BAB II SPEKTATOR
A. Tinjauan Teori Pengalaman Estetis
1. Disinterested
Disinterested atau ‘tanpa pamrih’ merupakan teori pengalaman estetis yang terkenal sekaligus banyak dikritisi sejak awal abad ke-18, istilah ini telah digunakan, misalnya oleh Shaftesbury, namun baru meluas setelah dipakai Immanuel Kant pada tahun 1790 dalam Critique of Judgment. Teori ini mensyaratkan bahwa ketika subjek mengalami keindahan pada sebuah objek berarti ia tidak sedang berharap keuntungan atau
pamrih apapun dari objek tersebut. Prettejohn mencontohkan, disinterested dalam menikmati pemandangan atau musik terjadi sejauh sang penikmat tidak bermaksud mengambil keuntungan darinya, seperti untuk memiliki tanah pada pemandangan itu atau untuk memproduksi rekaman lagu. Sementara itu, contoh disinterested yang diajukan Djelantik adalah ketika seseorang yang menikmati keindahan bentuk dan warna pisang maka tidak disertai keinginan untuk memakannya. Tentu saja, contoh semacam itu dengan cepat dapat dibuat, misalnya, ketika seseorang sedang menikmati keindahan patung berarti tidak disertai niatan lain, seperti keinginan menjual patung itu agar mendapat keuntungan besar. Keadaan disinterested tergambar dalam lukisan Caspar David Friedrich berjudul wanderer above the Sea of Fog. Dalam lukisan ciptaan tahun 1818 itu(gb.2.1) terlihat seseorang yang sedang tertegun saat melihat pemandangan luas berkabut yang indah sekaligus penuh misteri.
Namun demikian, filsafat Kant yang mengantarkan ke pemahaman disinterested tidak sesederhana contoh di atas dan disinterested hanyalah bagian kecil dari seluruh konstruksi pemikirannya. Tulisan Kant kadang dinilai terlalu abstrak karena hampir tanpa ilustrasi atau contoh kongkrit. Gagasannya mesti dipahami dengan mempertimbangkan pemikiran filsafat yang berkembang saat itu.
Gambar 2.1 Wanderer above the Sea of Fog
karya Caspar David Friedrich; gambaran disinterested
a. Filsafat Immanuel Kant menuju Disinterested Gagasan Kant tumbuh di tengah bentrokan pemikiran antara Rasionalisme Jerman dengan Empirisme Inggris dan ia berusaha menjembataninya. Rasionalisme beranggapan bahwa ada prinsip dasar yang melandasi akal manusia. Prinsip itu diperoleh dengan metode dedukasi dan tidak perlu diraih melalui pengamatan empiris, bahkan pengalaman empiris bergantung pada rasio. Kaum rasionalisme diidentikkan dengan dengan Rene Descartes, Spinoza, Leibniz, dan Wolf. Meskipun akarnya dapat ditelusuri sejak filsuf klasik semacam plato. Bertentangan dengan Rasionslisme, Empirisme mensyaratkan pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Penjaga gawang aliaran ini adalah francis bacon, Thomas Hobbes, john locke, Berkelay, dan terutama David Hume. Di antara para filsuf tersebut, Hume menepati posisi istimewa bagi kant, karena menurutnya Hume telah membangkitkan tidur dokmatiknya.
Dari puluhan karya kant terdapat tiga buku penting yang diperlukan untuk memahami pemikirannya. Ketiga tulisannya yang diawali dengan kata “kritik” itu adalah: Kritik atas Rasio Murni (Critique of pure Reason atau kritik der Reinen vernunft) yang terbit 1781, Kritik atas Rasio praktis (critique of practical reason atau kritik der praktischen vernunft) yang dilangsir tahun 1788, dan kritik atas pertimbangan (critique of judgment atau kritik der urteilskraft) yang muncul di tahun 1790. Penggunaan tern “kritik” merupakan upaya untuk membuka ilusi akal yang
dapat merupakan batas kemampuannya, singkat kata tidak dogmatis. Secara umum ketiga tulisannya terkait dengan epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan. Lebih khusus, tulisan pertama berhubungan dengan ilmu pasti; buku kedua membicarakan etika; dan naskah ke tiga berkaitan dengan estetika.
Selaras dengan upaya mendamaikan rasionalisme dengan empirisme, kant menerima bentuk pemberitahuan yang bersifat a peiori maupun a posteori. a priori berarti pengetahun yang tidak membutuhkan pengalaman empiris, atau telah ada sebelum pengalaman. Sebaliknya, aposteori merupakan pengatahuan yang berdasarkan pengalaman faktual.
Pada kritik atas rasil murni, kant menggunakan istilah keputusan (judgemen) sebagai operasi pikiran yang menghubungkan subjek dengan predikat. Filsuf kelahiran 1724 itu membedakan tiga tipe keputusan, yaitu “analitis a priori”, “sintesis a post teriori”, dan “sintesis a priori”. Keputusan analitis a priori merupakan keputusan yang predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek karena sudah terkandung di dalamnya, misalnya pada kalimat, “setiap benda menempati ruang”. Keputusan sintesis a post teriori adalah keputusan yang predikatnya menambah sesuatu yang baru pada subjek karena tidak terkandung dalam subjek, dengan kata lain predikat dihubungkan dengan subjek setelah (post) pengalaman inderawi, contohnya, “patung itu besar”. Keputusan sintesi a priori adalah keputusan yang predikatnya menambah sesuatu yang baru pada subjek, namun keputusan ini dibuat berdasarkan unsur a priori saja, misalnya
“setiap kejadian mempunyai sebab”. Pada contoh ini, subjek
“kejadian” mengandung predikat “sebab”, namun putusan itu tidak dibuat berdasarkan pengalaman mengindera pada seluruh
“kejadian” menurut kant, jenis keputusan yang terakhir ini
menjadi syarat dasar pengetahuan, karena bersifat umum, dan memberikan pengertian baru. Keputusan ini melandasi ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam. Proses sintesis dengan unsur a priori, menurut kant, terjadi dalam tiga tingkatan.
Tingkatan pertama, yang terendah, adalah pencerapan inderawi (sinneswahrnehmung) selanjutnya tingkat akal budi (verstand), dan rasio (versnunft) yang menempati tingkat tertinggi.
Ditingkat pencerapan inderawi, unsur a priori. Menurut kant, peluang dan waktu bukan sesuatu yang objektif yang dialami, namun semua pengalaman empiris selalu hadir dalam ruang dan waktu. Selain itu, ia percaya pada keberadaan realitas yang terlepas dari subjek, atau “benda pada dirinya sendiri” (das ding an sich). Akan tetapi realitas ini disebut numena (noumenon), tidak dapat di endera. Realitas yang diamati adalah penampakan (phenomenon). Fenomena ini merupakan sintesis antara materi dengan ruang dan waktu. Bentuk murni sensibilitas sebuah syarat apriori yang diperlukan bagi pengolahan objek yang disampaikan lewat intuisi inderawi ini disebut “transendental estetis” (aesthetic transcendenta ).
Tahap akal budi bertugas menyusun dan menghubungkan data inderawi dengan bentuk a priori yang oleh kant diberi nama kategori ( kategorie ). dalam hitungannya terdapat dua belas kategori yang dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu, pertama, kuantitas: kesatuan, kemajemukan, dan keutuhan; kedua, kualitas: realitas, negasi, pembatasan; ketiga, relasi:substasi, kausalitas, resiprositas; dan keempat, modalitas: kemungkinan, peneguhan, keniscayaan. Data inderawi akan berhubungan dengan kategori yang sesuai misalnya, air yang mendidih setelah dipanaskan akan berada dalam kategori kausalitas; lalu keputusannya adalah, “air mendidih karena dipanaskan.”
Ditahap rasio terjadi penarikan kesimpulan dari keputusan – keputusan yang telah dibuat akal; ini disebut argumentasi.
Pembentukan argumentasi berdasarkan pada tiga ide yang bersifat a priori, yaitu ide jiwa (psikologis), ide dunia( kosmologis), dan ide tuhan (teologis). Ide jiwa merupakan gagasan mutlak yang melandasi segala gejala batin. Ide dunia menyatukan gejala lahiriyah. Ide tuhan, menurut kant, melandasi segala gejala, baik batiniyah maupun lahiriyah, yang terdapat dalam suatu pribadi mutlak ketiganya merupakan postulat yang berada diluar jangkauan pembuktian teoretis-empiris.
Selanjutnya, kritik atas rasio praktis menimbang tentang perbuatan manusia. Ketika membahas pengetahuan, kant mengakui keterbatasan manusia; sebaliknya, tentang moralitas ia menunjukkan potensi manusia untuk mengatasi keterbatasan. Kant berpendapat setiap orang mempunyai “rasio praktis” yang bersifat priori, yaitu kemampuan untuk memahami apa yang benar dan yang salah; kemampuan itu tidak di pelajari tapi terlahir dalam pikiran (pendapat ini tentu saja dapat diperdebatkan, karena benar/salah – atau lebih tepat baik/buruk – selalu terkait dengan worldview; sementara worldview berdasarkan pada pemahaman).
Menurut kant, rasio praktis mengatakan apa yang harus dilakukan atau bertindak sebagai pemberi perintah kepada kehendak manusia. Perintah yang mutlak dan tidak bersyarat ini disebut
“imperatif kategoris”. Rasio praktis ini bertumpu pada tiga postulat, yaitu kebebasan kehendak, imortalitas jiwa, dan keberadaan tuhan.
Kemudian, berbeda dengan kritik atas rasio murni yang menyintesiskan antara pengalaman inderawi dan akal, dan kritik atas rasio praktis yang meracik antara tindakan pribadi dengan kaidah-kaidah umum, kritik atas daya pertimbangan memadukan
antara kesan-kesan dari luar dengan penilaian subjektif. Buku kritiknya yang terakhir ini dibagi dalam dua bagian. Pada bagian pertama, “kritik atas Daya Pertimbangan Estetis” (“critique of teleological judgement”). Terkait dengan teologis atau finalitras.
Menurutnya, perasaan senang atau tidak senang terkait dengan keberhasilan mencapai tujuan.
Kant menyatakan, keputusan citarsa (judgement of taste) tentang indah atau jelek tidak bersifat logikal tapi estetikal.
Pemahaman jenis ini berada dalam ranah subjektif, terkait dengan perasaan puas atau tidak puas. Kepuasan yang dihasilkan oleh keputusan citarasa inilah yang oleh kant disebut disenterested; dan objek yang dapat membangkitkan komndisi disenterested disebut objek yang indah. Ini dapat dibedakan dengan kepuasan yang timbul karena dibangkitkan oleh objek yang berdaya guna atau bermanfaat sebagai sarana tetentu; maupun kepuasan pada objek yang secara moral dibutuhkan; dan kepuasan semacam itu dipandang memiliki interest( pamrih).
“Interest” dalam pandangan kant berhubungan dengan keinginan subjek terhadap ekistansi nyata suatu objek. Memiliki pamrih terhadap sesuatu berarti memiliki kehendak pada sesuatu yang nyata keberadaannya atau paling tidak memiliki keinginan pada keberadaanya.
Terkait dengan itu Noel Carrol menyatakan, disinterested dibedakan dengan noninterested atau without interest (tanpa tujuan apapun), karena bagaimanapun pada disinterested tetap memiliki tujuan (interest), yaitu pada objek estetik itu sendiri.
Dengan demikian disinterested berarti “tanpa tujuan tersembunyi”
(interested without ulterior purpose).
b. Respon terhadap Teori Disinterested
Dalam pandangan Prettejohn, konsekuensi penerimaan teori disinterested berarti pengabaian terhadap kaidah, aturan, perbandingan, klasifikasi, atau norma yang ada dalam karya seni, padahal sebelum teori itu ditelorkan parameter tersebut telah lama digunakan sebagai tolak ukur. Kebanyakan teori seni, paling tidak sejak zaman Renaissance, menunjukkan keyakinan kuat bahwa seni lukis berperan penting sebagai penyampai petua atau catatan historis. Karya-karya yang memuat konten seperti itu dipandang lebih tinggi jika dibandingkan, misalnya, dengan lukisan alam benda. Disinterested mengeliminasi perbedaan itu. Teori ini tidak lagi membedakan antara lukisan sejarah dengan tema lainnya, hal yang dipertimbangkan adalah aspek keunikan visual, sementara seluruh kandungan makna diacuhkan.
Prettejohn mencontohkan, sebelum muncul teori disinterested, lukisan Oath oh the Horatii (gb.2.2) yang dibuat Jacques-Louis David tahun1918 dianggap lebih menilai ketimbang lukisan Glass of Water and Coffee Pot (gb.2.3) karya Jean- baptiste-simeon Chardin tahun 1760. Pertimbangannya ialah lukisan Chardin hanya melukiskan benda sehari-hari, sedangkan karya David mengangkat semangat perjuangan. Lukisan david bertutur tentang keluarga Horatii yang akan berperang melawan keluarga Curiatii dalam perang antara roma dengan alba sekitar tahun 669 SM. Tiga anak laki-laki dari keluarga Horatii yang ada di pihak Roma bersumpah dibawah pedang ayahnya untuk maju berperang melawan keluarga Curiatii, padalah kedua keluarga itu
terjalin dalam hubungan keluarga. Salah satu anak laki-laki Horatii beristri anak Curiatii, dan salah satu putri Horatii bertunangan dengan putra Horatii. Kendati mengandung isi yang demikian kompleks, dengan teori disinterested, lukisan David dipandang sama dengan lukisan Chardin.
Gambar 2.2 Oath of the Horatii karya jacques-Louis David;
mengandung banyak kisah
Gambar 2.3 Glass of Water and Coffe Pot karya Jean-Baptiste-Simeon Chardin; benda sehari-hari
Lebih dari itu, walaupun apa yang dilakukan Kant adalah mengklasifikasikan berbagai jenis keputusan (pengetahuan), seperti model keputusan moral dan keputusan keindahan, efeknya dapat lebih dari itu, yaitu terjadi pemisaha antara persoalan antara
keindahan atau estetika degan persoalan moral atau etika.
Akibatnya, persoalan keindahan dalam seni dipisahkan dari moralitas. Matius Ali, misalnya, menulis bahwa keputusan atau pertimbangan tanpa pamrih tidak tergantung pada moralitas, manfaat, keuntungan pribadi, atau keputusan indrawi.
Konsekuwensinya, apkah karya seni akan merusak mental anak- anak atau tidak lah pertimbangkan. Padahal, diberbagai kebudayaaan, nilai stetika banyak dikaitkan dengan pertimbangan moral atau semacamnya.
Beberapa stetikus tidak sepakat dengan teori disinterested yang melepaskan unsur logika dalam pengalaman yang stetis.
Nelson Goodman menyakini bahwa pengalaman stetis adalah salah satu jenis pemahaman kognitis, Goodman menyatakan bahwa pemisahan emosi dan pemikiran adalah kesalahan serius.
Eaton juga mengatan bahwa pikjiran dan perasaan bekerja pengalaman stetis. Menurutnya, ketika seseorang mrencermati objek stetis berarti tengah menjalani sebuah tujuan ( interest ).
tentang ketrerkaitan antara emosi dan pemahaman dalam pengalaman stetis akan menjadi pembahasan.