• Tidak ada hasil yang ditemukan

BMT(Baitul Maal Wat Tamwil

Dalam dokumen peran bmt (baitul maal wat tamwil) dalam (Halaman 47-62)

BAB II KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

1. BMT(Baitul Maal Wat Tamwil

a. Pengertian BMT (Baitul Maal Wat Tamwil)

BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan

31Tim Penyusun, Pedoman Karya Ilmiah IAIN Jember, 45- 46.

prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan sistem ekonomi yang keselamatan (keadilan), kedamaian dan kesejahteraan.

BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) sendiri dari namanya mempunyai dua fungsi, fungsi utama, yaitu Baitul Tamwil (rumah pengembangan harta), melakukan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil, antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi. Sedangkan fungsi kedua, yaitu Baitul Maal (rumah harta), menerima titipan dana Zakat, Infaq, Sedekah, dan mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya.32

Dari pengertian tersebut dapatlah ditarik suatu pengertian yang menyeluruh bahwa BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Peran sosial BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) akan terlihat pada definisi Baitul Mal, sedangkan peran bisnis BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) terlihat dari definisi Baitul Tamwil. Sebagai lembaga sosial, Baitul Maal memiliki kesamaan fungsi dan peran dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Oleh karenanya, Baitul Maal ini harus didorong agar mampu berperan

32Rudi Hermawan, Buku Ajar Hukum Ekonomi Islam (Pamekasan: Duta Media Publising, 2017), 51.

secara profesional menjadi LAZ yang mapan. Fungsi tersebut paling tidak meliputi upaya pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumber dana-dana sosial yang lain, dan upaya zakat kepada golongan yang paling berhak.

Sebagai lembaga bisnis, BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) lebih mengembangkan usahanya pada sektor keuangan, yakni simpan- pinjam. Usaha ini seperti usaha perbankan yakni menghimpun dana anggota dan calon anggota (nasabah) serta menyalurkannya kepada sektor ekonomi yang halal dan menguntungkan. Namun demikian, terbuka luas bagi BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) untuk mengembangkan lahan bisnisnya pada sektor rill maupun sektor keuangan lain yang dilarang dilakukan oleh lembaga keuangan bank.

Karena BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) bukan bank, maka ia tidak tunduk pada aturan perbankan.

Pada dataran hukum di Indonesia, badan hukum yang paling mungkin untuk BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) maupun Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Namun demikian, sangat mungkin dibentuk perundangan sendiri, mengingat, sistem operasional BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) tidak sama persis dengan perkoperasian, semisal LKM (Lembaga Keuangan Mikro) syariah, dan lain-lain.33

33Muhammad Ridwan, Manajemen, 126-127.

Sebagai lembaga usaha yang mandiri, BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Berorientasi bisnis, yaitu memiliki tujuan untuk mencari laba bersama dan meningkatkan pemanfaatan segala potensi ekonomi yang sebanyak-banyaknya bagi para anggota dan lingkungannya.

2. Bukan merupakan lembaga sosial, tetapi dapat dimanfaatkan untuk mengelola dana sosial umat, seperti Zakat, Infak, Sedekah, Hibah, dan Wakaf.

3. Lembaga ekonomi umat yang dibangun dari bawah secara swadaya yang melibatkan peran serta masyarakat sekitar.

4. Lembaga ekonomi milik bersama antara kalangan masyarakat bawah kecil serta bukan milik perorangan atau kelompok tertentu di luar masyarakat sekitar BMT (Baitul Maal Wat Tamwil).34

Di negara kita, umat Islam merupakan mayoritas, tetapi jika dilihat dari segi ekonomi, umat Islam masih tertinggal dari ummat minoritas. Sebenarnya umat Islam memiliki potensi yang besar, baik dari segi religi, kuantitas, maupun aset, tetapi pengelolaannya belum optimal. Oleh sebab itu, beberapa langkah berikut ini penting diagendakan sebagai formula solusi.

a. Optimalisasi penggalangan aset umat, baik komersial maupun nonkomersial.

34Darmawan dan Muhammad Iqbal Fasa, Manajemen Lembaga Keuangan Syariah, 199.

b. Optimalisasi pengelolaan dan pemberdayaan aset umat dalam kegiatan kegiatan ekonomi produktif.

c. Aktualisasi dan sosialisasi etos kerja nasional, kerja sama, mental kewirausahaan, ekonomi produktif dan etika bisnis yang bersumber pada nilai-nilai normative yurisprudensi Islam.35

Dari berbagai alternatif yang ada, BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) diyakini sebagai salah satu wahana yang dinilai strategis untuk upaya pemberdayaan umat. Mengingat kelemahan umat Islam sebagai pelaku ekonomi disebabkan oleh faktor ketidak mampuan mereka dalam mengakses lembaga-lembaga keuangan yang ada.36 b. Prinsip-prinsip utama BMT (Baitul Maal Wat Tamwil).

Prinsip dasar BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) adalah:

1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan mengimplementasikannya pada prinsip-prinsip Syariah dan muamalah Islam ke dalam kehidupan nyata.

2) Keterpaduan, yakni nilai-nilai sepriritual dan moral menggerakan dan mengarahkan etika bisnis yang dinamis, proaktif, progresif adil dan berakhlak mulia.

3) Kekeluargaan, yakni mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Semua pengelola pada setiap tingkatan, pengurus dengan semua lininya serta anggota, di bangun rasa

35 Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil (Bandung: CV .PUSTAKA SETIA, 2003), 24-25.

36Ibid., 24-25.

kekeluargaan, sehingga akan tumbuh rasa saling melindungi dan menanggung.

4) Kebersamaan, yakni kesatuan pola pikir, sikap dan cita-cita antar semua elemen BMT (Baitul Maal Wat Tamwil). Antara pengelola dengan pengurus harus memiliki satu visi dan bersama-sama anggota untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial.

5) Kemandirian, yakni mandiri di atas semua golongan politik.

Mandiri berarti juga tidak tergantung dengan dana-dana pinjaman dan bantuan tetapi senantiasa proaktif untuk menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya.

6) Profesionalisme yakni semangat kerja yang tinggi (amalus sholih/ahsanu amala), yakni dilandasi dengan dasar keimanan kerja yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia saja, tetapi juga kenikmatan dan kepuasan rohani dan akhirat. Kerja keras dan cerdas yang dilandasi dengan bekal pengetahuan (knowledge) yang cukup, keterampilan yang terus ditingkatkan (skill) serta niat yang kuat (attitude). Semua itu dikenal dengan kecerdasan emosional, sepiritual dan intelektual. Sikap profesionalisme dibangun dengan semangat untuk terus belajar demi mencapai tingkat standar kerja yang tinggi.

7) Istiqomah; konsisten, konsekuen, kontinuitas/berkelanjutan tanpa henti dan tanpa pernah putus asa. Setelah mencapai suatu tahap,

maka maju lagi ke tahap berikutnyadan hanya kepada Allah SWT kita berharap.37

c. Produk BMT(Baitul Maal Wat Tamwil) 1) Produk penghimpun dana (funding) 2) Produk penyaluran dana (lending) 3) Produk jasa (fee)

Penjelasan mengenai produk (Baitul Maal Wat Tamwil) BMT dengan mengacu pada Fatwa Dewan Syari’ah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dapat dikemukakan sebagai berikut:

a) Produk penghimpunan dana (funding) yang ada di BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) pada umumnya berupa simpanan atau tabungan yang didasarkan pada akad wadiah dan akad mudharabah. Untuk itu dalam BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) dikenal adanya dua jenis simpanan yaitu simpanan wadiah dan simpanan mudharabah.38

b) Produk menyalurkan dana (lending) yang disediakan oleh BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) bisa mendasarkan pada akad-akad tradisional Islam, yakni akad jual beli, akad sewa menyewa, akad bagi hasil dan akad pinjam meminjam.39

1) Jual beli

Jual beli intinya adalah akad antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli, dimana objeknya adalah

37Muhammad Ridwan, Manajemen, 130-131

38 Ibid., 149-152

39Ibid., 163

barang dan harga. Adapun penerapan dari jual beli ini dalam transaksi BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) tampak dalam produk pembiayaan murabahah, salam, dan istishna. Dengan demikian akad jual beli hanya dapat diterapkan pada produk perbankan berupa penyaluran dana. Adapun pengertian dari masing-masing jenis pembiayaan dimaksud adalah sebagai berikut:40

a) Murabahah, adalah jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah dengan keuntungan yang disepakati.

b) Salam, adalah jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat tertentu dan pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh.

c) Istishna, adalah jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan.

2) Bagi hasil

Penerapan akad bagi hasil inilah yang lebih dikenal di masyarakat karena memang fungsinya sebagai pengganti bunga. Akad ini unik, karena dalam praktik BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) bisa diterapkan dalam dua sisi sekaligus, yaitu sisi penghimpun dana (funding) dan sisi penyaluran dan (lending).

40 Antonio, Bank Syariah, 101-113.

3) Sewa-menyewa

Sewa-menyewa merupakan perjanjian yang objeknya adalah manfaat atas suatu barang atau pelayanan, sehingga bagi pihak yang menerima manfaat berkewajiban untuk membayar uang sewa/upah (ijarah).41

a) Ijarah adalah pemindahan hak atas barang barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang itu sendiri.

b) Al-Ijarah al-Muntahia bit-Tamlik, adalah transaksi sewa menyewa yang memberikan hak opsi di akhir masa sewa bagi pihak penyewa untuk memiliki barang yang menjadi objek sewa melalui mekanisme hibah ataupun mekanisme beli.

4) Pinjam meminjam yang bersifat sosial

Dalam operasional BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) transaksi pinjam meminjam dikenal dengan nama pembiayaan qardh, yaitu pinjam meminjam dana tnpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjaman secara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

41Ibid., 117-118.

c) Produk jasa atau fee merupakan produk yang saat ini banyak dikembangkan oleh BMT (Baitul Maal Wat Tamwil), karena melalui produk ini bank akan mendapatkan pendapatan berupa fee.

Produk jasa atau fee yang diberikan oleh BMT (Baitul Maal Wat tamwil) kepada nasabahnya yaitu wakalah, kafalah, hawalah, ar rahn, dan al qard.42

d. Peran BMT ( Baitul Maal Wat Tamwil).

Keberadaan BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) setidaknya mempunya beberapa peran:

1) Menjauhkan masyarakat dari praktik ekonomi non syariah. Aktif melakukan sosialisasi di tengah masyarakat tentang arti penting sistem ekonomi Islami. Hal ini bisa dilakukan dengan pelatihan- pelatihan mengenai cara-cara bertransaksi yang islami, misalnya supaya ada bukti dalam transaksi, dilarang curang dalam menimbang barang, jujur terhadap konsumen, dan sebagainya.

2) Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil, BMT harus bersikap aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro, misalnya dengan jalan pendampingan, pembinaan, penyuluhan dan pengawasan terhadap usaha usaha nasabah atau masyarakat umum.

3) Melepaskan ketergantungan pada rentenir, masyarakat yang masih tergantung pada rentenir mampu memenuhi keinginan masyarakat

42Muhammad Ridwan, Manajemen, 181

dalam memenuhi dana dengan segera. Maka BMT harus mampu melayani masyarakat lebih baik, misalnya selalu tersedia dana setiap saat, birokrasi yang sederhana dan sebagainya.

4) Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.

BMT mempunyai beberapa komitmen yang harus dijaga supaya konsisten terhadap perannya. Komitmen tersebut adalah:

a) Menjaga nilai-nilai syariah dalam operasi BMT

b) Memperhatikan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan pembinaan dan pendanaan usaha kecil c) Meningkatkan profesionalitas BMT

d) Ikut terlibat dalam memelihara kesinambungan usaha masyarakat.43

e. Sistem Pembiayaan di BMT

Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok BMT, yaitu penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal berikut:

1) Pembiayaan produktif

Yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.

43 Neni Sri Imaniyati, Aspek-Aspek Hukum BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2010), 93-94.

2) Pembiayaan konsumtif.

Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan

Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua yaitu:

a) Pembiayaan modal kerja

Yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan: (a) peningkatan produksi, baik secara kuantitatif, yaitu jumlah hasil produksi, maupun secara kualitatif, yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi, (b) untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

b) Pembiayaan investasi

Yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capitals good) serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu.44

Dalam memutuskan pemberian kedit atau melakukan pencairan dana melalui kredit maka ada beberapa hal yang harus dipikirkan baik oleh kreditur atau juga debitur secara umum dan itu sudah menjadi penilaian umum, yaitu:

44 Antonio, Bank Syariah, 160.

a) Character

Suatu keyakinan bahwa, sifat atau watak dari orang- orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang pekerjaan.

b) Capacity

Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis juga diukur dengan kemampuannya dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan pemerintah.

c) Capital

Untuk melihat penggunaan modal, apakah cukup efektif, dilihat dari laporan keuangan dengan melakukan pengukuran dari segi likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan ukuran lainnya.

d) Collateral

Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan harus diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan.

e) Condition

Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik sekarang dan masa yang akan datang

sesuai dengan sektor masing-masing, serta prospek usaha dari sektor yang ia jalankan.45

Sedangkan penilaian 7P kredit adalah sebagai berikut:

1. Personality

Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya.

2. Party

Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.

3. Purpose

Yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.

4. Prospect

Yaitu menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.

5. Payment

Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit.

45 Ardiansyah Putra Dan Dwi Saraswati, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya (Surabaya: CV.

Jakad Media Publishing, 2020) 69-70

6. Profitabilitas

Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitabilitas diukur dari periode ke periode apakah tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.

7. Protection

Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang, orang, dan jaminan asuransi.46

Di samping penilaian dengan 5C dan 7P, prinsip penlaian kredit dapat pula dilakukan dengan studi kelayakan, terutama untuk kredit dalam jumlah yang relatif besar. Adapun penilaian kredit dengan studi kelayakan meliputi:

a. Aspek hukum.

b. Aspek pasar dan pemasaran.

c. Aspek keuangan.

d. Aspek operasi atau teknis.

e. Aspek manajemen.

f. Aspek ekonomi atau sosial.47

46 Ibid., 70

47 Ibid., 71

Dalam dokumen peran bmt (baitul maal wat tamwil) dalam (Halaman 47-62)

Dokumen terkait