• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. PEMBAHASAN DAN DISKUSI

6.1. Budidaya Maggot Black Soldier Fly

Berdasarkan data SIPSN (2021), jumlah limbah di Pulau Jawa mencapai 34.595,25 ton/hari dengan presentase 40,9% limbah organik (sisa makanan 28,36% dan kayu atau ranting 12,54%). Pengelolaan limbah diberbagai daerah merupakan hal mendesak dan permasalahan lingkungan yang serius. SIPSN memberikan sebaran fasilitas pengelolaan limbah untuk mengurangi permasalahan limbah dilingkungan. Capaian Kinerja Pengelolaan Limbah merupakan capaian pengurangan serta penanganan limbah rumah tangga dan limbah sejenis limbah rumah tangga. Berikut data capaian kinerja pengelolaan limbah tahun 2021 yang terdiri 129 Kabupaten/Kota se-Indonesia:

Diagram komposisi limbah terdiri dari 2 diagram, antara lain berdasarkan jenis limbah dan berdasarkan sumber limbah:

Gambar 17. Capaian kinerja pengelolaan limbah 2021

Gambar 18. Diagram Komposisi Limbah Sumber: SIPSN, 2021.

Sebaran Fasilitas Pengelolaan Limbah merupakan sebaran fasilitas pengelolaan limbah yang meliputi lokasi TPA, TPS 3R, Bank Limbah, Rumah Kompos, Komposting Skala RT-RW, dan lain-lain. Di Kota/Kabupaten Malang, timbulan limbah mencapai 677,78 ton/bulan.

Sedangkan timbulan limbah per-tahunnya mencapai 247.388,97 ton.

Dalam penelitian ini, solusi penanganan limbah dilakukan khusus bagi limbah organik yang terintegrasi dengan peternakan sehingga dapat menimbulkan manfaat yang bernilai guna. Metode yang dilakukan adalah biokonversi limbah organik dengan organisme maggot black soldier fly.

Melalui organisme larva black soldier fly, massa limbah organik dapat terkurangi dan dapat dirubah menjadi protein serta lemak yang bermanfaat bagi bidang peternakan. Praktik peternakan yang dapat berinteraksi dengan pengelolaan limbah untuk menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri serta minimalisir limbah merupakan langkah yang baik. Revitalisasi yang dilakukan harus berkomitmen mengacu pada ekonomi sebagai praktik peternakan serta bisnis yang menguntungkan. Rumah Biokonversi Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly yang terletak di Boon Pring Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Bekerja sama dengan Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, BUMDES Kerto Rahajo mengintegrasi tempat wisata Boon Pring, memanfaatkan limbah organik yang dihasilkan dari tempat wisata, dijadikan sebagai budidaya maggot black soldier fly. Selain itu rumah maggot ini juga bekerja sama dengan salah satu restoran, pasar gadang, dan tukang kayu untuk mengambil limbah organik yang dibuang. Limbah organik basah terdiri dari limbah resto (kubis, kacang, terong, tomat), sayur sawi, dan buah (semangka, melon, jeruk) dimanfaatkan sebagai pakan maggot.

Sedangkan limbah organik kering berupa serbuk kayu halus dimanfaatkan sebagai media kultur pemeliharaan maggot.

Maggot black soldier fly dapat mengurangi massa limbah organik sebesar 50 – 60% (Mukti, dkk., 2021). Selain dapat mengurangi massa limbah organik dalam lingkungan, pakan alternatif yang dihasilkan dari proses biokonversi ini harapannya dapat menjawab permasalahan pakan yang saat ini harganya terus meningkat. Teknologi biokonversi memanfaatkan maggot black soldier fly untuk mengurai limbah organik menjadi protein. Limbah organik menjadi bahan makanan utama bagi maggot. Maggot black soldier fly mempunyai kandungan 40 – 50 % protein, terkandung asam amino esensial yang dapat difungsikan sebagai alternatif pengganti tepung ikan dan bungkil kedelai untuk makanan ternak (Auliani, dkk., 2021). Sumber protein yang dapat dijadikan sebagai aternatif pakan ternak merupakan pakan yang bahannya tersedia di lingkungan dengan jumlah meningkat dan tidak bersaing dengan manusia dalam pemanfaaatannya. Syarat bahan yang dapat dijadikan bahan baku antara lain: tidak berbahaya bagi hewan ternak, tersedia sepanjang waktu, serta mengandung nutrisi sesuai kebutuhan ternak. Berdasarkan persyaratan tersebut, maggot black soldier fly memenuhi syarat untuk dijadikan bahan baku alternatif pakan ternak.

Maggot black soldier fly merupakan organisme berasal dari telur black soldier fly. Budidaya maggot terus terbaharui tanpa khawatir tidak menghasilkan produk turunan secara berkelanjutan. Black Soldier Fly berasal dari Amerika, kemudian tersebar ke wilayah tropis dan subtropis.

Maggot black soldier fly hidup dilimbah bahan organik yang membusuk, seperti kotoran hewan dan bahan tanaman (decomposer). Black Soldier Fly di alam sering mengunjungi tanaman berbunga dari family Asteraceae

(kenikir) dan Apiaceae (wortel). Black Soldier Fly berasal dari Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda. Kelas Insecta, Ordo Dipptera (only have a single pair of wings) serangga yang hanya mempunyai sepasang sayap.

Suborder Brachycera (flies), Infraorder Tabanomorpha, Family Stratiomydae, Subfamily Hermetiineae, Genus Hermetia, Species Hermetia illucens. Black Soldier Fly merupakan lalat tentara hitam yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan telurnya, tumbuh berkembang menjadi maggot untuk merombak limbah organik dan sebagai alternatif pakan ternak. Black Soldier Fly tidak digolongkan sebagai vector penyakit karena tidak menimbulkan kerugian ekonomi maupun sosial. Sheppard et al.

(2002) dalam Putra dan Ariesmayana (2020), menjelaskan bahwa suhu optimum bagi black soldier fly bertelur secara alami di alam sekitar 27,5 – 37,50C dan suhu dipenangkaran (saat dibudidayakan) optimum lebih dari 24,40C (Putra dan Ariesmayana, 2020).

Sesuai dengan teori tersebut, suhu penangkaran di Rumah Maggot Boon Pring berkisar 290C – 310C. Berdasarkan hasil pengamatan, black soldier fly yang dibudidayakan sering disemprot dengan air, bertujuan untuk menjaga kelembaban suhu dalam saung lathi (kandang black soldier fly) dengan kelembaban optimum 30 – 90 %. Telur black soldier fly berwarna putih, lonjong, panjang sekitar 1 mm, dan dikumpulkan dalam koloni (Wardhana, 2016). Hasil pengamatan penelitian di Rumah Maggot Bon Pring, warna telur black soldier fly berwarna putih cream (telur baru) dan berwarna kuning (telur lama). Dalam buku saku maggot KKN – T IPB 2021, menjelaskan mengenai Siklus Hidup Fase telur menandakan permulaan dari siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumnya, melewati masa inkubasi selama 72 jam atau 3 hari. Black Soldier Fly betina bertelur sekitar 400 hingga 800 telur di dekat bahan

organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, yang disebut eggis sebagai tempat bertelur (Holmes et al., 2012).

Penetasan telur black soldier fly, menggunakan media yang mudah didapat dilingkungan sekitar seperti limbah sayur, buah, limbah resto, ampas kelapa, dan lain sebagainya. Rumah Maggot Boon Pring Andeman menghasilkan telur 70 gr per-dua hari.

Dalam penelitian ini dilakukan penetasan telur black soldier fly dengan 4 media penetasan yaitu, limbah buah semangka, limbah ampas kelapa, poor ikan, dan limbah resto (nasi, kubis, kacang panjang, tulang ayam dan sisa ikan goreng). Keempat media tetas tersebut diamati untuk mengetahui media mana yang baik dan optimal untuk penetasan telur

Gambar 19. Eggies Tempat Bertelurnya Black Soldier Fly

Gambar 20. Telur Black Soldier Fly

black soldier fly. Penetasan telur sebanyak 40 gr masing-masing dibagi 10 gr/box plastik (tempat media penetasan).

Dengan kelembaban sekitar 20%, penetasan telur black soldier fly menggunakan media limbah semangka dan poor basah menetas setelah 2 hari. Media penetasan limbah semangka dan poor lebih cepat dalam menetaskan telur black soldier fly dibandingkan dengan media tetas ampas kelapa dan limbah resto. Sedangkan ampas kelapa merupakan limbah lebih banyak mengandung air namun juga mudah kering. Sehingga saat telur black soldier fly ditetaskan diatas limbah ampas kelapa menetas setelah 3 hari dengan kontrol optimal menambahkan air setiap hari sebanyak 30 ml supaya media tetas tetap lembab. Kemudian telur black soldier fly yang ditetaskan pada limbah resto, menetas setelah 4 hari.

Menurut Mukti, dkk. (2018), media ampas kelapa dalam pembudidayaan maggot sebenarnya tidak dianjurkan. Sebab, media ampas kelapa masih mengandung air yang menyebabkan telur black soldier fly sulit untuk menetas. Dan pada kenyataan dilapangan, hal tersebut terbukti. Meskipun dalam hal ini media penetasan limbah semangka juga basah, tetapi fenomena yang terjadi dilapangan telur black soldier fly menetas sempurna dan lebih cepat, dibandingkan dengan media ampas maupun limbah resto.

Perbedaan lama penetasan telur black soldier fly disebabkan karena adanya faktor suhu, kelembaban, dan cahaya dari lingkungan.

Gambar 21. Penetasan Telur Black Soldier Fly

Berikut penjelasan mengenai siklus hidup larva black soldier fly yang merombak limbah organik dimulai dari fase telur sampai fase lalat dewasa:

Gambar 22. Siklus Hidup Black Soldier Fly

Siklus hidup black soldier fly hingga menghasilkan larva, berlangsung kurang lebih selama 30 – 43 hari tergantung kondisi lingkungan dan asupan limbah organik yang dicernanya. Berdasarkan pengamatan dilapangan, fase hidup Black Soldier Fly berkisar 30 – 40 hari, bermetamorfosis secara sempurna dengan 5 fase antara lain: telur, larva, prapupa, pupa, dan black soldier fly. Hal tersebut sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Auliani, dkk., 2021.

Hari ke 5 setelah penetasan disebut baby maggot atau 5-DOL (Five Day Old Larva). Dari media penetasan yang berbeda, baby maggot kemudian dipindahkan ke “Bina Larva” atau “Biopond” yang sudah dipersiapkan (4 biopond) masing-masing diisi media kultur serbuk kayu

halus dan ditengah diberi limbah organik basah (sisa makanan, buah, atau sayuran) sebanyak 5 kg. Baby maggot diberi makan limbah organik sebanyak 5 kg/hari selama 14 hari. Fresh maggot yang dihasilkan setelah 14 hari pemeliharaan sebagai berikut:

1. Baby maggot dari media tetas ampas kelapa yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 4 cm menghasilkan 16.55 kg fresh maggot.

2. Baby maggot dari media tetas limbah semangka yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 5 cm menghasilkan 15.33 kg fresh maggot.

3. Baby maggot dari media tetas dari media tetas poor yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 6 cm menghasilkan 16.09 kg fresh maggot.

4. Baby maggot dari dari media tetas limbah resto yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 8 cm menghasilkan 14.98 kg fresh maggot.

Masing – masing menghasilkan produksi fresh maggot yang berbeda karena kepadatan dan suhu mempengaruhi dalam pemeliharaan maggot black soldier fly. Kepadatan media kultur pemeliharaan dapat menyebabkan panas karena penguapan dari perombakan limbah organik oleh maggot black soldier fly, sehingga jika terlalu panas maggot black soldier fly sulit untuk berkembang.

Menurut penjelasan pegawai Rumah Maggot Boon Pring, biasanya maggot back soldier fly dari tetasan telur 10 gr dapat memakan rakus limbah organik 10 kg per-hari bahkan lebih banyak dan menghasilkan 10 – 25 kg fresh maggot. Semakin banyak maggot memakan limbah organik, maka pertumbuhannya semakin cepat. Maggot dewasa berwarna putih cream hingga berumur 15 hari. Fase ini maggot black soldier fly mampu melahap habis limbah organik hingga 80%, terutama apabila maggot diberikan pakan limbah resto. Karena kandungan karbohidrat, vitamin,

glukosa, dan lain sebagainya yang masih tersisa dalam limbah, membuat pertumbuhan maggot semakin bagus karena nutrisinya terserap sempurna.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maggot memang lebih menyukai limbah organik sisa makanan dari restoran (limbah resto) yang dicacah. Hal ini sesuai dengan referensi Kajian Pengelolaan Biokonversi Limbah Organik melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly, yang menyatakan bahwa maggot lebih menyukai limbah organik sisa makanan.

Selain limbah resto, maggot juga menyukai limbah buah. Namun saat pengamatan di lapangan, limbah buah yang diberikan dapat menyebabkan kultur media menjadi sangat basah apabila tidak adanya penyeimbang yang dapat menyerap atau mengurangi kadar air. Oleh sebab itu dalam pemeliharaannya, menggunakan media kultur serbuk kayu. Hal tersebut sesuai dengan teori kajian Optimalisasi Metode Pembudidayaan Maggot Black Soldier Fly di Desa Tambakasri Kecamatan Tajinan yang menyatakan bahwa menambahkan serbuk kayu dapat mengurangi kadar air pada pembudidayaan maggot black soldier fly. Selain itu sebelum limbah organik diberikan pada maggot, pakan tersebut perlu diangin- anginkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar airnya. Inti dari biokonversi limbah organik melalui budidaya maggot black soldier fly terletak pada fase larva atau maggot black soldier fly yang memakan limbah organik. Dari telur black soldier fly yang ditetaskan menjadi baby maggot kemudian dipelihara dengan memakan limbah organik basah hingga menjadi maggot atau larva dewasa.

Hari ke-15 maggot black soldier fly dipanen. Sebagian ada yang berubah warna menjadi kuning kecoklatan memasuki fase prapupa kisaran usia 18 – 21 hari. Saat fase prapupa tidak mengonsumsi makanan.

Berdasarkan hasil pengamatan, prapupa mulai bergerak dari bina larva ke

bagian sisi miring menuju ke arah penampung prapupa (selokan) tempat kering yang artinya prapupa harus segera dipanen dan dipindahkan ke box plastik berisi pasir yang ditempatkan pada rak di saung bina larva. Dalam buku saku Rumah Maggot, KKN-IPB 2021 menjelaskan bahwa, produksi pupa dilakukan di larvarium atau bina larva. Pengamatan dalam penelitian ini juga sesuai dengan teori tersebut, bahwasannya produksi pupa dilakukan dalam saung bina larva.

Hasil peneitian dengan membandingkan 4 stadia substrat prapupa:

pasir, pasir laut, serbuk kayu, dan cangkang telur untuk mengetahui kecepatan metamorforfosis prapupa menuju pupa, menunjukkan bahwa pasir merupakan substrat yang paling cepat untuk metamorfosis prapupa.

Sedangkan prapupa yang diletakkan pada substrat serbuk kayu, pasir laut, dan cangkang telur, tidak menghasilkan pupa yang optimal. Stadia pupa yang menggunakan substrat pasir hitam mempercepat prapupa bermetamorfosis menjadi pupa karena media tersebut sulit untuk ditembus cahaya. Prapupa lebih menyukai tempat yang gelap untuk dapat berubah dengan cepat menjadi pupa.

Dalam rumah maggot Boon Pring prapupa dimasukkan kedalam substrat pasir, kemudian yang sudah berubah menjadi pupa segera disendirikan, diletakkan dalam box plastik kosong kemudian dipindahkan

Gambar 23. Substrat Prapupa Berbeda

ke saung lathi bagian black box. Setelah 14 hari, pupa berkembang menjadi black soldier fly. Tiga hari setelah menetas, lalat akan mencari pasangan untuk bereproduksi dan bertelur. Black Soldier Fly kawin pada saat cuaca panas kisaran pukul 10.00 – 15.00, 2 – 3 hari betina akan bertelur. Setelah kawin dan bertelur black soldier fly akan mati. Black Soldier Fly bertelur pada eggies yang sudah diletakkan diatas bak pancingan (bak berisi black soldier fly yang mati). Telur black soldier fly kemudian dipanen dan kembali ke siklus awal.

Budidaya black soldier fly menjawab dua permasalahan besar di Indonesia antara lain lingkungan yang bersih karena maggot black soldier fly dapat mengkonsumsi limbah organik basah dengan cepat. Yang kedua, maggot black soldier fly bermanfaat sebagai alternatif pakan ternak karena kandungan proteinnya. Selain itu budidaya maggot black soldier fly menghasilkan produk turunan berupa pupuk organik bekas larva dengan waktu yang lebih singkat dibanding dengan metode yang konvensional.

Maggot memodifikasi limbah menjadi kompos, menghilangkan mikroba patogenik, dan mengurangi senyawa yang berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan.

Menurut Direktoral Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr.

Nasrullah – Kementan RI menjelaskan bahwa, perkembangan atau dominasi black soldier fly mampu menurunkan hingga 100% populasi lalat rumah (musca domestica) yang diketahui sebagai vector penyakit. Black Soldier Fly bukan vector born diseases, sehingga tidak perlu dilakukan upaya pengendalian atas penyebaran lalat tersebut. Berdasarkan terrestrial animal health code, oie chapter 1.5 (surveilans for arthropod vectors of animal desease) article1.5.1 bahwa untuk tujuan perdagangan, tidak ada hubungan pasti antara keberadaan vector dengan status penyakit suatu

Negara atau zona, serta tidak adanya vectors bukan berarti mengkonfirmasi status bebas vector. Black Soldier Fly bukan hama, bukan vector penyakit, serta tidak mengganggu kesehatan manusia maka dapat dilakukan importasi ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Black Soldier Fly tidak disebut sebagai hama karena tidak menyebabkan kerugian ekonomi.

6.1.1. Menejemen Rumah Maggot Black Soldier Fly

Konstruksi dan manajemen perkandangan sangat penting karena berpengaruh terhadap kepadatan kandang dan efisiensi pakan, sehingga, bila kontruksi kandang, manajemen kandang baik, maka hal tersebut akan meningkatkan performa produksi dan menurunkan biaya pekerja dan peralatan. Kandang yang dibangun tidak hanya sekedar melindungi ternak dari hujan, panas, dingin dan angin kencang atau melindungi dari pencuri dan hewan pemangsa (predator). Dalam Biokonversi Limbah Organik Melaui Budidaya Maggot Black Soldier Fly, Rumah Maggot yang dibangun harus memenuhi persyaratan kandang yang baik dan benar. Berdasarkan hasil pengamatan secara sistematis kandang terdiri dari 2 jenis antara lain: 1) Bina Larva sebagai pembesaran telur yang sudah menetas dari black soldier fly, 2) Kandang pemeliharaan black soldier fly atau disebut dengan Saung Lathi (Gambar 8). Sangat diperlukan bahwa Black Soldier Fly harus dipisahkan dari larva. Jika tidak, betina dewasa black soldier fly akan sangat tertarik oleh substrat produksi dan akan bertelur secara anarkis, sehingga akan menyulitkan dalam pengumpulan telur dan manajemen produksi secara keseluruhan. Dengan demikian saung bina larva dikhususkan untuk tempat penetasan telur, bina larva sebagai pertumbuhan larva,

dan sebagai tempat produksi pupa. Saung lathi didedikasikan untuk reproduksi dan pengumpulan telur, yang nantinya akan ditransfer ke bina larva kembali untuk siklus baru produksi larva dan produksi kepompong.

1. Saung Bina Larva

Saung bina larva merupakan rumah maggot yang didalamnya terdapat bina larva (biopond), rak prapupa, dan tempat penetasan. Perlunya sirkulasi udara dan ventilasi yang baik, sangat penting dalam saung bina larva karena fermentasi substrat menghasilkan panas. Dan cahaya di atur secara alami dari selang seling atap fiber dan fiber glass, sehingga larva tetap memperoleh cahaya dan sirkulasi udara alami dapat membantu mengurangi kelembaban berlebih yang mungkin dapat menimbulkan bau.

2. Bina Larva

Bina larva merupakan biopond yang digunakan untuk memelihara maggot black soldier fly untuk mendegradasi limbah organik yang datang setiap harinya. Bina larva terdapat dalam Saung Bina Larva. Bina Larva yang terdapat di Rumah Maggot Boon Pring merupakan bina larva permanen dengan sistem panen otomatis. Model bina larva sistem panen otomatis memepermudah dalam pemberian pakan, pemeliharaan larva, dan pemanenan prapupa. Dalam penelitian Subamia et al. 2013 pemeliharaan dilakukan dengan menggunakan 5 digester melingkar (permukaan yang digunakan: 8 m2 untuk permukaan yang dapat digunakan maksimal 16 m2). Digester digunakan berturut-turut, dengan rotasi mingguan, kemudian PKM atau

kultur media pemeliharaan disusun dalam lapisan setebal 5 cm (Subamia et al., 2013).

Dalam penelitian ini, penulis mengamati bahwa bina larva yang digunakan sudah sesuai standart teori. Hanya saja perbedaannya disini menggunakan persegi panjang dengan ukuran luas permukaan bina larva sistem panen otomatis adalah 2 m x 1 m x 16 m dengan ketinggian 14 cm untuk sisi miring 450 (akses prapupa mengarah pada selokan). Modifikasi pada bina larva dengan sistem panen otomatis dilakukan dengan cara membuat jalan naik maggot (sisi kemiringan pada tengah bina larva yang di hubungkan dengan penadah seperti selokan).

3. Saung Lathi

Saung lathi merupakan tempat dimana black soldier fly reproduksi untuk menghasilkan telur. Saung lathi terbuat dari gavalum dan papan tripleks tebal dengan ukuran saung lathi kisaran 3 m x 1 m x 3 m, dimana 2 m dipakai sebagai reproduksi lalat, 1 m digunakan sebagai kandang gelap (black box) untuk meletakkan pupa yang akan menjadi black soldier fly. Dalam kandang gelap terdapat lubang kecil sebagai keluarnya black soldier fly dari penetasan pupa. Dalam saung lathi, box plastik

Gambar 24. Bina Larva Permanen

dengan isi pemancing (limbah busuk atau tempe busuk atau bekas black soldier fly yang mati) di letakkan di tengah kandang dan di tumpangi eggies sebagai tempat bertelurnya black soldier fly. Selain itu juga ditambahkan daun buatan berbahan plastik yang diletakkan dalam kandang lalat sebagai tempat hinggapnya black soldier fly supaya terlihat seperti lingkungan sekitar. Untuk atap kandang menggunakan fiber glass, sehingga cahaya dapat masuk ke dalam kandang.

4. Standarisasi Penyajian Pakan

Hasil pengamatan di Rumah Maggot Boon Pring menunjukkan ukuran tempat ditampungnya limbah 3 m x 2 m x 3 m tanpa dinding. Hanya diberi jarring – jarring 3 bagian, kanan dan kiri, serta belakang untuk menghindari tampuan hujan. Atap menggunakan fiber glass dan fiber untuk mengatur pencahayaan pada tempat tampungan limbah. Lantai kandang di bangun menggunakan batu – bata dengan semen (di cor) dengan kemiringan 450 dan diberi selokan di depannya bertujuan untuk mengurangi kadar air limbah yang telah di cacah. Mesin pencacahan yang digunakan mempunyai standarisasi khusus.

Pisau pencacah dalam mesin sangat tajam dan mencacah dengan ukuran 0,5 – 1 cm.

5. Recording

Recording merupakan semua jenis kegiatan pencatatan, termasuk catatan produksi, kegiatan identifikasi, catatan pemeliharaan, catatan kesehatan hewan, dan lain-lain dalam suatu populasi tertentu. Hasil kegiatan pencatatan tersedia misalnya dalam bentuk kartu ternak maupun papan recording.

Dalam budidaya Black Soldier Fly juga diperlukan recording, tujuannya adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan larva mana yang baru masuk atau keluar, pencatatan berat telur yang dihasilkan serta pencatatan larva maupun prapupa yang dihasilkan.

6. Produk yang dihasilkan

Produk yang dihasilkan di Rumah Maggot Boon Pring berupa fresh maggot, dried maggot, telur black soldier fly, dan kasgot.

Sedangkan secara umum, produk yang dihasilkan dari Biokonversi Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly meliputi beberapa produk:

a. Maggot Black Soldier Fly

Hermetia illicens atau maggot black soldier fly merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein (Nangoy et al., 2017). Maggot merupakan salah satu jenis pakan alami yang memiliki protein kisaran 41-42% protein kasar, 31- 35% ekstrak eter, 14-15% abu, 4,8-5,1% kalsium, dan 0,6-0,63% fosfor dalam bentuk kering (Fauzi & Sari, 2018). Dalam referensi lain disebutkan, Maggot memiliki kandungan protein sekitar 30-45% dan sering digunakan sebagai pakan ternak (Azir et al., 2017). Kandungan protein ini berpotensi besar untuk peningkatan dan peningkatan jumlah ternak. Selain protein, maggot black soldier fly juga mengandung asam laurat yang berperan sebagai antibakteri, dan kitin yang dapat meningkatkan respon imun dan kesehatan ternak (Harlystiarini, 2017).

Dokumen terkait