BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan Penelitian
1. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Di Kabupaten Sikka
Evaluasi berkenan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik; evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target; dan evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Untuk menilai keberhasilan suatu program perlu dikembangkan beberapa indikator atau kriteria.
Kriteria yang dikembangkan oleh Dunn (1994) dikutip dalam Subarsono (2006) mencakup lima kriteria sebagai berikut :
1. Efektivitas. Apakah hasil yang diinginkan telah dicapai?
2. Kecukupan. Seberapa jauh hasil yang dicapai dapat memecahkan masalah?
3. Pemerataan. Apakah manfaat telah dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat?
4. Responsivitas. Apakah hasil pelaksanaan telah memuat preferensi/nilai kelompok dan dapat memuaskan mereka?
5. Ketepatan. Apakah hasil yang dicapai bermafaat?
Evaluasi memungkinkan pelaksana suatu program untuk mengetahui hasil yang nyatanya dicapai. Penilaian yang objektif, rasional dan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dalam rencana akan diketahui apakah: hasil yang dicapai melebihi target dan standar yang telah ditentukan, hasil yang dicapai sekadar sesuai harapan, atau kurang dari yang ditentukan (dalam Arikunto, 2010).
Sedangkan kebijakan publik menurut Thoha sebagaimana dikutip Ramdhani (2017: 2) memiliki dua aspek didalamnya yakni, pertama adalah kompleksitas kebutuhan publik dan permasalahan yang terdapat di dalamnya, dimana hal itu menjadi tolak ukur yang digunakan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka mengatasi konflik kepentingan serta memberikan insentif kepada kelompok- kelompok kepentingan yang berasal dari sektor swasta serta lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kedua adalah munculnya kebijakan publik merupakan bagian dari dinamika sosial dimana suatu proses kebijakan tidak berdiri sendiri dan berada dalam ruangan hampa. Sementara Islamy sebagaimana dikutip
Taufiqurokhman (2014:4) kebijakan publik adalah tindakan yang sudah ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah dan memiliki tujuan atau orientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat.
Dari beberapa definisi yang sudah dipaparkan oleh beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan yang saling berkaitan dan dilakukan oleh aktor-aktor kebijakan, pejabat-pejabat pemerintah untuk mewujudkan tujuan-tujuan tertentu demi kepentingan masyarakat. Dimana berdasarkan hirarkinya, kebijakan publik dapat bersifat nasional, regional maupun lokal.
Terkait dengan penjabaran mengenai konsep evaluasi dan defenisi kebijakan publik di atas, penelitian ini mencoba menganalisis aspek evaluasi kebijakan pada proses program kebijakan pemerintah Kabupaten Sikka dalam penanganan sampah. Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Lingkungan Hidup telah menerbitkan ataupun merumuskan serta menjalankan kebijakan penanganan sampah menggunaka dua metode penerapan yaitu open dumping dan sanitary landfill. Kedua aspek kebijakan tersebut telah di dorong dengan berbagai peraturan yang ada baik secara nasional, provinsi maupun pada tingkat kabupaten.
Berdasarkan temuan dan observasi dari informan serta penelusuran data, maka didapatkan bahwa pemerintah Kabupaten Sikka telah mengeluarkan peraturan daerah dan peraturan Bupati mengenai proses dan penerapan penganan sampah.
Peraturan tersebut mengupas tentang pengelolaan sampah dan retribusi sampah.
Terlepas dari regulasi yang telah dikeluarkan, pemerintah Kabupaten Sikka justru masih terkesan setangah hati dalam penanganan sampah. Hal itu dapat dibuktikan
dengan pendekatan wawancara, observasi serta pencarian literatur terkait topik penelitian yang penulis lakukan.
a. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Open Dumping
Open Dumping merupakan cara yang dilakukan dengan sistem yang sangat sederhana dengan membuang sampah pada legokan atau cekungan tanpa menggunakan tanah sebagai penutup sampah. Sisstem ini pada dasarnya tingkat keefektifannya sampai 5 tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Dampak lingkungannya sangat besar dalam mencemari lingkungan baik pencemaran air tanah oleh leachate (air sampah yang dapat menyerap kedalam tanah) lalat, kecoa tikus tanah dan lain-lain.
Penerapan metode open dumping di Kabupaten Sikka telah dilakukan sebelum diterbitkan UUPS, kemudian digantikan dengan metode sanitary landfill yang hanya dijalankan selama dua bulan. Penerapan sanitary landfill yang diberlakukan dua bulan tersebut diakibatkan tidak tersedianya anggaran, sehingga Dinas Lingkungan Hidup mengembalika penanganan sampah dengan metode open dumping. Kebijakan penanganan sampah open dumping di Kabupaten Sikka yang telah diteliti penulis dengan meminjam indikator William Dunn (2003) yaitu efektifitas, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepataan menunjukkan hasil wawancara dan observasi yang masih belum maksimal. Penilaian yang belum maksimal tersebut disimpulkan berdasarkan defenisi dari teori yang digunakan, kemudian dibandingkan dengan penyelidikan studi melalui wawancara, observasi dan kajian literatur atapun artikel.
b. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Sanitary Landfill
Sanitary Landfill merupakan sistem pembuangan sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun di TPA, sampah tersebut sudah di filter secara teknis menurut jenis sampahnya. Dalam sistem ini penggunaan alat berat sangat dibutuhkan seperti bulldozer maupun track loader untuk memadatkan sampah tersebut kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup setiap hari pada setiap akhir kegiatan.
Dalam sistem ini, pemerintah Kabupaten Sikka yang telah meninggalkan sistem open dumping sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari sistem open dumping adalah membuka lapangan kerja yaitu kesempatan bagi pemulung di TPA. Maka dengan beralihnya ke sistem sanitary landfill para pemulung menjajaki sampah pada tahap pewadahan dilingkungan- lingkungan warga. Karena sistem sanitary landfill langsung menggunakan alat berat ketika sampah datang dari TPA dan langsung dipadatkan untuk tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sedangkan dapak negatif sistem open dumping tentunya sangat berbahaya terhadap lingkungan baik pencemaran air, tanah dan udara).
Sistem sanitary landfill merupakan sistem yang banyak digunakan di Indonesia. Karena, sistem tersebut dilakukan dengan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkan dan kemudian menimbunnya dengan tanah. Sistem zonasi TPA pada sanitary landfill ini harus jauh dari pemukiman karena untuk menghindari masalah sosial seperti AMDAL dan pencemaran lainnya. Namun kondisi dilapangan terlihat bahwa metode ini hanya dipakai selama dua bulan,
penyebabnya hanya persoalan anggaran. Sedangkan jika ditelusuri UUPS mengenai anggaran yang dijelaskan bahwa pemerintah daerah melalui APBD harus mengangarkan kebutuhan pengolaan sampah sanitari landfill di kabupaten.
Jika kedua metode penanganan sampah di Kabupaten Sikka diselidiki lebih dalam terutama grand desain penanganan sampah, maka penulis menduga pemerintah belum memilik rumusan atau agenda besar yang memuat prosedur, pola, dan strategi kerja yang terukur. Ditambah lagi prilaku masyarakat yang masih kurang dalam memandang persoalan sampah di Kabupaten Sikka sebagai agenda bersama. Kondisi persampahan di Kabupaten Sikka sering kali mendapat sorotan tajam dari warga dan kelompok-kelompok masyarakat LSM.
Terlepas dari polemik di atas, menurut pendalaman wawancara yang dilakukan penulis bersama Dinas Lingkungan Hidup, dihasilkan informasi bahwa DLH akan kembali menerapkan sanitary landfill melalui komunikasi bersama DPRD Kabupaten Sikka melalui pembahasan anggaran. Sehingga, metode sanitary lanfill tersebut masih seputar aganda rencana semata yang sangat tergantung dari ketersiaan anggaran.
2. Peran Pemerintah dan Masyarakat Dalam Penanganan Sampah Di Kabupaten Sikka
a. Peran Pemerintah Kabupaten Sikka Dalam Penganan Sampah
Salah satu tujuan dari diadakahnya evaluasi kebijakan publik adalah untuk mengetahui tingkat efektifitas suatu kebijakan publik dan untuk mengetahui apakah kebijakan itu dapat dikatakan berhasil atau gagal dalam mencapai tujuannya serta memenuhi aspek akuntabiltas publik. Peran pemerintah dalam
pengelolan sampah peneliti lihat berdasarkan teori yang menjelaskan dua indikator yang disebutkan oleh Fiona dalam Tri Kharisma Jati; yakni; pemerintah sebagai pembuat kebijakan (regulator) dan sebagai (service provider).
Pemerintah Kabupaten Sikka sebagai regulator telah mengeluarkan regulasi yang bersentuhan langsung dengan penanganan sampah yaitu Perda Nomor 16 Tahun 2016 tentang pengelolaan sampah dan Perbup Nomor 16 Tahun 2016 tentang tarif retribusi pelayanan persampahan. Selain kebijakan dalam regulasi, pemerintah Kabupaten Sikka juga telah merumuskan kegiatan Dinas Lingkungan Hidup sebagai agenda perogram. Di sisi lain, DLH Kabupaten Sikka merekrut tenaga kerja sukarela (TKS) yang bertugas membersihkan sampah. Langkah itu ditempuh
Maka dengan demikian pemerintah Kabupaten Sikka telah berupaya menerapkan kebijakan dalam rangka pengelolaan sampah serta melakukan kebijakan dalam menjamin terciptanya lingkungan masyarakat yang sehat. Namun masih terkendala dalam operasional teknis dan pengawasan di lapangan.
b. Peran Pemerintah Kabupaten Sikka Dalam Penganan Sampah
Peran serta masyarakat sangat penting dan perlu diperhatikan yaitu kesediaan masyarakat untuk membantu agar program yang dijalankan dapat berhasil. Peran masyarakat harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri (Taniwijaya, 2016:235). Peran serta seseorang sebaiknya didasarkan atas kesadaran sendiri, keyakinan serta kemauan, sebab hal ini akan bermanfaat bagi dirinya. Karena dirinya merasa tidak dipaksakan sehingga dalammengikuti kegiatan dapat dilaksanakan dengan
sukarela (Sulitiyorini, dkk 2016:74). Alasan pentingnya diajak berpartisipasi yaitu masyarakat dapat mengetahui sepenuhnya tentang permasalahan dan kebutuhan mereka, kemudian masyarakat sesungguhnya mengenal keadaan lingkungan mereka, baik lingkungan sosialmaupun ekonomi.
Peran serta masyarakat dalam penanganan sampah adalah keterlibatan masayarakat untuk ikut serta bertanggungjawab secara aktif baik secara individu, keluarga, kelompok masyarakat untuk mewujudkan kebersihan baik dalam diri maupun lingkungan. Slamet dalam (Mardikanto & Soebianto, 2017:91) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya peran serta masyarakat pada suatu program ditentukan oleh tiga unsur pokok yaitu : (1) adanya kesempatan, (2) adanya kemauan, dan (3) adanya kemampuan. Untuk mengelaborasi pendapat tersebut, penulis menggunakan indikator menurut Bintoro dalam Ferathin (2014) tentang peran masyarakat yang dalam topik penanganan sampah di Kabupaten Sikka antara lain : 1) partisipasi dalam proses pembuatan keputusan, indikator ini menyimpulkan bahwa masyarakat kurang aktif merespon tentang pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penanganan sampah, 2) partisipasi dalam pelaksanaan, indikator ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat turut mengambil bagian untuk ikut melaksanakan apa yang telah diputusan, 3) partisipasi dalam pemanfaatan hasil, indikator ini memperlihatkan kberadaan penanganan sampah dapat memberi kontribusi bagi masyarakat dalam bentuk pupuk kompas. Hanya saja diperlukan sosialisasi yang lebih masif, promosi dan kerja sama, dan 4) partisipasi dalam evalusi, dimana masyarakat belum secara aktif berperan dalam mengevaluasi kebersihan lingkungan di sekitarnya.
97 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penanganan sampah di Kabupaten Sikka masih menggunakan metode open dumping dengan menggunakan lima indikator evaluasi dari William Dunn (2003) diperoleh hasil yaitu (1) efektivitas yang masih belum optimal dikarenakan sampah masih berembes di TPS yang menyebabkan bau. (2) kecukupan yang belum tercapai diakibatkan masih adanya sampah di semua titik TPS. (3) perataan yang masih ditemuka keluhan, protes dan kurangnya keterlibatan masyarakat secara massal. (4) responsivitas (responsiveness) belum maksimal yang disebabkan DLH Kabupaten Sikka dalam merespon beragam keluhan, protes dan sebagainya belum dapat menyelesaikannya di lapangan. (5) ketepatan masih belum optimal karena penanganan sampah di Kabupaten Sikkan masih menggunakan metode open dumping. Sedangkan penanganan sampah menggunakan metode sanitary landfill hanya berlangsung dua bulan.
Peran pemerintah Kabupaten Sikka dalam penanganan sampah masih terkendala dalam operasional teknis utamanya ketersediaan anggaran dan pengawasan dilapangan, ditambah lagi masih banyaknya keluhan terhadap pelayanan penaganan sampah dari masyarakat di Kabupaten Sikka. Sedangkan peran masyarakat dalam penanganan sampah masih belum terlaksana dengan baik yang diakibatkan kurangnya kesadaran dari warga dan keterlibatan mereka secara menyeluruh.
B. Saran
Melalui penelitian ini, peneliti memiliki beberapa saran untuk perbaikan selanjutnya, diantaranya sebagai berikut :
1. Diharapkan DLH Kabupaten Sikka mampu berupaya mengambil kebijakan seperti melakukan penguatan kembali sistem penanganan sampah dengan metode sanitary landfill.
2. Dibutuhkan komitmen bersama oleh segenap stakeholder dalam upaya pengelolaan sampah dalam bentuk grand desain sebagai dokumen yang memuat model, pola dan strategi kerja pemerintah Kabupaten Sikka.
3. Perlu dipertimbangkan dan segera di bentuk satgas sampah pada tingkat desa dan kelurahan dengan melibatkan sumberdaya manusia lokal.
4. Melibatkan masyarakat di semua elemen desa dan kelurahan baik pada tahap sosialisasi, perumusan agenda program sampah dan evaluasi.
5. Jika diperlukan, pemerintah Kabuapten Sikka agar mengajak Perusda atau BUMD dan Bumdes dalam perumusan dan perencanaan penanganan sampah terutama pemanfaatannya dari segi ekonomi.
99
DAFTAR PUSTAKA
Adi, I. R. (2007). Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: Dari Pemikiran Menuju Penerapan. FISIP UI Press.
Azwar, A. (1990). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Yayasan Mutiara.
Chandra. (2006). Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC.
Coyne, W. (2004). Innovation as a Competitive Advantage. Lengnick Journal of Management.
Cunningham, D. J. (2004). Mind, Culture, and Activity. Indiana University, 11(2).
Damanpour. (1991). Organizational Innovation: A Meta Analysis of Effect of Determinants and Moderators. Academy of Management Journal, 34(3), 555–590.
Drucker, P. (1985). Inovasi dan Kewiraswastaan: Praktek & Dasar-Dasar.
Erlangga.
Fitri, R. F., Ati, N. U., & Suyeno, S. (2019). Implementasi Kebijakan Pemerintah Dalam Inovasi Pengelolaan Sampah Terpadu (Studi Kasus di Taman Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randegan Kota Mojokerto). Jurnal Respon Publik, 13(4), 12–18.
Greenberg, J., & Baron, R. A. (2000). Behavior in Organizations: Understanding and Managing the Human Side of Work. Prentice – Hall International, Inc.
Hamalik, O. (2010). Proses Belajar Mengajar. PT Bumi Aksara.
Hamijoyo. (2007). Partisipasi dalam Pembangunan. Depdikbud RI.
Harvard Business Essentials Series. (2003). Managing Creativity and Innovation.
Havard Business School Publishing Corporation.
Hayat, & Zayad, H. (2018). Model Inovasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
Jurnal Ketahanan Pangan, 2(2), 131–141.
Hermawan. (2005). Penelitian Bisnis Paradigma Kuantitatif. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jogloabang. (2019). Pembahasan Konstitusi UU No 18 Tahun 2008 Pengelolaan Sampah. Jogloabang.Com. https://www.jogloabang.com/pustaka/uu-18- 2008-pengelolaan-sampah
Juliantara, D. (2004). Pembaruan Kabupaten Arah Realisasi Otonomi Daerah.
Pustaka Jogja Mandiri.
Kasali, R. (2006). Pop Marketing Dalam Konteks Pemasaran Indonesia.
Gramedia Pustaka Utama.
Khatib, J. (2013). Capacity Building: Barriers to Knowledge Adoption.
Knox. (2002). Understanding Your Management Style. Lexington Books Ans Imprint.
Kurniawati, S. (2013). Inovasi Organisasi. Prodi Ekonomi Dan Koperasi Universitas Pendidikan Indonesia.
Lengnick-Hall, C. A., & Lengnick-Hall, M. L. (1988). Strategic Human Resources Management: A review of the Literature and a Proposed Typology. Academy of Management Review, 13(3), 454–470.
Mangkoedihardjo, S., & Maswari, Y. R. (2009). Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah di Kota Maumere. Jurnal Prosiding FTSP-ITS.
Manik. (2003). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Djambatan.
Moleong, L. J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosadakarya.
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosidakarya.
Mukono. (2006). Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University Press.
Mulgan, G., & Albury, D. (2003). Innovation in the Public Sector. In Working Paper Version 1.9 (Strategy Unit).
Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. (2012).
Pidarta, M. (1988). Manajemen Pendidikan Indonesia (Cet. 1). Bina Aksara.
Prianto, R. A. (2011). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Kelurahan Jombang Kota Semarang (Analisis Sosio Yuridis Pasal 28 Undang Undang No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah).
Universitas Negeri Semarang.
Purnomo, S. H., & Zulkieflimansyah. (2002). Manajemen Strategi: Sebuah Konsep Pengantar. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Robbins, S. P., & Coulter, M. (2010). Manajemen Edisi Kesepuluh. Penerbit Erlangga.
Sari, P. D. (2020). Implementasi Kebijakan Peraturan Dareh Nomer 4 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenisnya Sampah Rumah Tangga. Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD).
Siagian, S. P. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara.
Slamet, J. S. (2004). Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press.
Soemirat, J. (1994). Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber Widya.
Sutrisno, E. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Kencana.
Urabe, K., Child, J., & Kagano, T. (1988). Innovation and management:
International Comparisons. Walter de Gruyter an Co.
Wahyudi, B. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit SULITA.
West, M. A. (2000). Mengembangkan Kreativitas Dalam Organisasi. Kanisius.
William. (2002). Pengaruh Tingkat Pendidikan Tinggi Terhadap Kecerdasan Emosional. UGM Yogyakarta.
Winardi. (2005). Manajemen Perubahan. Prenada Media.
Yuliastuti, I. A. N. (2013). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Badung. E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana.
Dasar Hukum :
Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah.
Peraturan Menteri Nomor 03 PRT/M tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 55 Tahun 2018 tentang Kebijakan Strategis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan SampahSejenis Sampah Rumah Tangga.
Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Sampah.
Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup.
Peraturan Bupati Sikka Nomor 43 Tahun 2017 tentang Peninjauan Tarif Retribusi Pelayanan Persampahan.
Peraturan Bupati Sikka Nomor 12 Tahun 2019 tentang Rencana Strategis Perangkat Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2018-2023.
Website :
https://kumparan.com/florespedia/100-tenaga-kerja-sukarela-dlh-sikka-mulai- bersihkan-sampah-di-kota-maumere-1t0oWvvtd0S
https://m.merdeka.com/peristiwa/berantas-dbd-100-tenaga-kebersihan-di-sikka- dikerahkan-tetapi-7-truk-sampah-rusak.html
https://kupang.tribunnews.com/2021/10/15/kepala-dinas-lingkungan-hidup sikka- angkat-bicara-soal-penanganan-sampah
https://www.cendananews.com/2020/03/sampah-masih-sering-menumpuk-di- kota-maumere.html
https://www.antaranews.com/berita/1358886/ketika-sampah-jadi-penyebab-klb- dbd-di-kabupaten-sikka
https://www.cendananews.com/2020/04/dlh-sikka-butuh-armada-dan-tenaga- kerja-angkut-sampah.html
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Permintaan Izin Penelitian.
Lampiran 2. Surat Keterangan Penelitian Dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka.
Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian.
Wawancara peneliti dengan Bapak Drs.
Silvester Saka (Kadis DLH Kab. Sikka)
Wawancara peneliti dengan Ibu Yuliana Nona Nelvin, SKM
(Kasie. Limbah B3 DLH Kab. Sikka)
Wawancara peneliti dengan salah seorang
pegawai/staf DLH Kab. Sikka Wawancara peneliti dengan para petugas sampah DLH Kab. Sikka
Bak Sampah Beton Di Kab. Sikka Bak Sampah Kontainer Di Kab. Sikka