SCHOOLS IN THE REGENCY OF PINRANG, SOUTH SULAWESI
VI. DAFTAR PUSTAKA
upaya ini diharapkan dapat mendukung perkembangan literasi buku cerita rakyat Bawean, sehingga tradisi budaya dan kesusastraannya dapat terjaga dengan baik, serta tetap bertahan dan lestari dalam waktu yang tak terbatas.
Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI Utami, Sri Wiryanti Budi. 2019. Danau Kastoba. Manuskrip Terjemahan Cerita Rakyat
Bawean.
___. 2019. Waliyah Zainab. Manuskrip Terjemahan Cerita Rakyat Bawean.
https://gresikkab.go.id
Refleksi Pengalaman Pembuatan Kamus Bahasa Manggarai
Oleh: Robert S. Ebat
1. PENDAHULUAN
Bahasa diadakan, diciptakan, atau hadir sebagai kemampuan mendasar manusia untuk ber-imajinasi, ber-aksi, be-reaksi, ber-interaksi, ber-kreasi, hingga membentuk dinamika kebersamaan (organisasi) dalam macam tingkatan dan ragam tujuan. Dengan dan melalui bahasa, manusia bdapat bekerja sama untuk suatu tujuan: kebaikan, kemajuan, dan kesejahteraan.
Pernyataan di atas mendorong pemakalah terlibat dalam dunia perbahasaan, dimulai dengan ‘kenekatan liar’, menulis sebuah kamus bahasa. Dinamakan kenekatan liar karena penulis tidak dibekali kemampuan perkamusan yang benar sehingga prinsip yang digunakan adalah doing by trial, bukan trial by doing. Intinya, yang penting memulai saja, dan untuk menjaga konsistensi semangat, penggalan diksi ala proklamator pun didengungkan: “hal-hal mengenai perbaikan ke-bahasaa-an dan lain-lain akan dilaksanakan dengan cara apa adanya dan dalam tempo secepat-cepatnya”.
Syukur kepada Tuhan dan terimakasih karena dalam suatu kesempatan setelah kamus diselesaikan, dan menjadi sebuah buku, secara tidak sengaja karya ini diperkenalkan kepada salah satu pimpinan unit kerja di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat banyak diskusi tentang eksistensi bahasa daerah, perkamusan, dan kemungkinan berbagi pengalaman dengan ‘pekamus’ yang lain. Setelah perjumpaan itu, terminologi, linguistik, leksikografi, dan lain-lain, mulai digeluti. Berbagai tulisan tentang bahasa, perkamusan, atau teknik membuat kamus dicari dan dipelajari dari berbagai sumber, terutama dari media internet.
Sejalan dengan waktu, kesempatan untuk berbagi pengalaman kerja Kamus Bahasa Daerah pun dijadwalkan pada Seminar Leksikografi Indonesia 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ini merupakan tawaran dan kesempatan yang sangat berharga. Melalui seminar ini, karya sederhana ini ternyata menjadi penting. Karya leksikografi dari seorang yang bukan ahlinya dapat dihadirkan dalam forum yang bukan main ahli-nya dalam bidang leksikografi. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar melalui Seminar Leksikografi Indonesia ini, karya perkamusan yang semula dilakukan dengan main-main, pada masa mendatang dapat menghasilkan Kamus Bahasa Manggarai yang kualitasnya bukan main.
Prosiding SLI 2019 | 11---13 September 2019LEKSIKOGRAFI DAN LITERASI
2. MOTIVASI
Motivasi yang mendorong penulis terjun dalam kerja ini sungguh sangat sederhana, yaitu prihatin. Penulis merasa prihatin terhadap keterasingan anak-anak suku Manggarai dalam berbagai forum pertemuan atau perjumpaan keluarga Manggarai. Inti dari keprihatinan ini adalah bahasa Manggarai tidak dijadikan sebagai bahasa ibu bagi keluarga Manggarai di perantauan atau bahkan di perkotaan pusat-pusat pemerintahan juga pusat pendidikan di tanah Manggarai, meskipun kedua orang tua mereka sama-sama berasal dari dan mampu berbahasa Manggarai. Dengan kondisi ini muncul rasa galau atau geram dan pertanyaan mengapa hal ini terjadi. Jika dibandingkan dengan kondisi yang dialami oleh keluarga-keluarga Batak, Jawa, Sunda, maupun keluarga Tionghoa, anak-anak mereka kebanyakan dapat berbahasa daerah atau paling tidak mengerti bahasa dan budaya leluhurnya. Mengapa mereka bisa?
Keprihatinan lain adalah ketidaktersediaan kamus dan buku tata bahasa Manggarai secara luas yang dapat dijadikan acuan dalam belajar atau praktik berbahasa. Karena bahasa merupakan salah satu objek yang dapat dipelajari, diperlukan berbagai macam buku ajar, mulai dari buku teori bahasa, buku latihan, dan terutama kamus bahasa yang sesuai. Sementara pada sisi lain, bahasa Manggarai sudah memiliki Kamus Manggarai karya seorang pastor Belanda, Pater Verheijen, SVD, yang telah dikompilasikan dan dicetak pada tahun 1967. Selain itu, beliau bersama Pater Erwin (warga Jerman) pada tahun 1980 telah membut kamus khusus tentang nama-nama tanaman dalam bahasa Manggarai (Dictionary of Manggarai Plant Names, 1982) yang diterbitkan dan menjadi koleksi perpustakaan The Australian National University. Kamus-kamus ini sering hanya dijadikan sebagai referensi dalam menelaah unsur-unsur linguistik bahasa Manggarai.
Meskipun demikian, keprihatinan tersebut telah mengilhami kemunculan motivasi popularitas dan komersial. Ketika itu, sebelum kamus terbit, penulis merasa sangat yakin bahwa membuat kamus bahasa daerah ini merupakan kesempatan untuk mendatangkan manfaat bagi penulis. Paling tidak penulis akan lebih dikenal atau dapat menjadi terkenal.
Selain itu, kalkulasi bisnis yang dibuat pun memprediksi keuntungan. Hal ini diperkuat dengan pendapat yang mempercayai bahwa kamus bahasa daerah, seperti Bahasa Manggarai (BM), akan diminati oleh sebagian besar keluarga Manggarai di mana saja, baik di perantauan atau di perkotaan-perkotaan tanah Manggarai. ‘Barang’ ini memiliki nilai nostalgia, sejarah, adat, dan lain-lain, yang semuanya diyakini akan menjadi daya pikat bagi orang Manggarai untuk memilikinya.
3. BAHASA MANGGARAI (BM)
Sudah menjadi pandangan umum bahwa bahasa adalah gambaran kehadiran sekelompok manusia dalam pola kehidupan komunitas yang hidup bersama-sama sebagai warga masyarakat. Hal tersebut masuk akal karena bahasa merupakan media komunikasi yang terbentuk dari kata atau sejumlah kata yang mewakili gagasan manusia.
Menurut sejarahnya, kata bahasa berasal dari kata Sanskerta भाषा (bhāṣā) yang mendefinisikan bahasa sebagai kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan, atau alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan. Ferdinand De Saussure1 menyatakan bahwa bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain2.
Bahasa manggarai adalah bahasa suku Manggarai atau orang Manggarai. Karena hanya berlaku dan berkembang di daerah Manggarai, maka bahasa ini disebut sebagai bahasa daerah. Bahasa daerah ini telah sukses menjadikan tanah Manggarai memiliki identitas kebahasaanya yang sama. Dalam Wikipedia, bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Jumlah penuturnya sekitar 0,9 juta orang dengan kode bahasa mqy dan status ketahanan bahasanya 6a (tumbuh). Suku Manggarai berlokasi di ujung barat pulau Flores yang mencakup 1/3 (sepertiga) wilayah pulau Flores. Bahasa Manggarai terdiri atas empat dialek, yaitu Manggarai Timur, Manggarai Tengah, Manggarai Barat, dan dialek SH, dengan sistem aksara berupa alfabet Latin3.
Sejalan dengan pendapat para ahli, bahasa ini dipakai bukan saja untuk komunikasi lisan sehari-hari orang Manggarai, tetapi juga dipakai sebagai bahasa doa (liturgis) dan pada bahasa Kitab Suci (Alkitab) di wilayah Keuskupan Ruteng. Selain itu, Bahasa Manggarai juga dipakai pada acara protokoler penyambutan tamu, baik pada kegiatan resmi pemerintah, ormas, dan acara-acara adat.
Bahasa Manggarai masih memiliki banyak penutur yang loyal menggunakan bahasa ini sebagai alat interaksi dengan ketepatan mimik dan kekhasan intonasi pengucapannya, sebagaimana definisi bahasa menurut Kridalaksana (1985:12)4. Sebaran penutur yang loyal terdapat di kampung-kampung, dan secara usia mereka adalah golongan dewasa dan usia lanjut.
4. TAHAPAN PELAKSANAAN
Atas dasar motivasi tersebut, kerja perkamusan pun dilaksanakan. Perhatian dan pikiran dipusatkan pada jawaban atas pertanyaan: bagaimana sajian yang terbaik dan menarik untuk pengguna, apalagi jika yang dibuat adalah kamus bahasa daerah? Lalu, bagaimana supaya kamus ini dapat membantu para ‘pemelajar’ untuk lebih mudah mempelajari Bahasa Manggarai? Dengan berfokus kepada hal-hal tersebut, maka pengerjaan kamus dimulai dengan mengikuti pola tampilan pengatakan yang terdapat dalam contoh kamus.