• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTURAN ESTETIS DALAM DIRI

Dalam dokumen BUKU ESTETIKA - Edisi Kedua (Halaman 38-44)

H. Benturan Estetis

I. BENTURAN ESTETIS DALAM DIRI

Nilai estetis adalah istilah lain bagi nilai keindahan.

Pengertian dari Nilai Estetis ini adalah suatu nilai keindahan yang melekat pada karya-karya seni atau pun objek seni. Suatu karya seni dapat mengakibatkan benturan estetis, didukung, seperti kasus kartun Nabi Muhammad. Nilai estetis sebagai paramenter penentu selera keindahan atau kejelekan sangat dipengaruhi oleh ideologi yang tengah diterapkan pemerintah. Dengan demikian, penerapan ideologi Liberalisme, Sosialisme, atau Islam akan berimbas pada penguatan nilai estetis yang dirasakan masyarakat. Jika kini nilai estetis islam banyak direndahkan ketika terjadi benturan dengan nilai estetis liberal, ini terjadi karena negara tengah umat Islam, maka penerapan ideologi Islam secara menyeluruh dalam bingkai negara khilafah menjadi persyaratannya.

Kemunculan estetetis baru yang diakibatkan oleh pertemuan dua nilai estetis yang berbeda ini mirip dengan konsep akulturasi.

Akulturasi merupakan suatu proses sosial yang timbul mana kala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok sendiri.

Beberapa karya seni mampu memicu benturan atau kontroversi. Berikut ini adalah sebagian contoh diantara sederet kasus yang serupa.

Kartun ciptaan Kurt Westergaard yang menggambarkan Nabi Muhammad dengan bom dalam sorban diprotes masyarakat Muslim diberbagai negara. Sebaliknya, masyarakat liberal Eropa memujanya sebagai pejuang kebebasan pers. Kanselir Jerman Angela Merkel memberinya penghargaan dalam acara M100 Media 2010.

Pertentangan juga terjadi dalam menanggapi lukisan abstrak di Indonesia tahun 1960an Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), onderbow PKI, menentang perwujudan seni abstrak karena tidak dapat digunakan sebagai alat perjuangan politik. Sebaliknya, seniman dan budayawan Manifesto Kebudayaan (Manikebu) membela karya abstrak dan segala bentuk kebebasan ekspresi lainnya.

Seniman Pramomono yang memilih yang memilih nilai estetis liberal, sedangkan Amir Hamzah memilih nilai estetis Islam ketika terjadi benturan dalam diri. Awalnya ia tidak sungkan untuk melukis figur manusia, bahkan ia juga pernah menggambar wanita telanjang. Akan tetapi ia juga pernah mempelajari hukum islam tentang larangan melukis makhluk hidup, maka ia tidak lagi melukis figur manusia. Diantara banyak hadis tentang pelarangan, salah satu yang dibaca Amir adalah hadis riwayat Imam Muslim tentang seorang pelukis yang meminta fatwa kepada Ibnu Abas berkata akan aku beritakan apa yang kudengar dari

Rasulullah saw bersabda, ‘semua tukang gambar di neraka, dan dijadikan baginya setiap yang digambar satu jiwa (ruh) yang menyiksanya di Jahannam”. Maka Amir menghindari penggambaran figur makhluk hidup dan melukis abstrak.

Pengalaman estetis adalah bagian terpenting dari pengalaman perjumpaan dengan karya-karya seni. Setiap pengalaman estetis selalu melibatkan sebuah fenomena, entah itu

objek atau sekumpulan objek, kejadian-kejadian yang berulang, seuntai melodi, dan semacamnya yang dialami sebagai yang memiliki bentuk ideal tertentu.

Gambar 1.9 Lukisan Amir Hamzah tahun 2008, dibuat setelah benturan estetis dalam diri; abstrak tanpa figur manusia.

Adapun contoh benturan dalam diri antara dua nilai estetis berbeda yang kemudian menghasilkan nilai baru terdapat dalam wayang kulit. Benturan pada seni tradisional ini tidak sekedar terletak pada seorang individu tapi ada di beberapa individu yang terangkum dalam satu kesatuan historis dan sosiologis, dengan demikian dapat dikatakan sebagai masalah benturan nilai estetis dalam diri masyarakat.

Sampai di sini, kita dapat menarik tiga kesimpulan berikut.

Pertama, sumber dari pengalaman estetis sebenarnya ada di dalam pikiran dari sang seniman yang menciptakan benda seni dan subjek yang mengalami keindahan karya seni, dan bukan bersifat inheren di dalam objek seni itu sendiri. Kedua, hanya karya seni yertentu yang mengakibatkan rasa seni tersebut memicu pengetahuan batin atau perasaan yang diasosiasikan dengan

pengetahuan ideal universal mengenai keindahan. Ketiga, pengetahuan estetis memang melibatkan sikap tanpa pamrih atau pengambilan jarak dalam arti kemampuan subjek menangguhkan dari dalam dirinya semua prasangka, kenyamanan psikologis, dan kerelaan memberikan diri kepada pengalaman keindahan itu sendiri.

Cerita Ramayana dan Mahabarata yang diangkat dalam cerita wayang mengindikasikan bahwa wayang menggunakan nilai estetis yang berasal dari Hindu. Secara historis, wayang telah berkembang di Nusantara ketika kerajaan Hindu berkuasa;

Balitung dari Kerajaan Mataram Kuno. Dengan mempertimbangkan peristilahan teknis, wayang telah dikenal dijawa pada tahun 784. Raja Balitung adalah pemrakarsa pembangunan Candi Prambanan yang memuat berbagai macam relief dengan cerita Ramayana.

Selanjutnya,ketika islam masuk ke Nusantara ajarannya mempengaruhi visual wayang. Pada tahun 1930-an Kanjeng Pangeran Aryo Kusumodilogo dalam Sastromirudo membahas wayang pada periode Majapahit akhir di tahun 1433 wayang dan gamelan dalam buku fiqih adalah haram.

Para wali saling membantu mencipta wayang agar menghilangkan wujud gambar (manusia/makhluk hidup) wajah wayang dibuat miring, tangan dibuat panjang menyatu dalam upaya lain, untuk menghindari penggambaran makhluk hidup, leher wayang “versi islam”diberi garis sebagai tanda bahwa wayang tersebut telah disembelih atau bukan bentuk makhluk hidup lagi. (gb.1.11)

Gambar 1.10 Wayang Kulit dengan goresan pada leher yang menandakan telah disembelih, menghindari penggambaran makhluk hidup; seni akulturatif

Namun demikian, kendati wayang digunakan walisanga sebagai alat penyebaran agama islam, dan sampai sekarang kadangjuga disisipi dakwah islam, sejauh wayang tetap membawakan nilai-nilai Mahabarata atau Ramayana dari Hindu, maka tidak dapat dikatakan sebagai objek estetis yang sepenuhnya berdasar nilai estetis Islam, dengan kata lain artefak tersebut tidak islami. Dengan demikian wayang merupakan bentuk akulturasi, atau melahirkan nilai estetis baru.

Jadi, manusia dan seni merupakan estetis yang tidak dapat dipisahkan. Manusia yang berkarya seni atau sebut saja seniman, berkreasi sesuai dengan daya estetis yang dimilikinya.

Dengan daya estetis ini seniman memberikan deformasi estetis atas objek-objek karyanya.

Manusia lain (penikmat) akan menikmati keindahan yang ditampilkan dalam karya seni. Proses penikmatan estetis tersebut melibatkan beberapa hal, seperti; rasa, fantasi, dan kesadaran.

Proses-proses tersebut bersifat filosofi, artinya melibatkan

ontologi yaitu suatu dibelakang yang riil. Indra penglihatan untuk melihat keindahan seni visual (seni rupa) dan indera pendengar musik , atau keduanya.

BAB II

Dalam dokumen BUKU ESTETIKA - Edisi Kedua (Halaman 38-44)