BAB IX KARAKTERISTIK KULINER BETAWI
E. Bir Pletok
Bir pletok merupakan salah satu warisan kuliner Betawi. Hingga kini, bir pletok masih eksis di banyak perayaan Betawi salah satunya pernikahan. Dalam momen-momen tersebut bir pletok wajib hadir di pesta-pesta rakyat Betawi. Rasa manis, pedas, dan hangatnya yang khas menjadikan bir ini digemari masyarakat Betawi hingga turis asing. Perpaduan rasa khas bir pletok lahir dari 11 macam rempah yang ada di dalamnya. Resep asli bir pletok ada 11 macam rempah, yang pastinya ada di Betawi, atau Jakarta. Semua rempahnya punya peranan dan menghasilkan cita rasa berbeda-beda.
Gambar 13. Foto Peneliti (Hijab Krem, Tengah) Bersama Pedagang Kuliner Bir Pletok dalam acara Menyambut Tamu ASEAN Games
26 Agustus 2018
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bir pletok, yaitu jahe 250 gram, kemudian cengkeh, biji pala, lada, serai, dan kapulaga masing-masing tiga gram. Lalu kayu manis 30 gram, daun pandan tujuh lembar, daun jeruk enam lembar, serta gula manis satu kilogram.
Semuanya untuk membuat bir pletok sebanyak enam liter, sehingga sediakan air enam liter. Untuk warnanya sediakan kayu secang secukupnya. Selanjutnya jahe, biji pala, lada, kapulaga, dan serai digeprak hingga pecah atau hancur. Masukkan ke panci yang sudah berisikan air dan dipanaskan menggunakan api sedang. Selanjutnya masukkan rempah lainnya mulai dari daun pandan, daun jeruk, cengkeh, dan kayu manis. Sambil diaduk, masukkan juga gula sesuai selera manisnya. Satu rempah yang belum dimasukkan ialah kayu secang. Kayu secang sendiri berfungsi untuk pewarnaan. Semakin banyak semakin merah, tentu dengan kualitas secang yang bagus.
Kayu secang harus dimasukkan sendiri di akhir, dan dia sangat bergantung sama panasnya air supaya keluar warnanya. Jadi usahakan air sudah mendidih. Setelah mendidih, tutup panci dan diamkan selama 20-25 menit dalam keadaan kompor menyala. Taufiq menjelaskan ini berfungsi menyempurnakan warna dan rasa, mengeluarkan sari-sari rempahnya ketika suhu air mendidih. Setelah itu tiriskan dan siap dihidangkan.
Penyajian bir pletok bisa dalam keadaan hangat maupun dingin bergantung keinginan peminatnya. Kini bir pletok sendiri sudah bertransformasi dengan tersedianya dalam wujud sachet ataupun bubuk di pasaran. Bir pletok yang dijual di pasaran selain ukuran botol 500 ml dengan harga Rp 20.000, juga dijual kering dalam kemasan sachet. Adapun di Perkampungan Budaya Setu Babakan, bir pletok disajikan dalam bentuk botol dengan beragam ukuran, serta disajikan pula di gelas yang bisa diminum langsung oleh para pengunjung.
Gambar 14. Foto Kuliner Bir Pletok dalam kemasan botol dipamerkan dalam acara Menyambut Tamu ASEAN Games 2018
F. Kesimpulan
Berbicara karakter kuliner Betawi tidak terlepas dari menu makanan yang ada dalam masyarakat betawi, baik yang disajikan pada saat ada acara keluarga atau acara keramaian lain yang biasa dihidangkan oleh keluarga atau untuk menajamu tamu. Menu kuliner Betawi memiliki karakter sesuai dengan masyarakatnya. Misal kerak telur adalah penganan lezat yang biasa dimakan untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Termasuk bir pletok minuman ini selain sebagai obat juga untuk minuman kesegaran yang tentunya memiliki karakter yang kuat ada pada masyarakat Betawi.
ICON BUDAYA BETAWI
A. Ondel-Ondel
B. Bentuk/Desain
Wajah laki-laki berwarna merah, alis hitam tebal, berkumis dan terlihat ramah
Wajah perempuan berwarna putih, bermata hitam sayu, alis hitam melengkung, bulu mata lentik, bibir merah, telinga bergiwang atau beranting anting dan jidatnya bermahkota.
Pakaian ondel-ondel laki-laki berwarna gelap dengan model baju pangsi, berselempang kain bermotif batik Betawi serta menggunakan ikat pinggang dan bawahan kain batik Betawi.
Pakaian ondel-ondel perempuan memakai busana kebaya panjang atau baju kurung bermotif kembang-kembang dan bawahan kain batik Betawi dengan selendang atau selempang disangkutkan di pundak kiri ke arah pinggang kanan serta menggunakan ikat pinggang.
Rambut terbuat dari ijuk warna hitam.
Hiasan kepala yang disebut kembang kelapa (manggar) dengan jumlah 20 untuk perempuan dan 25 untuk laki-laki.
C. Filosofi/Makna Ondel-Ondel
Sebagai perlambang kekuatan yang memiliki kemampuan memelihara keamanan dan ketertiban, tegar, berani, tegas, jujur dan anti manipulasi.
D. Fungsi, Penggunaan dan Penempatan Ondel-Ondel
Sebagai pelengkap berbagai upacara adat tradisional masyarakat Betawi.
Sebagai dekorasi pada acara seremonial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, festival, pentas artis asing, pameran, pusat perbelanjaan, Industri Pariwisata, gedung pertemuan dan area publik yang memungkinkan dari aspek estetika dan keselamatan umum.
Penempatan di sisi kanan kiri pintu masuk, di lobi sebagai pelengkap foto (photo wall), di panggung pementasan atau dalam bentuk visual di LED/Videotron, atau di tempat lain sesuai estetika.
E. Kembang Kelapa (Manggar)
1. Bentuk/Desain
Bentuk kembang kelapa terbuat dari lidi yang dibungkus dengan kertas atau plastik warna-warni.
Ukuran kembang kelapa dan tiang penyangga disesuaikan penempatannya.
Jumlah kembang kelapa dari tiap tiang penyangga antara 60- 75 batang.
2. Filosofi/Makna
Filosofi untuk Kembang Kelapa (manggar) sebagai perlambang kemakmuran.
Sebagai simbol dari kehidupan manusia yang bermanfaat sebagaimana manfaat pohon kelapa.
Sebagai simbol sifat keterbukaan masyarakat dalam pergaulan sehari-hari.
Sebagai simbol tata warna (multikultur) kebudayaan yang hidup dan berkembang di Kota Jakarta.
3. Fungsi, Penggunaan dan Penempatan
Fungsi sebagai dekorasi statis yang memberikan nuansa megah, meriah dan penuh keceriaan pada berbagai kegiatan, baik di ruang terbuka maupun di ruang tertutup.
Digunakan sebagai dekorasi dinamis dan diletakkan di depan arak-arakan dalam festival, atraksi pariwisata, pentas seni budaya (kirab, ngarak penganten dan sebagainya).
Penempatan sebagai dekorasi statis diletakkan di samping kanan dan kiri pintu masuk, pada kanan kiri pelaminan, pada kanan kiri panggung, digantung di plafon dan pada titik-titik tertentu di dalam ruangan (aula, auditorium dan lain-lain) acara (resepsi, seminar, diskusi, dan sebagainya).
F. Ornamen Gigi Balang 1. Bentuk/Desain
Ornamen Gigi Balang berbentuk segitiga (cagak) karena merupakan gambaran dari bentuk gunung.
Bentuk ornamen Gigi Balang:
Tumpal
Wajik
Wajik susun dua
Potongan Waru
Kuntum melati 2. Filosofi/Makna
Sebagai perlambang gagah, kokoh dan berwibawa.
3. Fungsi, Penggunaan dan Penempatan
Fungsi sebagai dekorasi melalui media berbentuk lampu dan pengecatan serta media lainnya yang memungkinkan.
Penggunaan di bangunan tradisional Betawi, fasilitas publik, gedung bertingkat, gapura, panggung pementasan, stan pameran (booth) dan area lain yang memungkinkan dari aspek estetika dan keselamatan umum.
Penempatan pada bagian atas (lisplang) bangunan sesuai estetika dan keselamatan umum.
G. Baju Sadariah (Sadarie)
1. Bentuk/Desain
Baju longgar berleher tertutup (kerah Sanghai) lengan panjang dengan dua kantong tempel di bagian depan bawah baju.
Kopiah hitam polos sebagai penutup kepala (tinggi disesuaikan).
Kain sarung plekat terlipat rapi digunakan di leher.
Celana bahan warna gelap dengan sepatu pantofel atau celana komprang bermotif batik dengan sandal terompah.
2. Filosofi/Makna
Sebagai identitas lelaki rendah hati, sopan, dinamis dan berwibawa.
3. Fungsi dan Penggunaan
Fungsi dan penggunaan sebagai seragam karyawan berbagai kantor pemerintah dan swasta, industri pariwisata, sekolah dan berbagai acara seremonial, obyek dan atraksi pariwisata serta pentas seni budaya.
H. Kebaya Kerancang
1. Bentuk/Desain
Bahan kebaya dibordir kerancang dengan motif kembang pada bagian bawah kebaya dan pada pergelangan tangan.
Hiasan rambut dapat menggunakan sanggul dengan model Konde Bundar atau model lain yang disesuaikan dengan pemakainya.
Menggunakan kain sarung batik Betawi dengan kepala kain bermotif tumpal, tombak, buket dan sebagainya.
Alas kaki selop tutup.
Perhiasan yang dikenakan, antara lain: peniti rante susun tiga, anting air seketel atau giwang asur, gelang listering atau gelang ular, cincin bermata dan kalung tebar. Keserasian menjadi unsur penting bagi pemakaiannya.
2. Filosofi/Makna
Sebagai perlambang keindahan, kecantikan, kedewasaan, keceriaan dan pergaulan yang mengikuti kearifan, aturan dan tuntunan leluhur. Tujuannya untuk memelihara keanggunan dan kehormatan perempuan.
3. Fungsi dan Penggunaan
Fungsi dan penggunaan sebagai seragam karyawati berbagai kantor pemerintah dan swasta, industri pariwisata, sekolah dan berbagai acara seremonial, obyek dan atraksi pariwisata serta pentas seni budaya.
I. Batik Betawi
Pengelolaan batik Betawi adalah melakukan pemeliharaan dan pemasaran terhadap batik Betawi yang dapat mendatangkan sumber penghasilan bagi kelompok masyarakat pemilik tradisi. Pada zaman dulu, konon tempat usaha pembuatan batik berkembang sangat pesat dan subur di tanah Betawi seperti di daerah kawasan; Karet Tengsin, Palmerah, Kebon Kacang, dan Bendungan Hillir yang merupakan daerah-daerah produksi batik yang populer dan terkenal. Proses pembuatan batik pada dulunya dilakukan di rumah-rumah penduduk.
Karena industri batik yang berkembang pesat, maka pada waktu itu di daerah Jakarta pernah didirikan Koperasi Batik.
Namun sayangnya, setelah masa perjalanan cukup lama, produksi kain batik Betawi kian hari semakin menyurut. Hal ini disebabkan oleh pengembangkan tata kota Jakarta pada saat itu yang membuat semakin tingginya nilai harga tanah di Jakarta. Dan membuat daerah produksi batik ini tergusur oleh gedung-gedung
perkantoran serta pusat perbelanjaan, sehingga membuat para pelaku produsen batik Betawi rumahan harus memindahkan proses produksinya ke daerah Tangerang.
Gambar 15. Foto Motif Batik Betawi di UPK-PBB Setu Babakan
1. Bentuk dan Bahan
Batik Betawi berbentuk kain panjang dan kain sarung yang motifnya dikerjakan dengan tulis dan cap. Bahan kainnya berupa sutera, ATBM, prima, primis dan dobi.
Motif batik Betawi antara lain : Dododio, Mak Ronda, Rasamala, Nusa Kelapa, Lereng, Ondel-Ondel, Pesalo, Salakanagara, Albetawi, Kodangdia, Langgara, Warakas, flora fauna asli Betawi, Daun Tarum, Nderep, Kampung Marunda, Ngeluku (Bajak Sawah), Ngelancong/Bedemenan, Nandur, Burung Hong, Numbuk Padi, Baritan, Sulur Jawara, Ronggeng Uribang, Galur Ondel-Ondel, Kuntul Blekok, Payung Cokek, Ulung-Ulung, Bondol Biru dan lain-lain.
2. Filosofi/Makna
Sebagai keseimbangan alam semesta untuk memenuhi hidup yang sejahtera dan berkah.
3. Fungsi dan Penggunaan
Fungsi dan penggunaan sebagai seragam karyawan/karyawati berbagai kantor pemerintah dan swasta, industri pariwisata, sekolah, dan berbagai acara seremonial, obyek dan atraksi pariwisata serta pentas seni budaya.
4. Pengolahan Batik Betawi
Pengelolaan batik Betawi pada komunitas Batik Setu Babakan yang dilaporkan oleh Syaiful Amri (53 Tahun) pengurus yayasan keluarga batik Betawi Setu Babakan dengan bantuan laporan dari K.H. Wahiuddin Sakam, H. Tatang Hudayat S.H., Sumiati Adi Susilo, Pengurus, Ketua: Yahya Andi Saputra, Sekretaris: Rudi Haryanto bahwa pengelolaan batik Betawi di Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK- PBB) Setu Babakan terlihat sudah mulai berjalan. Pihak pengelola menggandeng para pengrajin batik Betawi agar mereka dapat berpartisipasi dan berperan aktif menghidupkan batik Betawi di UPK-PBB Setu Babakan. Hal tersebut berdasarkan wawancara peneliti dengan pengelola UPK-PBB Setu Babakan, Bapak Syaiful Amri pada 06 Juni 2018. Adapun transkrip wawancaranya adalah sebagai berikut.
Batik atau seni batik, di Betawi telah berkembang sejak abad 19. Sejak itu hingga masuk abad ke-20, semua batik yang dihasilkan ialah batik tulis. Sementara batik cap –orang Betawi menyebutnya batik ceplok– dikenal setelah perang dunia I sekitar tahun 1920. Batik Betawi berkembang sejak abad ke 19.
Motifnya mengikuti gaya batik pesisiran (Gresik, Surabaya, Madura, Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon). Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar di dekat Tanah Abang yaitu: Karet Tengsin, Karet Semanggi, Bendungan Ilir, Bendungan Udik, Sukabumi Ilir, Pelmerah, Petunduan, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.
Salah satu nama motif batik Betawi yang cukup masyhur adalah Bambu Kuning, Sèsèr Gerimis, Elèr Kembang-Kembang, Iket Buketan, dan lain-lain. Sayang memang, generasi terakhir pembatik batik itu, batik Bambu Kuning misalnya, meninggal tahun 1990-an. Semula motif yang dipakai adalah motif flora khas pesisir. Pewarnaan pun secara alamiah. Batik Betawi tidak digunakan oleh kelas sosial tertentu.
Fungsi batik terutama di komunitas dan masyarakat Betawi utamanya orang Setu Babakan sangat penting. Batik dipakai sebagai pakaian harian maupun khusus. Yang khusus tentu bahannya kualitas bagus. Di masyarakat Betawi, batik tentu memiliki fungsi sesuai status sosial pemakainya. Meski motifnya sama, tapi kualitas bahannya berbeda. Umumnya motif tumpal menjadi kekhasan batik Betawi. Motif ini melambangkan keseimbangan hidup. Masyarakat Betawi, khususnya yang tinggal di Setu Babakan memanfaatkan batik untuk tujuannya yang sama, keindahan dan kesopanan berpakaian. Lebih lanjut bahwa nilai pada motif batik Betawi secara universal sama saja.
Nilai memelihara lingkungan, nilai silaturahmi, nilai gotong royong, nilai keteguhan, nilai kebenaran, nilai identitas, dan sebagainya. Saat ini tercatat sudah lebih dari 100 corak batik Betawi dan tentu sesuai dengan pakem dan sesuai dengan karakter hidup orang Betawi. Misalnya kebersamaan, keterbukaan, agamis, cinta lingkungan, dan sebagainya.
Melihat potensi yang besar batik Betawi, maka produk budaya ini wajib menjadi perhatian serius dengan program- program yang sistematis dan berkelanjutan. Program batik Betawi di setu babakan bertujuan pemberdayaan masyarakat.
Jika kesadaran masyarakat sudah kuat dan baik dengan proses ini, tentu akan melahirkan UKM-UKM mandiri. Sampai saat ini kami masih membina masyarakat agar memiliki ketetapan hati bergiat di per batikan. Namun sayangnya, binaan dari dinas UKM belum ada. Para pegiat batik Betawi saat ini berbuat dari mereka dan untuk mereka. Tentu mereka ingin mengelola
secara modern. Salah satu langkah yang mereka lakukan adalah dengan membuat struktur organisasi, sudah legal secara hukum, artinya sudah berakta notaris, sudah terdaftar di Kemenkumham, dan sudah melengkapinya dengan ketentuan administratif lainnya.
Pemasarannya ditempuh dengan berbagi cara, baik cara modern seperti online dan media sosial; juga dengan cara tradisional, seperti getok tular. Tapi umumnya masih terkendala dengan ketiadaan galeri dan tempat pamer atau kios. Selain itu, masalah pemasaran yang peneliti temukan adalah belum tersedianya informasi melalui website yang secara khusus menginformasikan produk batik Betawi di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Galeri yang representatif dan ketersediaan media website dapat menjawab keingintahuan masyarakat tentang batik Betawi dan untuk menjawab permintaan pasar cukup tinggi dan tentu disesuaikan dengan pasar kelas menengah bawah.
Proses pengelolaan batik Betawi di rumah Yayasan Batik Setu Babakan hampir sama dengan batik lainnya. Dimulai dari menggambar motif pada kertas yang kemudian dijiplak ke kain untuk batik tulis, atau dicetak motifnya pada tembaga untuk batik cap. Bicara soal batik Betawi, tepat rasanya untuk langsung belajar dari Keluarga Batik Betawi (KBB) yang berlokasi di Kampung Budaya Betawi, Setu Babakan, Jakarta Selatan. Ditemui di sela-sela kerja, Ade selaku pemimpin KBB menceritakan proses, ragam motif, hingga pemasaran Batik Betawi. Hampir sama dengan batik lainnya, batik Betawi juga memiliki batik tulis dan batik cap. Proses pembuatan keduanya hanya berbeda di pengerjaan setelah motif selesai digambar.
Untuk batik tulis sendiri, nantinya motif akan dijiplak ke kain sepanjang 2 hingga 2,5 meter. Sedangkan untuk batik cap, motif akan dibuat dari bahan tembaga.
Gambar 16. Foto Pengelolaan proses menggambar corak Batik Betawi pada 29/05/18 di Rumah Yayasan Batik Setu Babakan
Motif Batik Betawi sendiri memiliki keunikan karena banyak terinspirasi dari lingkungan Jakarta dan kekayaan budaya Betawi. Seperti Pantai Ancol, ondel-ondel hingga makanan khas Kembang Goyang dan Akar Kelapa. Ade (34 tahun) menjelaskan, motif Batik Betawi lebih dinamis dan modern dibandingkan motif batik dari kebudayaan lain. Selain itu, banyak motif yang tidak memiliki arti filosofis tertentu.
“Paling ondel-ondel yang dianggap bisa mencegah hal negatif, atau warna cerah sesuai dengan orang Betawi yang ceria,”
tambahnya. Ade juga menyebut bahwa ondel-ondel menjadi motif yang paling digemari pembeli. Untuk pembuatan motif, batik tulis dan batik cap memiliki perbedaan ukuran. Motif batik tulis dapat berukuran 60 cm hingga 70 cm. Sedangkan untuk motif batik cap, hanya berukuran 18 cm x 18 cm. Oleh karena itu, pemindahan motif untuk batik tulis dapat memakan waktu hingga 3 bulan, dibandingkan batik cap yang hanya butuh sekitar 3 hari. Setelah motif dipindahkan ke kain, proses selanjutnya yakni pewarnaan.
Di Perkampungan Budaya Betawi, Ade mengaku hanya memakai pewarna alami yang didapat dari secang untuk warna merah, tingi untuk warna merah pekat, tegeran untuk warna kuning cerah, jelaweh untuk warna kuning pekat, dan indigo untuk warna biru. Untuk bagian kain yang ingin dipertahankan warna merahnya, pengrajin batik menutup bagian tersebut dengan lilin. Setelah tertutup, bagian yang terbuka dapat diwarnai kembali. Kemudian, kain siap untuk proses pelepasan lilin dengan cara direbus.
Gambar 17. Foto Pengelolaan proses membatik Batik Betawi 29/05/18 di Rumah Yayasan Batik Setu Babakan
Gambar 18. Foto Pengelolaan proses membatik Batik Betawi 29/05/18 di Rumah Yayasan Batik Setu Babakan
Gambar di atas perajin menyelesaikan pembuatan batik khas Betawi di rumah produksi Keluarga Batik Betawi, kawasan budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. Kain batik usaha rumahan dengan motif khas Betawi seperti ondel-ondel, bunga manggar dan Monumen Nasional (Monas) tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp 120.000 hingga Rp 350.000 per helai. Usaha ini juga untuk melestarikan keberlangsungan perajin batik tradisional yang keberadaannya mulai sulit ditemukan akibat banyaknya usaha sejenis dengan pola produksi lebih modern.
Gambar 19. Foto Pendataan jumlah batik Betawi di Produksi 29/05/18 di Rumah Yayasan Batik Setu Babakan
Gambar 20. Foto Pengelompokan jumlah dan jenis batik Betawi di Produksi 29/05/18 di Rumah Yayasan Batik Setu Babakan
Kain-kain batik yang sudah jadi, siap untuk dipasarkan. Di KBB sendiri, batik cap dihargai Rp 135 ribu hingga Rp 230 ribu.
Sedangkan untuk batik tulis, dapat mencapai Rp 10 juta, tergantung kepadatan motif dan waktu pengerjaan.
Gambar 21. Foto Peneliti (Hijab krem, kanan) mengunjungi sebuah stan Industri Kreatif Batik Betawi yang di pamerkan dalam acara
Pertunjukan 26/08/18 di PBB Setu Babakan
Adapun tujuan akhir dari penelitian ini adalah mendapatkan model karakter perkampungan budaya Betawi berupa bentuk pengelolaan pertunjukan yang mampu berkolaborasi dengan bintang komunitas tradisi yang telah memiliki jam terbang, tujuannya saling memberi pengalaman dan pengetahuan, termasuk penurunan atau pewarisan pertunjukan yang berkarakter dengan cara bertukar ilmu dalam pertunjukan antara pemain muda dengan senior. Selanjutnya untuk pengelolaan kuliner sudah dapat melakukan eksplorasi bentuk dan rasa makanan Betawi yang berkarakter Betawi, terutama yang baru membuka atau bergabung dengan kelompok kuliner di Setu Babakan. Cita rasa kuliner juga telah menghasilkan suatu cipta bentuk dan rasa yang dapat diterima oleh semua kalangan pengunjung Setu Babakan di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sementara untuk pengelolaan batik Betawi sudah mengusahakan batik yang dikelola secara modern.
Pencapaian ini diharapkan tidak cepat puas dengan pencapaian yang ada. Model pengelolaan yang dilakukan harus terus menerus guna menembangkan karakter Perkampungan Budaya Setu Babakan agar mampu bersaing dengan cagar desa budaya yang ada di wilayah lain di Indonesia. Untuk itu perlu kiranya dalam penelitian lanjutan perlu menuntaskan model bahan ajar karakter Perkampungan Budaya Betawi ini dengan melakukan diseminasi penelitian berupa adanya pengakuan para pakar, tokoh masyarakat betawi terhadap hasil penelitian ini berupa model dokumenter yang mampu dijangkau oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan Model karakteristik perkampungan Budaya Betawi sebagai model yang mendapatkan pengakuan oleh stakeholder dan masyarakat Betawi. Termasuk mengadakan publikasi nasional dan internasional guna menggaungkan hasil penelitian ini sebagai wujud memperkenalkan karakteristik Perkampungan Budaya Betawi sebagai perkampungan budaya Betawi yang mampu bersaing dan bermanfaat bagi masyarakat Betawi pada khususnya masyarakat Setu Babakan dan umumnya masyarakat Betawi di DKI Jakarta maupun di luar DKI Jakarta bahwa mereka memiliki peradaban budaya dengan karakter dan identitas sendiri.
J. Kerak Telor 1. Bentuk dan Bahan
Beras ketan putih
Garam
Merica bubuk
Kelapa muda parut yang disangrai (serundeng)
Telur ayam/telur bebek
Ebi
Bawang goreng 2. Filosofi/Makna
Sebagai sisi kehidupan manusia yang mengalami perubahan lingkungan secara alamiah. Kerak Telor sebagai perlambang pergaulan yang harmonis.
3. Fungsi dan Penggunaan
Sebagai menu makanan ringan atau selingan (kudapan). Sebagai salah satu menu pada industri pariwisata, acara seremonial jamuan makan, stan di acara pameran, atraksi pariwisata dan pentas seni budaya.
K. Bir Pletok
1. Bentuk dan Bahan
Bir Pletok adalah minuman berwarna merah yang menyehatkan dan menyegarkan, dapat dihidangkan dingin atau agak panas.
Bahan utama:
Air, gula pasir, kayu manis, jahe, serai, cengkeh, kayu (babakan) secang, buah pala, bunga pala, lada bulat di belah, kapulaga, cabai Jawa, daun jeruk purut, daun pandan, gardamom seed (gardamunggu) dibelah dan garam.
2. Filosofi/Makna
Bir Pletok dimaknai sebagai penopang hidup sehat secara lahir dan batin dan juga sebagai upaya mengapresiasi serta mengisi hidup yang tidak boleh kendor sampai pada titik yang paling utama yakni matang.
3. Fungsi dan Penggunaan
Sebagai minuman yang menyehatkan dan menyegarkan. Sebagai salah satu menu pada industri pariwisata, acara seremonial jamuan makan, stan di acara pameran, atraksi pariwisata dan pentas seni budaya.
L. Kesimpulan
Ikon Betawi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) dimaksudkan sebagai upaya pelestarian melalui pengenalan yang menggambarkan ciri khas masyarakat Betawi dan jati diri Provinsi DKI Jakarta sebagai daya tarik wisata. Hal ini tergambar pasal 3 Penetapan Ikon Budaya Betawi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) bertujuan: a. meningkatkan rasa ikut memiliki dan menanamkan kebanggaan terhadap budaya Betawi secara aktif dalam