

3) Menumbuhkan sikap maskulinitas pada anak laki-laki dan feminitas pada anak perempuan

Menumbuhkan sikap maskulinitas pada anak laki-laki dan feminitas pada anak perempuan adalah prinsip yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam. Islam memberikan penghargaan terhadap perbedaan dan karakteristik antara laki-laki dan perempuan. Dalam ajaran Islam, tidaklah diharapkan agar perempuan meniru gaya hidup laki-laki, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengajarkan kepada anak sejak usia dini agar mereka berpakaian sesuai dengan jenis kelamin mereka dan diperlakukan sesuai dengan identitas gender mereka yang sebenarnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu 'Abbas r.a beliau menyatakan:

َْنَعَل ُْلوُسَر َِْللّا ىَلَص ُْالل ِْه يَلَع َْمَلَسَو َْيِهِ بَشَتُلما َْنِم ِْلاَجِ رلا ِْءاَسِ نلِبِ

ِْتاَهِ بَشَتُلماَو َْنِم ِْءاَسِ نلا ِْلاَجِ رلِبِ

Artinya:

Rasulullah saw melaknat orang-orang laki-laki yang meniru perilaku wanita dan para wanita yang meniru perilaku laki-laki. 42

Hadis ini merujuk kepada larangan meniru perilaku orang dari jenis kelamin yang berbeda dalam Islam. Dalam Islam, terdapat pemahaman bahwa setiap jenis kelamin memiliki peran dan tugas yang unik, dan meniru perilaku dari jenis kelamin yang berbeda dianggap tidak pantas.

42 HR. Al-Bukhâri, no. 5885; Abu Dawud, no. 4097; Tirmidzi, no. 2991

4) Memisahkan tempat tidur

Pemisahan tempat tidur dapat membantu mengajarkan anak tentang eksistensi dirinya dan juga membangun kemandirian. Jika pemisahan tempat tidur terjadi antara anak dan orang tuanya, anak akan belajar untuk mandiri. Selain itu, anak juga diajarkan untuk melepaskan ketergantungannya terhadap orang tuanya. Jika pemisahan tempat tidur terjadi antara anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, hal ini akan membantu anak menyadari adanya perbedaan gender.

Dari Abdullah bin Amr r.a ia berkata:

ا وُرُم ْ مُكَد َل وَأ ِْة َلََصلِبِ ْ مُهَو ُْءاَن بَأ ِْع بَس َْ يِنِس ْ مُه وُ بِر ضاَو اَه يَلَع ْ مُهَو ُْءاَن بَأ

ِْر شَع َْ يِنِس ا وُ ق ِرَفَو ْ مُهَ ن يَ ب ِْف ِْع ِجاَضَم لا

Artinya:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan).43

Hadis ini adalah pedoman tentang pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan setelah mereka mencapai usia tertentu. Hal ini menggambarkan kebijaksanaan dalam menjaga privasi dan batasan antara anak-anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga.

43Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al- Hakim, I/197; Dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, II/406, no. 505 dengan sanad hasan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmû’ dan Riyâdhush Shâlihîn. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya hasan shahih.” Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud, II/401-402, no. 509.

5) Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu)

Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali dengan izin terlebih dahulu.

Firman Allah swt dalam QS an-Nur/24:58 yang berbunyi:44

اَه يَآيٰ

َْن يِذَلا ا وُ نَمٓا

ُْمُك نِذ أَت سَيِل

َْن يِذَلا

ْ تَكَلَم

ْ مُكُناَ يَْا

َْن يِذَلاَو اوُغُل بَ ي ْ َل

َْمُلُ لْ

ْ مُك نِم

َْثٓلَ ث

ْ تٓ رَم

ْ نِم

ِْل بَ ق

ِْةوٓلَص

ِْر جَف لا

َْ يِحَو

َْن وُعَضَت

ْ مُكَباَيِث

َْنِ م

ِْةَ يرِهَظلا

ْ نِمَو

ِْد عَ ب

ِْةوٓلَص

ْ ِءۤاَشِع لا

ُْثٓلَ ث

ْ تٓر وَع

ْ مُكَل

َْس يَل

ْ مُك يَلَع

َْلَو

ْ مِه يَلَع

ْ حاَنُج

ْ َنُهَد عَ ب

َْن وُ فاَوَط

ْ مُك يَلَع

ْ مُكُض عَ ب ىٓلَع

ْ ض عَ ب

َْكِلٓذَك

ُِْ يَبُ ي

ُْٓ للّا

ُْمُكَل

ْ ِتٓيٓ لا

ُْٓ للّاَو

ْ م يِلَع

ْ م يِكَح

Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu:

sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga

‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ayat di atas menjelaskan perlunya meminta izin pada tiga waktu.

Pertama, sebelum subuh. Kedua, waktu menggunakan pakaian santai saat tidur siang. Dan ketiga, setelah salat isya ketika bersiap-siap untuk tidur.45 Ketiga waktu tersebut dipilih dengan alasan bahwa itu merupakan waktu

44 Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al-Hufaz, h.357.

45M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 9, h. 394-395.

aurat, yaitu waktu ketika tubuh atau aurat orang dewasa lebih terbuka.

Aturan ini ditetapkan untuk menjaga kehormatan dan privasi orang dewasa dalam situasi-situasi di mana aurat dapat terbuka secara tidak sengaja.

6) Mendidik anak menjaga kebersihan alat kelamin (Toilet Training)

Mengajari anak tentang menjaga kebersihan alat kelamin dengan toilet training adalah langkah penting dalam membentuk sikap-sikap positif seperti mandiri dan mencintai kebersihan.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi saw bersabda:

اوُهَزَ نَ ت َْنِم ِْل وَ ب لا َْنِإَف َْةَماَع ِْباَذَع ِْ بَق لا ُْه نِم

Artinya:

Bersihkanlah diri dari air kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya.46

Hadis ini menggarisbawahi pentingnya menjaga kebersihan alat kelamin. Oleh karena itu, pembelajaran tentang kebersihan ini juga sejalan dengan nilai-nilai agama.

7) Mengenalkan mahramnya

Pentingnya mengenalkan konsep mahram dalam Islam tidak dapat diabaikan. Ini adalah ajaran yang sangat penting dalam mendidik anak-anak tentang batasan-batasan dalam hubungan pernikahan. Dengan pemahaman yang benar, anak-anak dapat memahami dengan jelas siapa yang dihalalkan dan diharamkan untuk dinikahi dalam agama Islam. Salah satu hal yang perlu ditekankan dalam tarbiyah jinsiyah adalah konsep tentang siapa yang tidak boleh dinikahi, seperti saudara kandung atau mahramnya.

46 HR. Ad-Dȃruquthnȋ dalam Sunannya, no. 459. Dan hadits ini dinilai shahȋh oleh Syaikh al-Albani dalam Irwȃul Ghalȋl, no. 280.

Firman Allah swt dalam al-Qur’an surah an-Nisa/4: 23 yang berbunyi:47

ْ تَمِ رُح

ْ مُك يَلَع

ْ مُكُتٓهَمُا

ْ مُكُتٓ نَ بَو

ْ مُكُتٓوَخَاَو

ْ مُكُتٓ مَعَو

ْٓلٓخَو

ْ مُكُت

ُْتٓنَ بَو

ِْخَ لا

ُْتٓنَ بَو

ِْت خُ لا

ُْمُكُتٓهَمُاَو

ْا ِتٓ لا

ْ مُكَن عَض رَا

ْ مُكُتٓوَخَاَو

َْنِ م

ِْةَعاَضَرلا

ُْتٓهَمُاَو

ْ مُكِٕى ۤا َسِن

ُْمُكُبِٕى ۤ

َبَِرَو

ْ ِتٓ لا

ْ ِف

ْ مُكِر وُجُح

ْ نِ م

ُْمُكِٕى ۤا َسِ ن

ْ ِتٓ لا

ْ مُت لَخَد

ْ َنِِبِ

ْ نِاَف

ْ َل ُْلِٕى ۤ ْ ْ ْ مُك يَلَع َْحاَنُج َْلََف َْنِِبِ ْ مُت لَخَد ا وُ ن وُكَت

َلََحَو

ُْمُكِٕى ۤاَن بَا

َْن يِذَلا

ْ نِم

ْ مُكِب َلَ صَا

ْ نَاَو ا وُعَم َتَ

َْ يَب

ِْ يَت خُ لا

َْلِا اَم

ْ دَق

َْفَلَس ْ

َْنِا

َْٓ للّا

َْناَك

ْاًر وُفَغ اًم يِحَر

Terjemahnya:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini dengan sangat sistematis dan tegas menguraikan batasan- batasan mahram. Penting untuk dicatat bahwa walaupun ayat tersebut secara khusus ditujukan kepada pria, pesan yang sama juga berlaku untuk

47 Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al-Hufaz, h.81.

wanita secara terbalik.48 Ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentang mahram dalam Islam, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Pendidikan tentang hal ini harus disampaikan dengan jelas agar anak sejak dini memiliki pemahaman yang benar dan mematuhi ajaran agama dengan baik.

8) Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata

Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata merupakan tugas penting dalam pembentukan karakter sejak dini. Setiap individu memiliki naluri alami terhadap lawan jenisnya, namun, jika tidak diberikan arahan yang bijak, hal ini dapat berdampak negatif pada kehidupan anak.

Konten pornografi, sebagaimana gambar atau film semacam itu, haruslah dihindari dan menjauhkan anak darinya.

Firman Allah swt dalam QS an-Nur/24: 30 yang berbunyi:49

ْ لُق

َْ يِنِم ؤُم لِ ل ا و ضُغَ ي

ْ نِم

ْ مِهِراَص بَا ا وُظَف َيََو

ْ مُهَج وُرُ ف

َْكِلٓذ ىٓك زَا

ْ مَُلَ

َْنِا

َْٓ للّا

ْ يرِبَخ اَِبِ

َْن وُعَ ن صَي

Terjemahnya:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat.

Ayat ini menekankan pentingnya menahan pandangan dari hal-hal terlarang seperti aurat wanita dan godaan-godaan yang mungkin muncul.

Melalui pengendalian diri ini, kita dapat memelihara kemurnian, menjaga

48 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 2, h. 392.

49 Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al-Hufaz, h.535.

kehormatan diri, dan menghindari perbuatan zina.50 Ayat tersebut juga mengingatkan kita tentang pentingnya tarbiyah jinsiyah sejak dini. Mendidik anak-anak untuk merawat dan menjaga tubuh mereka adalah langkah yang mendasar dalam membentuk masa depan yang baik. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa anak tumbuh menjadi individu yang bertaqwa kepada Allah dan menjalani kehidupan yang penuh dengan integritas dan kehormatan.

9) Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilat

Ikhtilat yang merupakan campuran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa keperluan syariat Islam, sekarang dianggap biasa dalam masyarakat. Terkadang, mereka berdekatan, bersentuhan, dan saling mengumbar pandangan, seolah-olah tidak ada batasan syariat yang mengatur interaksi ini. Padahal, Ikhtilat dilarang oleh Islam karena berpotensi menyebabkan perbuatan zina yang diharamkan.

Dari Ibnu Umar beliau berkata, Nabi saw bersabda:

ْ وَل اَن كَرَ ت اَذَه

َْباَب لا

ِْءاَسِ نلِل

َْلاَق

ْ عِفَنَ

ْ مَلَ ف

ْ لُخ دَي

ُْه نِم

ُْن با

َْرَمُع

َْتَّح

َْتاَم

Artinya:

Hendaknya kita khususkan pintu ini untuk wanita. Nafi berkata, maka Ibnu Umar tidak pernah masuk lewat pintu itu hingga wafat.51

Hadis ini menjelaskan pentingnya untuk menghindari kebiasaan berinteraksi berlebihan dengan lawan jenis atau membawa anak ke tempat- tempat di mana campuran bebas antara laki-laki dan perempuan menjadi norma. Hal ini merupakan langkah penting dalam menjaga nilai-nilai syariat Islam dan mencegah perbuatan yang diharamkan seperti zina sejak usia dini.

50 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 9, h. 323-325.

51 HR. Abu Daud, no 484 dalam Kitab Ash-Shalah bab Sikap keras dalam masalah ini.

10) Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat

Anak perlu diberi pengajaran agar tidak terlibat dalam situasi khalwat, yaitu ketika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya berada dalam keadaan berdua saja di tempat yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh orang lain. Seperti halnya ikhtilat, khalwat dapat membuka pintu menuju perbuatan zina. Rasulullah saw bersabda:

ل نوليخ مكدحأ

ةأرمبِ

نإف

ْناطيشلا امهثلثا

Artinya:

Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.52

Hadis ini bertujuan untuk mencegah potensi godaan dan kemungkinan terjadinya perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

11) Pengajaran pendidikan seks melalui salat

Anak diajarkan salat sejak kecil. Dalam salat, ada shaf khusus untuk laki-laki dan shaf khusus untuk perempuan. Berikan penjelasan cara menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Laki-laki harus menutup auratnya dari pusar hingga lutut, sedangkan perempuan harus menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.53

52HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban (lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436), At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430)

53Yusuf Madan, Sex Education for Children Panduan Islam bagi Orangtua dalam Pendidikan Seks untuk Anak, Terjemah dari kitab Al-Tarbiyah Al-Jinsiyyah li Al-Athfal wa Al- Balighin (Cet. I ; Jakarta: PT Mizan Publika, 2004) h.214-226.

Firman Allah swt dalam QS al-A’raf/7: 31 yang berbunyi:54

َْل هَنِا ْ ا وُ فِر سُت َْلَو ا وُ بَر شاَو ا وُلُكَو ْ دِج سَم ِْ لُك َْد نِع ْ مُكَتَ ن يِز ا وُذُخ َْمَدٓا ْا ِنَبٓ ي

ْ بُِيَ

َْ يِفِر سُم لا

Terjemahnya:

Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Pentingnya menutup aurat ini adalah untuk menjaga kehormatan dan kesucian dalam ibadah kepada Allah swt Hal ini juga mencerminkan sikap yang sopan dan hormat dalam lingkungan masjid, tempat orang berkumpul untuk beribadah. 55 Selain itu, ayat tersebut juga mengingatkan bahwa Allah swt tidak menyukai orang yang berlebihan dalam segala hal, sehingga umat manusia diingatkan untuk menjalani hidup dengan keseimbangan dan kesederhanaan.

Kesimpulan dari tarbiyah jinsiyah pada anak usia dini berdasarkan pendapat Yusuf Madan adalah mengajarkan nilai-nilai Islam. Semua ini bertujuan untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam, menghormati perbedaan gender, menjaga kebersihan, kehormatan diri, serta menghindari perbuatan dosa dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Muhammad Suwaid juga mengemukakan bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah pada anak sebagai berikut:

54 Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al-Hufaz, h.154.

55 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 5, h. 75.

a) Meminta izin apabila hendak masuk ke kamar orang tua

Anak diajarkan untuk meminta izin sebelum masuk ke kamar orang tua, sebagai bentuk penghargaan terhadap privasi orang tua. Anak juga diajarkan untuk meminta izin dalam waktu-waktu tertentu seperti sebelum salat subuh, saat tidur siang, dan setelah salat isya.

b) Mengajarkan anak untuk menjaga pandangan dan memelihara aurat Anak diajarkan untuk menjaga pandangan agar tidak melihat hal-hal yang tidak layak atau mengumbar nafsu. Ini dilakukan dengan mengajarkan anak untuk menundukkan pandangan dan menjaga aurat, serta disertai dengan pemahaman bahwa Allah senantiasa mengawasi mereka. Hal ini bertujuan untuk membangun keimanan anak dan melindunginya dari bahaya yang mungkin timbul akibat pertumbuhan seksual yang tidak sehat.

c) Memisahkan tempat tidur anak dengan saudaranya

Pemisahan tempat tidur anak dengan saudara yang berbeda jenis kelamin dimulai sejak usia dini. Hal ini dilakukan untuk membangun pembinaan seksual anak dengan cara yang baik. Tidur dalam satu ranjang dan menggunakan satu selimut dapat memicu perkembangan naluri seksual anak dengan cepat, yang dapat menyebabkan indikasi penyimpangan seksual.

d) Tidur dengan berbaring ke sisi kanan tidak terlungkup

Anak diajarkan untuk meneladani Rasulullah saw dengan tidur dalam posisi berbaring ke sisi kanan. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan anak dari dorongan seksual yang mungkin muncul saat tidur. Rasulullah saw menganggap tidur terlungkup sebagai tidurnya setan, karena posisi tidur terlungkup dapat menyebabkan gesekan alat kelamin anak yang dapat membangkitkan nafsu seksual dan berpotensi menimbulkan penyakit fisik.

e) Menjauhkan anak dari pembauran dengan lawan jenis dan hal-hal yang membangkitkan nafsu seksual

Anak perlu dijauhkan dari situasi di mana anak terlalu sering bersama dengan lawan jenis yang berlebihan dan tidak terkontrol. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak terjerumus dalam perbuatan zina. Sejak usia dini, anak membutuhkan pengawasan dalam pergaulannya dengan teman sebaya agar dapat menghindari perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam.

f) Mempelajari kewajiban-kewajiban mandi dan sunnah-sunnahnya

Anak perlu diajarkan tentang pentingnya membersihkan diri dan menjaga kebersihan. Orang tua harus memberikan bimbingan mengenai tata cara mandi yang benar sesuai dengan sunnah Rasulullah. Hal ini bertujuan untuk membantu anak menjadi mandiri.56

Berdasarkan penjelasan Muhammad Suwaid di atas, dapat disimpulkan tarbiyah jinsiyah bertujuan untuk mengajarkan anak tentang pentingnya penghargaan terhadap privasi orang tua, menjaga pandangan dan aurat, memisahkan tempat tidur dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, tidur dengan berbaring ke sisi kanan, menjauhkan anak dari situasi yang membangkitkan nafsu seksual, dan mempelajari serta menjaga kebersihan.

56Muhammad Suwaid, Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyah Lit-Thifl, terj. Salafuddin Abu Sayyid, Mendidik Anak Bersama Nabi (Cet. X; Solo: Pustaka Arafah, 2017), h. 368-383.

48 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif merupakan suatu metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan yang berasal dari partisipan serta perilaku yang dapat diamati.1 Dalam penelitian kualitatif seorang peneliti harus melakukan pengamatan atau observasi sendiri, mencari data dengan mengamati secara langsung contoh, fakta, gejala-gejala atau objek lalu menginterpretasikan, menafsirkan dan memaknai data yang menjadi fokus penelitiannya.2

Berdasarkan pandangan di atas,dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian untuk memaknai fakta atau realita, baik berupa kondisi maupun tindakan yang diamati secara menyeluruh yang dilaporkan dalam bentuk deskriptif berupa kata-kata sajian peneliti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan mengamati secara langsung peranan guru PAUD dalam memberikan tarbiyah jinsiyah kepada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di RA Al-Ikhlas Minasa Upa Kecamatan Rappocini Kota Makassar. Peneliti memilih sekolah ini, karena dilihat dari judul yang diangkat oleh peneliti, belum ada penelitian

1Sulaiman Saat dan Sitti Mania, Pengantar Metodologi Penelitian Panduan Bagi Peneliti Pemula (Gowa: Pusaka Almaida, 2019), h. 129.

2Sapto Haryoko dkk, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Konsep, Teknik & Prosedur Analisis (Makassar: Badan Penerbit UNM, 2020), h. 6.

sebelumnya yang pernah dilakukan di RA Al-Ikhlas Minasa Upa berkaitan dengan peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah, sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini di sekolah tersebut. Selain itu, RA Al- Ikhlas Minasa Upa merupakan sekolah di mana peneliti melakukan PLP 1 dan melakukan kunjungan observasi, sehingga peneliti telah mengamati guru, peserta didik dan menemukan masalah tentang kurangnya pemahaman peserta didik dalam tarbiyah jinsiyah. Sumber data dan informasi juga mudah didapatkan karena adanya keterbukaan guru di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan pendekatan pedagogik. Creswell menjelaskan bahwa fenomenologi adalah pendekatan penelitian yang mengidentifikasi pengalaman manusia mengenai suatu fenomena tertentu, maka dari proses ini peneliti mendeskripsikan gejala yang berasal dari pengalaman-pengalaman subjek.3 Hal yang akan dientifikasi melalui pendekatan fenomenologi adalah peranan guru dalam tarbiyah jinsiyah. Sementara, pendekatan pedagogik dilakukan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang fenomena pendidikan yang kompleks dan kontekstual. Dalam hal ini, pendekatan pedagogik dilakukan untuk mengetahui kemampuan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran atau memberikan tarbiyah jinsiyah pada peserta didik.

C. Sumber Data

Data merupakan kumpulan fakta atau informasi yang dapat dipercaya kebenarannya dikumpulkan oleh peneliti untuk memecahkan masalah atau menjawab rumusan masalah dari penelitian yang dilakukan.

3John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2012), h. 20.

Dokumen terkait