IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1. Hasil Analisis Pengamatan
4.1.1. Karakteristik Limbah Organik
a. Limbah organik terbagi menjadi 2: limbah organik basah dan kering. Limbah kering berupa serbuk kayu, digunakan sebagai media kultur pertumbuhan maggot black soldier fly. Serbuk kayu yang digunakan merupakan serbuk kayu lembut.
b. Limbah organik basah meliputi limbah sayuran, limbah resto, ampas kelapa, kulit buah dan limbah buah, mengandung kadar air yang tinggi. Limbah organik basah bersifat lunak dan mudah terurai, serta menimbulkan bau apabila membusuk.
c. Pengelolaan limbah organik basah yang dijadikan pakan maggot dicacah dan diangin-anginkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air supaya bina larva tidak terlalu basah dan tidak menimbulkan bau.
4.1.2. Siklus Hidup Maggot Black Soldier Fly
a. Budidaya maggot black soldier fly berlangsung selama 40 hari, dimulai dari fase telur, larva, prapupa, pupa, black soldier fly.
b. Penetasan telur black soldier fly menggunakan media tetas limbah organik yang mudah didapat dilingkungan sekitar dan fase penetasan terjadi 3-5 hari.
c. Telur black soldier fly yang sudah menetas disebut baby maggot, yang selanjutnya dipindahkan ke biopond yang sudah diberi media kultur serbuk kayu dan pakan berupa limbah organik.
d. Maggot black soldier fly tumbuh dan berkembang memakan limbah organik hingga hari ke-17. Hari ke-18 maggot black soldier fly berubah menjadi prapupa, kemudian dipindahkan ke substrat pasir untuk bermetamorfosis menuju pupa.
e. Setelah menjadi pupa, dipindahkan ke bak plastik dan dimasukkan ke dalam kandang gelap untuk bermetamorfosis menjadi black soldier fly. Black soldier fly yang sudah muncul kemudian bereproduksi dan berproduksi telur.
4.1.3. Penetasan Telur Black Soldier Fly
a. Telur black soldier fly menetas lebih cepat dan optimal pada media tetas limbah semangka dan poor basah (waktu: 2 hari)
b. Telur black soldier fly yang ditetaskan pada media tetas limbah resto, mengundang banyak semut dan menetas setelah 3 hari.
c. Telur black soldier fly yang ditetaskan pada media tetas ampas kelapa, media mudah kering dan menetas setelah 4 hari.
4.1.4. Produktifitas Maggot Black Soldier Fly dari Media Tetas Berbeda dan Pemeliharaan Pada Media Kultur Berbeda
a. Maggot black soldier fly berwarna putih cream, dengan garis tipis berwarna coklat muda, lunak, dan tidak berbulu. Maggot black soldier fly yang masih muda tapi kekurangan makanan berwarna putih kekuningan, dengan garis tipis berwarna coklat, dan kurus.
b. Baby maggot berukuran 0,3 cm tumbuh dan berkembang memakan limbah organik basah hingga dewasa berukuran 2 cm – 2,3 cm.
c. Hasil pemeliharaan maggot black soldier fly pada ketebalan media kultur yang berbeda:
Media kultur serbuk kayu 4 cm, baby maggot dari media tetas ampas kelapa = 16,55 kg
Media kultur serbuk kayu 5 cm, baby maggot dari media tetas semangka = 15,33 kg
Media kultur serbuk kayu 6 cm, baby maggot dari media tetas poor basah = 16,09 kg
Media kultur serbuk kayu 8 cm, baby maggot dari media tetas limbah resto = 16,55 kg
4.1.5. Metamorfosis Prapupa Menuju Pupa pada Substrat Berbeda a. Stadia substrat pasir hitam: 3 hari muncul pupa.
b. Substrat pasir laut, serbuk kayu, dan cangkang telur: 5 hari baru muncul pupa.
4.1.6. Karakteristik Black Soldier Fly
a. Black Soldier Fly merupakan lalat tantara hitam, dimana betina lebih besar daripada jantan.
b. Setelah bereproduksi, black soldier fly jantan mati dan betina bertelur, kemudian mati.
c. Black Soldier Fly betina menyukai bertelur pada eggis yang diletakkan didekat pemancing yang sangat bau.
d. Waktu perkawinan mulai dari pukul 10.00 – 16.00.
4.1.7. Standarisasi Struktur Bangunan Kandang
Standart suhu pada Rumah Maggot Boon Pring 210C – 310C dengan curah hujan atau kelembaban 5% - 55%.
a. Rumah maggot black soldier fly terbuat dari gavalum, atap fiber, dan tembok papan.
b. Ukuran rumah maggot black soldier fly 15 m x 8 m x 4 m.
c. Ukuran saung lathi 3 m x 1 m x 3 m.
d. Rak pupa ukuran 2 m x 60 cm x 2 m.
e. Bina Larva ukuran 2 m x 1 m x 16 cm dan selokan (penampung otomatis prapupa) tinggi 14 cm dengan lebar 10 cm (kemiringan bagian tengah 450).
4.1.8. Pendapatan
a. Kasgot (bekas maggot) = Rp. 10.000,-/kg b. Fresh Maggot = Rp. 6.000,-/kg c. Telur Black Soldier Fly = Rp. 5.000,-/gr
39 BAB V
PERANCANGAN DAN UJI COBA RANCANGAN PENYULUHAN 5.1. Perancangan Penyuluhan
5.1.1. Lokasi dan Waktu Penetapan Materi
Penyuluhan dilakukan melalui media TikTok dan YouTube dengan pengunggahan video hasil dokumentasi di Rumah Maggot Boon Pring. Pengunggahan vdeo dilaksanakan pada 23 April - 09 Mei 2022 dan 10 Juni 2022.
5.1.2. Penyuluhan
Penyuluhan yang dilaksanakan peneliti menggunakan model Hanafin dan peck, dengan 3 fase analisis yaitu: 1) Analisis Keperluan (Need assessment), 2) Fase Desain (Design), 3) Fase Pengembangan dan Implementasi.
a. Analisis Kebutuhan
Pengumpulan informasi dimulai dari identifikasi potensi wilayah, keadaan sekarang, permasalahan yang ada, sasaran penyuluhan, dan materi penyuluhan. Hal tersebut kemudian disesuaikan dengan keadaan sekarang dimana pakan aternatif pengganti tepung ikan belum ada dan limbah organik dalam pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Identifikasi kesenjangan yang terjadi pada harga pakan ternak unggas yang melonjak, pengganti protein dapat digantikan oleh maggot black soldier fly.
Analisis perfomance sebagai analisis tingkat pemahaman masyarakat yang sadar akan dampak limbah organik hasil rumah tangga maupun industri. Sebagai pemecahan masalah yang ada saat ini adalah melalui pengolahan limbah organik melalui metode
biokonversi dengan bantuan organisme maggot black soldier fly.
Sasaran penyuluhan yang akan dilaksanakan adalah melalui media massa berupa video yang dituju adalah peternak muda millennial serta masyarakat pengguna media sosial secara umum.
b. Fase Desain
Fase desain merupakan informasi dari analisis yang dituangkan dalam media pembelajaran, bertujuan mengidentifikasi dan mendokumentasikan cara terbaik untuk mencapai tujuan pembuatan media. Dalam fase desain ini menggambarkan konten berisi informasi mengenai teknis budidaya maggot black soldier fly sebagai bentuk penyuluhan.
c. Fase Pengembangan dan Implementasi
Fase penyampaian informasi mengenai budidaya maggot black soldier fly dan manfaatnya melalui pengunggahan video berseri pada TikTok dan YouTube. Materi dalam bentuk naskah, diedit menggunakan aplikasi VN dan Capcut dengan penjelasan berupa audio dan teks. Pengisi suara (Dubbing) hasil editing dari aplikasi T2S (Teks To Speak).
Evaluasi video TikTok dilakukan dengan melihat fitur analisis TikTok sedangkan evaluasi YouTube menggunakan YouTube Analytics. Hasil dari video yang dianalisis adalah video positif dan negatif.
5.1.3. Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan merupakan hasil dari penelitian yang sudah dilaksanakan yaitu mengenai “Biokonversi Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly” terdiri dari 20 video TikTok dan 8
video YouTube. Naskah video YouTube terdapat pada Lampiran 4 dan link video YouTube atau TikTok terlampir pada daftar pustaka.
5.2. Implementasi
Implementasi kegiatan berupa penyampaian informasi melalui unggahan video ke TikTok dan YouTube sebagai media pembelajaran.
Umumnya, masyarakat lebih menyukai menonton video dibandingkan dengan membaca. Menurut Surya (2019) menjelaskan bahwa penyebaran informasi secara spasial dan temporal tidak terbatas melalui penggunaan Internet. Penyampaian informasi melalui video YouTube terdiri dari Opening dan 7 PART informasi mengenai budidaya maggot black soldier fly. Part 1 mengenai bagaimana cara mengubah limbah organik menjadi bernilai ekonomi. Part 2 menjelaskan mengenai biokonversi limbah organik melalui budidaya maggot black soldier fly. PART 3 menjelaskan mengenai struktur bangunan kandang. Part 4 menjelaskan mengenai manfaat dan produk yang dihasilkan dari budidaya maggot black soldier fly. Part 5 menjelaskan mengenai penetasan telur black soldier fly pada media tetas berbeda. Part 6 menjelaskan mengenai produktifitas maggot black soldier fly. Part 7 menjelaskan mengenai kecepatan metamorfosa prapupa pada substrat yang berbeda. Unggahan pada TikTok berseri dengan jumlah 20 video, menjelaskan informasi sama namun dimodifikasi dalam penyampaiannya.
5.2.1. Respon Penonton Video TikTok
Jumlah Tayangan, Penonton, Komentar, Suka dan Tidak Suka Tabel 6. Analisis Video TikTok (23 April – 11 Mei 2022), Jumlah 18 Video
Tabel 7. Analisis Video TikTok (10 – 13 Juni 2022), Jumlah Video 2 Total
Penonton
Tayangan Video (Fyp)
Tampilan
Profil Suka Komentar Bagikan Tanggal Ket
Durasi (S) + -
209 255 10 50 2 0 26 230422 Opening 1.41
230 266 1 34 2 0 10 260422 PART 1 55.01
522 549 7 24 2 0 6 270422 87.61
127 141 34 22 3 0 6 280422 16.88
42 227 15 20 1 0 6 280422 15.34
908 934 16 30 3 0 13 260422 PART 2 14
1151 1218 3 32 0 0 5 30522 16
649 710 1 33 0 0 5 50522 13.3
1159 1230 0 42 0 0 6 50522 18.74
233 275 1 28 2 0 4 60522 26.91
386 431 2 18 3 0 2 70522 14.84
104 126 1 16 0 0 9 90522 20.5
36 212 20 25 0 0 1 90522 17
289 307 10 31 0 0 2 90522 PART 3 14.74
97 112 13 20 0 0 4 100522 21.43
77 102 7 17 0 0 4 100522 21.96
199 222 12 16 0 0 6 100522 14.44
120 155 3 23 0 0 4 100522 PART 4 258.37
6538 7427 156 481 18 0 119 648.48
Total Penonton
Tayangan Video (Fyp)
Tampilan
Profil Suka Komentar Bagikan Tanggal Ket
Durasi (S)
+ -
102 454 7 20 0 0 5 100622 Penetasan 12.47
405 127 1 9 0 0 3 100622 Produktifitas 16.67
507 581 8 29 0 0 8 29.14
5.2.2. Respon Penonton Video YouTube
a) Jumlah Penonton dan Retensi Penonton Tabel 8. Analisis Video YouTube, Jumlah 8 Video
b) Suka dan Tidak Suka Tabel 9. Analisis Suka dan Tidak Suka
c) Jumlah Komentar Tabel 10. Analisis Komentar
Respon
Tanggal Unggah
Tanggal Evaluasi
Total Penonton
Rasio klik Tayang (%)
Rata-rata durasi tonton
Durasi (S)
Keterangan
Penonton 230422 300422 92 4,2 0,34 1.41 Opening
250422 020522 37 20,7 0,54 7.51 PART 1
100522 170522 727 2,9 1,57 5.33 PART 2
100522 170522 638 5,4 0,51 4.25 PART 3
100522 170522 72 9,8 1,17 4.19 PART 4
100622 170622 291 5,3 2,04 4.00 Penetasan
100622 170622 60 3,7 0,51 4.32 Substrat
100622 170622 462 5,5 1,19 3.03 Produktfitas
Total 2.379 57,5 7,87
Tanggal Unggah
Tanggal Evaluasi
Jumlah Suka / %
Jumlah Tidak Suka / %
Keterangan
230422 300422 16 / 100 0 Opening
250422 020522 44 / 98 1 / 2 PART 1
090522 160522 179 / 100 0 PART 2
090522 160522 184 / 100 0 PART 3
090522 160522 24 / 100 0 PART 4
100622 170622 12 / 100 0 Penetasan
100622 170622 14 / 100 0 Substrat
100622 170622 162 / 100 0 Produktfitas
Total 635 / 98 1 / 2
Tanggal Unggah Tanggal Evaluasi Komentar (+) Komentar (-) Keterangan
230422 300422 15 0 Opening
250422 020522 16 0 PART 1
090522 160522 4 0 PART 2
090522 160522 2 0 PART 3
090522 160522 3 0 PART 4
100622 170622 1 0 Penetasan
100622 170622 3 0 Substrat
100622 170622 0 0 Produktfitas
Total 40 0
44 BAB VI
PEMBAHASAN DAN DISKUSI 6.1. Budidaya Maggot Black Soldier Fly
Berdasarkan data SIPSN (2021), jumlah limbah di Pulau Jawa mencapai 34.595,25 ton/hari dengan presentase 40,9% limbah organik (sisa makanan 28,36% dan kayu atau ranting 12,54%). Pengelolaan limbah diberbagai daerah merupakan hal mendesak dan permasalahan lingkungan yang serius. SIPSN memberikan sebaran fasilitas pengelolaan limbah untuk mengurangi permasalahan limbah dilingkungan. Capaian Kinerja Pengelolaan Limbah merupakan capaian pengurangan serta penanganan limbah rumah tangga dan limbah sejenis limbah rumah tangga. Berikut data capaian kinerja pengelolaan limbah tahun 2021 yang terdiri 129 Kabupaten/Kota se-Indonesia:
Diagram komposisi limbah terdiri dari 2 diagram, antara lain berdasarkan jenis limbah dan berdasarkan sumber limbah:
Gambar 17. Capaian kinerja pengelolaan limbah 2021
Gambar 18. Diagram Komposisi Limbah Sumber: SIPSN, 2021.
Sebaran Fasilitas Pengelolaan Limbah merupakan sebaran fasilitas pengelolaan limbah yang meliputi lokasi TPA, TPS 3R, Bank Limbah, Rumah Kompos, Komposting Skala RT-RW, dan lain-lain. Di Kota/Kabupaten Malang, timbulan limbah mencapai 677,78 ton/bulan.
Sedangkan timbulan limbah per-tahunnya mencapai 247.388,97 ton.
Dalam penelitian ini, solusi penanganan limbah dilakukan khusus bagi limbah organik yang terintegrasi dengan peternakan sehingga dapat menimbulkan manfaat yang bernilai guna. Metode yang dilakukan adalah biokonversi limbah organik dengan organisme maggot black soldier fly.
Melalui organisme larva black soldier fly, massa limbah organik dapat terkurangi dan dapat dirubah menjadi protein serta lemak yang bermanfaat bagi bidang peternakan. Praktik peternakan yang dapat berinteraksi dengan pengelolaan limbah untuk menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri serta minimalisir limbah merupakan langkah yang baik. Revitalisasi yang dilakukan harus berkomitmen mengacu pada ekonomi sebagai praktik peternakan serta bisnis yang menguntungkan. Rumah Biokonversi Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly yang terletak di Boon Pring Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Bekerja sama dengan Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, BUMDES Kerto Rahajo mengintegrasi tempat wisata Boon Pring, memanfaatkan limbah organik yang dihasilkan dari tempat wisata, dijadikan sebagai budidaya maggot black soldier fly. Selain itu rumah maggot ini juga bekerja sama dengan salah satu restoran, pasar gadang, dan tukang kayu untuk mengambil limbah organik yang dibuang. Limbah organik basah terdiri dari limbah resto (kubis, kacang, terong, tomat), sayur sawi, dan buah (semangka, melon, jeruk) dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Sedangkan limbah organik kering berupa serbuk kayu halus dimanfaatkan sebagai media kultur pemeliharaan maggot.
Maggot black soldier fly dapat mengurangi massa limbah organik sebesar 50 – 60% (Mukti, dkk., 2021). Selain dapat mengurangi massa limbah organik dalam lingkungan, pakan alternatif yang dihasilkan dari proses biokonversi ini harapannya dapat menjawab permasalahan pakan yang saat ini harganya terus meningkat. Teknologi biokonversi memanfaatkan maggot black soldier fly untuk mengurai limbah organik menjadi protein. Limbah organik menjadi bahan makanan utama bagi maggot. Maggot black soldier fly mempunyai kandungan 40 – 50 % protein, terkandung asam amino esensial yang dapat difungsikan sebagai alternatif pengganti tepung ikan dan bungkil kedelai untuk makanan ternak (Auliani, dkk., 2021). Sumber protein yang dapat dijadikan sebagai aternatif pakan ternak merupakan pakan yang bahannya tersedia di lingkungan dengan jumlah meningkat dan tidak bersaing dengan manusia dalam pemanfaaatannya. Syarat bahan yang dapat dijadikan bahan baku antara lain: tidak berbahaya bagi hewan ternak, tersedia sepanjang waktu, serta mengandung nutrisi sesuai kebutuhan ternak. Berdasarkan persyaratan tersebut, maggot black soldier fly memenuhi syarat untuk dijadikan bahan baku alternatif pakan ternak.
Maggot black soldier fly merupakan organisme berasal dari telur black soldier fly. Budidaya maggot terus terbaharui tanpa khawatir tidak menghasilkan produk turunan secara berkelanjutan. Black Soldier Fly berasal dari Amerika, kemudian tersebar ke wilayah tropis dan subtropis.
Maggot black soldier fly hidup dilimbah bahan organik yang membusuk, seperti kotoran hewan dan bahan tanaman (decomposer). Black Soldier Fly di alam sering mengunjungi tanaman berbunga dari family Asteraceae
(kenikir) dan Apiaceae (wortel). Black Soldier Fly berasal dari Kingdom Animalia, Phylum Arthropoda. Kelas Insecta, Ordo Dipptera (only have a single pair of wings) serangga yang hanya mempunyai sepasang sayap.
Suborder Brachycera (flies), Infraorder Tabanomorpha, Family Stratiomydae, Subfamily Hermetiineae, Genus Hermetia, Species Hermetia illucens. Black Soldier Fly merupakan lalat tentara hitam yang dibudidayakan untuk dimanfaatkan telurnya, tumbuh berkembang menjadi maggot untuk merombak limbah organik dan sebagai alternatif pakan ternak. Black Soldier Fly tidak digolongkan sebagai vector penyakit karena tidak menimbulkan kerugian ekonomi maupun sosial. Sheppard et al.
(2002) dalam Putra dan Ariesmayana (2020), menjelaskan bahwa suhu optimum bagi black soldier fly bertelur secara alami di alam sekitar 27,5 – 37,50C dan suhu dipenangkaran (saat dibudidayakan) optimum lebih dari 24,40C (Putra dan Ariesmayana, 2020).
Sesuai dengan teori tersebut, suhu penangkaran di Rumah Maggot Boon Pring berkisar 290C – 310C. Berdasarkan hasil pengamatan, black soldier fly yang dibudidayakan sering disemprot dengan air, bertujuan untuk menjaga kelembaban suhu dalam saung lathi (kandang black soldier fly) dengan kelembaban optimum 30 – 90 %. Telur black soldier fly berwarna putih, lonjong, panjang sekitar 1 mm, dan dikumpulkan dalam koloni (Wardhana, 2016). Hasil pengamatan penelitian di Rumah Maggot Bon Pring, warna telur black soldier fly berwarna putih cream (telur baru) dan berwarna kuning (telur lama). Dalam buku saku maggot KKN – T IPB 2021, menjelaskan mengenai Siklus Hidup Fase telur menandakan permulaan dari siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumnya, melewati masa inkubasi selama 72 jam atau 3 hari. Black Soldier Fly betina bertelur sekitar 400 hingga 800 telur di dekat bahan
organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, yang disebut eggis sebagai tempat bertelur (Holmes et al., 2012).
Penetasan telur black soldier fly, menggunakan media yang mudah didapat dilingkungan sekitar seperti limbah sayur, buah, limbah resto, ampas kelapa, dan lain sebagainya. Rumah Maggot Boon Pring Andeman menghasilkan telur 70 gr per-dua hari.
Dalam penelitian ini dilakukan penetasan telur black soldier fly dengan 4 media penetasan yaitu, limbah buah semangka, limbah ampas kelapa, poor ikan, dan limbah resto (nasi, kubis, kacang panjang, tulang ayam dan sisa ikan goreng). Keempat media tetas tersebut diamati untuk mengetahui media mana yang baik dan optimal untuk penetasan telur
Gambar 19. Eggies Tempat Bertelurnya Black Soldier Fly
Gambar 20. Telur Black Soldier Fly
black soldier fly. Penetasan telur sebanyak 40 gr masing-masing dibagi 10 gr/box plastik (tempat media penetasan).
Dengan kelembaban sekitar 20%, penetasan telur black soldier fly menggunakan media limbah semangka dan poor basah menetas setelah 2 hari. Media penetasan limbah semangka dan poor lebih cepat dalam menetaskan telur black soldier fly dibandingkan dengan media tetas ampas kelapa dan limbah resto. Sedangkan ampas kelapa merupakan limbah lebih banyak mengandung air namun juga mudah kering. Sehingga saat telur black soldier fly ditetaskan diatas limbah ampas kelapa menetas setelah 3 hari dengan kontrol optimal menambahkan air setiap hari sebanyak 30 ml supaya media tetas tetap lembab. Kemudian telur black soldier fly yang ditetaskan pada limbah resto, menetas setelah 4 hari.
Menurut Mukti, dkk. (2018), media ampas kelapa dalam pembudidayaan maggot sebenarnya tidak dianjurkan. Sebab, media ampas kelapa masih mengandung air yang menyebabkan telur black soldier fly sulit untuk menetas. Dan pada kenyataan dilapangan, hal tersebut terbukti. Meskipun dalam hal ini media penetasan limbah semangka juga basah, tetapi fenomena yang terjadi dilapangan telur black soldier fly menetas sempurna dan lebih cepat, dibandingkan dengan media ampas maupun limbah resto.
Perbedaan lama penetasan telur black soldier fly disebabkan karena adanya faktor suhu, kelembaban, dan cahaya dari lingkungan.
Gambar 21. Penetasan Telur Black Soldier Fly
Berikut penjelasan mengenai siklus hidup larva black soldier fly yang merombak limbah organik dimulai dari fase telur sampai fase lalat dewasa:
Gambar 22. Siklus Hidup Black Soldier Fly
Siklus hidup black soldier fly hingga menghasilkan larva, berlangsung kurang lebih selama 30 – 43 hari tergantung kondisi lingkungan dan asupan limbah organik yang dicernanya. Berdasarkan pengamatan dilapangan, fase hidup Black Soldier Fly berkisar 30 – 40 hari, bermetamorfosis secara sempurna dengan 5 fase antara lain: telur, larva, prapupa, pupa, dan black soldier fly. Hal tersebut sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Auliani, dkk., 2021.
Hari ke 5 setelah penetasan disebut baby maggot atau 5-DOL (Five Day Old Larva). Dari media penetasan yang berbeda, baby maggot kemudian dipindahkan ke “Bina Larva” atau “Biopond” yang sudah dipersiapkan (4 biopond) masing-masing diisi media kultur serbuk kayu
halus dan ditengah diberi limbah organik basah (sisa makanan, buah, atau sayuran) sebanyak 5 kg. Baby maggot diberi makan limbah organik sebanyak 5 kg/hari selama 14 hari. Fresh maggot yang dihasilkan setelah 14 hari pemeliharaan sebagai berikut:
1. Baby maggot dari media tetas ampas kelapa yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 4 cm menghasilkan 16.55 kg fresh maggot.
2. Baby maggot dari media tetas limbah semangka yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 5 cm menghasilkan 15.33 kg fresh maggot.
3. Baby maggot dari media tetas dari media tetas poor yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 6 cm menghasilkan 16.09 kg fresh maggot.
4. Baby maggot dari dari media tetas limbah resto yang dipelihara pada media kultur serbuk kayu 8 cm menghasilkan 14.98 kg fresh maggot.
Masing – masing menghasilkan produksi fresh maggot yang berbeda karena kepadatan dan suhu mempengaruhi dalam pemeliharaan maggot black soldier fly. Kepadatan media kultur pemeliharaan dapat menyebabkan panas karena penguapan dari perombakan limbah organik oleh maggot black soldier fly, sehingga jika terlalu panas maggot black soldier fly sulit untuk berkembang.
Menurut penjelasan pegawai Rumah Maggot Boon Pring, biasanya maggot back soldier fly dari tetasan telur 10 gr dapat memakan rakus limbah organik 10 kg per-hari bahkan lebih banyak dan menghasilkan 10 – 25 kg fresh maggot. Semakin banyak maggot memakan limbah organik, maka pertumbuhannya semakin cepat. Maggot dewasa berwarna putih cream hingga berumur 15 hari. Fase ini maggot black soldier fly mampu melahap habis limbah organik hingga 80%, terutama apabila maggot diberikan pakan limbah resto. Karena kandungan karbohidrat, vitamin,
glukosa, dan lain sebagainya yang masih tersisa dalam limbah, membuat pertumbuhan maggot semakin bagus karena nutrisinya terserap sempurna.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maggot memang lebih menyukai limbah organik sisa makanan dari restoran (limbah resto) yang dicacah. Hal ini sesuai dengan referensi Kajian Pengelolaan Biokonversi Limbah Organik melalui Budidaya Maggot Black Soldier Fly, yang menyatakan bahwa maggot lebih menyukai limbah organik sisa makanan.
Selain limbah resto, maggot juga menyukai limbah buah. Namun saat pengamatan di lapangan, limbah buah yang diberikan dapat menyebabkan kultur media menjadi sangat basah apabila tidak adanya penyeimbang yang dapat menyerap atau mengurangi kadar air. Oleh sebab itu dalam pemeliharaannya, menggunakan media kultur serbuk kayu. Hal tersebut sesuai dengan teori kajian Optimalisasi Metode Pembudidayaan Maggot Black Soldier Fly di Desa Tambakasri Kecamatan Tajinan yang menyatakan bahwa menambahkan serbuk kayu dapat mengurangi kadar air pada pembudidayaan maggot black soldier fly. Selain itu sebelum limbah organik diberikan pada maggot, pakan tersebut perlu diangin- anginkan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar airnya. Inti dari biokonversi limbah organik melalui budidaya maggot black soldier fly terletak pada fase larva atau maggot black soldier fly yang memakan limbah organik. Dari telur black soldier fly yang ditetaskan menjadi baby maggot kemudian dipelihara dengan memakan limbah organik basah hingga menjadi maggot atau larva dewasa.
Hari ke-15 maggot black soldier fly dipanen. Sebagian ada yang berubah warna menjadi kuning kecoklatan memasuki fase prapupa kisaran usia 18 – 21 hari. Saat fase prapupa tidak mengonsumsi makanan.
Berdasarkan hasil pengamatan, prapupa mulai bergerak dari bina larva ke
bagian sisi miring menuju ke arah penampung prapupa (selokan) tempat kering yang artinya prapupa harus segera dipanen dan dipindahkan ke box plastik berisi pasir yang ditempatkan pada rak di saung bina larva. Dalam buku saku Rumah Maggot, KKN-IPB 2021 menjelaskan bahwa, produksi pupa dilakukan di larvarium atau bina larva. Pengamatan dalam penelitian ini juga sesuai dengan teori tersebut, bahwasannya produksi pupa dilakukan dalam saung bina larva.
Hasil peneitian dengan membandingkan 4 stadia substrat prapupa:
pasir, pasir laut, serbuk kayu, dan cangkang telur untuk mengetahui kecepatan metamorforfosis prapupa menuju pupa, menunjukkan bahwa pasir merupakan substrat yang paling cepat untuk metamorfosis prapupa.
Sedangkan prapupa yang diletakkan pada substrat serbuk kayu, pasir laut, dan cangkang telur, tidak menghasilkan pupa yang optimal. Stadia pupa yang menggunakan substrat pasir hitam mempercepat prapupa bermetamorfosis menjadi pupa karena media tersebut sulit untuk ditembus cahaya. Prapupa lebih menyukai tempat yang gelap untuk dapat berubah dengan cepat menjadi pupa.
Dalam rumah maggot Boon Pring prapupa dimasukkan kedalam substrat pasir, kemudian yang sudah berubah menjadi pupa segera disendirikan, diletakkan dalam box plastik kosong kemudian dipindahkan
Gambar 23. Substrat Prapupa Berbeda