BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
B. Temuan
1. Budaya Belajar Peserta Didik MAN 1 Lombok Timur
8. Prestasi Peserta Didik MAN 1 Lombok Timur
Prestasi belajar peserta didik tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang peserta didik, belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang peserta didik dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh peserta didik tersebut.
Setiap pendidik tentu sangat mengharapkan peserta didiknya agar berprestasi seoptimal mungkin, baik pada jalur akademik maupun non akademik. Prestasi memiliki pengertian yang sangat luas. Apabila peserta didik dapat mencapai cita-cita atau minimal dapat menyelesaikan tugas dari guru maupun orang lain, maka ia disebut berprestasi.
Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah dicapai peserta didik dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu kriteria. Prestasi belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok.
yang dianut oleh siswa. Budaya belajar yang baik akan berdampak pada prestasi belajar yang baik pula.
Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya belajar meliputi faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor intern meliputi tiga faktor, yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah merupakan faktor baik buruknya badan seseorang. Proses belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat dan mudah pusing. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar.
Peserta didik yang cacat belajarnya juga akan terganggu. Faktor psikologis dapat mempengaruhi budaya belajar seperti intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan; dan faktor kelelahan berupa kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (adanya kelesuan dan kebosanan).
Faktor ekstern meliputi tiga faktor, yaitu faktor keluarga, faktor madrasah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga mempengaruhi belajar seperti cara orang tua dalam mendidik, hubungan antara anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor madrasah seperti kurikulum, metode mengajar, hubungan guru dengan peserta didik, hubungan peserta didik dengan peserta didik dan faktor masyarakat.
Untuk mengetahui budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, berikut ini peneliti paparkan hasil wawancara dengan beberapa responden yang memiliki pengaruh penting di MAN 1 Lombok Timur.
Hasil wawancara dengan bapak kepala MAN 1 Lombok Timur mengenai budaya belajar peserta didik, ia menjelaskan bahwa:
“Budaya belajar peserta didik di MAN 1 Lombok Timur, yakni peserta didik datang setiap hari ke madrasah dan memperoleh pengetahuan yang terus diupdate oleh guru bahkan peserta didik mencari sendiri melalui browsing internet di rumahnya. Belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur seperti ini sudah menjadi budaya sehingga yang dilakukan peserta didik setiap hari bahkan setiap saat digunakan untuk belajar dan belajar sehingga memperoleh
pemahaman yang jelas dan prestasi yang sangat membanggakan mulai dari tingkat daerah, nasional bahkan internasional”2
Begitu juga yang dikatakan oleh waka kurikulum MAN 1 Lombok Timur mengenai budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, ia mengatakan bahwa:
“Peserta didik MAN 1 Lombok Timur menerapkan budaya belajar, yaitu kadar aktivitas belajarnya jauh lebih besar (lebih banyak) dari pada aktivitas non belajarnya. Peserta didik selalu memperhatikan penjelasan gurunya sehingga ketika menemukan sesuatu yang sulit, maka peserta didik langsung menanyakan hal yang tidak dipahaminya tersebut kepada gurunya atau jika bapak/ibu gurunya bertanya, maka serta merta peserta didik tersebut niscaya mampu menjawabnya.
Dengan kata lain, peserta didik telah menerapkan budaya belajar bukan budaya madrasah.”3
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh waka kesiswaan MAN 1 Lombok Timur, ia mengungkapkan bahwa:
“Budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan dalam melaksanakan tugas belajar yang dilakukan dalam forsi yang lebih banyak. Atau dengan kata lain, belajarnya peserta didik MAN 1 Lombok Timur dijadikan sebagai suatu kebiasaan, dimana jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan, berarti peserta didik itu telah melanggar suatu nilai atau standar yang ada, dan menjadikan belajar sebagai suatu kegemaran dan kesenangan, sehingga motivasi belajar peserta didik muncul dari dalam dirinya sendiri bukan karena paksaan dari bapak/ibu guru. Jika hal itu terus menerus dilakukan secara rutin setiap hari, maka produktifitas belajar meningkat yang diiringi dengan prestasi yang meningkat pula.”4 Hal yang sama juga diutarakan oleh guru BK MAN 1 Lombok Timur mengenai budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, ia mengutarakan bahwa:
“Budaya belajar ini sangat penting dimiliki oleh peserta didik MAN 1 Lombok Timur, karena ia merupakan jantung kehidupan MAN 1 Lombok Timur. Dengan demikian, MAN 1 Lombok Timur dikenal
2 M. Nurul Wathani, Kepala MAN 1 Lombok Timur, ruang kepala MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 27 September 2019 pukul 09.00 wita.
3 Mahpuz, Waka kurikulum MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 10.00 wita.
4Musmuliadi, Waka kesiswaan MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok
keberadaannya oleh masyarakat luas. Di samping itu, MAN 1 Lombok Timur tetap eksis secara bermartabat karena menjadikan budaya belajar sebagai suatu kebutuhan dan kebiasaan, bahkan menjadikannya sebagai parameter sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh MAN 1 Lombok Timur dan stakeholdernya terutama sekali peserta didik MAN 1 Lombok Timur.”5
Peserta didik yang andal dan tangguh selalu memiliki tradisi budaya belajar yang kuat dan cemerlang guna menanggapi berbagai tantangan dan tuntutan. Budaya belajar menjadi norma dan parameter perilaku warga MAN 1 Lombok Timur khususnya peserta didik sehingga lambat laun berlaku motto madrasah: “tiada hari tanpa belajar”. Karena itu, MAN 1 Lombok Timur menjadi madrasah yang tangguh dan andal karena selalu menempatkan budaya belajar sebagai pilar proses pendidikan dan memiliki warga madrasah terutama guru-guru dan peserta didik yang senantiasa menjadikan belajar sebagai panduan dan parameter segenap sikap dan perilakunya.
Berbicara mengenai budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, guru Sejarah MAN 1 Lombok Timur mengatakan kepada peneliti waktu melakukan wawancara, ia mengatakan bahwa:
“MAN 1 Lombok Timur merupakan madrasah yang baik dan hebat karena kepala madrasah dan warganya menempatkan belajar sebagai suatu budaya, kesadaran, kebutuhan, tradisi, dan parameter segenap gerak dalam mempertahankan, menjalankan, dan mengembangkan eksistensi yang beradab, bermartabat, dan manusiawi. Atau Dengan kata lain, MAN 1 Lombok Timur telah mengembangkan sebuah tradisi yang disebut tradisi budaya belajar.”6
Di samping itu, guru Qur’an Hadis MAN 1 Lombok Timur menjelaskan mengenai budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, ia menjelaskan bahwa:
“Budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur dari hari ke hari semakin berkembang pesat sehingga MAN 1 Lombok Timur dikenal sebagai madrasah yang tangguh dan andal, baik di tingkat daerah,
5 H. Lalu Fathurrahman, Guru BK/BP MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 09.00 wita.
6Harmaen, Guru Sejarah MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur, wawancara,pada tanggal 5 Oktober 2019 pukul 09.30 wita.
nasional, bahkan internasional. MAN 1 Lombok Timur terkenal sebagai madrasah yang tangguh dan andal karena selalu mengembangkan tradisi budaya belajar dengan selalu berprinsip pada tradisi budaya belajar sepanjang hayat. Maksudnya, MAN 1 Lombok Timur khususnya peserta didik selalu belajar tiada henti karena pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga memiliki kemampuan, menjadi dewasa dan pada akhirnya menjadi orang yang mandiri.”7
Hal yang sama juga diungkapkan oleh guru Biologi MAN 1 Lombok Timur, ia mengungkapkan bahwa:
“Kepala madrasah dan warganya membuat rute belajar secara sistematis dimulai dengan belajar untuk menguasai instrumen- instrumen pengetahuan dan belajar berbuat. Maksudnya, peserta didik selalu berusaha untuk melakukan atau mempraktekkan dari apa yang sudah dipelajari dan belajar hidup bersama orang lain yang memiliki latar, budaya, sosial, ekonomi dan keanekaragaman yang berbeda- beda. Dengan demikian, secara tidak langsung peserta didik MAN 1 Lombok Timur telah membuktikan bahwa pendidikan harus bisa menyumbangkan perkembangan yang seutuhnya kepada setiap orang baik dalam jiwa, raga, intelegensia, kepekaan, rasa, estetika, tanggung jawab pribadi dan nilai-nilai spiritual. Di sini bukan hanya peserta didik, tetapi juga guru, harus selalu mengikuti rute belajar yang telah ditetapkan oleh madrasah. Dengan kata lain, MAN 1 Lombok Timur telah menerapkan budaya belajar dengan baik.”8
Di samping wawancara dengan kepala madrasah dan guru, peneliti juga melakukan wawancara dengan peserta didik MAN 1 Lombok Timur, diantaranya peserta didik kelas X, ia mengatakan bahwa:
“Ada beberapa hal yang dilakukan oleh peserta didik dalam menerapkan budaya belajar di MAN 1 Lombok Timur, antara lain:
peserta didik selalu menerapkan tradisi belajar tentang hal-hal yang memang perlu dipelajari dan meninggalkan hal-hal yang tidak perlu dipelajari atau dalam bahasa agamanya yang semakna dengan hal itu, adalah termasuk kebaikan Islam seseorang yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Alhamdulillah, peserta didik MAN 1 Lombok Timur sudah menerapkan hal tersebut sejak lama. Hal tersebut menunjukkan bahwa cakupan atau wilayah tradisi budaya belajar yang
7 Sahraini, Guru Qur’an Hadis MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 5 Oktober 2019 pukul 08.00 wita.
8Jaswadi, Guru Biologi MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,
perlu dikembangkan di madrasah dan dimiliki oleh warga madrasah cukup beragam dan luas.”9
Hal yang hampir sama diungkapkan oleh peserta didik kelas XI MAN 1 Lombok Timur, ia mengungkapkan bahwa:
“Peserta didik adalah makhluk sosial dan makhluk pembelajar. Ini berarti bahwa setiap peserta didik perlu pendidikan dan perlu mengembangkan budaya dan tradisi belajar. Setelah terbentuknya budaya dan tradisi belajar peserta didik, maka dengan mudahnya guru mengarahkan dan menata generasi di masa depan yang penuh gemilang. Budaya belajar peserta didik mempunyai keterkaitan dengan prestasi belajar, sebab dalam budaya belajar mengandung kebiasaan belajar dan cara-cara belajar yang dianut oleh peserta didik.
Pada umumnya peserta didik bertindak menurut kebiasaannya sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan. Budaya belajar peserta didik akan selalu melekat di dalam setiap tindakan dan perilaku peserta didik sehari-hari baik ketika berada di madrasah, di rumah maupun di lingkungan masyarakat.”10
Peserta didik kelas XII juga memberikan pemaparannya tentang budaya belajar peserta didik MAN 1 Lombok Timur, ia memamparkan bahwa:
“Budaya belajar peserta didik yang baik mengandung arti bahwa peserta didik teratur dalam menyelesaikan tugas, dan menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu konsentrasi belajar sehingga semua itu akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Kepribadian yang teratur merupakan salah satu barometer dari kejernihan berpikir.
Kejernihan berpikir yang diperlukan selama menuntut ilmu harus dipertahankan oleh individu peserta didik. Demikian pula sebaliknya, budaya belajar yang kurang baik akan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang malas, bertindak semaunya, dan memiliki watak tidak teratur dalam segala hal.”11
Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa kegagalan biasanya datang kepada peserta didik yang tidak memiliki budaya belajar.
Banyak orang yang belajar dengan susah payah, tetapi tidak mendapatkan
9 Syamsul Hadi, Peserta didik kelas X MAN 1 Lombok Timur, halaman MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 10 Oktober 2019 pukul 10.00 wita.
10Ahmad Budiman, Peserta didik kelas XI MAN 1 Lombok Timur, halaman MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 10.00 wita.
11Mustini, Peserta didik kelas XII MAN 1 Lombok Timur, halaman MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 10.00 wita.
hasil apa-apa, hanya kegagalan yang ditemui. Penyebabnya tidak lain karena belajar tidak teratur, tidak disiplin, dan kurang bersemangat, tidak tahu bagaimana cara berkonsentrasi dalam belajar, mengabaikan masalah pengaturan waktu dalam belajar, istirahat yang tidak cukup, dan kurang tidur.
Di samping itu, salah satu faktor pendukung majunya sebuah madrasah adalah mampu menerapkan budaya yang telah di sepakati. Budaya madrasah menjadi identitas atau ciri khas sebuah madrasah yang diharapkan mampu meningkatkan mutu madrasah. Secara khusus dapat difahami bahwa budaya madrasah adalah nilai-nilai yang telah disepakati oleh madrasah yang wajib di patuhi oleh stakeholder madrasah. Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala madrasah tentang budaya madrasah Islami, beliau menjawab.
“Budaya secara umum merupakan nilai yang dianut, nilai yang sifatnya manjadi ciri khas. Dan madrasah adalah tempat atau wadah untuk pembelajaran secara formal. Menurut saya, budaya madrasah Islami adalah setiap nilai, kebiasaan yang diyakini pihak madrasah serta disepakati bersama yang akhirnya berbentuk aturan-aturan atau pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan bersama demi terwujudnya tujuan pendidikan yang ada”.12
Senada dengan hasil wawancara di atas, wakil kepala madrasah bidang kurikulum menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan budaya madrasah Islami yaitu :
“Jadi, budaya madrasah Islami adalah setiap nilai yang dianut dan diyakini warga madrasah yang akhirnya di sepakati bersama untuk menjadi aturan, ciri madrasah yang dapat mempertahankan nama baik madrasah ke depan yang bisa mendoktrin masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah tersebut.”13
Senada dengan pendapat di atas, wakil kepala madrasah bidang kesiswaan juga mengatakan bahwa budaya madrasah Islami merupakan nilai yang dianut yang menjadi icon madrasah, ia mengatakan bahwa:
12M. Nurul Wathani, Kepala MAN 1 Lombok Timur, ruang kepala MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 27 September 2019 pukul 09.00 wita.
13 Mahpuz, Waka kurikulum MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok
“Karena kita memang merupakan madrasah yang bernaungkan di bawah kementerian agama dan dinyatakan sebagai madrasah artinya dalam mengembangkan budaya-budaya yang bercorakkan Islam ini memang ciri khas kemudian icon dari madrasah kita yang memang berlatar belakangkan Islam. Di samping itu, budaya islami pasti tidak berlandaskan kepada hal-hal yang memang tidak melanggar daripada yang namanya syariat sehingga itu bisa menjadi sebuah ciri khas dari madrasah aliyah ini”.14
Di samping itu, Guru BK menambahkan mengenai defenisi budaya madrasah islami, yaitu:
“Budaya madrasah Islami adalah budaya yang diterapkan yang tidak keluar dari sumber ajaran Islam terbesar, yaitu al-Quran dan sunnah Rasulullah saw (hadits). Yang sifatnya mendidik, mengayomi dan outputnya adalah menjadi ciri khusus sebuah madrasah”.15
Setelah memahami apa yang dimaksud dengan budaya madrasah Islami maka hal yang perlu dilakukan kepala madrasah adalah membuat perencanaan apa-apa saja budaya yang ingin ditanamkan kepada seluruh stakeholder madrasah. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti, MAN 1 Lombok Timur melakukan perencanaan setiap setahun sekali dengan koordinasi antara Kepala Madrasah dengan seluruh wakil kepala madrasah.
Sebagaimana yang dikatakan Kepala Madrasah dalam wawancara:
“Dalam merencanakan budaya madrasah saya selalu bekerjasama dengan seluruh wakil kepala madrasah dalam mendiskusikan budaya apa yang menjadi target berikutnya yang bisa disosialisasikan kepada para stakeholder madrasah. Harus saya berperan seperti itu, karena madrasah ini kan dipimpin oleh saya maka saya harus tau apa yang harus dicapai dan apa yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan- tujuan madrasah”.
Hal ini senada dengan yang dikatakan wakil kepala madrasah urusan kurikulum, ia mengatakan bahwa:
“Untuk program saya bekerjasama dengan para wakil kepala madrasah untuk menanamkan budaya-budaya tersebut melalui program-program yang ditawarkan oleh kepala madrasah untuk
14Musmuliadi, Waka kesiswaan MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 11.30 wita.
15 H. Lalu Fathurrahman, Guru BK/BP MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 09.00 wita.
program kerja tahunan, bulanan, dan program jangka panjang. Yang dimaksud dengan program jangka panjang ini adalah setiap pergantian kepala madrasah. Kepala madrasah kita kan pergantian 3-4 tahun sekali, maka ada jangka panjang 3-4 tahun. Selama 3 tahun apa saja goals yang ingin dicapai. Tapi setidaknya kami selalu buat jangka setahun, untuk setahun kita mau buat apa, misalnya budaya malu buang sampah, harus ditargetkan”.16
Budaya madrasah Islami dapat berjalan dengan baik apabila melihat kondisi dan keadaan yang ada di madrasah. Latar belakang terciptanya budaya madrasah Islami di MAN 1 Lombok Timur menurut kepala madrasah adalah:
“Hal utama yang melatar belakangi adanya budaya madrasah Islami adalah dari para pemimpin terdahulu madrasah ini. Berbicara mengenai program, ada beberapa program yang kami laksanakan diantaranya budaya malu buang sampah sembarangan, budaya melestarikan pembelajaran kitab turost (kuning), budaya menghapal al-Quran dengan ketentuan minimal hafal 3 juz al-Quran dalam kurun waktu 3 tahun, budaya malu datang terlambat, budaya tasmi’ al-Quran di halaman madrasah setiap selasa-sabtu sebelum pembelajaran dimulai dan budaya sholat dhuha pada saat jam istirahat, budaya belajar, dan lain-lain”.17
Hal senada juga dikatakan dalam wawancara dengan wakil kepala madrasah bidang kurikulum tentang budaya-budaya madrasah Islami yang terdapat di MAN 1 Lombok Timur, yaitu:
“Budaya-budaya yang ada di MAN 1 Lombok Timur adalah wajib membaca al-Quran, wajib menghafal al-Quran sebagai salah satu syarat kelulusan peserta didik, sebelum pembelajaran dimulai tasmi’
al-Quran bersama di halaman madrasah, bertegur sapa dengan Guru, menyalam Guru, budaya malu datang terlambat, budaya disiplin, dari budaya-budaya tersebut menjadi tugas pokok setiap stakeholder madrasah untuk sama-sama melestarikan budaya yang ada tersebut.
Salah satu budaya yang saya sebutkan adalah wajib menghapal al- Quran minimal 3 juz al-Quran, ini merupakan tugas bersama untuk menjaga prestasi bagaimana agar tahun ajaran selanjutnya bisa lebih dari tahun ini. Selain budaya di atas yang goals nya adalah untuk siswa, di MAN 1 Lombok Timur juga menerapkan budaya untuk
16 Mahpuz, Waka kurikulum MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 10.00 wita.
17M. Nurul Wathani, Kepala MAN 1 Lombok Timur, ruang kepala MAN 1 Lombok
guru-guru, yaitu tidak diperbolehkan seorang guru perempuan mengajar menggunakan celana panjang. Dan sebagai implikasinya mereka bahkan risih menggunakan celana pada saat mengajar, selain itu juga tidak kita temukan guru laki-laki yang merokok di MAN 1 Lombok Timur saat mengajar, ini merupakan budaya kita.”18
Begitu pula dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan wakil kepala madrasah bidang kesiswaan tentang budaya madrasah Islami yang terdapat di MAN 1 Lombok Timur yaitu :
“Kalau yang menjadi kebudayaan pasti yang pertama yang menjadi ciri khas kita, yaitu setiap lulusan diharapkan dapat menghafal Al- Qur’an minimal juz dan bukan hanya menghafal tapi juga dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga apabila peserta didik kita nanti terjun ke masyarakat paling tidak, paling kecil yang kita harapkan adalah peserta didik kita atau terutama yang laki-laki itu dapat menjadi imam sholat di lingkungannya. Di masyarakat dengan bekal hafalan Al-Qur’an yang dia miliki, itu yang pertama, yaitu dari sisi menghafal Al-Qur’an. Yang kedua, sudah pastilah karena kita di bawah naungan madrasah, madrasah bercirikan Islam maka budaya yang berikutnya adalah budaya berpakaian dimana budaya berpakaian yang digunakan di madrasah ini yang Insyaa Allah sudah sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Al-Qur’an dan Hadist yaitu yang menutup aurat yang artinya dengan memakai hijab untuk yang perempuan dan kemudian untuk yang laki-laki itu menggunakan peci, kemudian budaya bersalaman, jadi setiap peserta didik masuk ke dalam ruangan kelas ini juga berhubungan dengan apa namanya pendidikan karakter yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan. Salah satu pendidikan karakter yang diharapkan adalah bahwa siswa itu menghargai dan menghormati guru-guru salah satu caranya adalah dengan bersalaman sebelum masuk madrasah atau sesudah pulang madrasah itu juga merupakan sebuah bagian daripada budaya Islami di madrasah ini”.19
Selain itu, guru Sejarah juga menyebutkan dalam hasil wawancara tentang budaya yang terdapat di MAN 1 Lombok Timur, yaitu:
“Budaya madrasah disini bukan hanya sekedar budaya, budaya itu kan suatu kebiasaan yang tidak terlepas dari akhlak. Belajar di MAN 1 Lombok Timur yang diutamakan adalah akhlak. Taat dan patuh kepada Guru. Berbicara mengenai peran, sangat besar sekali peran
18 Mahpuz, Waka kurikulum MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 10.00 wita.
19Musmuliadi, Waka kesiswaan MAN 1 Lombok Timur, ruang guru MAN 1 Lombok Timur,wawancara,pada tanggal 30 September 2019 pukul 11.30 wita.