• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 48-59

G. Pengujian Keabsahan Data

Dalam penelitian, keabsahan data sangat penting untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian dan membuktikan validitasnya.

Dalam penelitian kualitatif, ada beberapa cara untuk menguji keabsahan data, sebagai berikut:

1. Perpanjangan pengamatan

Perpanjangan pengamatan dilakukan dengan kembali ke lapangan untuk memeriksa dan memvalidasi data yang telah diperoleh. Jika data tersebut benar dan tidak berubah setelah dicek kembali ke lapangan, maka data tersebut dianggap kredibel.

2. Meningkatkan ketekunan

Meningkatkan ketekunan dilakukan dengan melakukan pengamatan yang lebih cermat dan berkesinambungan. Peneliti membaca

9Sulaiman Saat & Sitti Mania, Pengantar Metodologi Penelitian Panduan Bagi Peneliti Pemula, h. 118-119.

referensi buku, hasil penelitian, atau dokumen terkait untuk memeriksa kebenaran data yang ditemukan.

3. Mengadakan member check

Mengadakan member check adalah proses pengecekan data kepada pemberi data. Dengan melibatkan pemberi data, peneliti dapat memastikan kesesuaian data yang diperoleh dengan informasi yang diberikan oleh pemberi data. Jika data tersebut disetujui oleh para pemberi data, maka data tersebut dianggap valid dan kredibel.

4. Triangulasi

Triangulasi data melibatkan pengecekan data dari berbagai sumber dan metode, untuk meningkatkan validitas penelitian. Ada tiga macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

a. Triangulasi teknik pengumpulan data yaitu peneliti melakukan pengecekan data dari berbagai sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

1) Observasi: Melibatkan pengamatan langsung peneliti terhadap aktivitas pembelajaran peserta didik kelompok B, untuk mengamati bagaimana guru PAUD memberikan tarbiyah jinsiyah yang sesuai dengan perkembangan usia peserta didik.

2) Wawancara dengan guru PAUD: Peneliti dapat melakukan wawancara terstruktur dengan guru PAUD untuk memahami pendekatan, metode, dan pemahaman terkait tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B.

3) Analisis dokumen: Melibatkan analisis terhadap dokumen pendukung seperti kurikulum, rencana pembelajaran, atau materi

ajar yang digunakan guru PAUD dalam memberikan tarbiyah jinsiyah.

b. Triangulasi sumber yaitu peneliti melakukan pengecekan data dengan teknik yang sama dari sumber yang berbeda.

1) Guru PAUD: Mengumpulkan data dari guru PAUD sebagai sumber utama yang berada di lapangan dan memiliki pemahaman langsung tentang praktik tarbiyah jinsiyah.

2) Peserta Didik Kelompok B: Melibatkan peserta didik sebagai sumber data untuk mengevaluasi pengalaman dan persepsi yang termasuk dalam tarbiyah jinsiyah.

3) Dokumen: Analisis dokumen seperti kurikulum PAUD, rencana pembelajaran, dan materi ajar untuk memahami pendekatan guru dalam memberikan tarbiyah jinsiyah di RA Al Ikhlas Minasa Upa.

c. Triangulasi waktu yaitu memastikan bahwa data yang dikumpulkan tidak mengalami perubahan atau pergeseran signifikan dalam periode waktu tertentu.

1) Pengumpulan data sekaligus: Mengumpulkan data dari berbagai sumber secara bersamaan untuk mendapatkan pandangan yang komprehensif tentang peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah dalam satu periode tertentu.

2) Pengumpulan data berulang: Mengumpulkan data pada beberapa waktu yang berbeda selama periode tertentu untuk memahami perkembangan dan perubahan guru dalam

memberikan tarbiyah jinsiyah di pada peserta didik kelompok B di RA Al Ikhlas Minasa Upa. 10

Langkah-langkah ini, membantu peneliti memperoleh data yang memiliki validitas dan akurasi yang tinggi, serta dapat dipertanggungjawabkan dalam interpretasi dan kesimpulan yang diambil serta memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al Ikhlas Minasa Upa.

10Eko Murdiyanto, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Aplikasi disertai Contoh Proposal (Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat UPN Veteran, 2020), h. 68-71.

60 A. Profil Sekolah RA A-Ikhlas Minasa Upa

Latar belakang berdirinya RA Al-Ikhlas Minasa Upa adalah untuk menunjang program pemerintah dalam bidang pendidikan. Dharma wanita unit Kemenag Prop. Sulawesi selatan telah membuka RA sejak tahun 1989/

1990. Dengan memanfaatkan salah satu ruangan dalam kompleks kanwil Kemenag Prop. Sulawesi selatan. Semula RA ini bernama RA Islam Al Ikhlas Dharma Wanita DEpag Prop. Sulawesi Selatan unit agama yang didirikan pada tanggal 9 Juli 1989, dengan surat keputusan pengurus 02/ UDW. AG/

II/ 1989 yang pada waktu itu Ketua Dharma Wanita Unit Agama Prop. Sul-sel adalah ibu Hj. Fatima Tahir Syarkawi selaku istri Kakanwil Kemenag Prop.

Sul-sel. Kemudian ketua DWP Kanwil Kemenag mempercayakan kepada seksi pendidikan untuk mengelolah RA ini. Maka terbentuklah satuan tugas pengelolah Taman Kanak-kanak atau Raudhatul Athfal Al Ikhlas Minasa Upa yang terdiri dari:

a. Bapak Kakanwil Depag Prop. Sul-sel: Pembina b. Ny. Hj. Fatima Tahir Syarkawi: Penasehat c. Dra. Hj. Hafidah As’ad: Ketua Pengelolah d. Drs. H. Muh. Arif Abdullah: Sekertaris e. Beberapa pengurus lainnya

RA Al Ikhlas awalnya berlokasi di kantor wilayah Depag Prop. Sul- sel, namun pada tahun ajaran 1992/ 1993 telah memiliki gedung sendiri yang berlokasi di jalan Syek Yusuf BTN Minasa Upa Blok M4 No. 5. Pada saat awal pindahnya di Minasa Upa mempunyai tiga ruang kelas dengan jumlah

peserta didik sebanyak 62 anak dengan keadaan saran dan prasarana yang cukup. Pada waktu itu masyarakat antusias mempercayakan putra putrinya untuk dididik dan dibina. Hingga saat ini telah menamatkan anak didik sebanyak 33 kali. RA Al-Ikhlas saat ini mempunyai kelas kelompok bermain, kelas kelompok A dan kelas kelompok B yang mempunyai personil sebanyak 12 orang guru kelas dan pendamping, 1 bujang sekolah dan 1 orang kepala sekolah. Adapun keempat personil yang membina RA Al Ikhlas pada awal dibukanya yaitu:

a. Bau Intang: Kepala sekolah b. Hawasiah: Guru kelas c. St. Rahmatiah: Guru kelas d. Sukirah: Guru kelas

Alasan dibentuknya RA Al-Ikhlas Minasa Upa adalah untuk merealisasikan salah satu program kerja Dharma Wanita Pers. Kanwil Kemenag Prop. Sul-sel dibidang pendidikan yaitu membantu mencerdaskan, kehidupan bangsa, mengembangkan kepribadian, kesejahteraan dan pembinaan sifat-sifat anak untuk menjadi warga Negara yang baik, tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan RA, tersedianya tenaga pengajar yang professional dalam hal pendidikan RA, banyaknya anak usia RA yang berada di lingkungan pada saat itu. Pergantian kepala RA Al-Ikhlas telah berganti sebanyak 3 kali yaitu:

1. Bau Intang (periode 1989 – 1998) 2. Nurdewi (periode 1998 – 2006)

3. Hj. Parida, S. Ag, M.Pd.I (periode 2006 – sampai sekarang)

Sejak didirikannya pada tanggal 9 Juli 1989 RA Al ikhlas ini telah mendapat izin operasional sekolah yaitu B-41/ Dik/ UDW/ Ag/ VIII 1992.

RA Al-Ikhlas Minasa Upa memiliki visi, misi, dan tujuan sebagai berikut:

a. Visi

Terwujudnya generasi muslim yang bertakwa, berintelektual, berakhlak mulia, kreatif dan bertanggung jawab menjadi Rahmatan Lil Alamin.

b. Misi

1) Membentuk layanan pendidikan untuk anak usia dini yang menyeimbangkan IMTAQ (Imam dan Takwa), IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

2) Menanamkan pendidikan agama sejak dini berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

3) Melaksanakan kegiatan yang aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan dalam menumbuhkembangkan potensi anak.

4) Melahirkan guru yang berkualitas dan mendidik dengan hati (pendidikan ramah anak).

5) Mewujudkan RA AL-Ikhlas sebagai unggulan dan RA model.

c. Tujuan

1) Mewujudkan generasi penerus yang berakhlak mulia.

2) Membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan sumber daya manusiayang berakhlakul kharimah.

3) Menyediakan sarana belajar yang refresentatif bagi anak usia dini 4) Untuk mengantisipasi gerak maju arus globalisasi yang dapat

membawa dampak negative terhadap generasi muda, sekaligus

mempersiapkan generasi muda untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan Negara.

B. Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa

Peranan guru dalam tarbiyah jinsiyah sangatlah penting, terutama dalam perkembangan anak sejak usia dini. Di RA Al-Ikhlas Minasa Upa, terdapat 4 (empat) peranan guru dalam tarbiyah jinsiyah.

1) Guru menyampaikan informasi tentang bagian-bagian tubuh privasi Peningkatan pengetahuan peserta didik dapat dicapai melalui penyampaian informasi yang tepat oleh guru. Salah satu informasi dasar yang perlu disampaikan oleh guru adalah bagian-bagian tubuh privasi.

Dengan menyampaikan informasi ini secara langsung, diharapkan peserta didik dapat memahami dengan baik aspek-aspek penting terkait bagian tubuh privasinya. Hal ini disampaikan oleh guru melalui wawancara dengan pernyataan berikut.

Saya percaya bahwa memberikan informasi tentang bagian-bagian tubuh privasi kepada peserta didik sangat penting. Hal ini dapat dimulai dengan menyampaikan nama-nama bagian tubuh pada peserta didik. Bagian tubuh pribadi atau privasi yang tertutup celana dalam diistilahkan sebagai alat kelamin. 1

Pendapat guru kedua yang diwawancarai menguatkan pernyataan tersebut dengan mengungkapkan hal berikut.

Ketika berbicara tentang bagian-bagian tubuh, kita bisa membuatnya lebih sederhana dan menyenangkan dengan menyertakan lagu-lagu atau dongeng. Sambil bernyanyi atau bercerita, kita bisa menunjuk bagian-bagian tubuh mereka dan mengajarkan nama-nama yang benar. Penting juga untuk mengajarkan anak-anak tentang

1Mirnawati (40 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

menghormati tubuh mereka sendiri dan teman-teman mereka, dengan menyampaikan bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi.2

Pernyataan di atas didukung oleh kepala sekolah dengan pernyataan sebagai berikut.

Saya sepenuhnya mendukung guru dalam memberikan informasi tentang bagian-bagian tubuh privasi kepada peserta didik. Hal ini merupakan aspek penting dalam tarbiyah jinsiyah yang bertujuan untuk membentuk pemahaman yang sehat dan positif tentang tubuh sejak dini sesuai ajaran agama Islam bahwa ada yang dimaksud aurat atau bagian tubuh privasi.3

Berdasarkan hasil observasi, guru berusaha menyampaikan informasi mengenai bagian-bagian tubuh privasi kepada peserta didik dengan metode yang jelas dan mendidik. Upaya ini terwujud melalui penggunaan bahasa sederhana, didukung oleh gambar, dan diperkaya dengan pengenalan nama-nama bagian tubuh melalui lagu. Tujuan dari pendekatan ini adalah memudahkan peserta didik dalam memahami dan mengingat informasi yang disampaikan. Selama kegiatan pembelajaran, guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menarik, sambil memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk dapat mengidentifikasi bagian tubuhnya sendiri.4

2) Guru membimbing peserta didik memahami cara merawat tubuhnya Guru yang membimbing peserta didik dalam memahami cara merawat tubuh memiliki peranan penting dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan kesehatan dan kebersihan tubuh.

2Kamaria Majid (47 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

3Hj. Parida (52 tahun), Kepala RA Al-Ikhlas Minasa Upa Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

4Rosmini (21 tahun), Peneliti, Hasil Observasi, 31 Oktober 2023.

Sebagaimana dijelaskan langsung oleh guru dalam sesi wawancara sebagai berikut.

Saya selalu berusaha memberikan pemahaman cara merawat tubuh pada peserta didik dalam kegiatan sehari-hari di kelas. Peserta didik berpartisipasi dalam kegiatan pembiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan pribadi contohnya meminta peserta didik membersihkan area pribadinya dengan air setelah buang air kecil atau air besar. Biasanya juga guru menggunakan cerita edukatif, untuk menyampaikan pada peserta didik langkah-langkah perawatan tubuh dalam rutinitas harian.5

Guru kedua yang diwawancarai menegaskan pendapat tersebut dengan menyampaikan hal berikut.

Saya memberikan pembelajaran cara merawat tubuh bagi peserta didik menjadi semenyenangkan mungkin. Saat kita memasukkan unsur-unsur kreatif seperti lagu, gambar, atau video dalam pembelajaran, peserta didik lebih mudah terlibat dan mengingat informasi tentang perawatan tubuh sehingga menciptakan kesadaran positif tentang kesehatan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.6

Hasil wawancara kepala sekolah mengungkapkan bahwa guru memang memiliki peranan membimbing peserta didik dalam memahami cara merawat tubuhnya.

Dalam pendidikan anak usia dini, guru-guru kami berfokus pada pembimbingan peserta didik dalam memahami cara merawat tubuh.

Ini merupakan dasar penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat anak-anak di masa depan.7

Hasil observasi menunjukkan tentang cara guru membimbing peserta didik dalam memahami cara merawat tubuh. Pertama, guru menggunakan pendekatan interaktif dengan melibatkan peserta didik dalam

5Mirnawati (40 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

6Kamaria Majid (47 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

7Hj. Parida (52 tahun), Kepala RA Al-Ikhlas Minasa Upa Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

kegiatan praktis, seperti mencuci tangan dan membersihkan area pribadi, membuat pembelajaran lebih praktis dan relevan. Kedua, guru menggunakan berbagai metode pembelajaran, termasuk kegiatan pembiasaan dan cerita edukatif, serta memanfaatkan media seperti lagu, gambar, dan video, untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam. Ketiga, guru berperan sebagai model perilaku positif, memberikan contoh langsung tentang cara merawat tubuh, memungkinkan peserta didik belajar melalui observasi dan peniruan, seperti kegiatan mencuci tangan dan membimbing peserta didik membersihkan area pribadi, dalam hal ini guru membantu peserta didik menerapkan informasi dalam tindakan nyata.8 Secara keseluruhan, hasil observasi ini menunjukkan bahwa guru berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan praktis, memberikan kontribusi positif terhadap kesadaran kesehatan peserta didik.

3) Guru memberikan arahan dan stimulus cara melindungi diri dari kejahatan seksual

Arahan dan stimulus sangat penting dalam mencegah peserta didik menjadi korban kejahatan seksual di usia dini. Guru di sekolah bertanggung jawab untuk menanamkan kemandirian pada peserta didik agar mereka dapat melindungi diri dari potensi kejahatan seksual. Guru meyakini bahwa arahan dan stimulus yang diberikan seharusnya disesuaikan dengan usia peserta didik, sesuai dengan yang diungkapkan dalam sesi wawancara berikut ini.

Ya. Saya sebagai guru memberikan arahan dan stimulus sesuai usia peserta didik untuk melindungi mereka dari kejahatan seksual. Sesi pengajaran melibatkan pemahaman tubuh, hak-hak pribadi (seperti menolak pelukan dari orang tidak dikenal), dan batasan perilaku yang harus dihormati. Peserta didik diajarkan mengidentifikasi situasi

8Rosmini (21 tahun), Peneliti, Hasil Observasi, 31 Oktober 2023.

berisiko dan cara menyampaikan ketidaknyamanan kepada orang dewasa yang dipercayai.9

Guru selanjutnya menyoroti pentingnya memahami konsep sentuhan yang boleh dan tidak boleh.

Fokus utama saya adalah mengembangkan kemandirian peserta didik dan membimbing mereka dalam memahami arti penting menjaga diri.

Saya memberikan contoh situasi nyata untuk memberikan pemahaman praktis, seperti saat seseorang menyentuh bagian tubuh yang seharusnya tertutup oleh pakaian dalam. Dalam situasi tersebut, peserta didik diajarkan untuk bereaksi dengan cepat dan efektif.

Mereka diingatkan untuk berteriak meminta tolong, berlari untuk menghindar, dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua, guru, atau orang yang dipercayai. Semua langkah ini bertujuan untuk memberikan perlindungan segera dan memastikan bahwa peserta didik merasa aman.10

Kepala sekolah memastikan kebutuhan peserta didik, termasuk kemandirian dan perlindungan diri dari kejahatan seksual, terpenuhi sebagaimana dijelaskan dalam wawancara berikut.

Saya memastikan pendekatan guru mencakup kebutuhan individual peserta didik. Pertemuan tim rutin diadakan untuk membahas strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Dukungan diberikan kepada guru untuk mengembangkan metode pembelajaran responsif, termasuk keamanan pribadi.11

Hasil observasi menunjukkan bahwa guru memang memberikan arahan dan stimulus pada peserta didik untuk melindungi diri dari kejahatan seksual. Pertama-tama, guru menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka, di mana peserta didik merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman mereka. Guru juga secara jelas dan tegas menyampaikan

9Mirnawati (40 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

10Kamaria Majid (47 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

11Hj. Parida (52 tahun), Kepala RA Al-Ikhlas Minasa Upa Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

informasi tentang bagaimana melindungi diri dari kejahatan seksual dengan bahasa sederhana yang mudah peserta didik pahami dengan cara guru mengenalkan bagian tubuh yang pribadi, dan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan usia peserta didik untuk menyampaikan pesan tersebut.

Guru juga memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang kreatif, seperti cerita pendek atau gambar edukatif, untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai keamanan dan batasan. Guru berusaha memberikan materi secara menyenangkan, sehingga peserta didik tidak hanya memahami tetapi juga merasa terlibat dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru memberikan arahan yang jelas tentang tindakan yang dapat dilakukan oleh peserta didik untuk melindungi diri sendiri. Hal ini mencakup pengenalan dan pemberian nama pada bagian tubuh yang pribadi, mengetahui siapa saja yang dapat dipercayai untuk berbicara mengenai masalah tersebut, dan mengajarkan peserta didik untuk selalu memberitahu orang dewasa yang mereka percayai jika merasa tidak nyaman atau ada seseorang yang berusaha menyentuhnya dengan paksa tanpa izin orang tua.

Guru juga berusaha mengembangkan kepercayaan diri peserta didik, memotivasi untuk berbicara dan melaporkan kejadian yang mencurigakan. Dengan demikian, guru tidak hanya memberikan informasi tetapi juga membangun pemahaman dan sikap yang positif terkait dengan melindungi diri dari kejahatan seksual.12 Pendekatan ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dengan penuh kesadaran akan hak-hak dan keamanan pribadi sejak usia dini.

12 Rosmini (21 tahun), Peneliti, Hasil Observasi, 31 Oktober 2023.

4) Guru memberikan contoh berpakaian yang menutup aurat

Membentuk karakter dan sikap positif pada peserta didik tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga melibatkan pembentukan perilaku yang baik. Salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter adalah berpakaian yang sopan dan sesuai dengan ajaran Islam. Melalui hasil wawancara yang telah dilakukan, guru memberikan penjelasan sebagai berikut.

Memberikan contoh cara berpakaian yang sopan pada peserta didik adalah langkah penting dalam tarbiyah jinsiyah sesuai ajaran Islam.

Pentingnya penggunaan pakaian yang menutup aurat, mencontohkan kesopanan, dan menghindari pakaian terlalu ketat atau transparan adalah untuk membentuk sikap santun dan menghormati diri sendiri.

Tujuannya adalah menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan aman.13

Pendapat tersebut dikuatkan oleh guru kedua yang diwawancarai menjelaskan pentingnya mentaati peraturan sebagai berikut.

Sebagai guru kami memberikan contoh berpakaian sopan pada peserta didik setiap hari di sekolah sekaligus menjelaskan pentingnya mentaati peraturan sekolah menggunakan segaram sekolah untuk menjaga aurat.14

Dukungan dari kepala sekolah juga sangat penting untuk mengingatkan guru agar memperhatikan penampilannya karena akan berdampak pada peserta didik.

Saya selalu mendukung dan mengingatkan guru memberikan contoh berpakaian sopan pada peserta didik terutama yang menutup aurat karena kaitannya dengan tarbiyah jinsiyah juga dan sesuai dengan

13Mirnawati (40 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

14Kamaria Majid (47 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

nilai-nilai sekolah yang membantu pembentukan karakter peserta didik memahami pentingnya menjaga aurat.15

Berdasarkan hasil observasi, terlihat bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan yang baik. Guru tidak hanya memberikan instruksi verbal tentang tata cara berpakaian sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya di lingkungan sekolah, tetapi juga secara aktif menunjukkan contoh langsung melalui penampilan pribadi dengan menggunakan pakaian yang menutup aurat. Guru memastikan bahwa dirinya sendiri mematuhi aturan berpakaian yang telah ditetapkan, seperti mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Hal ini mencakup penggunaan seragam berlengan panjang, celana panjang, dan bagi peserta didik perempuan, memakai jilbab karena itu merupakan bagian dari aturan berpakaian khusus perempuan.16 Dengan konsistensi dalam penerapan aturan berpakaian tersebut, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung nilai-nilai agama dan budaya yang berdampak positif bagi peserta didik.

C. Bentuk-bentuk Tarbiyah Jinsiyah yang diberikan pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa

Tarbiyah jinsiyah sangat penting ditanamkan sejak usia dini kepada peserta didik. Ini bermanfaat untuk memfasilitasi perkembangan dan pemahaman diri peserta didik serta membantu peserta didik mengenal dirinya, bagaimana cara merawat tubuhnya, dan melindunginya dari kejahatan seksual. Adapun bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah sebagai berikut.

15Hj. Parida (52 tahun), Kepala RA Al-Ikhlas Minasa Upa Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

16 Rosmini (21 tahun), Peneliti, Hasil Observasi, 31 Oktober 2023.

a) Mengenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain

Sejak usia dini penting untuk memberikan pemahaman yang baik mengenai batasan-batasan dalam berinteraksi sosial, terutama terkait dengan bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain. Informasi ini disampaikan oleh guru melalui wawancara sebagai berikut.

Pada awalnya, peserta didik dikenalkan dengan bagian tubuh mereka dan sekaligus diberitahu tentang pentingnya menjaga privasi, khususnya bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam seperti area dada dan bagian bawah perut yang sebaiknya tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain.17

Mengenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain membutuhkan alat bantu atau media pembelajaran, sebagaimana dijelaskan dalam sesi wawancara berikut.

Mengenalkan bagian tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh pada anak usia dini harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana, memanfaatkan media seperti buku dan lagu sentuhan boleh dan tidak boleh agar informasi yang disampaikan lebih mudah diingat oleh peserta didik.18

Kepala sekolah juga turut menjelaskan bahwa tarbiyah jinsiyah kaitannya dengan mengenalkan bagian tubuh membantu peserta didik terhindar dari kejahatan seksual.

Memperkenalkan konsep tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh sejak usia dini adalah langkah penting dalam membentuk kesadaran peserta didik terhadap batasan-batasan pribadi sehingga mencegah peserta didik menjadi korban pelecehan karena mereka sudah mengetahui mengenal bagian tubuh yang perlu

17Mirnawati (40 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

18Kamaria Majid (47 tahun), Guru Kelompok B RA Al-Ikhlas Minasa Upa, Wawancara, Makassar, 31 Oktober 2023.

Dokumen terkait