• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Penelitian

1. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Di Kabupaten Sikka

Penanganan sampah ialah upaya untuk menghindari munculnya tumpukan sampah dan dampak negatif yang akan ditimbulkan dengan cara-cara atau langkah-langkah yang ideal. Penanganan sampah juga harus dilakukan dengan efisien dan efektif, agar dapat mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

Pemerintah daerah memiliki tanggungjawab terhadap penanganan sampah. Aspek persampahan yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 11 Ayat (2) yaitu urusan pemerintah wajib sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) terdiri atas urusan pemerintah yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintah yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Kemudian, Pasal 12 Ayat (1) tentang Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar poin (c) yaitu pekerjaan umum dan penataan ruang, dan Ayat (2) tentang Urusan Pemerintah

Wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar poin (e) yaitu lingkungan hidup.

Pasal 3 Peraturan Daerah Kabupaten Sikka No. 16 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Sampah disebutkan bahwa :

“Pengelolaan Sampah diselenggarakan dengan tujuan untuk; a) Mewujudkan kesehatan masayarakat, b) Mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, c) Mengurangi dampak buruk sampah terhadap lingkungan dan masyarakat, d) Meningkatkan pemanfaatan sampah secara optimal guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat, dan e) Mensinergikan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah”.

Sesuai amanat regulasi di atas, maka Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka memiliki kewajiban untuk turut serta dalam mewujudkan pengelolaan sampah, sebagaimana juga yang telah di tetapkan dan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2018-2023.

Menurut (Dunn, 1988) menjelaskan bahwa evaluasi kebijakan merupakan tahapan kelima. Pada tahap tersebut kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai dan dievaluasi, sehingga bisa mengetahui sejauh mana kebijakan yang ditetapkan mampu memecahkan masalah yang dihadapioleh masyarakat. Selain itu, evaluasi kebijakan dinyatakan sebagai usaha untuk menilai konsekuensi dari kebijakan yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria dan standar yang dibuat (Lester dan Stewart, 2000). Sehingga dengan melakukan evaluasi kebijakan dapat diketahui sejauh mana capaian kebijakan yang telah dilaksanakan.

Kegiatan penanganan sampah sesuai UUPS Pasal 22 meliputi; (a) Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah seusai dengan jenis, jumlah, dan atau sifat sampah; (b) Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau

tempat pengolahan sampah terpadu; (c) Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir; (d) Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah sampah;

dan atau (e) Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Dalam rangka mencapai tujuan pemerintah daerah Kabupaten Sikka terhadap penanganan sampah melalui Dinas Lingkungan Hidup, maka evaluasi kebijakan penanganan sampah di Kabupaten Sikka, penulis menganalisis berdasarkan lima kriteria indikator penilaian atau evaluasi dari William M. Dunn (2003) yaitu efektivitas, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Kelima indikator tersebut digunakan pada kedua metode penanganan sampah yaitu open dumping dan sanitary landfill yang telah dan sedang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka.

a. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Open Dumping

Mubarak (2009) mengatakan open dumping sebagai suatu sistem pembuangan sampah yang dilakukan secara terbuka sehingga menimbulkan masalah.

Sedangkan Santoso (2017) berpendapat bahwa open dumping merupakan sistem pembuangan paling sederhana karena sampah dibuang kesebuah tempat pembuangan akhir tanpa adanya perlakuan atau pengelolaan lebih lanjut.

Open Dumping merupakan cara yang dilakukan dengan sistem yang sangat sederhana dengan membuang sampah pada legokan atau cekungan tanpa menggunakan tanah sebagai penutup sampah. Sistem ini pada dasarnya tingkat

keefektifannya sampai 5 tahun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Dampak lingkungannya sangat besar dalam mencemari lingkungan baik pencemaran air tanah oleh Leachate (air sampah yang dapat menyerap kedalam tanah) lalat, kecoa tikus tanah dan lain-lain.

1. Efektivitas

Efektivitas, dengan melihat sejauh mana hasil kebijakan yang telah dicapai, selain itu melihat keterkaitan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Evaluasi yang berkaitan dengan efektivitas adalah sampah yang diambil dari tempat pembuangan sementara (TPS) di semua wilayah Kabupaten Sikka sampai di tempat pembuangan akhir (TPA) secara tepat waktu.

Hasil temuan dilapangan oleh peneliti bahwa pengelolaan sampah di Kabupaten Sikka masih menggunakan sistem open dumping. Hal tersebut sejalan dengan wawancara bersama informan Drs. Gatot Muryanto Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Sikka yang mengatakan :

“…Kita (Dinas Lingkungan Hidup masih pakai sistem open dumping…”.

(Wawancara, 26 Agustus 2021)

Kemudian pengambilan sampah dari TPS ke TPA masih sering terlambat atau masih terlihat sampah bertumpuk di TPS selama berhari-hari. Hal itu terkonfirmasi dari wawancara bersama informan Ibu Hermina Wasa yang merupakan warga yang tinggal di sekitar TPS mengemukakan sebagai berikut :

“…Kami juga heran petugas kebersihan telah ditambah, tetapi sampah masih menumpuk di tempat sampah di Kota Maumere hingga meluber ke jalan…”

(Wawancara, 26 Agustus 2021)

Lebih lanjut ditambahkan oleh Bapak Pastor Hendrikus Maku yang juga merupakan warga mengutarakan :

“…Jangan sampai hingga siang, sampai masih meluber ke jalan raya di dekat kontainer, sehingga memberi kesan Kota Maumere merupakan kota yang jorok, karena sampah meluber dan menyebarkan bau…” (Wawancara, 26 Agustus 2021)

Dari argumen informan di atas, maka indikator efektifitas menunjukkan bahwa pengumpulan sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sering tidak maksimal yang mengakibatkan sampah masih menumpuk di TPS yang merembes ke jalanan dan menyebabkan bau.

Maka, kebijakan penanganan sampah open dumping tidak efektif, dimana menurut Dunn (1994) dalam Subarsono (2006) menerangkan bahwa efektivitas merupakan tercapaianya hasil yang diinginkan. Agustinus (2014) memperjelas bahwa efektivitas berkenan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil akibat yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.

2. Kecukupan

Menurut (Dunn, 2003) mendefinisikan kecukupan berkaitan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan nilai, kebutuhan, kesempatan dalam menumbuhkan masalah. Dengan kata lain kecukupan disini dimaksudkan sebagai efektivitas dengan mengukur atau memprediksi seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan nilai atau kesempatan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Evaluasi yang berkaitan dengan kecukupan adalah tidak adanya sampah di tempat pembuangan sementara (TPS).

Mengenai indikator kecukupan, wawancara dengan informan Bapak Jonsen Gonan Koordinator TPA Wairri Kabupaten Sikka sebagai berikut :

“…Sampah biasanya masih tertampung di TPS, kita kekurangan tempat pembuangan sampah sementara terutama di wilayah pasar. TPS disana tidak bisa menambung jumlah sampah…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa ketersediaan tempat pembuangan sementara (TPS) menjadi salah satu faktor yang dapat mengakibatkan sampah bisa menumpuk dengan waktu yang lebih lama.

Pernyataan Koordinator TPA Wairri tersebut diperkuat oleh informan Bapak Valerianus Samador, S.Sos sesuai hasil wawancara bahwa :

“…Armada kami kewalahan karena sesungguhnya hanya 3 yang baik sementara 8 buah mengalami kerusakan terutama truk sampah dan mobil derek kontainer…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Dari hasil wawancara bersama informan dapat ditarik simpulan bahwa indikator kecukupan belum tercapai yang diakibatkan oleh masih adanya sampah di semua titik di tempat pembuangan sampah (TPS).

3. Perataan

Perataan dalam kebijakan publik sama dengan istilah pemerataan atau keadilan yang diberikan dan diperoleh sasaran kebijakan publik. Menurut Wiliam (2003) bahwa kriteria kesamaan erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antar kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Parameternya adalah berkaitan dengan keluhan, protes, sikap penolakan dan partisipasi masyarakat.

Indikator perataan ini bisa dikatakan sebagai indikator yang paling sering menjadi pokok bahasan dalam ruang publik. Seperti keluhan dan protes yang ditemukan dilapangan, salah satunya dari wawancara bersama informan Bapak Carolus Windridus Keupung sebagai Direktur Wahana Tani Amndiri (WTM) Sikka mengatakan persoalan sampah masih menjadi masalah serius yang dihadapi masyarakat terutama di perkotaan. Persoalan sampah masih sebatas kerja rutin.

“…Yang penting tiap hari ada mobil sampah mengangkutnya dari penampungan ke TPA…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Lebih lanjut informan menambahkan :

“…Belum ada satu upaya yang terstruktur dan sistematis dalam penangan sampah…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Di waktu yang berbeda informan Ibu Susilowati Koopman sebagai Direktris ank Sampah Flores mengungkapkan tidak adil jika penanganan sampah hanya dilemparkan tanggungjawab sepenuhnya kepada pemerintah. Menurutnya, penanganan sampah harus mulai dari sumbernya dan diharapkan masyarakat berpartisipasi, jangan hanya menjadipenonton dan menunggu perintah.

“…Tempat sampah di tempat umum menjadi kewajiban pemerintah. Tapi bukan berarti warga jadi penonton. Tetapi harus menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing dan sudah harus dipilah sampah organik dan non organik. Selain itu pembersihan secara massal juga harus tetap konsisten…”

(Wawancara, 25 Agustus 2021)

Sementara itu informan Bapak Emanuel Kasan, seorang warga yang menyesalkan adanya tumpukan sampah di TPS membeberkan :

“…Saya menduga tumpukan sampah yang sejak tahun 2021 tidak pernah dibersihkan ini milik rumah sakit. Karena hampir sebagian besar sampah yang ada merupakan bekas peralatan medis dan obat-obatan yang berbahaya…”

(Wawancara, 25 Agustus 2021) Ia melanjutkan :

“…Saya berharap agar pihak rumah sakit maupun Dinas Lingkungan Hidup yang bertugas membersihkan sampah segera mengangkut sampah yang membukit, yang mulai meresahkan warga…” (Wawancara, 25 Agustus 2021) Sementara itu, dalam menanggapi pernyataan dari ketiga informan di atas, melalui wawancara bersama informan Bapak Valerianus Samador, S.Sos selaku Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka mengatakan :

“…Kedepan, kami berpikir TPA sampahnya diolah, sehingga yang dibuang di tempat sampah yang tidak ada nilanya…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Informan juga menjelaskan, bahwa saat ini pihaknya (DLH) masih menggunakan penanganan sampah tradisional. Sehingga proses pengangkutan pun membutuhkan waktu yang lama.

Berdasarkan ulasan pernyataan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa indikator perataan dalam penanganan sampah masih ditemukan keluhan, protes dan kurangnya keterlibatan secara massal dari masyarakat. Sehingga indikator ini belum mencapai apa yang diharapkan.

4. Responsivitas

Responsivitas berkaitan dengan tanggapan sasaran kebijakan atas penerapan suatu kebijakan. Wiliam N. Dunn (2003) responsivitas adalah seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai-nilai kelompok- kelompok masyarakat tertentu. Parameter pada indikator ini yaitu media yang dilakukan untuk melaporkan keluhan, protes, sikap penolakan, dan partisipasi dari masyarakat.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka dalam melakukan respon terhadap keluhan, protes, sikap penolakan, dan partisipasi masyarakat masih menggunakan media komunikasi secara fisik maupun digital (telepon dan messenger whatsapp), sebagaimana diungkapkan oleh informan Bapak Sebastian Silvestre selaku Kepala Seksi Limbah B3, yaitu :

“…DLH Sikka dalam merespon keadaan di lapangan masih memakai telepon atau whatsapp (WA), kadang juga masyarakat mendatangi langsung kantor atau pegawai di lapangan…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Pernyataan di atas pernah dialami oleh seorang warga yang merupakan informan Ibu Maria Marselina yang mengeluhkan tempat pengolahan sampah

milik DLH Sikka yang belum difungsikan. Informan mengeluhkan kepada pegawai DLH (nama tidak disebutkan) yaitu :

“…Kalau malam-malam, warga disini sering melihat ada motor yang keluar masuk. Sering dipergok tapi kabur…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Menurut informan sejak awal pembangunan gedung itu disampaikan tempat pengolahan sampah. Namun, setelag selesai dikerjakan di tahun 2021 hingga saat ini belum difungsikan sesuai peruntukkannya.

“…Katanya mau bangun tempat olah sampah. Tapi sudah satu tahun, bangunan ini belum difungsikan. Kadang anak muda sering kumpul minum mabuk kalau malam hari…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Keluhan tidak hanya dialami oleh warga, namun dikeluhkan pula oleh informan Bapak Leonardus Lelo, S.AP selaku Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTT yang meminta DLHK NTT segera memanfaatkan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Informan mengatakan :

“…Saya minta DLHK NTT segera memanfaatkan bangunan tempat pengolahan sampah yang dibangun dari tahun 2020 yang lalu di Maumere…

Apabila DLHK NTT memiliki perjanjian dengan DLH Sikka, agaer segera dihibahkan kepada pemerintah kabupaten Sikka sehingga bisa dimanfaatkan sesuai peruntukannya…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Peneliti mencoba mewawancarai pihak DLH Kabupaten Sikka terkait keluhan tersebut. Informan Bapak Drs. Gatot Muryanto selaku Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 menuturkan :

“…Sepertinya belum ada penyerahan dari provinsi NTT, sehingga kami belum memanfaatkan. Itu proyek DLH provinsi…” (Wawancara, 25 Agustus 2021) Selain keluhan di atas, terdapat pula keluhan mengenai iuran (retribusi) sampah yang dikeluhkan oleh pihak RSUD Sikka perihal penumpukan sampah di salah satu TPS yang berdekatan dengan RSUD Sikka.

“…Kami sudah berkali-kali berkoordinasi dengan pihak dinas lingkungan hidup agar bisa mengangkut sampah yang ada. Namun, kenyataannya justru sampah yang kini mulai meresahkan warga dan juga penghuni rumah sakit.

Sementara iuran sampah setiap bulan dipungut dinas terkait…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Salah seorang warga yang berprofesi sebagai pedagang di salah satu pasar di Kabupaten Sikka turut mengeluhkan soal retribusi sampah. Informan Bapak Aloysius Gonzaga mengatakan :

“…Saya sering dimintai iuran sampah di pasar setiap menjual. Tapi selalu saja kami pedagang menemukan sampah di TPS. Akibatnya, kami pun terganggu dan warga yang berbelanja di pasar…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Informan Ibu Yuliana Nona Nelvin, SKM selaku Kepala Sub Bagian Keuangan DLH Kabupaten Sikka saat diwawancai menjelaskan bahwa :

“…Kami setiap bulan menerima pembayaran retribusi sampah dari berbagai pihak sesuai regulasi yang ada. Mulai dari masyarakat umum, termasuk rumah sakit dan tempat layanan publik. Masing-masing membayar dengan apa yang telah diatur pada Perda Kabupaten Sikka…” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Beberapa pernyataan yang telah dikemukakan di atas, terlihat bahwa Dinas Lingkungan Hidup serta masyarakat dalam merespon beragam keluhan, protes, dan lain sebagainya masih menggunakan jalur komunikasi (face to face) dan komunikasi telepon seluler serta whatsapp. Walapun media yang digunakan bisa dikatakan mampu menyerap aspirasi tersebut, namun pada tataran lapangan belum dapat menyelesaikan masalah yang dikeluhkan oleh masyarakat secara umum.

Dengan kata lain, Dinas Lingkungan Hidup belum mempunyai ruang atau media sosialisasi yang muktahir dalam memberikan edukasi dan komunikasi bagi masyarakat. Maka, indikator responsivitas belum mampu tercapai dengan maksimal, dikarenakan dalam pelaksanaan suatu program kebijakan publik dapat

dilihat dari tanggapan atau umpan balik dari masyarakat sebagai sasaran atas pelaksanaan suatu kegiatan atau program kebijakan publik.

5. Ketepatan

Ketepatan merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan pada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan tersebut. William Dunn (2003) mengatakan bahwa ketepatan adalah suatu kriteria yang dipakai untuk menyeleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasikan tersebut merupakan tujuan pilihan yang layak. Parameternya adalah metode penanganan sampah open dumping di Kabupaten Sikka sudah dikelola dengan baik.

Berdasarkan hasil analisis, wawancara serta pengamatan dari peneliti di lokasi penelitian yang juga dikaitkan dengan regulasi yang mengatur penanganan sampah baik secara nasional, provinsi dan kabupatan, maka secara sadar bahwa penanganan sampah di Kabupaten Sikka masih belum terkelolah dengan baik.

Paling dasarnya adalah metode yang digunakan oleh Dinas Lingkungan Kabupaten Sikka yaitu open dumping yang telah dilarang atau tidak diperbolehkan lagi digunakan seluruh wilayah kesatuan Republik Indonesia.

b. Evaluasi Kebijakan Penanganan Sampah Sanitari Landfill

Penanganan sampah di Kabupaten Sikka pada tahun 2019 menggunakan metode sanitary landfill, namun hanya berjalan selama dua bulan yaitu pada bulan Maret dan April. Maka bisa disimpulkan bahwa pemerintah Kabupaten Sikka telah mematuhi instruksi dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah walaupun tidak sesuai dengan target waktu yang diwajibkan.

Rentan waktu penanganan sampah sanitary landfill yang sangat singkat diakibatkan oleh kurangnya ketersediaan anggaran yang belum memadai untuk mengelola sampah dengan metode sanitary landfill. Seperti yang diutarakan informan Drs. Silvester Saka sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka melalui wawancara berikut :

“…Kami (Dinas Lingkungan Hidup) pernah menerapkan sanitary landfill selama ± dua bulan yaitu pada bulan Maret dan April. Karena disebabkan keterbatasan anggaran untuk operasionalnya, maka kami beralih ke open dumping. Sarana dan prasarana sanitary landfill masih ada…”. (Wawancara, 24 Agustus 2021)

Kondisi tersebut mengakibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka kembali menggunakan metode open dumping. Namun, penanganan sampah sanitary landfill akan kembali digunakan sesuai dengan perencanaan dan pembahasan anggaran di DPRD Kabupaten Sikka. Drs. Silvester Saka sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka melalui wawancara menyatakan sebagai berikut :

“…Tetap kami (Dinas Lingkungan Hidup) akan menerapkan sanitary landfill sesuai yang diamanatkan oleh Undang-Undang, tapi semuanya kembali pada ketersediaan anggaran. Tentunya, komukasi yang efektif akan kami bangun bersama DPRD sehingga tujuan dari pengelolaan sampah di Kabupaten Sikka bisa sesuai dengan yang diharapkan…” (Wawancara, 25 Agustus 2021) Jika melihat argumentatif dari informan diatas, penulis dapat berasumsi bahwa penanganan sampah sanitary landfill masih sebatas rencana yang akan terwujud jika kebutuhan anggaran (biaya) disepakati atau disetujui oleh DPRD Kabupaten Sikka sebagaimana tugas legislatif (budgeting).

Dari peristiwa dan rangkaian penanganan sampah open dumping dan sanitary landfill di Kabupaten Sikka terlihat bahwa pemerintah daerah melalui Dinas

Lingkungan Hidup telah berupaya untuk menerapkan penanganan sampah dengan metode sanitary landfill, namun keterbatasan anggaran menyebabkan penanganan sampah kembali pada metode lama yaitu open dumping. Kendala anggaran atau biaya sebagaimanan UUPS Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Bab VII bagian kesatu Pasal 24 ayat (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah dan ayat (2) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Selanjutnya kebijakan yang telah ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Sikka sejalan dengan pendapat Carl J. Federick yang mengungkapkan bahwa kebijakan merupakan serangkaian tindakan atau kegiatan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan (kesulitan) dan kesempatan-kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu (Leo Agustino sebagaimana dikutip Taufiqurokhman, 2014: 2).

Sedangkan sering berubahnya kebijakan penanganan sampah di Kabupaten Sikka dengan beragam kesulitan dan kekurangan yang dihadapi, penulis dapat menduga bahwa kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang bersifat alternatif.

Sebagimana diungkapkan oleh William N. Dunn (2000: 18) bahwa alternatif kebijakan yaitu arah tindakan yang secara potensial tersedia dan dapat memberi dukungan untuk pencapaian nilai dan pemecahan masalah kebijakan.

Kemudian faktor yang mempengaruhi keberhasil kebijakan penanganan sampah di Kabupaten Sikka, penulis berasumsi disebabkan oleh dua faktor

penting yang berdasar pada Anggara (2014: 257-261) yaitu karakteristik dari masalah (tractability of the problems), dimana karakteristik tersebut yaitu tingkat kesulitan teknis dari masalah dan karakteristik kebijakan atau undang-undang (ability of statue to structure implementation), karakteristik ini yaitu alokasi sumber daya finansial terhadap kebijakan.

2. Peran Pemerintah dan Masyarakat Dalam Penanganan Sampah Di Kabupaten Sikka

a. Peran Pemerintah Kabupaten Sikka Dalam Penanganan Sampah Menurut Sondang P. Siagian, (2009:132) peranan pemerintah pada umumnya dapat dilihat dalam beberapa bentuk fungsi yaitu fungsi pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum, fungsi penegakan hukum, fungsi perumusan kebijakan umum dan fungsi pengaturan. Dalam konteks peranan pemerintah dalam pelayanan publik, fungsi sentral pemerintah disini adalah sebagai agen dan perumus solusi berbagai masalah yang dihadapi oleh pemerintah itu sendiri maupun masyarakat secara umum sebagai objek sasaran yang dilayani oleh pemerintah.

Salah satu upaya mencari solusi permasalahan yang dihadapi masyarakat maka pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara sehingga keteraturan sosial dapat tercapai dengan baik. Salah satu tujuan dari diadakahnya evaluasi kebijakan publik adalah untuk mengetahui tingkat efektifitas suatu kebijakan publik dan untuk mengetahui apakah kebijakan itu dapat dikatakan berhasil atau gagal dalam mencapai tujuannya serta memenuhi aspek akuntabiltas publik.

1. Peran Pemerintah Sebagai Pembuat Kebijakan (Regulator)

Peran pemerintah dalam pengelolan sampah peneliti lihat berdasarkan teori yang menjelaskan dua indikator yang disebutkan oleh Fiona dalam Tri Kharisma Jati; yakni; pemerintah sebagai pembuat kebijakan (regulator) dan sebagai (service provider).

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan yakni membuat aturan berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Selain itu, peran pemerintah sebagai pengatur kebijakan juga dapat dilakukan dengan pembinaan dan pengawasan kinerja. Terdapat Peraturan Bupati Sikka Nomor 36 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka yang merupakan bentuk representasi kepatuhan pemerintah daerah terhadap ketetapan pemerintah pusat. Selain itu juga terdapat Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Sampah yang menjadi pedoman pengelolaan persampahan. Serta Peraturan Bupati Sikka Nomor 43 Tahun 2017 Tentang Peninjauan Tarif Retribusi Pelayanan Persampahan di Kabupaten Sikka.

Sesuai wawancara dengan informan Bapak Drs. Silvester Saka selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka sebagai berikut :

“…Kebijakan sudah ada Perbup Nomor 16 tahun 2016 tentang Pengelolaan Sampah dimana masyarakat Sikka sudah dilarang melakukan pembuangan sampah sembarangan dan melakukan pembakaran sampah. Kemudian ada juga Perbup Tarif Retribusi Pelayanan Persampahan Nomor 43 Tahun 2017...” (Wawancara, 25 Agustus 2021)

Dokumen terkait