• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 96-99)

EDUCATION LEXICOGRAPHY)

1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

Keterampilan berliterasi merupakan kegiatan yang sudah semestinya dimiliki oleh peserta didik. Kegiatan literasi tidak hanya mampu mendorong peserta didik untuk gemar membaca, tetapi juga “melek” akan hal yang berhubungan dengan literasi. Kegiatan berliterasi bermanfaat agar dapat menelusur, memilih, dan memanfaatkan informasi dengan baik dan benar (Hermawan 2017:70). Akan tetapi, manfaat tersebut belum disinergikan dengan keterampilan peserta didik dalam berliterasi. Hal ini dibuktikan berdasarkan riset  Central Connecticut State University  2016 yang mengatakan bahwa literasi Indonesia berada di tingkat kedua terbawah dari 61 negara, hanya satu tingkat di atas Bostwana. Tidak hanya itu, kemampuan membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah juga dibuktikan dengan riset UNESCO yang mengungkapkan bahwa hanya satu dari 1000 orang di Indonesia yang membaca buku. Tentu ini sebuah fakta yang sangat miris dan memprihatinkan.

Salah satu bentuk kegiatan literasi, yaitu baca dan tulis. Salah satu contoh kegiatan membaca yang dapat dilakukan adalah membaca kamus. Membaca kamus disini tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami makna dari kata-kata yang ada pada kamus tersebut, menelaah maksudnya, dan mampu menerapkan penambahan kosa kata yang sebelumnya belum diketahui dan dipahami pada kehidupan sehari-hari. Jadi, secara tidak langsung membaca akan menambah kosa kata yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik akan semakin ‘kaya’ dengan kosa kata.

Hasil observasi di SMPN 2 Demak pada siswa kelas VII menunjukkan bahwa

ketika penulis bertanya teks prosedur apa yang pernah dibuat, para siswa kebingunan.

Saat mereka ditanya tentang pernah membuat sesuatu apa yang berupa langkah-langkah, mereka menjawab membuat indomie, membuat nasi goreng, atau makanan dan minuman yang lain. Simpulan dari obervasi tersebut adalah pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam menyusun teks prosedur masih kurang. Selain itu, hampir semua siswa masih belum mengetahui bagaimana kamus dapat terbentuk. Ada pula yang belum mampu mencari sebuah kata di kamus dengan benar. Siswa tersebut masih mencari sebuah kata dari awal, tidak membuka huruf pertama dari kata yang hendak dicari, kemudian dilanjutkan huruf kedua, apabila masih belum menemukan kata tersebut, beralih mencari huruf ketiga. Masih banyak pula kata yang terasa “asing”, yang ada di KBBI.

Hal yang perlu ditekankan kepada peserta didik adalah menyusun teks prosedur dengan langkah mengetahui bagaimana kamus dapat terbentuk, menelaah arti dari kata yang sudah dicari, kemudian dapat mengimplementasikan kata-kata yang sudah dicari tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kegiatan tersebut dapat terbentuk apabila kita mampu mengimplementasikan teks prosedur dalam leksikografi pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam tulisan ini sebagai berikut.

a. Bagaimana langkah-langkah dalam penyusunan kamus?

b. Apa saja makna dari kata yang sulit yang ada di kamus?

c. Bagaimana langkah-langkah penggunaan kamus yang dimplementasikan dalam teks prosedur kelas VII?

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini sebagai berikut.

a. Mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam penyusunan kamus.

b. Memahami makna atau arti dari kata yang dicari di kamus.

c. Menerapkan langkah-langkah penggunan kamus yang diimplementasikan dalam teks prosedur kelas VII.

Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI

1.4 Tinjauan Pustaka

Pengertian Literasi

Literasi merupakan landasan untuk kegiatan belajar sepanjang hayat. Literasi juga dapat diartikan sebagai keberaksaraan. Literasi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan membaca dan menulis dasar pemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur lisan dan tertulis, dari dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial pendidikan barat (Goody dan Watt, 1963).

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun, sekarang ini literasi memiliki arti luas sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multiliteracies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy). Bahkan, ada literasi moral (moral literacy).

Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan paham teknologi, paham informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan. Bahkan, peka juga terhadap politik. Seseorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut (Permatasari 2015: 148).

Pengertian Teks Prosedur

Teks prosedur merupakan teks yang menjelaskan langkah-langkah secara lengkap, jelas, dan rinci tentang cara melakukan sesuatu. Berdasarkan fungsinya, teks prosedur tergolong ke dalam teks paparan. Teks tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tata cara melakukan sesuatu dengan sejelas-jelasnya (Kosasih, 2014: 67). Teks prosedur merupakan salah satu dari jenis teks yang termasuk genre faktual dengan subgenre prosedur (Mahsun, 2014: 30). Dalam KBBI (2008: 360) dijelaskan bahwa prosedur adalah tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas, metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu masalah.

Langkah-Langkah Penyusunan Kamus

Menurut Samporana (2014), ada beberapa tahapan dalam penyusunan kamus yang harus diikuti, yaitu

a) Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengadakan segala sesuatu yang dapat menunjang kelancaran pelaksanaan penyusunan kamus. Yang perlu diperhatikan, antara lain

1) penyediaan alat-alat tulis,

2) penyediaan sumber data, seperti buku, media massa cetak, dan kamus yang sejenis, dan

3) penyediaan bahan sumber rujukan yang dapat berupa kamus dan ensiklopedi.

b) Pengumpulan data

Data yang diperoleh harus disusun secara bersistem. Sumber data itu dikumpulkan dengan cara memindahkannya ke dalam kartu. Manfaat kartu adalah menghasilkan data yang tepat dan taat asas guna menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan. Data yang sudah terkumpul dalam bentuk kartu harus disusun mengikuti abjad. Penyusun kamus harus memiliki pengetahuan dasar-dasar morfologi terutama morfologi bahasa.

c) Pengolahan data

Setelah kartu-kartu tersusun sesuai dengan abjad, kemudian dilakukan pengolahan dan penggarapan. Data-data yang sudah terkumpul diseleksi dan diperiksa kembali untuk menentukan keabsahan data serta untuk memisahkan data-data yang dapat dimanfaatkan.

Data yang tidak perlu dimanfaatkan harus dikeluarkan. Kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah

1) pemeriksaan urutan abjad, 2) penyeleksian data,

3) klasifikasi data,

4) pemberian definisi, dan

5) penyuntingan hasil pemberian definisi.

d) Pengetikan kartu induk

Kartu induk adalah kartu-kartu entri yang akan digunakan sebagai dasar penyusunan kamus. Kartu induk merupakan hasil akhir dari pengolahan data.

e) Penyusunan kartotek

Kartotek merupakan kartu-kartu yang berupa kartu induk kamus yang disusun menurut abjad dan diatur sesuai dengan urutan susunan entri yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan tujuan penyusunan kamus. Kartotek merupakan kegiatan yang

mengarahkan proses penyusunan kamus ke kegiatan pengetikan atau kamus yang siap cetak.

f) Pengetikan naskah

Mengetik naskah kamus dilaksanakan berdasarkan kartotek.

g) Koreksi naskah

Untuk menghindari kesalahan ketik yang terjadi pada saat pengetikan naskah penyusun harus melakukan koreksi pada tahap ini. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kamus sudah dapat cetak dan siap edar.

h) Cetak coba

Setelah naskah kamus sudah di koreksi dan betul-betul sudah siap cetak, naskah kemudian diserahkan ke percetakan. Untuk memastikan kamus siap edar percetakan harus mencetak kamus dalam bentuk cetak coba. Apa yang perlu di perbaiki dan dipertahankan kembali diperiksa pada tahap ini.

Dalam dokumen PROSIDING (Halaman 96-99)