• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN GURU PAUD DALAM TARBIYAH JINSIYAH PADA PESERTA DIDIK KELOMPOK B

DI RA AL-IKHLAS MINASA UPA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini

pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

Oleh:

ROSMINI NIM 20900120035

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2024

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rosmini

NIM : 20900120035

Tempat /Tgl. Lahir : Laikang, 07 Juli 2002

Jurusan/Prodi/Konsentrasi : Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Alamat : Babalaikang, Kel. Laikang, Kec. Kajang, Kab.

Bulukumba

Judul : Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah Pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa

menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa skripsi ini merupakan hasil diplikat, plagiat, tiruan, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

Gowa, 04 Maret 2024 Penyusun,

Rosmini

NIM 20900120035

(3)
(4)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaratuh

Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw. utusan Allah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Karya ilmiah ini membahas “Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa”.

Peneliti menyadari bahwa selama proses penyusunan karya ilmiah ini, tidak terlepas dari kekurangan dan kendala yang dihadapi, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Oleh karena itu, peneliti ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.

Peneliti juga ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang setinggi- tingginya kepada kedua orang tua peneliti, Ayahanda tercinta Ramli Daeng Tata dan Ibunda terbaik Sukawati, yang telah memberikan kasih sayang, dukungan, dan doa restu selama perjalanan penelitian ini. Juga kepada adik- adik peneliti (Rosdianti dan Billal Fayyad Ramadhan) yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi.

Rasa penghargaan dan terima kasih peneliti ucapkan pula kepada Bapak/Ibu:

(5)

iv

1. Prof. H. Hamdan Juhanis, M.A., Ph.D., Rektor UIN Alauddin Makassar, beserta jajaran pimpinan akademis yang terdiri dari Prof. Dr. H.

Kamaluddin Abunawas, M.Ag., Wakil Rektor I, Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., Wakil Rektor II, Prof. Dr. H. Muhammad Halifah Mustamin, M.Pd., Wakil Rektor III, dan Prof. Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Ag., Wakil Rektor IV, yang telah mempimpin UIN Alauddin Makassar, tempat di mana penyusun mengejar dan menimba ilmu pengetahuan.

2. Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, bersama Dr. H. Muh. Rapi, M.Pd., Wakil Dekan I, Dr. M. Rusdi, M.Ag., Wakil Dekan II, dan Dr. Ridwan Idris, S.Ag., M.Pd., Wakil Dekan III, yang telah dengan penuh dedikasi membimbing mahasiswa dan memimpin Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar

3. Eka Damayanti, S. Psi., M.A., dan Dr. Fitriani Nur, M.Pd., Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Alauddin Makassar, beserta seluruh staf jurusan, telah memberikan petunjuk dan arahan yang sangat berharga selama proses penyelesaian studi saya.

4. Dr. Ahmad Afiif, M.Si., dan Dr. Muhammad Rusmin B., M.Pd.I., Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan yang luar biasa selama proses penyusunan hingga tahap penyelesaian. Kedua pembimbing telah memberikan

(6)

v

kontribusi yang sangat berharga dalam pengembangan dan peningkatan kualitas karya ilmiah ini.

5. Dr. Besse Marjani Alwi, M. Ag., dan Dr. Idah Suaidah, M.H.I., Penguji I dan Penguji II, atas masukan, saran, dan kritikan yang sangat berarti, yang telah membantu penyusun untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak dan ibu dosen yang telah menjadi pengajar selama perjalanan kuliah penyusun dari semester awal hingga semester akhir, atas dedikasi, ilmu, dan pengalaman yang telah diberikan, telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pengetahuan dan pemahaman penyusun selama masa studi ini.

7. Hj. Parida, S.Ag. M. Pd.I., dan para guru di RA Al-Ikhlas Minasa Upa yang telah memberikan dukungan dan bantuan berharga kepada penyusun dalam menjalani proses penelitian ini.

8. Teman-teman mahasiswa PIAUD A Angkatan 2020, rekan-rekan KKN posko 4 Desa Batukaropa, dan teman-teman EXC_FOUR dari SMA 5 Bulukumba. Dukungan dan doa kalian selalu menjadi pendorong semangat penyusun untuk tidak mudah menyerah dan berhasil menyusun skripsi hingga tahap akhir.

9. Sahabat penyusun Andi Nurwaqiah Annisa Aris, Dewi Merdiawati. K, Citra Dewi, Nurul Fajriani, Sartika dan Israeni terima kasih tak terhingga selalu menjadi pendengar setia untuk keluh kesah

(7)

vi

penyusun dan senantiasa mendampingi dalam lika-liku perjalanan perkuliahan ini, yang penuh suka dan duka.

10. Andi Awang, S.Pd., Sitti Fatimah Rapi, S.Pd., dan Bunga, S.Pd., kakak- kakak senior yang telah memberikan dukungan dan berbagi ilmu dengan penuh keramahan selama proses penyelesaian skripsi ini.

Kontribusi dan bimbingan kalian sangat berarti bagi penyusun.

11. Kepada semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama perjalanan kuliah hingga penyelesaian penyusunan skripsi ini.

Kontribusi dari berbagai individu dan kelompok telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan penyusun. Semoga semua pengorbanan dan bantuan yang diberikan mendapatkan balasan yang setimpal.

12. Tidak lupa terima kasih kepada diri sendiri, Rosmini yang tetap semangat, gigih berjuang, dan bekerja keras selama ini untuk menyelesaikan skripsi. Semua usaha ini dilakukan dengan harapan dapat menjadikan penyusun orang yang lebih baik dan berilmu, meraih cita-cita yang diimpikan, serta membanggakan orangtua dan keluarga. Semoga perjalanan ini menjadi langkah awal menuju kesuksesan yang lebih besar.

Dengan kesadaran penuh, peneliti dengan tulus mengungkapkan permohonan maaf atas setiap kekurangan dan kesalahan yang mungkin ditemui dalam penelitian ini. Harapannya, karya ilmiah ini dapat

(8)

vii

memberikan kontribusi yang signifikan dalam konteks tarbiyah jinsiyah di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Semoga informasi yang disajikan mampu memberikan manfaat positif bagi dunia pendidikan.

Disamping itu, peneliti berdoa agar Allah swt melimpahkan berkah- Nya kepada kita semua. Semoga setiap langkah yang diambil dalam penelitian ini dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mendapatkan hidayah-Nya. Semoga segala upaya yang dilakukan senantiasa mendapatkan ridha-Nya, dan semoga kita semua diberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap perjalanan kehidupan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Gowa, 04 Maret 2024 Penyusun,

Rosmini

NIM 20900120035

(9)

viii DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

ABSTRAK ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1-14 A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 7

C. Rumusan Masalah ... 9

D. Kajian Pustaka ... 9

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 15-47 A. Guru PAUD ... 15

1. Definisi Guru PAUD ... 15

2. Peranan Guru PAUD ... 19

B. Tarbiyah Jinsiyah ... 29

1. Definisi Tarbiyah Jinsiyah ... 29

2. Tujuan dan Manfaat Tarbiyah Jinsiyah ... 32

3. Bentuk-bentuk Tarbiyah Jinsiyah ... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 48-59 A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 48

B. Pendekatan Penelitian ... 49

C. Sumber Data ... 49

D. Teknik Pengumpulan Data ... 50

E. Instrumen Penelitian ... 51

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 54

G. Pengujian Keabsahan Data ... 56

(10)

ix

BAB IV DESKRIPSI PERANAN GURU PAUD DALAM TARBIYAH JINSIYAH PADA PESERTA DIDIK KELOMPOK B DI RA AL-IKHLAS MINASA UPA ... 60-86 A. Profil Sekolah RA Al-Ikhlas Minasa Upa ... 60 B. Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta

Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa ... 63 C. Bentuk-bentuk Tarbiyah Jinsiyah yang diberikan pada Peserta

Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa ... 70 D. Kendala Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada

Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa ... 77 E. Solusi Guru PAUD dalam mengatasi kendala Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa ... 81 BAB V PENUTUP ... 87-89 A. Kesimpulan ... 87 B. Implikasi ... 88 DAFTAR PUSTAKA ... 90-94 LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Observasi Lampiran 2 Hasil Wawancara 1 Lampiran 3 Hasil Wawancara 2 Lampiran 4 Hasil Wawancara 3

Lampiran 5 Hasil Dokumentasi Buku Pelajaran dan RPPH DOKUMENTASI

RIWAYAT HIDUP

(11)

x

DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus Tabel 3.1 Pedoman Observasi

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Tabel 3.3 Pedoman Dokumentasi

(12)

xi ABSTRAK Nama : Rosmini

NIM : 20900120035

Jurusan : Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Judul : Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa, (2) Mendeskripsikan bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa, (3) Mendeskripsikan kendala guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa, dan (4) Mendeskripsikan solusi mengatasi kendala tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan pendekatan pedagogik. Sumber data penelitian ini berjumlah 3 (tiga) orang yaitu kepala sekolah dan dua guru. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik pengolahan dan analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menguji keabsahan data dilakukan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, mengadakan member check, dan triangulasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik yaitu menyampaikan informasi tentang bagian-bagian tubuh privasi, membimbing memahami cara merawat tubuh serta memberikan arahan dan stimulus cara melindungi diri dari kejahatan seksual dan memberikan contoh cara berpakaian yang menutup aurat, (2) Bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah pada peserta didik antara lain, mengenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain, toilet training (pelatihan menggunakan toilet), dan mengajarkan upaya perlindungan diri sejak dini agar terhindar dari kejahatan seksual, (3) Kendala guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah yaitu penggunaan bahasa dalam mengajarkan tarbiyah jinsiyah, perbedaan karakteristik dan pemahaman peserta didik serta media atau alat bantu pembelajaran yang masih terbatas, (4) Solusi mengatasi kendala tarbiyah jinsiyah yaitu mengajarkan tarbiyah jinsiyah dengan bahasa sederhana dan praktis, memahami karakteristik peserta didik dan merencanakan pembelajaran tarbiyah jinsiyah, serta menyediakan media atau alat bantu pembelajaran yang beragam.

Implikasi dari penelitian ini ada 4 (empat): (1) Peningkatan peran guru PAUD, (2) Pengembangan metode pembelajaran yang sesuai, (3) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru, (4) Keterlibatan orang tua dan masyarakat, (5) Penelitian lebih lanjut dan penyuluhan.

(13)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif dan menyeluruh, mulai dari yang paling besar hingga yang paling kecil. Aturan Islam yang tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah kadang kala bersifat global dan adakalanya bersifat terperinci.

Salah satu ketentuan yang ada dalam Islam adalah memberikan pendidikan seks kepada anak usia dini sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah yang disebut dengan istilah tarbiyah jinsiyah. Tarbiyah jinsiyah penting untuk membekali anak dengan informasi yang benar sehingga anak akan dapat bersikap dengan tepat.1 Tarbiyah jinsiyah memberikan kesadaran pada anak tentang hak-hak dan batasan pribadi, serta memperkuat rasa percaya diri anak dalam menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Anak dapat tumbuh menjadi individu yang lebih sadar diri, memiliki sikap positif terhadap tubuhnya, dan memahami pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Firman Allah swt dalam QS at-Tahrim/66: 6 yang berbunyi: 2

اَهُّـيَأٰٓ ـَي َنيِذَّلٱ اوُنَماَء آٰوُـق مُكَسُفنَأ مُكيِل هَأَو

اًۭ رَنَ

اَهُدوُقَو ُساَّنلٱ

ُةَراَجِ لْٱَو اَه ـيَلَع

ةَكِئٰٓ ـَلَم

ًۭ ظ َلَِغ ًۭ داَدِش َّلّ

َنوُص عَـي ََّللّٱ

ٰٓاَم مُهَرَمَأ َنوُلَع فَـيَو َنوُرَم ؤُـي اَم

Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,

1Nurhasanah Bakhtiar dan Nurhayati, “Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini Menurut Sunnah Rasulullah Nabi”, Generasi Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 3, no. 1 (2020): h. 37.

2Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al- Hufaz (Bandung: Cordoba Internasional, 2019), h. 560.

(14)

penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayat di atas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa peliharalah diri kamu dengan meneladani Nabi dan pelihara juga keluarga kamu yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batu antara lain yang dijadikan berhala-berhala.3 Ayat ini menggambarkan pentingnya menjaga diri dan menghindari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pendidikan seks dalam Islam seperti yang dijelaskan oleh Kholis dan Pratono adalah tentang menjaga seimbangnya antara nafsu dan keyakinan.4 Maka, perlu adanya tarbiyah jinsiyah yang menggabungkan nilai-nilai agama dan etika untuk membimbing anak sejak usia dini agar memahami betapa pentingnya merawat dan menjaga diri dari hawa nafsu.

Firman Allah swt dalam QS an-Nazi’at/79: 40-41 yang berbunyi: 5

اَّمَأَو نَم َفاَخ َماَقَم

ۦِهِ بَر ىََنََو َس فَّـنلٱ ِنَع

ىَوَ لْٱ َّنِإَف

َةَّنَ لْٱ َىِه ىَو أَم لٱ

Terjemahnya:

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

3 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 14 (Cet. IV; Tangerang: Lentera Hati, 2005), h. 326.

4Maisah Kholis dan Yuli Kurniawati Sugiyo Pratono, “Literatur Review: Efektivitas Penerapan Pendidikan Seksual di Sekolah Formal untuk Anak Usia Dini” Prosiding Seminar Pascasarjana (2022): h. 635.

5Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al- Hufaz, h. 583.

(15)

Ayat ini menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan potensi hawa nafsu, tetapi juga memberikan kemampuan untuk mengendalikannya. Penggunaan nafsu pada tempat yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah, merupakan bentuk ibadah kepada-Nya.6 Ayat mengingatkan untuk memberikan tarbiyah jinsiyah pada anak untuk menjaga hawa nafsunya sejak usia dini agar tidak terjerumus pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah swt

Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a dia berkata: Nabi saw bersabda:

ح يِحَص نَسَح ث يِدَح ِهِب ُت ئِج اَمِل اَعَـبَـت ُهاوَه َنوُكَي َّتََّح مُكُدَحَأ ُنِم ؤُـيَلّ

ٍح يِحَص ٍداَن سِِبِ ِةَّجُلْا ِباَتِك ِفِ ُهاَن ـيَوَر

Artinya:

Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.7

Tarbiyah jinsiyah diberikan kepada anak sejak usia dini melalui pengasuhan sebagai upaya perlindungan, membantu anak menjaga kesehatan tubuhnya, dan menjaga hawa nafsunya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 137 Tahun 2014 pasal 35 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (Standar PAUD) menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini mencakup integrasi dari layanan pendidikan, pengasuhan, perlindungan, kesehatan, dan gizi. Program-program seperti Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA), Kelompok Bermain (KB), Taman

6 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 15, h. 49.

7 Hadis Arbain ke-41, hadits hasan shahih, diriwayatkannya dari kitab Al Hujjah dengan sanad shahih.

(16)

Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) diselenggarakan untuk memberikan pendidikan holistik kepada anak dalam berbagai aspek kehidupan mereka. 8 Dalam konteks ini, pengasuhan yang diberikan berupa tarbiyah jinsiyah pada anak sejak usia dini. Anak juga berhak mendapatkan perlindungan yaitu membekali anak dengan pengetahuan untuk menjaga kesehatan tubuh, serta melindungi diri dari kekerasan seksual.

Lebih dari 50% kekerasan dan pelecehan pada anak terjadi pada usia 5-17 tahun. Kasus kekerasan pada anak, terutama kekerasan seksual, terus meningkat secara signifikan menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), survey, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Pada tahun 2022, tercatat 16.106 kasus kekerasan anak menurut catatan data Sistem Informasi Online dan Anak (Simfoni PPA). Dari jumlah tersebut, kekerasan seksual merupakan jenis kekerasan yang paling umum, dengan 9.588 anak menjadi korban pada tahun 2022. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 (6.454 kasus), tahun 2020 (6.980 kasus), dan tahun 2021 (8.703 kasus). Sekitar 53% dari kasus kekerasan anak terjadi di lingkup rumah tangga.9 Tingginya angka kekerasan dan pelecehan terhadap anak, terutama kekerasan seksual, adalah masalah serius yang membutuhkan upaya penanganan dari berbagai pihak.

Masalah ini memiliki dampak yang merusak bagi anak, baik secara fisik maupun emosional, dan bisa berdampak jangka panjang.

8Sekretariat Negara RI, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 2003). th.

9Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA)

“Angka Kekerasan Terhadap Anak” Situs Resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3610/angka- kekerasan-terhadap-anak. (6 Juni 2023).

(17)

Penyebab maraknya kekerasan, pelecehan serta penyimpangan seksual terhadap anak usia dini karena pendidikan seks merupakan hal yang masih tabu bagi masyarakat umum. Padahal pendidikan seks menjadi satu hal penting dalam pembelajaran maupun pengasuhan yang perlu diajarkan sejak dini.10 Paradigma mengenai konsep seksualitas yang melekat di masyarakat adalah hal yang berhubungan dengan hubungan intim saja, sehingga bicara dan mengajarkan tentang seks pada anak usia dini bisa menjadi tantangan yang menakutkan dan membuat cemas bagi orang tua dan guru.11 Jika orang tua dan guru menghindari pembicaraan tentang seks, anak dapat kehilangan kesempatan untuk memahami seksualitas dengan cara yang sehat dan normatif. Ini dapat menyebabkan ketidakpahaman atau miskonsepsi tentang tubuh, hubungan, dan emosi seksual pada anak.

Rasulullah saw mengatakan bahwa seperti kamu memiliki hak atas anakmu, anakmu juga memiliki hak atas dirimu.12 Hadis tersebut menegaskan bahwa anak memiliki hak-hak tertentu yang harus dihormati oleh orang tua.

Di sisi lain, orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang tepat kepada anak, termasuk tarbiyah jinsiyah.

Orang tua berada dalam posisi yang unik untuk membentuk nilai- nilai dan sikap anak melalui pendidikan yang diberikan di rumah. Guru juga memiliki peranan penting dalam memberikan pendidikan yang tepat di

10Aghnaita dan Irmawati, “Upaya Orang Tua dalam Mengenalkan Aurat Bagi Anak Usia Dini” Proceeding International Confeerence On Islamic Studies (2021), h. 54.

11Agida Hafsyah Febriagivary, “Mengenalkan Pendidikan Seksualitas untuk Anak Usia Dini melalui Metode Bernyayi”, Jurnal Care: Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini 8, no.

2 (2021): h. 12.

12Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Al-Adab al-Mufrad. Diriwayatkan pula oleh Thabrani yang di dalam sanadnya terdapat Ubaidullah bin Walid Al-Washifi. Ia adalah dha’if sebagaimana dikatakan oleh Haistami dalam Al-Majma’, 8/146.

(18)

lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan formal.13 Pelaksanaan tarbiyah jinsiyah pada anak usia dini dapat mencakup berbagai aspek, seperti memberikan pemahaman tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, menjelaskan tentang fungsi reproduksi secara sederhana, dan sesuai usia, mengajarkan nilai-nilai kesucian, dan penghormatan terhadap tubuh, serta memberikan bimbingan tentang norma-norma perilaku yang sehat dalam hubungan antar-gender.

Tabiyah jinsiyah disampaikan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan anak, menggunakan bahasa yang tepat, dan menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka. Orang tua dan guru harus siap untuk menjawab pertanyaan anak dengan jujur dan terbuka, tanpa menimbulkan rasa malu atau merasa terancam. Komunikasi terbuka dan saling percaya antara anak, orang tua, dan guru sangat penting dalam memberikan tarbiyah jinsiyah yang efektif.14 Tarbiyah jinsiyah pada anak usia dini tidak akan efektif jika tidak ada kolaborasi antara orang tua, guru, dan anak. Orang tua dan guru menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, sehingga anak dapat mengembangkan pemahaman yang sehat tentang seksualitas dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan yang sehat dan bermartabat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Parida, kepala sekolah RA Al-Ikhlas Minasa Upa pada hari Senin 22 Mei 2023, terungkap betapa pentingnya pendidikan seks pada anak. Dalam wawancara tersebut, Ibu Parida mengungkapkan bahwa pemahaman peserta didik tentang mengenal anggota tubuh, merawat, dan melindungi tubuhnya masih kurang. Peserta

13Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT. Indeks, 2009), h. 7.

14Ratih Rahmawati, “Nilai dalam Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini”, Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 2, no. 1 (2020): h. 26.

(19)

didik mengalami kesulitan dalam membedakan anggota tubuh pribadi yang boleh diperlihatkan dan yang tidak boleh diperlihatkan, serta anggota tubuh yang bisa disentuh oleh orang lain dan yang tidak bisa disentuh sembarangan orang. Misalnya, area dada dan bagian bawah perut sampai lutut dianggap sebagai area yang boleh disentuh oleh orang lain atau diperlihatkan secara bebas.

Hasil observasi juga menunjukkan bahwa peserta didik masih memerlukan bantuan ketika pergi ke toilet, menandakan bahwa peserta didik belum mandiri dalam menjalankan proses buang air kecil dan buang air besar.

Situasi ini mencerminkan kurangnya keterampilan dasar dalam menjaga kebersihan pribadi dan menjalankan fungsi fisiologis secara mandiri pada peserta didik. Semua temuan ini menyoroti perlunya pendidikan seks atau tarbiyah jisniyah sejak usia dini. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami batasan-batasan privasi dan mengembangkan pengetahuan tentang tubuh mereka sendiri agar dapat merawat dan melindungi dirinya dengan lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik mengkaji secara ilmiah tentang Peranan Guru PAUD dalam Tarbiyah Jinsiyah pada Peserta Didik Kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas peneliti dapat menentukan fokus penelitian yaitu berupa pokok masalah yang akan diteliti dan deskripsi fokus yaitu kata-kata kunci yang perlu dijelaskan, yang menjadi batas penelitian, dan sebagai panduan dalam melakukan penelitian.

(20)

Tabel 1.1

Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

Fokus Penelitian Deskripsi Fokus

Peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah yaitu guru mampu mendidik peserta didik memahami tarbiyah jinsiyah dengan menyampaikan informasi yang tepat, membimbing, menjadi teladan baik dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.

1. Peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah yaitu:

a. Menyampaikan informasi b. Memberikan bimbingan c. Arahan dan stimulus d. Contoh yang baik

2. Tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B sebagai berikut:

a. Pengenalan anggota tubuh b. Merawat tubuh

c. Melindungi tubuh dari kejahatan seksual

3. Kendala guru dalam tarbiyah jinsiyah yaitu:

a. Penggunaan bahasa b. Perbedaan karakteristik c. Media yang terbatas

4. Solusi guru dalam mengatasi kendala tarbiyah jinsiyah yaitu:

a. Menggunakan bahasa sederhana

b. Merencanakan pembelajaran

c. Media yang beragam

(21)

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa?

2. Bagaimana bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa?

3. Apakah kendala guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa?

4. Bagaimana solusi dalam mengatasi kendala tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa?

D. Kajian Pustaka

Kajian penelitian terdahulu yang relevan dengan fokus penelitian ini sebagai berikut:

1. Alucyana dkk, meneliti tentang Urgensi Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini. Penelitian ini menunjukkan pentingnya memberikan pendidikan seks pada anak usia dini untuk mencegah pelecehan seksual yang dapat mengakibatkan trauma jangka panjang. Penelitian ini mengemukakan bahwa anak usia dini sering kali menjadi korban pelecehan seksual karena keterbatasan verbal dan kurangnya kemampuan untuk mengungkapkan secara detail dan terperinci apa yang dirasakan dan dialami. Penelitian ini juga mengungkapkan ketidakpahaman anak usia dini terhadap bagian tubuh yang boleh disentuh dan tindakan yang harus dilakukan saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Pendidikan seks pada anak usia dini menjadi penting agar anak dapat memahami konsep-konsep dasar tentang tubuh, privasi, dan batasan-batasan yang berkaitan dengan

(22)

seksualitas.15 Relevansi penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama membahas tentang pendidikan seks untuk anak usia dini. Penelitian terdahulu lebih menekankan pada pentingnya pendidikan seks untuk anak usia dini secara umum, sementara penelitian yang akan dilakukan akan membahas tentang peranan guru PAUD dalam tabiyah jinsiyah. Penelitian terdahulu dapat memberikan dasar dan pemahaman yang kuat mengenai urgensi pendidikan seks pada anak usia dini, sementara penelitian yang akan dilakukan akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peranan guru PAUD dalam menyampaikan pendidikan seks sesuai ajaran Islam atau tarbiyah jinsiyah.

2. Paska Ramawati Situmorang meneliti tentang Pengaruh Pendidikan Seks Anak Usia Prasekolah dalam Mencegah Kekerasan Seksual. Penelitian ini mengkaji pentingnya pendidikan seks untuk anak usia dini dalam mencegah kekerasan seksual yang sering terjadi pada anak usia prasekolah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pendidikan seks kepada anak usia prasekolah dengan harapan dapat mencegah kekerasan seksual. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan desain one group pre-test and post-test. Media pembelajaran yang digunakan berupa gambar, video yang mengenalkan tubuh, dan animasi yang mengajarkan cara menjaga tubuh dari ancaman kekerasan seksual.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif terhadap anak usia prasekolah setelah mendapatkan pendidikan seks di sekolah TK Paud Sejahtera. Temuan ini membuktikan bahwa memberikan pendidikan seks mulai dari usia dini sangat efektif dalam mencegah kekerasan seksual pada

15Alucyana, dkk. “Urgensi Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini” AWLADY: Jurnal Pendidikan Anak 6, no. 1 (2020): h. 71.

(23)

anak usia prasekolah.16 Penelitian ini cukup relevan dengan penelitian yang akan dilakukan karena keduanya berfokus pada pendidikan seks pada anak usia dini atau prasekolah. Penelitian terdahulu memberikan wawasan tentang pengaruh pendidikan seks pada prasekolah, tetapi penelitian yang akan dilakukan lebih berfokus pada peranan guru PAUD dalam menyampaikan pendidikan seksual kepada anak usia dini.

Penelitian terdahulu menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen untuk menguji pengaruh pendidikan seks dalam mencegah kekerasan seksual. Berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah anak usia dini.

3. Agida Hafsyah Febriagiavary meneliti tentang Mengenalkan Pendidikan Seksualitas untuk Anak Usia Dini melalui Metode Bernyanyi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pendidikan seksualitas ditanamkan sejak usia dini. Penelitian ini mengkaji pentingnya pendidikan seksualitas dalam melindungi anak dari kekerasan, pelecehan seksual, dan penyalahgunaan seks, serta membantu mengarahkan perilaku yang positif di masa depan.

Penelitian ini, menganalisis metode bernyanyi sebagai salah satu alternatif untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada anak. Melalui pendekatan ini, tenaga pendidik dapat menggunakan musik dan lagu untuk menyampaikan pesan-pesan tentang seksualitas kepada anak secara lebih menarik dan mudah dipahami.17 Penelitian ini relevan dengan penelitian yang akan dilakukan karena membahas tentang pendidikan seks untuk

16Paska Ramawati Situmorang “Pengaruh Pendidikan Seks Anak Usia Prasekolah dalam Mencegah Kekerasan Seksual”, Jurnal Masohi: FDI Forum Dosen Indonesia 1, no. 2 (2020): h. 82.

17Agida Hafsyah Febriagiavary “Mengenalkan Pendidikan Seksualitas untuk Anak Usia Dini Melalui Metode Bernyanyi”, h. 11.

(24)

anak usia dini. Penelitian terdahulu mengeksplorasi metode bernyanyi sebagai alternatif pendidikan seks untuk anak usia dini. Penelitian yang akan dilakukan, membahas peranan guru dalam memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu tarbiyah jinsiyah untuk melengkapi dan memberikan perspektif yang berbeda dalam memahami pentingnya pendidikan seksualitas dalam kerangka nilai-nilai Islam.

4. Aprinyanto dkk, meneliti tentang Peran Orang Tua dalam Pengenalan Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pendidikan seks anak usia dini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada anak tentang seksualitas dan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak dipicu oleh kurangnya kesadaran orang tua dalam memberikan pendidikan seks, perlindungan dan pengawasan kepada anak sejak dini.18 Penelitian ini fokus mengkaji peran orang tua, berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu menganalisis peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah, atau pendidikan seks bagi anak usia dini dalam konteks pendidikan formal. Meskipun penelitian terdahulu dan penelitian yang akan dilakukan memiliki fokus penelitian yang berbeda, keduanya masih relevan membahas masalah pendidikan seks bagi anak usia dini.

5. Fidya Ismulya dkk, meneliti tentang Analisis Pengenalan Edukasi Seks pada Anak Usia Dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan masalah-masalah penting yang terkait dengan edukasi seks untuk anak usia dini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi dan verifikasi.

18Apriyanto, dkk. “Peran Orang Tua dalam Pengenalan Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini” JAMBURA: Early Childhood Education Journal 4, no. 2 (2022): h. 157.

(25)

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa diperlukan strategi, metode, dan inovasi media baru dalam mengenalkan pendidikan seks kepada anak usia dini, dengan memperhatikan tahapan perkembangan anak di TK Tirmi Ara Aceh Tengah.19 Relevansi penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan adalah keduanya membahas tentang edukasi seks. Namun, perbedaannya terletak pada fokus penelitian. Penelitian terdahulu lebih berfokus pada mendeskripsikan masalah-masalah penting terkait dengan edukasi seks pada anak usia dini di TK Tirmi Ara Aceh Tengah secara umum. Sementara itu, penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mengetahui peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah (pendidikan seks) di RA Al-Ikhlas Minasa Upa. Dengan demikian, penelitian yang akan dilakukan akan lebih menekankan pada peranan guru PAUD dan pendekatan tarbiyah jinsiyah dalam konteks yang lebih spesifik.

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah yang akan dikaji tujuan penelitian ini untuk:

a. Mendeskripsikan peranan guru PAUD dalam tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

b. Mendeskripsikan bentuk-bentuk tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

c. Mendeskripsikan kendala guru PAUD dalam penerapan tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

d. Mendeskripsikan solusi mengatasi kendala penerapan tarbiyah jinsiyah pada peserta didik kelompok B di RA Al-Ikhlas Minasa Upa.

19Fidya Ismiulya, dkk. “Analisis Pengenalan Edukasi Seks pada Anak Usia Dini” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. 5 (2022): h. 4276.

(26)

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan pada penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu kegunaan ilmiah dan kegunaan praktis.

a. Kegunaan Ilmiah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan pemahaman mengenai pendidikan seks sesuai ajaran Islam (tarbiyah jinsiyah) pada anak usia dini. Dengan demikian, penelitian ini akan memperluas wawasan dan pemahaman dalam bidang tersebut.

b. Kegunaan Praktis

Kegunaan praktis pada penelitian ini terbagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:

1. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan program pendidikan seks yang efektif dan sesuai dengan nilai-nilai agama.

2. Bagi guru, hasil penelitian ini sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikan seks di kelas.

3. Bagi orang tua, hasil penelitian dapat membantu orang tua memahami pentingnya pendidikan seks sesuai ajaran Islam dan memberikan pengajaran yang benar kepada anak di rumah.

4. Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberikan landasan dan inspirasi bagi penelitian lanjutan di bidang pendidikan seks pada anak usia dini.

(27)

15

TINJAUAN TEORETIS A. Guru PAUD

1. Definisi Guru PAUD

Istilah guru umumnya digunakan dalam lingkungan pendidikan formal. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 Ayat 1, dinyatakan bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.1

Definisi ini memberikan gambaran bahwa guru adalah sosok yang memiliki peranan penting dalam pendidikan. Guru bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, mengevaluasi hasil pembelajaran, memberikan pembimbingan, dan pelatihan kepada peserta didik.

M. Sukardjo mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara, mengartikan guru sebagai pemberi cahaya atau pemberi penerang yang membantu peserta didik dalam mencapai kemajuan secara fisik, sosial, emosional, dan intelektual. Guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, tetapi juga bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik.2 Sementara, E. Mulyasa menjelaskan bahwa guru adalah seorang profesional yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung anak dalam

1Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 Ayat 1, h. 2.

2M. Sukardjo, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya (Jakarta: Rajawali Pres, 2009), h. 10.

(28)

menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi juga bertanggung jawab untuk membantu peserta didik mengembangkan potensinya secara maksimal.3 Sebagai profesional, seorang guru diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang mata pelajaran yang diajarkan, metode pengajaran yang efektif, dan keterampilan dalam mengelola kelas. Selain itu, seorang guru juga perlu memiliki sikap yang positif, empati, dan peduli terhadap perkembangan dan kebutuhan peserta didik terkhususnya guru PAUD.

PAUD diartikan sebagai Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan secara terminologi adalah proses atau pengalaman yang berdampak pada pertumbuhan mental, karakter, dan kemampuan fisik seseorang. Dalam arti sempit, pendidikan adalah proses mentransfer pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan dari generasi ke generasi melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga lainnya.4 Lembaga-lembaga pendidikan memberikan lingkungan belajar yang terstruktur dengan menggunakan metode pengajaran dan bahan pembelajaran yang sesuai.

Lembaga-lembaga pendidikan menyediakan sarana dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran.

Helmawati berpendapat bahwa pendidikan diistilahkan sebagai education yang memiliki sinonim dengan process of teaching, training, and learning. Artinya, pendidikan adalah proses pengajaran, pelatihan, dan pembelajaran.5 Proses pengajaran melibatkan pemindahan informasi,

3E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), h. 37.

4Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2009), th.

5Helmawati, Mengenal dan Memahami AUD (Cet. II; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018), h. 29.

(29)

konsep, dan pengetahuan dari pendidik ke peserta didik melalui berbagai metode dan strategi pembelajaran. Pelatihan mencakup penerapan praktis pengetahuan dan keterampilan yang spesifik. Sementara, pembelajaran sebagai aspek penting dari pendidikan yang melibatkan penerimaan dan penguasaan pengetahuan dan keterampilan oleh peserta didik.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia, keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.6

Definisi ini mencakup aspek-aspek penting dari pendidikan yang berfokus pada pengembangan pribadi yang holistik, termasuk aspek spiritual, sosial, dan moral, serta kemampuan intelektual dan keterampilan yang berguna dalam berkontribusi bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara. Alasan inilah yang menjadikan pendidikan sangat penting diberikan pada anak sejak usia dini.

Anak usia dini adalah the golden age atau masa emas yang merupakan periode penting dalam perkembangan anak. Pada masa ini, perkembangan fisik, psikologis, dan karakter anak ditentukan. Untuk mengoptimalkan perkembangan tersebut, diperlukan pendidikan dan bimbingan yang maksimal.7 Hal tersebut, dapat membantu mengembangkan potensi anak secara menyeluruh. Investasi yang dilakukan pada masa golden

6Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1, h. 2.

7Nurhasanah Bakhtiar dan Nurhayati, Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini Menurut Hadis Nabi, Generasi Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 3, no. 1 (2020): 39.

(30)

age akan memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan dan keberhasilan anak di masa dewasa.

Ahmad Susanto menjelaskan anak usia dini atau early childhood adalah periode pertumbuhan dan perkembangan yang melibatkan berbagai aspek kehidupan manusia pada rentang usia 0 hingga 8 tahun, sebagaimana ditetapkan oleh National Association for the Education Young Children (NAEYC).8 Menurut Wiyani, anak usia dini disebut sebagai anak prasekolah yang berusia antara 0 hingga 6 tahun. Pada periode ini karakter anak mulai terbentuk.9 Sementara, Hurlock mempersempit definisi anak usia dini menjadi usia 2 sampai 6 tahun. Pada periode ini anak sering dianggap memiliki banyak masalah dan serta menghabiskan waktunya untuk bermain.10 Secara umum, pendapat di atas mencerminkan pentingnya periode anak usia dini dalam pembentukan karakter dan perkembangan anak. Meskipun terdapat perbedaan dalam rentang usia yang ditentukan semuanya menekankan pentingnya perhatian dan perawatan yang baik pada periode perkembangan awal anak usia dini.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa PAUD adalah tahap pendidikan yang ditujukan untuk anak usia dini yaitu sejak lahir hingga sebelum masuk pendidikan dasar. Pendidikan ini memberikan dasar yang penting dalam perkembangan anak dalam berbagai aspek seperti agama, moral, fisik, kognitif, sosial, emosional, bahasa, dan seni.

8Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Teori (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), h. 1.

9Novan Ardy Wiyani, Format PAUD Konsep, Karakteristik & Implementasi Pendidikan Anak Usia Dini (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), th.

10Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan (Jakarta: Erlangga, 2009), th.

(31)

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14, secara terperinci dinyatakan bahwa:

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan, perkembangan jasmani, dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut.11

Pendidikan anak usia dini dalam konteks ini adalah suatu bentuk pendidikan yang diberikan kepada anak mulai dari saat anak lahir hingga berusia 6 tahun. Tujuan utama pendidikan ini adalah memberikan rangsangan pendidikan kepada anak untuk membantu pertumbuhan, perkembangan jasmani, dan rohani anak sehingga anak siap untuk melanjutkan pendidikan di tahap berikutnya.

Pendidikan anak usia dini diharapkan anak dapat meraih potensinya yang meliputi pengembangan moral dan nilai-nilai agama, pertumbuhan fisik, interaksi sosial, keseimbangan emosional, penguasaan bahasa, apresiasi seni, perolehan pengetahuan dan keterampilan sesuai tahap perkembangan, serta semangat belajar dan sikap kreatif.12 Pendidikan anak usia dini merupakan bentuk pelaksanaan bimbingan, pengajaran, dan didikan untuk mengoptimalkan perkembangan serta pertumbuhan anak sejak usia dini.

Tujuannya adalah terbentuknya karakter yang positif, perilaku yang baik, peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keimanan anak sejak dini.

Berdasarkan uraian definisi guru dan PAUD di atas, dapat disimpulkan bahwa guru PAUD merupakan seorang profesional yang

11Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 14, h. 3.

12Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Teori (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), h. 16.

(32)

memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Guru PAUD bukan hanya memberikan pengetahuan dan melatih keterampilan peserta didik, tetapi juga memiliki peranan dalam membentuk kepribadian, karakter, dan membantu peserta didik mencapai kemajuan fisik, sosial, emosional, dan intelektual.

2. Peranan Guru PAUD

Peranan guru PAUD adalah mendidik, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan peserta didik. Guru harus menjadi teladan baik dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.13 Peranan guru PAUD juga mencakup berbagai tugas seperti membimbing, menilai, mengajar, melatih, dan mengevaluasi. Ahmad Susanto mengemukakan bahwa peranan guru PAUD terdiri dari enam peranan, yaitu sebagai pengajar, pembimbing, administrator kelas, pengembang kurikulum, pengembang profesi, dan pembina hubungan dengan masyarakat.14 Sementara itu, Prey Katz menjelaskan guru PAUD memiliki peranan sebagai komunikator yang efektif, sahabat, motivator, sumber inspirasi, dan pemegang nilai-nilai, membimbing peserta didik dalam pengembangan sikap dan tingkah laku yang baik, serta penting dalam membentuk perkembangan peserta didik secara menyeluruh.15 Guru harus menjalankan peranannya dengan baik untuk memberikan pengaruh positif kuat dalam kehidupan peserta didik dan membantunya tumbuh dan berkembang secara holistik.

13Yohana Afliani ludo Buan, Guru dan Pendidikan Karakter (Sinergitas Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di Era Milenial) (Jawa Barat: CV. Adanu Abimata, 2020), h. 4-5.

14Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Teori, h. 66.

15Siti Maimunawati dan Muhammad Alif, Peran Guru, Orang Tua, Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa Pandemi Covid-19 (Serang: Penerbit 3M Media Karya Serang), h. 8.

(33)

Muhammad Kristiawan menjelaskan peranan guru PAUD dalam melakukan proses pembelajaran pada peserta didik sangat beragam yaitu:

a. Sebagai pendidik dan pengajar

Sebagai pendidik, tugas guru adalah mengarahkan dan mengembangkan sikap dewasa pada peserta didik. Sebagai pengajar, guru harus mampu menjelaskan dan menguraikan materi yang diajarkan dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta didik. Untuk menjadi seorang guru yang baik, diperlukan standar kepribadian yang mencakup tanggung jawab, otoritas, kemandirian, dan kedisiplinan.

1) Tanggung jawab artinya seorang guru harus bertanggung jawab terhadap perkataan dan tindakannya.

2) Otoritas artinya seorang guru harus memiliki otoritas yaitu dihormati dan diakui baik di dalam maupun di luar kelas.

3) Kemandirian artinya guru mampu menyelesaikan masalah di sekolah secara mandiri dan tepat.

4) Disiplin yaitu guru harus memiliki sikap tertib dan patuh terhadap peraturan dan norma yang ada.16 Hal ini memberikan gambaran pentingnya tugas dan standar kepribadian bagi seorang guru untuk memastikan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran.

b. Guru sebagai mediator, sumber belajar, dan fasilitator

Sebagai mediator atau sumber belajar bagi peserta didiknya guru harus memahami materi yang akan diajarkan. Sebagai fasilitator guru juga harus bisa mengembangkan pembelajaran menjadi lebih aktif. Ada empat komponen utama pembelajaran lebih aktif yang perlu dipahami oleh guru.

16P. Ratu Ile Tokan, Manajemen Penelitian Guru untuk Pendidikan Bermutu (Jakarta:

PT Grasindo, 2016), h. 298.

(34)

1) Pengalaman

Belajar adalah proses penciptaan pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Pengetahuan adalah hasil pengalaman dan mentransformasinya.

2) Komunikasi

Komunikasi diperoleh dari pengalaman yang ada. Komunikasi dalam pembelajaran meningkatkan pola berpikir, memunculkan ide atau gagasan baru.

3) Interaksi

Interaksi antara pendidik dan peserta didik memainkan peranan penting dalam membangun potensi peserta didik dan mengoreksi persepsi atau makna yang keliru.

4) Refleksi

Melalui refleksi atau perenungan peserta didik dapat meningkatkan kesadaran terhadap kekurangan dan kelebihan dirinya.17 Hal ini harus dibiasakan untuk membantu peserta didik semakin mengenal dirinya.

c. Guru sebagai model dan teladan

Guru memiliki peranan sebagai model atau contoh bagi peserta didiknya. Sikap dan perilaku dari guru harus mencerminkan nilai-nilai dan norma yang sesuai dengan Pancasila.18 Guru dituntut menjadi teladan yang baik untuk peserta didik sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw.

17Dewi Safitri, Menjadi Guru Profesional (Riau: PT. Indragiri Dot Com, 2019), h. 14-15

18Dewi Safitri, Menjadi Guru Profesional, h. 20.

(35)

Firman Allah swt dalam QS al-Ahzab/33: 21 yang berbunyi: 19

ْ دَقَل

َْناَك

ْ مُكَل

ِْلوُسَر ِْف

َِْللّا

ْ ةَو سُأ

ْ ةَنَسَح

ْ نَمِل

َْناَك وُج رَ ي

ََْللّا

َْم وَ ي لاَو

َْرِخ لْا

َْرَكَذَو

ََْللّا

ْاًيرِثَك

Terjemahnya:

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, serta banyak mengingat Allah.

Ayat di atas, mengarahkan kepada orang-orang yang beriman untuk meneladani Nabi Muhammad saw Ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah adalah teladan yang baik bagi manusia yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan kebahagiaan di hari kiamat. Rasulullah juga merupakan teladan bagi orang yang berzikir dan menyebut nama Allah swt dengan baik dalam situasi sulit maupun senang. Ayat ini juga dapat dianggap sebagai kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku sebagai orang beriman tetapi tidak mencerminkan ajaran Islam. Ayat tersebut menyiratkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah teladan yang seharusnya diikuti.20 Guru harus memberikan teladan mengikuti teladan Nabi Muhammad saw sehingga peserta didik mencontoh sifat dan perilaku yang baik sejak dini untuk mendapatkan keberkahan, mendekatkan diri kepada Allah, dan mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

d. Guru sebagai motivator

Guru sebagai motivator harus bisa mendorong dan membangun semangat peserta didik untuk giat belajar. Motivasi yang kuat bisa

19Kementrian Agama RI, al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna Al- Hufaz (Bandung: Cordoba Internasional, 2019), h.420.

20M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Q ur’an Volume 11 (Cet. IV; Tangerang: Lentera Hati, 2005), h. 242-246.

(36)

meningkatkan prestasi dalam belajar peserta didik.21 Motivasi adalah bentuk guru kepedulian guru pada peserta didiknya. Hal ini dapat membantu peserta didik merasa didukung, termotivasi, dan siap menghadapi tantangan dalam proses belajar.

e. Guru sebagai pembimbing dan evaluator

Guru sebagai pembimbing artinya mampu mendampingi dan memberikan arahan pada peserta didik untuk pertumbuhan dan perkembangan peserta didik meliputi aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor serta pemberian kecakapan hidup baik akademik, vokasional, sosial maupun spiritual.22 Guru sebagai evaluator dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang adil dan jujur dalam memberikan penilaian untuk mendapatkan umpan balik (feedback) tentang pelaksanaan interaksi edukasi yang telah dilakukan.23

Berdasarkan pendapat Muhammad Kristiawan di atas, dapat disimpulkan bahwa guru PAUD memiliki peranan penting sebagai pendidik, pengajar, mediator, sumber belajar, fasilitator, model, teladan, motivator, pembimbing, dan evaluator. Guru perlu memiliki standar kepribadian yang baik dan memahami materi, serta mengembangkan pembelajaran aktif melalui pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refleksi. Guru juga harus menjadi teladan yang mencerminkan nilai-nilai dan norma yang baik, serta mendorong motivasi dan pertumbuhan peserta didik.

21Halid Hanafi dkk, Profesionalisme Guru dalam Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran di Sekolah (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2012), h. 80.

22Dewi Safitri, Menjadi Guru Profesional, h. 23.

23Muhammad Kristiawan dkk, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2012), h. 66-67.

(37)

Saifudin mendeskripsikan peranan dan fungsi guru di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai berikut:

1) Guru sebagai sumber belajar

Guru adalah sumber belajar yang ahli dan kompeten dalam materi pelajaran. Guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang subjek yang diajarkannya. Guru telah menjalani pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidang tersebut, serta memiliki pengalaman praktis dalam menerapkan dan menyampaikan materi tersebut kepada peserta didik.

2) Guru sebagai fasilitator

Dalam pola top-down, hubungan guru dan peserta didik cenderung otoriter, di mana guru memiliki peranan sebagai otoritas yang memberikan instruksi dan peserta didik berperan sebagai penerima informasi. Namun sebagai fasilitator guru mengubah pola ini dengan menciptakan hubungan 3) Guru sebagai pengelola

Guru menciptakan iklim belajar yang nyaman sebagai pengelola pembelajaran. Dengan pengelolaan kelas yang baik, guru dapat menjaga suasana kelas agar tetap kondusif bagi semua peserta didik dalam proses belajar.

4) Guru sebagai demonstrator

Guru sebagai demonstrator menunjukkan kepada peserta didik cara-cara yang dapat membantu untuk memahami dan mengerti pesan yang disampaikan.

5) Guru sebagai pembimbing

Guru sebagai pembimbing menjaga, mengarahkan, dan membimbing peserta didik agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai

(38)

dengan potensi yang dimilikinya. Memberikan bimbingan pada peserta didik sangat penting karena fungsi bimbingan sebagai berikut:

a. Fungsi pemahaman yaitu usaha bimbingan yang menghasilkan pemahaman pada peserta didik dalam berbagai hal.

b. Fungsi pencegahan yaitu bimbingan yang menghasilkan tercegahnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan- kesulitan dalam proses perkembangannya.

c. Fungsi perbaikan, yaitu bimbingan yang akan menghasilkan terpecahkannya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.

d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan guru adalah memberikan bimbingan yang menjaga dan mengembangkan potensi serta kondisi positif peserta didik secara berkelanjutan untuk perkembangan diri yang mantap.24 Dalam menjalankan fungsi-fungsi ini, guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mendukung dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik.

6) Guru sebagai motivator

Motivasi adalah aspek dinamis yang penting dalam pembelajaran.

Guru harus kreatif dalam membangkitkan motivasi belajar peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

7) Guru sebagai evaluator

Guru sebagai evaluator bertugas mengumpulkan data atau informasi mengenai hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi tidak

24Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Edisi Revisi, h.13- 15.

(39)

hanya dilakukan terhadap hasil akhir pembelajaran tetapi juga dilakukan terhadap proses, kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran.

8) Guru sebagai mediator

Proses belajar mengajar sangat diperlukan adanya guru yang mampu menjadi mediator atau penengah. Guru perlu menjadi penengah yang baik dalam kegiatan belajar untuk mengatasi dialog yang tidak terkendali atau kurang sehat, sehingga interaksi dalam kelas tetap berjalan dengan tertib.25 Dalam menjalankan peranan sebagai penengah, guru perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik, empati, ketegasan, dan keadilan.

Berdasarkan pendapat Saifudin di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan dan fungsi guru PAUD yaitu sebagai sumber belajar yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang materi pelajaran, menciptakan hubungan yang lebih kolaboratif antara guru dan peserta didik, menciptakan iklim belajar yang nyaman dan mengelola kelas dengan baik, memberikan bimbingan, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, mengumpulkan data tentang hasil pembelajaran dan proses pembelajaran, dan menjadi penengah dalam kegiatan belajar untuk menjaga interaksi yang tertib.

Ahmad Susanto memberikan kesimpulan tentang peranan guru PAUD dari pendapat ahli yang beragam agar lebih mudah dipahami sebagai berikut:

1. Pemahaman tentang peserta didik

Peranan guru PAUD sebagai pembimbing di sekolah perlu memahami tentang peserta didiknya dalam membantu memecahkan masalah yang dialami peserta didik.

25Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoretis dan Praktis (Yogyakarta: Deepublish, 2016), h. 31-32.

(40)

2. Pemberian informasi

Informasi dari guru sangat penting bagi orang tua dan peserta didik, termasuk perkembangan anak, program-program di TK, dan jadwal kegiatan.

Orang tua perlu mengetahui hal-hal ini untuk mendukung anak di rumah.

Keberhasilan program-program di TK juga tergantung pada dukungan orang tua, sehingga apa yang diajarkan di TK perlu dilanjutkan di rumah.

3. Pemberian nasihat

Pemberian nasihat juga mutlak dilakukan oleh guru karena guru sebagai orang tua bagi peserta didik di sekolah. Nasihat ini diberikan pada peserta didik baik yang mempunyai masalah atau tidak sebagai bentuk bimbingan di sekolah.

4. Penempatan

Penempatan adalah bimbingan dari guru yang bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan potensi dan bakatnya. Dalam proses penempatan, guru atau pembimbing akan melakukan observasi dan evaluasi terhadap peserta didik. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peserta didik dapat ditempatkan dalam aktivitas atau program yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

5. Pemecahan masalah

Pemecahan masalah sebagai bentuk layanan bimbingan yang diberikan guru di sekolah karena setiap peserta didik mempunyai masalah yang berbeda, seperti kesulitan berteman atau bergaul, kesulitan belajar, pemalu, dan tidak ada keberanian untuk berbicara mengemukakan pendapat.

Guru sangat diperlukan dalam menghadapi kendala tersebut.

(41)

6. Pembiasaan

Salah satu bentuk bimbingan pada peserta didik adalah pembiasaan terutama dalam mengembangkan kemandirian pada peserta didik. Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan bagi peserta didik.26 Berdasarkan pendapat Ahmad Susanto di atas, dapat disimpulkan peranan guru PAUD adalah memahami peserta didik, memberikan informasi penting kepada orang tua dan peserta didik, memberikan nasihat, menempatkan peserta didik sesuai dengan minat dan bakatnya, memberikan bantuan dalam pemecahan masalah, dan fokus pada pembiasaan kemandirian peserta didik melalui pilihan-pilihan dan hubungan harmonis.

B. Tarbiyah Jinsiyah

1. Definisi Tarbiyah Jinsiyah

Pendidikan dalam bahasa arab sama dengan tarbiyah.27 Tarbiyah berasal dari bahasa arab yaitu rabb artinya tumbuh dan berkembang. Nasir mengutip pendapat Musthafa Al-Ghalayani yang menjelaskan, tarbiyah adalah upaya penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan memberikan petunjuk dan nasihat sebagai bagian dari prosesnya.

Tujuan dari tarbiyah ini adalah untuk mengembangkan potensi dan kompetensi jiwa anak agar dapat memiliki sifat-sifat bijak, kreatif, dan berguna bagi tanah airnya.28 Tarbiyah mencerminkan upaya untuk menanamkan nilai-nilai etika yang mulia kepada anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan dengan memberikan petunjuk dan nasihat.

26Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Teori, h. 68-70.

27Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Wa Dzurriyah, 2010), h. 137.

28Ridwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), h 48.

(42)

Ki Hajar Dewantara menjelaskan pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak, artinya pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak itu, agar sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang maksimal.29 Pendidikan menjadi panduan penting dalam hal ini. Pendidikan tidak hanya meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan anak, tetapi juga melindunginya dari perbuatan jahat.30 Dalam konteks ini, pendidikan menjadi pilar utama dalam membimbing anak agar mencapai potensi dan tujuan hidup yang optimal, serta melindungi anak dari jalan yang salah.

Hasbullah mengutip pendapat Ahmad D. Marimba bahwa pendidikan adalah bimbingan sadar oleh pendidik untuk mengembangkan fisik dan mental peserta didik agar dapat membentuk kepribadian yang baik.31 Dalam konteks ini, pendidikan bertujuan untuk memberikan arahan dan bimbingan yang sadar kepada peserta didik. Melalui pendidikan, pendidik memiliki peranan aktif dalam mengembangkan baik aspek fisik maupun mental peserta didik, dengan fokus pada pembentukan kepribadian yang baik. Pendidikan menjadi sarana untuk membantu peserta didik mencapai potensi terbaiknya dan menjadi individu yang berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tarbiyah adalah konsep dalam bahasa Arab yang merujuk pada pendidikan dan pembinaan anak. Dalam konteks pendidikan, tarbiyah berarti upaya

29Ki Hadjar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka (Yogyakarta: Leutika, 2009), h. 15.

30Supatro Rahardja, Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara 1889-1959 (Yogyakarta:

Garasi, 2009), h. 70.

31Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Cet; XIII Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2017), h. 3.

(43)

penanaman nilai-nilai etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh, melalui pemberian petunjuk dan nasihat sebagai bagian dari prosesnya.

Bahasa Arab dalam konteks kata jinsiyah (ةَّيِسْن ِج) memiliki arti yang lebih luas daripada hanya berhubungan dengan jenis kelamin. Secara harfiah, jinsiyah berasal dari kata dasar jinsi (ّ يِسْن ِج) yang berarti seksual atau seks.32 Dalam bahasa Indonesia, kata seks umumnya digunakan untuk merujuk pada aspek biologis atau fisik dari alat kelamin dan fungsi reproduksi.33 Namun, dalam konteks yang lebih umum, jinsiyah merujuk pada segala hal yang berkaitan dengan aspek seksualitas, tidak hanya pengetahuan tentang alat kelamin dan fungsinya, tetapi juga meliputi identitas gender (bagaimana seseorang mengidentifikasi dirinya sendiri apakah laki-laki atau perempuan), orientasi seksual (ketertarikan), dan peran gender (perilaku yang dianggap sebagai maskulin atau feminin).

Tarbiyah ketika dikaitkan dengan jinsiyah, maka disebut sebagai tarbiyah jinsiyah yaitu pendidikan seks yang didasarkan pada al-Qur'an da

Gambar

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara  Tabel 3.3 Pedoman Dokumentasi
Tabel 3.1  Pedoman Observasi

Referensi

Dokumen terkait

Guru harus mengenal dan memahami peserta didik dengan baik, memahami tahap perkembangan yang telah dicapainya, kemampuannya, keunggulan dan kekurangannya, hambatan yang

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah peranan guru dalam mengembangkan kemampuan menjiplak di kelompok B PAUD Cendekia Muda Desa Ketapang

Peranan guru BK dalam membentuk konsep diri peserta didik di SMP Negeri 11 Padang dilihat dari aspek harapan tergolong sangat baik yaitu sebanyak 79,31%, peranan guru BK

Dalam upaya mengembangkan keterampilan kewarganegaraan guru PPKn di MTs Al – Ikhlas Tanjung Bintang menyisipkan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik melalui

PERANAN GURU PAI DALAM MENINGKATKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SMP NEGERI 1 MAIWA KABUPATEN ENREKANG Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Pada instansi pendidikan seorang pendidik selalu berupaya agar peserta didik bisa meningkatkan kemampuan mereka, begitu pula PAUD RA Iftitah al-Ikhlas yang selalu berupaya dalam

Apabila kita kaitkan dengan peranan guru biologi dalam meningkatkan etika peserta didik, guru biologi harus bisa dijadikan sebagai model bagi peserta didiknya contoh dalam pembelajaran

Tidak hanya itu, guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 2 Olas juga menyampaikan hal-hal penting lainnya yang dilakukan dalam membimbing peserta didik sebagai berikut: “Kita juga