BAB III METODE PENELITIAN
B. Bentuk Penelitian
Dalam penelitian yang dilakukan penulis, menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengungkapkan informasi kualitatif sehingga lebih menekankan pada masalah proses dan makna dengan mendeskripsikan suatu masalah yang berkaitan dengan evaluasi kebijakan penanganan sampah menggunakan metode open dumping dan sanitary landfill di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Studi deskriptif mencari informasi kualitatif dengan memberikan gambaran yang lengkap, rinci, dan akurat tentang kondisi saat ini. Pada penelitian ini penulis berupaya menyampaikan gambaran mengenai bagaimana kebijakan penanganan sampah di Kabupaten Sikka serta peran pemerintah dan masyarakat dalam penanganan sampah.
C. Fokus dam Sumber Data
Penentuan fokus suatu penelitian memiliki dua tujuan. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi studi, jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang
inquiry. Kedua, penetapan fokus ini berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi- eksklusi atau memasukkan atau mengeluarkan suatu informasi yang diperoleh di lapangan.
Mengingat pentingnya fokus penelitian tersebut, maka yang dijadikan fokus dalam penelitian ini adalah organisasi pemerintah Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur yaitu Dinas Lingkungan Hidup terkait masalah evaluasi kebijakan penanganan persampahan di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan tiga indikator keberhasilan yaitu :
1. Evaluasi kebijakan pemerintah penanganan sampah dengan menggunakan metode open dumping dan sanitary landfill di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk melihat tingkat keberhasilan kebijakan dalam penanganan sampah. Adapun indikator evaluasi kebijakan menggunakan pendekatan William Dun (2003) yaitu : a. Efektifitas, berkenan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil
akibat yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu di ukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya.
b. Kecukupan, berkenan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menumbuhkan masalah. Dengan kata lain kecukupan disini dimaksudkan sebagai efektifitas dengan mengukur atau memprediksi seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.
c. Perataaan, dalam kebijakan publik sama dengan istilah pemerataan atau keadilan yang diberikan dan diperoleh sasaran kebijakan. Kriteria kesamaan erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antar kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat.
d. Responsivitas, berkaitan dengan tanggapan sasaran kebijakan atas penerapan suatu kebijakan. Responsivitas adalah seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok- kelompok masyarakat tertentu.
e. Ketepatan, merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan pada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan tersebut. Ketepatan atau adalah kriteria yang dipakai untuk menyeleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasikan tersebut merupakan tujuan pilihan yang layak. Kriteria kelayakan dihubungkan dengan rasionalitas substansif tujuan bukan cara atau instrumen yang merealisasikan tujuan tersebut.
2. Peran pemerintah dalam penanganan sampah di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Indikator peran pemerintah menggunakan indikator menurut Fiona dalam Tri Kharisma Jati (2013) yaitu pemerintah sebagai pengatur kebijakan (regulator) dan pemerintah sebagai pemberi layanan (super provider).
3. Peran masyarakat dalam penanganan sampah di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Indikator peran masyarakat menggunakan indikator
menurut Bintoro dalam Ferathin (2014) yaitu partisipasi dalam proses pembuatan keputusan, partisipasi dalam pelaksanaan, partisipasi dalam pemanfaatan, dan partisipasi dalam evaluasi.
Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sebagaimana yang dikutip oleh (Moleong, 2007) bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata- kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
Dimana data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data, yaitu : 1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara yang diperoleh dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari literatur dan dokumen serta data yang diambil dari suatu organisasi yaitu Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur dengan permasalahan dilapangan yang terdapat pada lokasi penelitian berupa bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan para informan sebagai data primer dan tulisan atau dokumen-dokumen yang mendukung pernyataan informan. Hal ini sebagaimana dinyatakan Lofland and Lofland dalam (Moleong, 2001: 112) bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif
adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
Dalam penelitan ini, jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Untuk mengumpulkan data primer dan sekunder peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu :
1. Observasi, ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. Kegiatan pengamatan terhadap obyek penelitian ini untuk memperoleh keterangan data yang lebih akurat mengenai hal-hal yang diteliti serta untuk mengetahui relevansi antara jawaban responden dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
2. Dokumentasi, dalam pengumpulan data dimaksudkan sebagai cara mengumpulkan data dengan mempelajari dan mencatat bagian-bagian yang dianggap penting yang terdapat baik di lokasi penelitian maupun di instansi yang ada hubungannya dengan lokasi penelitian.
3. Wawancara yaitu kegiatan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data guna kelengkapan data-data yang diperoleh sebelumnya. Wawancara yang dilakukan peneliti dengan pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur, tenaga kerja persampahan, Anggota DPRD, lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun Non Governmental Organization (NgO), dan masyarakat.
E. Validitas Data
Kualitas dan ketepatan data tidak hanya bergantung pada keakuratan data dan proses pengumpulan data yang dipilih. Data yang terkumpul harus divalidasi untuk menentukan apakah sesuatu yang disaksikan sesuai dengan kenyataan dilapangan dan dapat dipertanggungjawabkan. Validitas data menjamin konsistensi hasil studi dan interpretasi makna (Sutopo, 2002:78). Hasil data pada penelitian kualitatif telah dikatakan valid jika tidak ditemukan pertentangan antara apa yang disampaikan oleh peneliti dan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diselidiki. Akan tetapi, harus diingat bahwa realitas data sebenarnya pada penelitian kualitatif bersifat jamak, tidak tunggal, dan bergantung pada konstruksi manusia, yang dihasilkan melalui diri seseorang sebagai konsekuensi dari proses mentalisme setiap individu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Akibatnya, jika sepuluh peneliti dengan latar belakang yang beragam melakukan penelitian pada topik yang sama, mereka akan menghasilkan sepuluh hasil, yang kesemuanya akan dianggap sah jika apa yang ditemukan tidak berbeda dengan kenyataan sebenarnya terjadi pada objek yang diselidiki.
Penelitian ini, triangulasi data digunakan untuk menilai kakuratan hasil. Sutopo (2002:79) mendefinisikan triangulasi data atau sumber sebagai penggunaan beberapajenis sumber data untuk menyelediki data yang sebanding. Triangulasi data diterapkan sebagai pengarahan untuk peneliti dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk meneliti data yang dapat dibandingkan, sehingga apa yang didapatkan dari satu sumber data bisa divalidasi dengan lebih baik. Titik beratnya adalah pada variasi sumber data daripada perbedaan dalam metodologi
pengumpulan data atau faktor lainnya. Pendekatan ini digunakan untuk mengarahkan peneliti sedemikian rupa sehingga mereka wajib untuk menggunakan berbagai sumber data yang dapat diakses saat mengumpulkan data, yang menyiratkan bahwa data yang sama atau serupa akan lebih kredibel ketika diambil dari sumber-sumber yang bervariasi. Triangulasi data dimanfaatkan sebagai pembanding antara data hasil wawancara dengan data hasil observasi dan studi dokumen atau arsip serta publikasi yang didapatkan dari sejumlah sumber.
Untuk mengumpulkan data yang akurat, triangulasi pendekatan digunakan dalam penelitian ini, yang meliputi wawancara dengan sejumlah informan baik dinas terkait, tokoh masyarakat maupun masyarakat itu sendiri serta pengmatan dan evaluasi dokumen dan arsip juga artikel dari beragam sumber untuk mendapatkan data yang validitasnya dapat terjamin.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data secara deskriptif kualitatif yaitu analisis yang berusaha mencari pola, model, tema, hubungan, persamaan, dan makna dari data yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan-pernyataan setelah menggali data dari beberapa informan kunci yang ditabulasikan dan dipresentasikan sesuai dengan hasil temuan (observasi). Hasil pengumpulan data tersebut diolah secara manual dan direduksi yang dikelompokkan dalam bentuk segmen tertentu (display data) dan kemudian disajikan dalam bentuk konten analisis dengan penjelasan-penjelasan.
Selanjutnya diberi kesimpulan yang dapat menjawab rumusan masalah, menjelaskan dan terfokus pada representasi tehadap fenomena yang hadir dalam penelitian (Moleong, 2001).
58 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Secara geografis, luas wilayah Kabupaten Sikka 7.553.24 Km² terdiri atas luas daratan (Pulau Flores) 1.614.80 Km² dan pulau-pulau (18 buah) 117.11 Km² serta luas lautan 5.821.33 Km². Luas daratan Kabupaten Sikka dibandingkan dengan luas wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur maka hanya sebesar 3.66% dari luas wilayah NTT atau seluas 47.349.91 Km².
Kabupaten Sikka terletak di antara 8º 22’ sampai dengan 8º 50’ LS dan 121º 55’ 40” sampai 122º 41’ 30” BT.
Gambar 4. Peta Wilayah Kabupaten Sikka.
Sumber. Kabupaten Sikka Dalam Angka 2021, BPS Kab. Sikka.
Utara : Laut Flores Selatan : Laut Sawu Barat : Kabupaten Ende
Timur : Kabupaten Flores Timur
Kabupaten Sikka merupakan kabupaten pemekaran pada tahun 2007. Tahun 2020, jumlah desa adalah 147 desa dan jumlah kelurahan sebanyak 13. Sebelum tahun 2007 Kabupaten Sikka terdiri dari 12 kecamatan, seiring dengan diberlakukan UU Otonomi Daerah terjadi pemekaran wilayah kecamatan menjadi 21 Kecamatan, yaitu Paga, Tanawawo, Mego, Lela, Bola, Doreng, Mapitara, Talibura, Waiblama, Waigete, Kewapante, Hewokloang, Kangae, Nelle, Koting, Palue, Nita, Magepanda, Alok, Alok barat, dan Alok Timur. Kabupaten Sikka merupakan daerah kepulauan dengan total luas daratan 1.731.90 km². Terdapat 18 pulau baik yang didiami ataupun tidak, dimana pulau terbesar adalah Pulau Besar (3.07%). Sedangkan pulau yang terkecil adalah Pulau kambing (Pulau Pemana Kecil) yang luasnya tidak sampai 1 km2. Dari 18 pulau yang terdapat di wilayah administratif Kabupaten Sikka, sebanyak 9 pulau merupakan pulau yang tidak dihuni dan 9 pulau dihuni. Kecamatan Talibura adalah kecamatan yang memiliki luas daerah terbesar dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu 260.11 km² (15.02%). Kecamatan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Kecamatan Alok, dengan luas wilayah 14.64 km2 (0.85%).
Penduduk Kabupaten Sikka berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 (September) adalah 321.953 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Sikka tahun 2010-2020 adalah 6,76 persen. Rasio jenis kelamin tahun 2020 adalah 93
yang berarti dari 100 perempuan hanya terdapat 93 laki-laki, atau penduduk laki- laki lebih sedikit daripada penduduk perempuan. Kepadatan penduduk Kabupaten Sikka adalah 186 jiwa per km². Data penduduk Kabupaten Sikka dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. Jumlah Dan Laju Penduduk Kabupaten Sikka Tahun 2010-2020.
No Kecamatan Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun 2010-2020
1 Paga 16.40 4.72
2 Mego 12.94 8.53
3 Tanawawo 8.93 2.25
4 Lela 11.60 -08.6
5 Bola 10.797 -0.40
6 Doreng 12.002 6.74
7 Mapitara 6.672 5.27
8 Talibura 22.424 9.20
9 Waigete 24.931 11.96
10 Waiblama 8.074 14.20
11 Kewapante 14.775 9.39
12 Hewokloang 8998 8.68
13 Kangae 18.055 9.72
14 Palue 9.497 -1.03
15 Koting 6.526 2.16
16 Nelle 6.147 5.60
17 Nita 22.748 6.76
18 Magepanda 12.727 10.10
19 Alok 32.629 -1.71
20 Alok Barat 22.294 32.14
21 Alok Timur 32.797 1.55
Kabupaten Sikka 321.953 6.7
Sumber: Kabupaten Sikka Dalam Angka 2021, BPS Kab. Sikka.
B. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka merupakan dinas teknis dalam menunjang kinerja Pemerintah Daerah di Bidang Lingkungan Hidup. Berdasarkan Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 tanggal 15 Desember 2016 tentang
Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Gambar 5. Struktur Organisasi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka 2021.
Sumber; Dinas Lingkungan Hidup Kab. Sikka.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 13 Tahun 2016 tentang Pembentukan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Sikka dan Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup dijabarkan sebagai berikut :
1. Kepala Dinas.
2. Sekretariat meliputi :
a. Sub Bagian Program, Evaluasi dan Pelaporan.
b. Sub Bagian Keuangan dan Aset.
c. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian.
3. Bidang Tata Lingkungan meliputi :
a. Seksi Inventarisasi, Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis dan Kajian Dampak Lingkungan.
b. Seksi Pemeliharaan Lingkungan Hidup.
c. Seksi Pertamanan dan Pemakaman.
4. Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun meliputi :
a. Seksi Pengurangan Sampah.
b. Seksi Penanganan Sampah.
c. Seksi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
5. Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup meliputi :
a. Seksi Pemantauan Lingkungan.
b. Seksi Pencemaran Lingkungan.
c. Seksi Kerusakan Lingkungan.
6. Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup meliputi : a. Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan.
b. Seksi Penegakan Hukum Lingkungan.
c. Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup.
7. Kelompok Jabatan Fungsional meliputi, Pengelola Laboratorium.
Tugas pokok Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka diatur dalam Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 tntang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup.
Berdasarkan ketentuan di atas, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka sebagai organisasi pemerintahan daerah memiliki peran penting dalam membuat kebijakan tentang lingkungan hidup salah satunya tentang kebersihan. Salah satu tugas utamanya yaitu berkaitan dengan penanganan sampah. Penanganan sampah merupakan tugas yang mesti diperhatikan serta direalisasikan.
Sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 tntang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup mempunyai tugas melaksanakan tugas umum pemerintah urusan lingkungan hidup. Sebagai unsur pelaksana teknis daerah, maka dalam melaksanakan tugasnya harus seiring dengan kebijakan pemerintah daerah.
Dalam rangka menyelenggarakan tugas dimaksud, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Penyusunan program dan anggaran.
2. Pengelolaan keuangan.
3. Pengelolaan perlengkapan, urusan tata usaha, rumah tangga dan barang milik negara.
4. Pengelolaan urusan aparatur sipil negara.
5. Penyusunan perencanaan di bidang lingkungan hidup yang meliputi tata lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah bahan berbahaya dan beracun, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, penataan dan peningkatan kapasitas lingkungan hidup.
6. Pelayanan penunjang penyelenggaraan pengendalian dampak lingkungan.
7. Perumusan kebijakan teknis operasional di bidang lingkungan hidup yang meliputi tata lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah bahan berbahaya dan beracun, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, penataan dan pengingkatan kapasitas lingkungan hidup.
8. Pengelolaan kesekretariatan dinas.
9. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati.
C. Identitas Informan
Beberapa orang informan telah dipilih oleh peneliti dalam prosedur pengumpulan data, terutama sebagai individual yang dapat memberikan akses data terkait fokus penelitian yang dikumpulkan dengan menggunakan pendekatan purposive sampling. Sesuai dengan judul penelitian mengenai pengelolaan sampah di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur khususnya pada Dinas Lingkungan Hidup dengan demikian peneliti memerlukan beberapa orang informan dari dinas terkait yaitu, Kepala Dinas, Sekertaris, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Kepala Sub Bidang, Koordinator tempat pembuangan akhir (TPA), anggota legislatif DPRD, lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun Non Governmental Organization (NgO) serta masyarakat. Oleh sebab itu, informan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
No Nama L/P Pendidikan Jabatan/Peran
1 Drs. Silvester Saka L S1 Kadis DLH Kab. Sikka 2 Valerianus Samador L S1 Sekdis. DLH Kab. Sikka 3 Drs. Gatot Muryanto L S1 Kabid. Pengelolaan Sampah
dan Limbah B3 4 Sebastian Silvestre L S1 Kasie. Limbah B3 5 Yuliana Nona Nelvin P S1 Kasubag. Keuangan
6 Leonardus Lelo L S1 Anggota DPRD Prov. NTT
7 Jonsen Gonan L SMA Koor. TPA Wairri
8 Carolus Winfridus Keupung L S1 Direktur WTM Sikka 9 Susilowati Koopman P S1 Direktris Bank Sampah
10 Pastor Hendrikus Maku L SMA Warga
11 Hermina Wasa P SMA Warga
12 Aloysius Gonzaga L SMA Warga
13 Yohanes Soul Mambei L SMA Warga
14 Emanuel Kasan L SMP Warga
15 Maria Marselina P SMA Warga
Sumber: Data Olahan Peneliti, 2021.
D. Hasil Penelitian
1. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Di Kabupaten Sikka
Penanganan sampah ialah upaya untuk menghindari munculnya tumpukan sampah dan dampak negatif yang akan ditimbulkan dengan cara-cara atau langkah-langkah yang ideal. Penanganan sampah juga harus dilakukan dengan efisien dan efektif, agar dapat mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.
Pemerintah daerah memiliki tanggungjawab terhadap penanganan sampah. Aspek persampahan yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 11 Ayat (2) yaitu urusan pemerintah wajib sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) terdiri atas urusan pemerintah yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintah yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Kemudian, Pasal 12 Ayat (1) tentang Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar poin (c) yaitu pekerjaan umum dan penataan ruang, dan Ayat (2) tentang Urusan Pemerintah
Wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar poin (e) yaitu lingkungan hidup.
Pasal 3 Peraturan Daerah Kabupaten Sikka No. 16 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Sampah disebutkan bahwa :
“Pengelolaan Sampah diselenggarakan dengan tujuan untuk; a) Mewujudkan kesehatan masayarakat, b) Mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, c) Mengurangi dampak buruk sampah terhadap lingkungan dan masyarakat, d) Meningkatkan pemanfaatan sampah secara optimal guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat, dan e) Mensinergikan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah”.
Sesuai amanat regulasi di atas, maka Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka memiliki kewajiban untuk turut serta dalam mewujudkan pengelolaan sampah, sebagaimana juga yang telah di tetapkan dan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2018-2023.
Menurut (Dunn, 1988) menjelaskan bahwa evaluasi kebijakan merupakan tahapan kelima. Pada tahap tersebut kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai dan dievaluasi, sehingga bisa mengetahui sejauh mana kebijakan yang ditetapkan mampu memecahkan masalah yang dihadapioleh masyarakat. Selain itu, evaluasi kebijakan dinyatakan sebagai usaha untuk menilai konsekuensi dari kebijakan yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria dan standar yang dibuat (Lester dan Stewart, 2000). Sehingga dengan melakukan evaluasi kebijakan dapat diketahui sejauh mana capaian kebijakan yang telah dilaksanakan.
Kegiatan penanganan sampah sesuai UUPS Pasal 22 meliputi; (a) Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah seusai dengan jenis, jumlah, dan atau sifat sampah; (b) Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau
tempat pengolahan sampah terpadu; (c) Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir; (d) Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah sampah;
dan atau (e) Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Dalam rangka mencapai tujuan pemerintah daerah Kabupaten Sikka terhadap penanganan sampah melalui Dinas Lingkungan Hidup, maka evaluasi kebijakan penanganan sampah di Kabupaten Sikka, penulis menganalisis berdasarkan lima kriteria indikator penilaian atau evaluasi dari William M. Dunn (2003) yaitu efektivitas, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Kelima indikator tersebut digunakan pada kedua metode penanganan sampah yaitu open dumping dan sanitary landfill yang telah dan sedang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka.
a. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Open Dumping
Mubarak (2009) mengatakan open dumping sebagai suatu sistem pembuangan sampah yang dilakukan secara terbuka sehingga menimbulkan masalah.
Sedangkan Santoso (2017) berpendapat bahwa open dumping merupakan sistem pembuangan paling sederhana karena sampah dibuang kesebuah tempat pembuangan akhir tanpa adanya perlakuan atau pengelolaan lebih lanjut.
Open Dumping merupakan cara yang dilakukan dengan sistem yang sangat sederhana dengan membuang sampah pada legokan atau cekungan tanpa menggunakan tanah sebagai penutup sampah. Sistem ini pada dasarnya tingkat
keefektifannya sampai 5 tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Dampak lingkungannya sangat besar dalam mencemari lingkungan baik pencemaran air tanah oleh Leachate (air sampah yang dapat menyerap kedalam tanah) lalat, kecoa tikus tanah dan lain-lain.
1. Efektivitas
Efektivitas, dengan melihat sejauh mana hasil kebijakan yang telah dicapai, selain itu melihat keterkaitan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Evaluasi yang berkaitan dengan efektivitas adalah sampah yang diambil dari tempat pembuangan sementara (TPS) di semua wilayah Kabupaten Sikka sampai di tempat pembuangan akhir (TPA) secara tepat waktu.
Hasil temuan dilapangan oleh peneliti bahwa pengelolaan sampah di Kabupaten Sikka masih menggunakan sistem open dumping. Hal tersebut sejalan dengan wawancara bersama informan Drs. Gatot Muryanto Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Sikka yang mengatakan :
“…Kita (Dinas Lingkungan Hidup masih pakai sistem open dumping…”.
(Wawancara, 26 Agustus 2021)
Kemudian pengambilan sampah dari TPS ke TPA masih sering terlambat atau masih terlihat sampah bertumpuk di TPS selama berhari-hari. Hal itu terkonfirmasi dari wawancara bersama informan Ibu Hermina Wasa yang merupakan warga yang tinggal di sekitar TPS mengemukakan sebagai berikut :
“…Kami juga heran petugas kebersihan telah ditambah, tetapi sampah masih menumpuk di tempat sampah di Kota Maumere hingga meluber ke jalan…”
(Wawancara, 26 Agustus 2021)
Lebih lanjut ditambahkan oleh Bapak Pastor Hendrikus Maku yang juga merupakan warga mengutarakan :
“…Jangan sampai hingga siang, sampai masih meluber ke jalan raya di dekat kontainer, sehingga memberi kesan Kota Maumere merupakan kota yang jorok, karena sampah meluber dan menyebarkan bau…” (Wawancara, 26 Agustus 2021)
Dari argumen informan di atas, maka indikator efektifitas menunjukkan bahwa pengumpulan sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sering tidak maksimal yang mengakibatkan sampah masih menumpuk di TPS yang merembes ke jalanan dan menyebabkan bau.
Maka, kebijakan penanganan sampah open dumping tidak efektif, dimana menurut Dunn (1994) dalam Subarsono (2006) menerangkan bahwa efektivitas merupakan tercapaianya hasil yang diinginkan. Agustinus (2014) memperjelas bahwa efektivitas berkenan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil akibat yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.
2. Kecukupan
Menurut (Dunn, 2003) mendefinisikan kecukupan berkaitan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan nilai, kebutuhan, kesempatan dalam menumbuhkan masalah. Dengan kata lain kecukupan disini dimaksudkan sebagai efektivitas dengan mengukur atau memprediksi seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan nilai atau kesempatan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Evaluasi yang berkaitan dengan kecukupan adalah tidak adanya sampah di tempat pembuangan sementara (TPS).
Mengenai indikator kecukupan, wawancara dengan informan Bapak Jonsen Gonan Koordinator TPA Wairri Kabupaten Sikka sebagai berikut :
“…Sampah biasanya masih tertampung di TPS, kita kekurangan tempat pembuangan sampah sementara terutama di wilayah pasar. TPS disana tidak bisa menambung jumlah sampah…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)