BAB V PELAKSANAAN AKSI PERUBAHAN
B. DESKRIPSI HASIL KEPEMIMPINAN
1. Capaian dalam Perbaikan Kinerja Organisasi
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
80 Gambar 18. Jejaring Kerja dan Kolaborasi
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
81
Gambar 19. Pelaksanaan FGD Prose Bisnis dengan Kedeputian
Hasil FGD dari dengan tujuh kedeputian di Kemenko Polhukam adalah diperolehnya gambaran proses bisnis pelaksanaan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian serta penugasan Presiden dari masing- masing deputi.
Secara garis besar alur proses bisnis pelaksanaan tusi koordinasi, sinkronisasi, dan pegendalian serta penugasan Presiden di Kemenko Polhukam dapat digambarkan sebagai berikut:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
82 Gambar 20. Alur Proses Bisnis Kedeputian`
B) Penyusunan Rancangan Indeks, Teori, Dimensi, dan Indikator
Setelah melakukan eksplorasi norma empiris dari hasil FGD dengan Kedeputian di Kemenko Polhukam, tim melaksanakan eksplorasi norma teoretis, yaitu proses mengumpulkan serta menganalisis teori-teori besar
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
83 terkait koordinasi, tata kelola pemerintahan, juga perbandingan model-model koordinasi yang dilakukan di beberapa negara di dunia.
Gambar 21. Perumusan Desain IKO-Polhukam
Landasan teori normative yang digunakan dalam IKO-POLHUKAM adalah Joined-Up Government dan Government Risk and Complience (GRC).
Operasionalisasi teori joined-up coordination dalam perspektif joined- up government tidak lain adalah kolaborasi antar lembaga/organisasi dalam sistem informasi, dialog, untuk membangun kognisi (pemahaman), perencanaan program, dan proses pengambilan keputusan. Output yang dihasilkan adalah kesepakatan bersama dan konsistensi atas kesepakatan kolektif tersebut berdasarkan kesepahaman untuk mengatasi masalah.
Sedangkan joined-up integration dalam perspektif joined-up government adalah kolaborasi antar lembaga/organisasi dalam implementasi keputusan yang telah disepakati secara kolektif melalui proses koordinasi. Pada tahap inilah, komitmen atas kesepakatan kolektif hasil koordinasi akan diuji, apakah terjadi konsistensi antara kesepakatan dengan implementasi, atau sebaliknya.
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
84 Secara singkat, operasionalisasi dari konsep joined-up government dalam konstruksi IKO-Polhukam dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 18. Operasionalisasi Teori Joined-Up Government dalam Konstruksi IKO-POLHUKAM
Teori normative kedua yang digunakan sebagai landasan konstruk IKO-POLHUKAM adalah konsep GRC. Konsep GRC terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu governance, risk, dan complience. Governance dalam hal ini merujuk pada tata kelola organisasi publik dan bisnis berdasarkan tujuan dan instruksi yang dirumuskan secara jelas. Di antara syarat pentingnya adalah ketepatan struktur dan kelengkapan regulasi. Sedangkan risk management didefinisikan sebagai bentuk dan sifat dari semua tindakan untuk menangani risiko internal dan eksternal. Ini termasuk pembentukan sistem peringatan dini untuk mencegah risiko yang akan dihadapi dan langkah-langkah menghilangkan potensi risiko, serta penanganan risiko yang ditimbulkan.
Sementara complience adalah kepatuhan terhadap aturan, kebijakan, prinsip, dan prosedur, termasuk standar (misalnya ISO) dan konvensi yang telah disepakati dan bersifat mengikat. Substansi utama dari konsep GRC
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
85 berisikan gagasan tentang upaya menghadirkan tata kelola organisasi publik dan korporasi yang tepat, sehingga dapat mengeliminasi potensi risiko yang akan dihadapi dan menjamin adanya kepatuhan atas kebijakan yang telah ditetapkan. Untuk tujuan ini, fungsi koordinasi antar unit organisasi menjadi sangat krusial dalam rangka menghasilkan kesepakatan kolektif terkait codes of conduct, instructions, dan control mechanisms.
Jika perspektif GRC diaplikasikan dalam menderivasi tusi Kemenko Polhukam, di antara aktivis yang dapat dikategorikan sebagai unsur utama dari fungsi governance, adalah a) identifikasi masalah terkait isu di bidang politik, hukum, dan keamanan; dan b) analisis masalah terkait isu di bidang politik, hukum, dan keamanan. Sedangkan aktivis yang dapat dikategorikan sebagai unsur utama dari fungsi risk management adalah perumusan rekomendasi/kebijakan terkait isu di bidang politik, hukum, dan keamanan.
Sementara, di antara aktivis yang dapat dikategorikan sebagai unsur utama dari fungsi complience management, adalah: a) tindak lanjut eksternal, yaitu implementasi rekomendasi/kebijakan oleh kementerian dan lembaga (K/L) terkait; dan b) tindak lanjut internal, yaitu monitoring dan evaluasi internal Kemenko Polhukam. Untuk lebih jelasnya, kontekstualisasi konsep GRC dalam konstruksi IKO-Polhukam dapat dilihat pada table berikut:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
86 Tabel 19. Operasionalisasi Teori GRC dalam Konstruksi IKO-
POLHUKAM
Dari hasil kontekstualisasi di atas, maka rumusan konstruk IKO- POLHUKAM dapat dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 20. Konstruk IKO-POLHUKAM
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
87 Terdapat 4 (empat) dimensi dan 10 (sepuluh) sub dimensi dalam konstruk IKO-POLHUKAM. Selanjutnya sub dimensi ini dijabarkan menjadi indikator-indikator operasional sebanyak 51 (lima puluh satu) indikator sebagai berikut:
Gambar 22. Konstruk IKO-POLHUKAM
Adapun uraian indikator IKO-POLHUKAM secara detail tersaji pada table di bawah ini:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
88 Tabel 21. Indikator Internal IKO-POLHUKAM
Dimensi Sub-Dimensi
1 Pemetaan ISU/Kebijakan nasional/Internasional di tahun berjalan (2020-2022) terkait isu polhukam
2
Pemetaan ISU/Kebijakan Nasional/Internasional di tahun berjalan (2020-2022) berdasarkan aduan dan/atau permintaan masyarakat terkait isu polhukam
3 Pemetaan ISU/Kebijakan inisiatif nasional dan/atau global di tahun berjalan (2020-2022)
4 Pemetaan KL yang harus terlibat dalam menangani Isu/Kebijakan yang dianggap penting/mendesak/prioritas 5 Kegiatan pengumpulan data/kunjungan lapangan/rapat
koordinasi dalam memverifikasi ISU/Kebijakan 6 Klasifikasi Isu/Kebijakan berdasarkan tingkat
penting/mendesak/prioritas 7
Pemetaan kebijakan/strategi yang harus dilakukan K/L dalam menangani Isu/Kebijakan yang dianggap
penting/mendesak/prioritas
8 Analisis potensi resiko/dampak yang akan terjadi berdasarkan Isu/Kebijakan yang dianggap penting/mendesak/prioritas Dimensi Sub-Dimensi
9 Analisis Ketidakselarasan isu/kebijakan berdasarkan tingkat urgensi dan kedaruratan
10 Pemetaan KL yang harus terlibat dalam menyelesaikan ketidakselarasan isu/kebijakan
11 Pemilihan strategi yang tepat dalam penyelesaian isu yang dianggap penting/mendesak/prioritas
12 Mekanisme kerja (SOP) terkait rencana aksi/tindak lanjut 13 Inisiasi perubahan kebijakan/regulasi terkait isu polhukam 14
Rencana aksi dalam menyelaraskan kebijakan yang tumpang tindih, dibutuhkan mendesak sesuai dengan prioritas nasional (RPJMN)
Dimensi Sub-Dimensi
16 Evaluasi faktor-faktor kegagalan capaian target IKU nasional tahun berjalan
17 Evaluasi faktor-faktor kegagalan capaian target isu/kebijakan yang dianggap penting dan mendesak
18 Mitigasi faktor-faktor kegagalan capaian target isu/kebijakan yang dianggap penting dan mendesak
19 Tindakan yang dilakukan kemenkopolhukam akibat tidak terselesaikannya isu/kebijakan oleh K/L
Dimensi Sub-Dimensi
Identifikasi 20 Respon cepat terhadap isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden
21
Pemetaan terhadap komponen yang harus disiapkan berdasarkan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden
22
Pemetaan KL terkait isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (dokumen telaah jobdesc., notulen rapat, nota dinas)
23 Perumusan rencana aksi/tindak lanjut 34 Kesepakatan capaian target
25 Mekanisme kerja dalam mencapai kesepakatan untuk rencana aksi/tindak lanjut
26
Evaluasi keterlibatan KL dalam program/kegiatan penanganan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen)
29
Target penanganan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen) yang telah ditetapkan
30
Evaluasi faktor-faktor kegagalan capaian target penanganan isu- isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen)
31
Mitigasi faktor-faktor kegagalan capaian target penanganan isu- isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen)
SINKRONISASI
Analisis Tumpang Tindih
Perumusan dan Penyusunan Rekomendasi
Penyelaran Kebijakan/Regulasi
Indikator Indikator
KOORDINASI
Identifikasi
Analisis
PENGENDALIAN Monitoring-Evaluasi
15 Upaya pendekatan/ komunikasi kepada KL terkait pengawalan dan penanganan rencana aksi sesuai hasil rekomendasi
PENUGASAN PRESIDEN
Analisis Tumpang Tindih
Perumusan dan Penyusunan Rekomendasi
Penyelaran
Monitoring-Evaluasi 27
Indikator
Indikator
Upaya persuasi (kirim surat, …) kepada KL terkait agar menyusun rencana aksi program/kegiatan penanganan isu-isu mendesak 28 Upaya persuasi kepada KL terkait agar melaksanakan rencana
aksi program/kegiatan penanganan isu-isu mendesak (urgen)
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
89 Tabel 22. Indikator Eksternal IKO-POLHUKAM
Dimensi Sub-Dimensi
1
Partisipasi KL terkait dalam identifikasi isu- isu/Kebijakan aktual
(nasional/regional/global/penting)
2 Kesepakatan lintas KL tentang ISU/Kebijakan yang dianggap penting/mendesak/prioritas 3
Partisipasi KL terkait dalam pendalaman analisis isu-ISU/Kebijakan yang dianggap
penting/mendesak/prioritas 4
Validasi oleh K/L tentang kejadian/kasus ISU/Kebijakan yang dianggap
penting/mendesak/prioritas
Dimensi Sub-Dimensi
5 Partisipasi KL terkait dalam pendalaman analisis Ketidakselarasan isu/kebijakan
6 Validasi oleh K/L tentang ketidakselarasan isu/kebijakan
7 Penetapan angka target (capaian) IKU tahun berjalan
8
Kesepakatan ketersediaan anggaran di masing- masing KL terkait penanganan isu/kebijakan yang dianggap penting dan mendesak
9
Partisipasi KL terkait dalam menetapkan kegiatan/program penyelesaian isu-isu penting dan mendesak
10 Partisipasi KL terkait dalam penyusunan penyelarasan regulasi
Dimensi Sub-Dimensi
11 Tercapainya target capaian IKU yang telah ditetapkan
12 Komitmen KL dalam menyusun rencana aksi sesuai rekomendasi
13 Realisasi rencana aksi sesuai rekomendasi 14 Tindak lanjut KL dalam impelementasi hasil
penyelarasan dalam bentuk perubahan kebijakan 15 Tindakan kontigensi/respon kedaruratan yang
dibuat oleh KL terkait
Dimensi Sub-Dimensi
16
Partisipasi KL terkait dalam identifikasi isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden
17 Validasi data isu polhukam yang menjadi perintah presiden
Analisis Tumpang
Tindih 18
Kesepakatan ketersediaan anggaran di masing- masing KL terkait penanganan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen) Perumusan dan
Penyusunan Rekomendasi
Penyelaran Kebijakan/Regulasi
19
Partisipasi KL terkait dalam perumusan strategi penanganan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden
(nasional/regional/global/urgen)
Implementasi 20
Tindak lanjut KL terkait dalam menyusun rencana aksi penanganan isu-isu mendesak (urgen) yang menjadi perintah presiden (nasional/regional/global/urgen)
Indikator
KOORDINASI
Identifikasi
Analisis
Indikator
Indikator
Indikator PENGENDALIAN Implementasi
PENUGASAN PRESIDEN
Identifikasi SINKRONISASI
Analisis Tumpang Tindih
Perumusan dan Penyusunan Rekomendasi
Penyelaran Kebijakan/Regulasi
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
90 C) Kegiatan Pembobotan AHP dengan Para Pakar
Penyusunan IKO-Polhukam menggunakan metode mixed methode.
Metode ini diawali dengan proses eksplorasi norma empiris yaitu proses pengumpulan data kualitatif dari stakeholder untuk mengidentifikasi tugas dan fungsi utama koordinasi Kemenko Polhukam, proses bisnis di setiap Kedeputian, serta indikator yang selama ini digunakan sebagai bukti (evidence) dari program atau kegiatan koordinasi yang dilakukan.
Gambar 23. Pembobotan AHP
Tahap kualitatif selanjutnya adalah proses eksplorasi norma teoretis, yaitu proses mengumpulkan serta menganalisis teori-teori besar terkait koordinasi, tata kelola pemerintahan, juga perbandingan model-model koordinasi yang dilakukan di beberapa negara di dunia.
Pendekatan kuantitatif dalam penyusunan IKO-POLHUKAM dilakukan untuk mengukur kinerja utama fungsi koordinasi yang harus dilakukan Kemenko Polhukam, baik ukuran secara internal (yang dilakukan setiap Kedeputian) maupun ukuran secara eksternal (respons dan partisipasi kementerian lembaga) yang kemudian disebut hasil indeks koordinasi politik hukum dan keamanan (IKO-Polhukam). Dalam penelitian ini, data kuantitatif digunakan untuk melihat: (1) bagaimana efektivitas fungsi koordinasi bidang Polhukam; dan (2) memetakan kekuatan/kelemahan koordinasi bidang Polhukam.
Selain melakukan uji validitas dan reliabilitas, instrumen kuantitatif dalam penyusunan IKO-POLHUKAM dibobot menggunakan metode Analytic Hierarcy Process (AHP). Pembobotan instrumen penelitian menggunakan AHP ini melibatkan para pakar yang terdiri dari para deputi di Kemenko
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
91 Polhukam, para perwakilan dari sembilan K/L teknis, serta para pakar dari kalangan akademisi.
D) Penyampaian Rancangan Awal Indeks
Sebelum masuk ke tahap pengukuran, rancangan awal IKO- POLHUKAM dilaporkan kepada Bapak Sesmenko dan dipaparkan kepada seluruh deputi. Dalam paparan rancangan awal indeks ini Deputi sekaligus dapat mengevaluasi dan memberikan masukan terhadap konstruk IKO- POLHUKAM apakah telah sesuai dengan proses bisnis pelaksanaan tusi di Kemenko Polhukam.
Gambar 24. Penyampaian Rancangan IKO-POLHUKAM
E) Penyusunan kuesioner manual dan elektronik menggunakan KOBO COLLECT
Kuesioner IKO-POLHUKAM disusun oleh tim substansi. Selanjutnya koesioner ini diintegrasikan ke dalam survey online melalui KOBO COLLECT oleh tim IT. Pelaksanaan uji coba pengukuran IKO-POLHUKAM belum dapat dilaksanakan melalui aplikasi E-KOPOLHUKAM karena E-KOPOHUKAM sedang tahap pembangunan. Kuesioner terbagi menjadi 4 (empat) kategori, yaitu:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
92 1. Kuesioner faktual internal
2. Kuesioner persepsi internal 3. Kuesioner faktual eksternal 4. Kuesioner persepsi eksternal
Kuesioner uji coba survey IKO-POLHUKAM dapat diakses melalui https://linktr.ee/IKOPolhukam2022
Gambar 25. Aplikasi Kobocollect
Dari hasil uji coba IKO-Polhukam, 7 (tujuh) Deputi internal Kemenko Polhukam menyampaikan data tepat waktu. Sementara itu, dari 9 (sembilan) K/L teknis yang berada di bawah koordinasi Kemenko Polhukam hanya 6 (enam) K/L yang menyampaikan data survey. 6 (enam) K/L yang menyampaikan data survey yaitu Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian PANRB, Mabes TNI, dan Kejaksaan Agung. Sedangkan K/L teknis yang tidak menyampaikan data survey adalah Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, dan Mabes POLRI.
Basis data faktual yang menjadi standar penilaian IKO-POLHUKAM saat ini berada di tahapan awal yaitu ada/tidak adanya dokumen. Jika unit kerja menyampaikan dokumen selanjutnya akan dianalisis kualitas dokumen yang disampaikan dengan range angka penilaian sebagai berikut:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
93 Tabel 23. Acuan Penilaian IKO-POLHUKAM
Hasil uji coba survey IKO-POLHUKAM menghasilkan data skor IKO- POLHUKAM sebagai berikut:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
94
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
95 Gambar 26. Hasil Penilaian Uji Coba IKO-POLHUKAM
F) Pembuatan Aplikasi E-KOPOLHUKAM
Aplikasi E-KOPOLHUKAM masuk ke dalam milestone jangka panjang.
Namun karena masukan dan arahan dari para pimpinan pada saat FGD, maka portal E-KOPOLHUKAM ditarik ke jangka pendek.
Aplikasi E-KOPOLHUKAM merupakan sebuah sistem informasi yang berisi 51 (lima puluh satu) indikator IKO-POLHUKAM. Aplikasi ini nantinya akan menjadi media pelaporan pelaksanaan tusi koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian serta penugasan Presiden yang dilaksanakan oleh kedeputian dan K/L teknis selama satu tahun anggaran. Periode penginputan dimulai sejak bulan Januari hingga November. Periode penilaian dilaksanakan pada bulan Desember oleh tim penilai.
Rancang bangun aplikasi E-KOPOLHUKAM ini dilaksanakan secara paralel bersamaan dengan penjabaran desain, konstruk dan indikator IKO- POLHUKAM. Aplikasi E-KOPOLHUKAM dapat diakses melalui alamat http://iko.polkam.go.id. Aplikasi ini dapat diakses melalui perangkat laptop/PC dengan system operasi windows/MAC/OS/Linux serta tablet/HP dengan sistem operasi android/IoS/Microsoft, dll. Berikut adalah gambaran alur kerja aplikasi E-KOPOLHUKAM.
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
96 Gambar 27. Alur Aplikasi E-KOPOLHUKAM
Untuk memenuhi persyaratan sebagai aplikasi yang siap pakai, aplikasi E-KOPOLHUKAM telah melalui berbagai tahapan pengujian, penyesuaian, sosialisasi, bimbingan teknis, dan penyertaan buku panduan.
Hal ini untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi dalam system dan kesalahan pengguna oleh user. Adapun tahapan tersebut terinci sebagai berikut:
1) Sosialisasi awal di lingkup kedeputian dan Kementerian/Lembaga oleh tim;
2) Beta testing fungsi;
3) Penyesuaian akhir (penyelarasan tampilan, redaksional, dan perbaikan bugs); dan
4) Bimbingan teknis: penginputan data, persetujuan, dan review.
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
97
Gambar 28. Bimtek Aplikasi E-KOPOLHUKAM G) Sosialisasi pedoman IKO-POLHUKAM
IKO-POLHUKAM akan dijadikan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) Kemenko Polhukam. Oleh karena itu, sangat penting bag seluruh pejabat dan pemangku kepentingan di Kemenko Polhukam memahami tugas pokok dan fungsi Kemenko Polhukam sebagai kementerian koordinator.
Kemenko Polhukam merupakan kementerian yang mempunyai kedudukan sangat strategis dalam susunan cabinet pemerintahan di Indonesia. Kemenko Polhukam berfungsi untuk mengarahkan K/L teknis agar bekerja sesuai dengan arah pembangunan nasional.
Pedoman IKO-POLHUKAM menjelaskan secara detail definisi, proses bisnis, hingga template dokumen administrasi minimal yang perlu disiapkan oleh unit kerja dalam melaksanakan tugas koordinasi, sinkronisasi, dan
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
98 pengendalian serta penugasan Presiden. Berikut adalah gambaran pedoman IKO-POLHUKAM untuk dimensi sinkronisasi.
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
99
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
100 Gambar 29. Pedoman IKO-POLHUKAM
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
101 Tingkat turn over pejabat di Kemenko Polhukam cukup tinggi, oleh karena itu keberadaan buku pedoman IKO-POLHUKAM akan sangat bermanfaat untuk menjadi petunjuk pelaksanaan tugas bagi deputi, asisten deputi, kabid, serta para pejabat fungsional di lingkungan Kemenko Polhukam.
Sosialisasi pedoman IKO-POLHUKAM dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2022 bertempat di Hotel Pullman Jakarta. Turut hadir pada acara tersebut Direktur Politik dan Komunikasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Sosialisasi pedoman IKO-POLHUKAM juga merupakan bentuk pembekalan bagi seluruh unit kerja internal Kemenko Polhukam dalam menyusun program kerja dan anggaran tahun 2023 agar selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional di bidang polhukam serta sesuai dengan kerangka IKO-POLHUKAM.
Gambar 30. Sosialisasi Pedoman IKO-POLHUKAM H) Launching IKO-POLHUKAM
Launching IKO-POLHUKAM dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2022 bertempat di Hotel Kempinski Jakarta. Dalam acara launching ini, diundang
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
102 pula Kepala BRIN, para Deputi BRIN, para Deputi Kemenko Polhukam, Para Sesmenko dari Kemenko PMK, Marves dan Perekonomian, Serta Para Sesjen dan Sestama 9 (sembilan) K/L yang berada di bawah koordinasi Kemenko Polhukam.
Gambar 31. Undangan Launching IKO-POLHUKAM
Dalam sambutannya, terdapat beberapa hal yang disampaikan oleh Bapak Menko Polhukam. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia pernah berada pada kejayaan di masa lalu dimana birokrasi berjalan bersih dan berkinerja tinggi. Pejabat bekerja dengan penuh integritas. Seiring dengan berjalannya waktu, maka praktik-praktik yang sudah baik itu terkikis dan mengalami degradasi. Pemerintah yang tadinya berkinerja tinggi dan penuh integritas menurun kinerjanya dan integritas semakin menurun.
Untuk mengembalikan kinerja yang baik di masa lalu tersebut terdapat 2 (dua) pendekatan yaitu:
1) Melakukan kontemplasi, perenungan melalui upacara-upacara peringatan; dan
2) Membangun sistem yang kuat, salah satu bentuk sistem yang kuat adalah IKO-POLHUKAM. IKO-POLHUKAM merupakan sebuah sistem yang dibangun untuk memgembalikan tata kerja menjadi baik kembali seperti masa lalu.
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
103 Selama ini kinerja Kemenko Polhukam dinilai oleh masyarakat melalui persepsi publik. Secara persepsi kinerja Kemenko Polhukam sudah baik, terlihat dari indeks persepsi masyarakat terhadap kinerja Kemenko Polhukam di media massa selalu menunjukkan persepsi yang baik. Namun demikian, belum terdapat indeks yang dapat mengukur kinerja Kemenko Polhukam secara substansi. IKO-POLHUKAM merupakan indeks yang dapat mengukur kinerja Kemenko Polhukam secara substansi.
Kemenko Polhukam melaksanakan banyak sekali tugas koordinasi, sinkronisasi, pengendalian, dan penugasan Presiden. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan kinerja organisasi yang tinggi sehingga penyelesaian permasalahan di bidang polhukam dapat terlaksana dengan baik.
Gambar 32. Launching IKO-POLHUKAM
Launching IKO-POLHUKAM ini telah dipublikasi pada beberapa media nasional dan lokal antara lain sindonews, antara, VOA, Indonesiakini, cakaplah. Berikut cuplikan statement Menko Polhukam yang dipublikasikan melalui media tersebut terkait IKO-POLHUKAM, antara lain:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
104 A) https://nasional.sindonews.com/read/840751/12/mahfud-md-pemilu-
dan-dob-papua-butuh-koordinasi-yang-mantap-1659092840
B) https://www.antaranews.com/berita/3027329/menko-polhukam-sebut- pelaksanaan-pemilu-harus-disiapkan-dengan-baik
C) https://voi.id/berita/195985/menko-polhukam-pemilu-2024-harus-kita- kawal-anggaran-jangan-sampai-boros
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
105 D) https://indonesiakini.go.id/berita/8724359/iko-polhukam-sebagai-
instrumen-meningkatkan-performance-korsidal-dan-penugasan- presiden-pada-kementerian-di-bidang-politik-hukum-dan-keamanan E) https://www.cakaplah.com/berita/baca/87694/2022/07/29/ikopolhukam
-instrumen-tingkatkan-performance-korsidal-dan-penugasan-presiden- pada-kementerian-di/#sthash.WOMMg6NS.ogbKwP7i.dpbs
Dari serangkaian kegiatan dan capaian yang dihasilkan dalam aksi perubahan ini, serta dari upaya komunikasi yang positif kepada stakeholder, maka terjadi pergeseran peta stakeholder dari laten menjadi promotor serta aphatetic menjadi defender sebagaimana tergambar berikut ini:
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
106 Gambar 33. Pergeseran Peta Stakeholder
Penyusunan Indeks Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (IKO-POLHUKAM)
107