SCHOOLS IN THE REGENCY OF PINRANG, SOUTH SULAWESI
C. Budaya dan Peradaban
ü Penyingkatan sebuah kata, contohnya kudut menjadi kut, kaut menjadi ket, nanang menjadi nan, moromatan menjadi moron, dan sebagainya.
i. Kalimat BM cenderung mengulangi beberapa kata ganti diri untuk tujuan penekanan. Hal ini terjadi karena BM pada dasarnya merupakan bahasa tutur sehingga ada kebutuhan untuk memperlancar dan memperindah pengucapannya. Akan tetapi, pengulangannya dalam kalimat disingkatkan.
Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘selamat’. Kata tabe dalam budaya Manggarai dipakai untuk: (1) menyapa atau memberi salam pada orang lain tanpa dipengaruhi oleh waktu atau pun suasananya, jadi dalam BM tidak dikenal selamat pagi, siang, atau sore serta selamat berbahagia atau selamat makan; (2) mengungkapkan ‘permisi’, contohnya tabe o ite yang berarti “Permisi ya, Tuan”; dan (3) menutup pembicaraan atau surat, yang dalam hal ini berarti ‘salam’ atau ‘selamat’.
b. Untuk mempersilakan orang menikmati atau mengalami sesuatu, dalam budaya Manggarai lazim menggunakan kalimat pendek khusus, dimulai dengan kata yang menggambarkan kegiatan yang hendak segera dilakukan diikuti partikel ge atau ga. Misalnya, untuk mempersilakan orang makan dipakai hang ge ite yang berarti “Makanlah, Tuan/Nyonya” atau “Bagaimana kalau Tuan/Nyonya makan sekarang?” Atau menggunakan kata-kata kiasan seperti pande, wajo, dan bowo. Untuk nilai kesopanan terkadang didahului kata asa atau com yang berarti ‘bagaimana kalau’.
c. Untuk menyapa tamu yang datang ke rumah, dan apabila tamu sudah duduk, tuan rumah langsung menyapa dengan:
§ Kepada tamu yang diundang digunakan kalimat: (1) hitud ite bao ko? (2) ite, hitud bao ko?; atau (3) hitut bao ga? yang arti harfiahnya adalah “Tuan/Nyonya, itu Anda tadikah?” atau dapat pula diartikan sebagai ungkapan selamat datang dan rasa terima kasih atas kedatangan tamu.
§ Kepada tamu yang mampir, singgah, atau datang tanpa diundang, digunakan kalimat: mai ce’ed ite bao ko? atau cenggo ce’ed ite bao ko? yang secara harfiah berarti “Datang kemari Andanyakah?”
Ekspresi yang sesungguhnya ingin diungkapkan adalah rasa senang karena tamu datang mengunjungi dan biasanya dilanjutkan dengan menanyakan maksud kedatangan. Jika ingin langsung menanyakan alasan kedatangan, kalimat yang diucapkan tuan rumah adalah: Mori/ite, lako gula ketad bao ga? yang secara harfiah berarti “Tuan, jalan pagi sekalilah Andanya tadi?”, tetapi yang sesungguhnya dimaksud adalah menanyakan “Ada apa gerangan Tuan datang pagi-pagi? “
4) Terjadi perubahan peradaban penutur. Hal ini terungkap pada sejumlah kata yang diduga merupakan serapan yang mirip dengan bahasa lain, terutama bahasa Indonesia dan bahasa asing, yang dipakai dalam penuturan sehari-hari orang Manggarai sejak tahun 1960-an sampai sekarang. Sejak kedatangan Gereja, penutur Manggarai mulai dikenalkan kepada bahasa Indonesia dan terminologi tradisi katolik, sejalan dengan mulai berdirinya sekolah-sekolah katolik di hampir seluruh wilayah yang menggunakan dialek-dialek Bahasa Manggarai.
5) Bahasa Manggarai merupakan bahasa gunung, yakni bahasa yang dipakai pada kehidupan desa, kampung, dan latar belakang kehidupan penutur terdahulu yang sangat bergantung dan bersandarkan pada kemurahan dan kekayaan alam.
Lebih dari itu, bahasa ini menunjukkan bahwa tanah Manggarai merupakan tanah yang subur, terungkap dari sejumlah kata berlatar agraris serta idiom atau frasa yang menggunakan tumbuhan dan hewan dalam ekspresi kesenian berbahasanya.
7. SIMPULAN
A. Yang mengesankan dari perjalanan panjang pembuatan kamus ini yakni bahwa penulis tidak mempunyai otoritas keilmuan yang sesuai, tidak mempunyai kapabilitas, dan tidak berpengalaman dalam membuat karya tulis seperti kamus.
B. Pembuatan kamus bahasa, terutama yang berjenis bilingual dengan lema bahasa daerah, membutuhkan berbagai macam keterangan tambahan yang membuat kata tersebut bermakna benar. Keterangan tambahan dimaksud adalah keterangan yang berhubungan dengan sejarah dan latar atau konteks kata. Biasanya untuk bahasa daerah, informasi, sejarah, budaya, dan tradisi menjadi sangat bermanfaat untuk mendapatkan makna kata secara tepat.
C. Kamus bahasa, khususnya bahasa daerah, bisa berfungsi sebagai dokumentasi, bukan saja dalam soal kata atau bahasa semata, tetapi juga dokumentasi diksi, aksi, interaksi, tradisi, properti, sejarah, dan mungkin ideologi. Dengan demikian, kamus bahasa akan menjadi media literasi dalam berbagai hal, terutama hal-hal seputar manusia dari suku penutur bahasa tersebut.
D. Sebaiknya setiap bahasa daerah berusaha atau diusahakan memiliki standar berbahasa untuk membuat vitalitas bahasa tersebut bertambah. Karena dengan keberadaan standar berbahasa, perangkat linguistik dapat diaplikasikan sebagai “vitamin” bagi ketergunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
E. Pola kemiripan kata dalam bahasa daerah, dalam hal ini Bahasa Manggarai, dapat digunakan sebagai pola untuk mengadopsi kata-kata yang tidak ada dalam penuturan terdahulu.
F. Untuk mengatasi hilangnya beberapa kata bahasa daerah, khususnya yang berhubungan dengan properti atau alat akibat perubahan gaya hidup, perlu dipikirkan upaya untuk mengonversikan kata-kata tersebut ke dalam kata-kata baru bahasa Indonesia, atau bahasa asing, berdasarkan kesamaan fungsi atau tujuan kata.
G. Bagi penyelenggara pendidikan tinggi, khususnya di daerah, diharapkan untuk membuat terobosan baru dengan membuka studi bahasa daerah setempat. Selain itu, Pemerintah Daerah diharapkan bisa memfasilitasi penyelenggaraan kongres bahasa daerah.
Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI
8. PENUTUP
Demikian paparan refleksi pengalaman penyusunan kamus bahasa Manggarai ini yang dibuat untuk berbagi gagasan kepada para penggiat dan pemerhati bahasa, khususnya bahasa daerah, dan bagi pembuat kebijkan dalam rangka pengembangan bahasa daerah dan bahasa nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semakin kuat bahasa daerah, semakin kuat budaya bangsa, semakin jaya Indonesia. Amin.
Jakarta, 12 September 2019 _________________________
1. https://www.zonareferensi.com/pengertian-bahasa/
2. https://www.zonareferensi.com/pengertian-bahasa/
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Manggarai 4. https://www.academia.edu/5768666/Pengertian_Kata
5. https://www.linguistikid.com/2016/12/pengertian-leksikografi-linguistik.html 6. https://www.linguistikid.com/2016/12/pengertian-leksikografi-linguistik.html.
7. https://www.academia.edu/32260146/_KAMUS_
8. http://eprints.uny.ac.id/17291/1/Ika%20Kurniasih%2010210141004.pdf8
9. https://argadiaerlin97.wordpress.com/2017/06/22/pengertian-kata-hakikat-kata-dan- penglasifikasian-kata/
10. https://www.dkampus.com/2017/05/pengertian-literasi-menurut-para-ahli/