BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI
2. Bermain
a. Pengertian Bermain
Menurut Hurlock (Mulyani, 2018 :138) arti dari bermain (play) merupakan aktivitas yang dilakukan secara suka rela serta tidak ada unsur paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.
Menurut Mulyani (2018 :137) bahwa “bermain merupakan dunianya anak- anak, bermain dan dunia anak tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena bermain dapat menawarkan kesenangan, kebahagiaan, serta canda tawa dalam kehidupan”.
Pendapat selanjutnya Menurut Musfiroh & Tatmaningsih (2015 :1.5) Bermain adalah “aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan diri sendiri sebagaiamana dilakukan dengan cara-cara yang sangat menyenangkan, tidak mempertimbangkan hasil akhir, fleksibel, aktif, serta positif”.
Dari beberapa pendapat tersebut bahwa dapat disimpulkan bahwa bermain adalah aktivitas yang sangat menyenangkan bagi anak usia dini serta memberikan kepuasan tersendiri bagi anak sehingga Anak dapat belajar memahami kehidupan dan orang-orang disekitarnya ketika anak melakukan aktivitas bermain.
b. Fungsi Bermain
Menurut Freud (Fauziddin, 2017 :7), bahwa dengan bermain serta berfantasi anak bisa mengemukakan harapan-harapan dan konflik serta pengalaman yang tidak diwujudkannya dalam kehidupan nyata.
Sigmun Freud berdasarkan teori Psychoanalytic, fungsi bermian yaitu
“untuk mengekspresikan dorongan implusif sebagai suatu cara agar mengurangi kecemasan yang berlebihan pada anak usia dini. Ditunjukkannya bentuk bermain berupa bermain fantasi serta imajinasi dalam sosiodrama ataupun pada saat bermain sendiri”.
c. Tahapan Bermain
Menurut Hurlock (Mulyani, 2018 :141) untuk tahapan perkembangan bermain pada anak usia dini sebagai berikut :
1. Tahapan Penjelajah (Exploratory Stage)
Aktivitas ini mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau ataupun meraih benda disekelilingnya kemudian mengamatinya. Menjelajah lebih luas ketika anak sudah dapat merangkak serta berjalan, sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.
2. Tahapan mainan (Toy Stage)
Tahapan ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 Tahun. Antara 2-3 Tahun anak bisanya hanya mengamati alat permainan dan biasanya terjadi pada usia prasekolah, anak di taman kanak-kanak, serta anak yang biasanya bermain boneka dan mengajaknya bercerita atau bermain seperti layaknya teman bermain.
3. Tahap Bermain (Play Stage)
Pada tahap ini biasanya terjadi secara bersamaan dengan masuk kesekolah tingkat sekolah dasar. Pada masa ini, jenis permainan anak bertambah semakin banyak dan bermain dengan menggunakan alat permainan yang lama
kelamaan berkembang menjadi games, olahraga, serta bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.
4. Tahap Melamun (Daydream Stage)
untuk tahap ini sering diawali ketika anak mendekati masa pubertasnya yang dimana anak mulai kurang berminat terhadap aktivitas bermain yang tadinya mereka sukai, serta mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Biasanya khayalannya berupa perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami orang lain.
d. Jenis-jenis Bermain
Menurut Fauziddin (2017:10) jenis bermain terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Bermain bebas
Diartikan sebagai aktivitas bermain yang dimana anak usia dini memiliki kebebasan dalam memilih berbagai benda ataupun alat permainan yang sudah tersedia dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan material ataupun alat bermain tersebut.
2. Bermain Terpimpin
Diartikan sebagai aktivitas bermain yang dimana seorang guru memiliki peranan dalam memilih material atau alat bermain yang sesuai dengan berbagai konsep. Misalnya ketika tujuan pembelajaran adalah mengelompokkan benda- benda yang besar ataupun kecil, maka guru akan menyediakan beberapa benda yang dapat dikelompokkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3. Bermain Terarah
Bermaian terarah merupakan aktivitas bermain yang dimana seorang guru meminta ataupun memerintahkan anak-anak dalam rangka bagaimana menyelesaikan suatu tugas khusus. Contoh dari bermain terpimpin ialah bernyanyi, bermain jari, serta beramin lingkaran.
3. Permainan Busy Book a. Pengertian Busy Book
Menurut Mufliharsi (2017: 1) busy book merupakan “buku yang terbuat dari sebuah kain yang berisi aktivitas permainan sederhana yang didesain kreatif sebagai alat peraga atau media pembelajaran”. Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Amaris dkk (2018 :10), busy book adalah “alat peraga dalam bentuk buku berbahan kain flannel yang dirancang untuk mengembangkan banyak aspek perkembangan anak”.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat diambil kesimpulan bahwa permainan busy book merupakan permainan interaktif berupa buku berwarna dengan dasar kain (bahan utama kain flannel) yang memiliki banyak aktivitas untuk meningkatkan banyak aspek perkembangan khususnya perkembangan bahasa pada anak usia dini.
b. Cara bermain Busy Book
Menurut Mufliharsi (2017 :151) bahwa dalam “penggunaan media busy book dilakukan dengan cara yang mudah seperti halnya menggunakan media
biasanya namun sangat menyenangkan. Berikut ini cara penggunaan media busy book.
1. Guru terlebih dahulu menjelaskan apa saja persiapan ataupun macam- macam gambar yang telah disesuaikan dengan tema pada halaman pertama busy book dengan bahasa penyampaian sesuai perkembangan usia anak.
2. Guru melakukan tanya jawab mengenai gambar-gambar yang ada pada busy book.
3. Guru melakukan penjelasan mengenai kegiatan yang ada pada busy book.
4. Guru memberikan kegiatan yang menyenangkan di dalam busy book.
5. Guru mengawasi anak ketika melakukan kegiatan dengan menggunakan permainan busy book.
c. Manfaat Penggunaan Busy Book Pada Anak Usia Dini
Menurut Mufliharsi (2017 :152) Permainan busy book memiliki manfaat diantaranya:
a) Meningkatkan kemampuan membaca pada anak, karena isi dalam busy book sangat menarik perhatian anak sehingga timbul minat baca pada anak.
b) Dengan busy book anak usia dini dapat mengeksplorasi kemampuan berpikirnya secara alamiah dengan bermain tanpa merasa sedang melakukan proses belajar.
c) Anak usia dini menjadi mandiri dan aktif, karena dorongan dan rasa ingin tahu yang besar ingin melakukan perintah yang diberikan oleh guru tanpa bantuan.
d) Penggunaan busy book sebagai media pembelajaran yang diharapkan mampu mempermudah guru dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik agar mereka aktif, antusias serta lebih termotivasi dalam kegiatan belajar dan menciptakan pembelajaran yang bermakna.
d. Kelebihan dan Kekurangan Busy Book
Setiap media pasti memiliki kelebihan yang menunjang suatu media tersebut. Selain kelebihan yang menunjang media tersebut juga terdapat kekurangan diantaranya: