• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 31-45)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

1. Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah a. Pengertian Gaya Kepemimpinan

Pengelolaan satuan pendidikan bertanggung jawab atas pemberian kesempatan kepada tenaga pendidikan yang bekerja di satuan pendidikan yang bersangkutan untuk mengembangkan kemampuan masing-masing.

Oleh karena itu tenaga kependidikan sudah sewajarnya memperoleh upaya pembinaan dari Kepala Madrasah terhadap para pendidik secara efektif dan efisien. Karena hal ini merupakan faktor kunci yang turut menentukan keberhasilan pendidikan sebagaimana diisyaratkan dalam penjelasan Peraturan Pemerintah sesuai dengan kajian tentang arah pada abad 21, yakni persoalan kepemimpinan (leadership) merupakan suatu persoalan yang sangat aktual untuk dibicarakan.16

Kepemimpinan merupakan suatu proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.17 Tugas pokok seorang pemimpin adalah mendidik, memberi petunjuk, membimbing dan lain sebagainya yang secara singkat dapat dikatakan seorang pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya dengan sedemikian rupa, sehingga mereka itu mau mengikuti kehendak pimpinan

16Prawiroesentono, Manajemen Sumber Daya Manusia Kebijakan Kinerja Karyawan (Yogyakarta: BPEF, 1999), 7.

17A. Dharma,Gaya Kepemimpinan Yang Efektif Bagi Para Manager(Bandung: Sinar

untuk dapat bekerja sama dengan sebaik-baiknya, sehingga tercapainya tujuan yang telah ditentukan atau ditetapkan sebelumnya.18

Kepemimpinan yang bersifat umum memberikan landasan pengertian kepemimpinan secara khusus dalam bidang pendidikan.

Banyak pendapat tentang kepemimpinan, Daryanto mengemukakan:

“Kepemimpinan Pendidikan adalah segenap kegiatan dalam usaha mempengaruhi personil di lingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar melalui kerjasama mau bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditentukan”.19

Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu. Gaya tersebut bisa berbeda-beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.

b. Macam-macam Gaya Kepemimpinan

Dalam proses kepemimpinan, seorang pemimpin akan menerapkan beberapa gaya dalam kepemimpinan. Tentunya gaya tersebut akan berpengaruh dalam organisasi atau instansi yang dipimpinnya. Teori gaya kepemimpinan model Hersey dan Blanchard sebagaimana dikutip oleh Thoha, menyebutkan 4 (empat) gaya kepemimpinan, yaitu:20

1) Gaya instruktif

Gaya ini biasanya diterapkan pada pegawai yang masih baru.

Gaya instruktif biasanya ditandai dengan hal-hal berikut ini:

a) Senantiasa memberikan pengarahan dengan cara yang sangat detail tentang apa, kapan, dan bagaimana tugas itu hendaknya dilaksanakan

b) Memiliki tingkat direktif yang cukup tinggi

c) Memiliki kadar motivasi dan semangat yang rendah

18Wahjosuidjo,Kepemimpinan Dan Motivasi(Jakarta: Ghalia Indonesia,1993), 30.

19Daryanto,Administrasi Pendidikan(Jakarta: Asdi Mahasatdya, 2005), 9.

20 Miftah Thoha,Kepemimpinan Dalam Manajemen (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), 42.

d) Membutuhkan pengawasan yang tinggi dari atasan e) Atasan kurang dapat meningkatkan kemampuan pegawai f) Atasan kurang dapat memberikan motivasi kepada pegawai g) Tingkat kemampuan yang dimiliki pegawai cukup rendah 2) Gaya konsultatif

Gaya konsultif biasanya diterapkan apabila sebagian besar bawahan mempunyai kemampuan yang cukup tinggi dan hanya sebgian kecil yang memiliki kemampuan rendah. Gaya konsultif ini biasanya memiliki ciri-ciri berikut:

a) Kadar yang dimiliki direktif rendah

b) Memiliki semangat dan motivasi yang tinggi c) Terjadi komunikasi yang timbal balik

d) Memerlukan pengarahan yang cukup spesifik

e) Tanggung jawab yang diberikan kepada bawahan hendaknya dilakukan secara bertahap

f) Bawahan memiliki kemampuan mulai dari tingkat rendah sampai tingkat sedang.

3) Gaya Partisipatif

Gaya partisipatif ini biasanya diterapkan oleh pemimpin yang sedikit dalam memberikan pangarahan dan informasi, kemudian untuk tahap selanjutnya anggotalah yang harus berusaha untuk mengembangkan langkah-langkah dan solusi. Gaya partisipatif ini biasanya ditandai oleh hal-hal di bawah ini:

a) Komunikasi berasal dari dua arah

b) Atasan selalu mendorong bawahan untuk berpartisipasi penuh c) Atasn senantiasa melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan d) Bawahan memiliki kemampuan potensi dari sedang sampai tinggi 4) Gaya Delegatif

Gaya delegatif ini biasanya dapat diterapkan apabila memiliki karyawan dan anggota yang memiliki kemampuan dan potensi serta

etos kerja yang tinggi. Gaya delegatif ini biasanya memiliki ciri-ciri berikut:

a) Atasan biasanya memberikan pengarahan jika diperlukan saja b) Atasan memberikan semangat kepada bawahan dianggap tidak

perlu

c) Segala macam bentuk tanggung jawab biasanya diserahkan langsung kepada bawahan

d) Sesekali waktu atasan perlu memberikan motivasi kepada bawahan e) Tingkat kematangan bawahan tinggi.

Dari beberapa gaya dan karakteristik kepemimpinan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa kepala madrasah dalam menjalankan tugas kepemimpinannya memiliki pilihan terhadap pemikiran dan perilaku kepala madrasah dalam mempengaruhi staf, para guru, personil, pegawai dan peserta didik di madrasahnya.

c. Pengertian Kepala Madrasah

Kepala madrasah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar. Secara sederhana kepala madrasah (madrasah) dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah (madrasah) dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang member pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.21

Kepala madrasah terdiri dari dua kata, yaitu “kepala” dan

“madrasah”. Kata “kepala” dapat diartikan “ketua” atau “pemimpin”

dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedang “madrasah (madrasah)” adalah sebuah lembaga dimana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran.

21 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1999), 81.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kepala madrasah merupakan seseorang yang diberi tugas oleh bawahannya untuk memimpin suatu madrasah dimana di dalam madrasah diselenggarakan proses belajar mengajar. Di dalam menjalankan tugasnya kepala madrasah bertanggung jawab terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada. Hal ini bertujuan agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas yang telah diberikan kepada mereka.

Selain itu seorang kepala madrasah juga bertanggung jawab tercapainya pendidikan. Ini dilakukan dengan menggerakkan bawahan ke arah tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

d. Kompetensi Kepala Madrasah

Menurut Permendiknas RI No. 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi kepala madrasah dan buku mengenai Standar Kompetensi Kepala Madrasah di tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK&SLB menyebutkan bahwa kepala madrasah sebagai seorang pemimpin memiliki lima kompetensi yaitu sebagai berikut:22

1) Dimensi Kompetensi Kepribadian

a) Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di madrasah

b) Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin

c) Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala madrasah

d) Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi e) Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan

sebagai kepala madrasah

f) Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

22Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses

2) Dimensi Kompetensi Manajerial

a) Menyusun perencanaan madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan

b) Mengembangkan organisasi madrasah sesuai dengan kebutuhan c) Memimpin madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya

madrasah secara optimal

d) Mengelola perubahan dan pengembangan madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif

e) Menciptakan budaya dan iklim madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik

f) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal

g) Mengelola sarana dan prasarana madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal

h) Mengelola hubungan madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan madrasah i) Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik

baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik j) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran

sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional

k) Mengelola keuangan madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel,transparan, dan efisien

l) Mengelola ketatausahaan madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan madrasah

m)Mengelola unit layanan khusus madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di madrasah n) Mengelola sistem informasi madrasah dalam mendukung

penyusunan program dan pengambilan keputusan

o) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen madrasah

p) Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.

3) Dimensi Kompetensi Kewirausahaan

a) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembanganmadrasah b) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan madrasah sebagai

organisasi pembelajar yang efektif

c) Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin madrasah

d) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi madrasah

e) Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

4) Dimensi Kompetensi Supervisi

a) Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru

b) Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat

c) Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

5) Dimensi Kompetensi Sosial

a) Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan madrasah b) Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan

c) Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepala madrasah sekarang begitu diperhatikan dan selektif dengan adanya standar kompetensi kepala madrasah tersebut diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas kepala madrasah dalam mengatur madrasahnya sehingga menghasilkan madrasah yang bermutu karena keberhasilan madrasah tidak terlepas dari kepala madrasah sebagai

pemimpin pendidikan yang selayaknya dapat memberikan pembaharuan bagi madrasahnya.

Kepala madrasah adalah komponen utama dalam pendidikan di madrasah, sebab kepala madrasah merupakan orang terpenting di suatu madrasah. Profesionalisme kepala madrasah menurut Rahmad Kadri Sumadi adalah sebagai berikut:23

1) Selaku pimpinan madrasah mempunyai tugas:

a) Menyusun perencanaan b) Mengorganisasikan kegiatan c) Mengarahkan kegiatan d) Mengkoordinasikan kegiatan e) Melaksanakan pengawasan

f) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan g) Menentukan kebijakan

h) Mengadakan rapat i) Mengambil keputusan

j) Mengatur proses belajar mengajar

k) Mengatur administrasi kantor, siswa, pengawai, perlengkapan, dan keuangan.

2) Selaku administrasi, kepala madrasah bertugas menyelenggarakan administrasi:

a) Perencanaan b) Pengorganisasian c) Pengarahan d) Pengkoordinasian e) Pengawasan

f) Kurikulum g) Kesiswaan h) Kantor

23 Rahmad Kadri Sumadi, Profesionalisme Kepala Sekolah (Bandung: PPs IKIP Bandung, 1991), 11-12.

i) Kepegawaian j) Perlengkapan k) Keuangan

l) Perpustakaan

3) Selaku supervisor, kepala madrasah menyelenggarakan supervisi mengenai:

a) Kegiatan belajar mengajar

b) Kegiatan bimbingan dan penyuluhan c) Kegiatan ko kulikuler dan ektra kulikuler d) Kegiatan ketatausahaan

e) Kegiatan kerja sama dengan masyarakat dan usaha

Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kepala madrasah mempunyai tanggung jawab untuk mengelola sumber daya manusia (guru dan personel lain) serta sumber daya lain seperti sarana prasarana agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar dan meningkat. Dengan demikian potensi murid dapat berkembang dengan optimal. Dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan tersebut kepala madrasah melaksanakan fungsi manajemen, kepemimpinan serta fungsi supervisi.

Untuk mencapai visi dan misi pendidikan, madrasah membutuhkan kepala madrasah yang mampu menjalankan peran pemimpin dan fungsi kepemimpinan di madrasah. Kunci keberhasilan suatu madrasah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektifitas kinerja kepala madrasah.

Kepala madrasah dituntut memiliki persyaratan kualitas manajerial dan kepemimpinan yang kuat.

Keberhasilan madrasah hanya dapat dicapai melalui fungsi-fungsi manajerial dan fungsi kepemimpinan kepala madrasah yang berkualitas.

Kepala madrasah yang berkualitas yaitu kepala madrasah yang memiliki kemampuan dasar kepemimpinan, manajerial, kualifikasi pribadi yang baik, serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang professional.

Menurut Katz dan Katin seorang kepala madrasah harus memiliki keahlian atau keterampilan manajerial, yaitu sekelompok kemampuan yang harus dimiliki oleh tingkat pemimpin apapun, yang mencakup:

conceptual skills, human skills, technical skills; (a) technical skills (terampilan teknik) yaitu kecakapan spesifik tentang proses, prosedur, teknik-teknik atau merupakan kecakapan khusus dalam tugas-tugas manajerial yaitu merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, memonitor dan mengevaluasi, (b) human skills (keterampilan relasi manusiawi) yaitu keahlian atau keterampilan manajerial yang berkaitan dengan relasi sosial yang humanistik. Kemampuan kepala madrasah menciptakan rasa saling menghormati, menghargai, saling memberi dan menerima perhatian dan masukan, serta keterampilan memotivasi dan membangun semangat, (c) conceptual skills (keterampilan konseptual) yaitu keahlian atau keterampilan manajerial yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan konsep-konsep teoretis tentang visi dan misi madrasah kurikulum, teori-teori belajar dan proses belajar mengajar pada umumnya.24

Berdasarkan tiga kategori kemampuan manajerial tersebut, kepala madrasah harus memiliki kemampuan yang meliputi (1) mampu berfungsi sebagai seorang pendidik, (2) mampu menampilkan analisis tinggi untuk mengumpulkan, mencatat dan menguraikan tugas pekerjaan, (3) mampu mengembangkan silabus rangkaian mata pelajaran dan program-program pengajaran, (4) mampu menjadi mahkota dari berbagai macam teknik mengajar, (5) mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian dalam pendidikan dan mempergunakan temuan riset, (6) mampu mengadakan supervisi dan evaluasi pengajaran, fasilitas, kelengkapan, dan materi pelajaran, dan (7) mengetahui kejadian di luar madrasah yang berhubungan dengan paket dan pelayanan pendidikan.

24 Wuradji, The Educational Leadership (Kepemimpinan Transformational) (Yogyakarata: Gama Media, 2009), 100-101.

Kepala madrasah harus memiliki keahlian atau keterampilan memimpin, yaitu mampu mempengaruhi dan mengarahkan para guru dan warga madrasah lainnya mewujudkan tujuan madrasah, memberi motivasi dan membangun semangat partisipasi dalam setiap kegiatan madrasah, menciptakan suasana kerja harmonis, dan mampu mendelagasikan wewenang secara tepat. Karena itu kepala madrasah juga harus memiliki kualifikasi pribadi yang baik, patut diteladani para warga madrasah.

Dengan kata lain seorang kepala madrasah sebagai pemimpin yang diharapkan berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan harus didukung oleh mental, fisik, emosi, watak, sosial, sikap, etika, dan kepribadian yang baik.

Berdasarkan uraian di atas maka kepala madrasah harus memiliki (1) pengetahuan terhadap tugas, mampu secara menyeluruh mengetahui banyak tentang lingkungan dimana madrasah tersebut berada, (2) kemampuan memahami hubungan kerja antar berbagai unit, pendelegasian wewenang, sikap bawahan, serta bakat dan kekurangan dari bawahan, (3) wawasan organisasi dan kebijaksanaan khusus, perundang-undangan dan prosedur, (4) kepekaan untuk membangun semangat staff yang dihadapi, (5) seorang pemimpin harus mengetahui lay out secara fisik bangunan, kondisi operasional, berbagai macam keganjilan dan problema yang biasa terjadi.

2. Budaya Belajar Peserta Didik a. Pengertian Budaya Belajar

Sebelum menjelaskan arti budaya belajar, maka terlebih dahulu memberikan arti kebudayaan. Kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan pengalaman lingkungannya serta menjadi kerangka landasan bagi menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Berdasarkan konsep tersebut, maka budaya

mengenai belajar yang digunakan oleh individu atau kelompok sosial untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi dalam lingkungannya.25

Menurut Rusyan, budaya belajar merupakan serangkaian kegiatan dalam melaksanakan tugas belajar yang dilakukan.26 Hendaknya seseorang menjadikan belajar sebagai suatu kebiasaan dan jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan, berarti melanggar suatu nilai atau patokan yang ada. Di samping itu, hendaknya seseorang diharapkan menjadikan belajar sebagai suatu kebutuhan dan hobi, sehingga dengan sendirinya motivasi belajar akan muncul dalam dirinya yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas belajar.

Menurut ajaran Rousseau sebagaimana dikutip oleh Dalyono,

“Manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan.”27 Akan tetapi, akibat budayalah penyebabnya sehingga menjadi lebih fatal jika dibandingkan dengan sebagian besar penduduk yang menjalani kemunduran adat istiadat. Dalam hal ini, Tirtarahardja mengilustrasikan bahwa kemunduran adat biasanya dipengaruhi oleh sekumpulan penduduk yang merasa berat dan malas untuk hijrah dari kebiasaan yang selama ini mengganggap dirinya sudah mengalami kemajuan.28Pada kelompok ini, mereka sama sekali tidak mau menerima segala macam pembaharuan dan sama sekali tidak mau mengubah tradisi yang selama ini sudah diyakini akan kebenarannya.

Menurut Koentjaraningrat, “faktor budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan.”29 Peserta didik selalu berusaha untuk senantiasa melakukan kontak dengan masyarakat. Pengaruh-pengaruh budaya yang ada unsur negatif dan salah terhadap dunia pendidikan juga ikut memberikan

25Parsudi Suparlan,Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan(Jakarta: Rajawali, 1984), 172.

26A. Tabrani Rusyan dan Atang Kusdinar,Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 12.

27Dalyono,Psikologi Pendidikan(Jakarta: Rineka Cipta, 2001), 106.

28Tirtarahardja, dan La Sula,Pengantar Pendidikan(Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 246.

29 Koentjaraningrat, Bunga Rampai: Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1990), 147.

pengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Peserta didik biasanya sangat cepat terpengaruh dengan lingkungannya sehingga apabila anak didik bergaul dengan orang yang tidak sekolah atau putus sekolah, maka akan terpengaruh juga dengan mereka. Dalam hal ini Slameto berpendapat, “Banyak siswa gagal belajar akibat karena mereka tidak mempunyai budaya belajar yang baik. Mereka kebanyakan hanya menghafal pelajaran.”30

Pendapat Slameto tersebut dipertegas pula oleh William H. Burton dalam Hamalik yang temasuk ke dalam salah satu prinsip belajar yang semestinya dimiliki, yaitu: “proses belajar terutama terdiri dari berbuat hal-hal yang harus dipelajari di samping bermacam-macam hal lain yang ikut membantu proses belajar itu.”31

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut di atas secara implisit memberikan gambaran bahwa budaya belajar siswa senantiasa memiliki hubungan dengan prestasi belajar. Hal itu disebabkan karena dalam adat menuntut ilmu mencakup teknik dan kiat-kiat menuntut ilmu yang diikuti oleh peserta didik. Secara global, masing-masing peserta didik selalu bertindak berdasarkan kebiasaannya dan enggan untuk mengubahnya walau siswa paham, bahwa terdapat trik lain yang barangkali mengunggulinya seandainya ia mau melaksanakannya.

Sehubungan dengan hal tersebut, budaya belajar peserta didik niscaya akan menjadi tradisi kuat yang dianut oleh peserta didik. Tradisi tersebut juga akan senantiasa melekat di dalam setiap tingkah laku dan tindakan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari baik di madrasah, dan tempat tinggalnya. Umpamanya, kebiasaan dalam menggunakan dan mengefisienkan kesempatan berpikir, aturan ketika belajar, ketekunan ketika belajar, dan kotinyu ketika mengaplikasikan teknik belajar yang efisien.

30Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya(Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 73.

Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya belajar dalam masyarakat ialah suatu kebiasaan yang dilakukan masyarakat secara bersama-sama untuk belajar.

b. Budaya Belajar Berdasarkan Perubahan Kebudayaan Manusia 1) Akulturasi Budaya Belajar

Sebutan akultursi baru bisa diungkapkan sekitar tahun 1934 oleh sebuah lembaga penelitian Ilmu Sosial Internasional. Adapun personalnya yang terkenal seperti Redfield, Linton, dan Herskovits, yang menurunkan pengertian tentang akultursi mencakup sebuah fakta yang muncul sebagai dampak adanya kontk secra langsung dan terus menerus antra kelompok-kelompok insan yang memiliki kebiasaan yang bermacam-macam, sehingga memunculkan adanya peralihan kebiasaan yang murni dari kedua penduduk yang berhubungan.

2) Asimilasi Budaya Belajar

Asimilasi bisa dilihat sebagai sistem proses kemasyarakatan yang dibuktikan dengan makin terlihat perpecahan-perpecahan antar personal dan antar group serta dengan semakin lekatnya persaudaraan dalam aspek kegiatan. Asimilasi berhubungan dengan watak dan proses mntal yang berkaitan dengan misi dan kebutuhan kelompok.

Asimilasi kebiasaan belajar pada awalnya merupakan teknik saling mengamati system kebiasaan belajar antar personal dan group sehingga bisa memajukan kebiasaan belajar sendiri-sendiri.

3) Difusi Budaya Belajar

Difusi kebiasaan belajar biasanya dilihat sebagai sistem penularan dari suatu kebiasaan belajar personal kepada personal yang lainnya atau dari warga kepada warga lainnya. Nilai suatu kebiasaan belajar baru bisa diterima oleh warga jika mempunyai keserasian dengan pola ide, adat serta perasaan warga, maka kebiasaan belajar akan menjadi perkara yang menyeluruh. Begitu juga dengan kebalikannya, jika kebiasaan belajar baru yang waktu ditularkan hanya

disuport oleh sebagian kecil warga, maka dinamakan jalan keluar.

Tetapi, apabila kebiasaan belajar hanya disuport oleh sebagian kecil saja, maka disebut ahli.

Jika sistem ide, tutur kata dan tingkah laku belajar baru hanya nampak ke dalam individu saja, maka hal itu dinamakan particular personal. Sedangkan proses peniruan kebiasaan belajarnya dinamakan dengan tiruan. Dalam kalangan para pencetus kebiasaan belajar factor imitasi merupakan hal yang biasa dilaksanakan, ketika mereka dihadapkan pada suatu problem agar secepatnya diselesaikan permasalahan yang terjadi dalam lingkungannya. Gejala peniruan tersebut dapat berupa benar dan salah.32

G. Metode Penelitian

Dalam dokumen MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 31-45)