UJI INSTRUMEN
D. CARA MENGUKUR REALIBILITAS
Realibilitas merupakan keadaan yang mengukur bahwa instrumen yang digunakan menghasilkan hasil pengukuran yang tidak berubah-ubah dan konsisten (Wibowo, 2014).
Maka dalam hal ini suatu pertanyaan dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Jadi jika misalnya responden menjawab “setuju” terhadap perilaku mencuci tangan dapat mengurangi kejadian diare, maka jika beberapa waktu kemudian ia ditanya lagi untuk hal yang sama, maka seharusnya tetap konsisten pada jawaban semula yaitu setuju. Pengukuran reliabilitas pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara :
1) Repeated Measure atau ukur ulang. Pertanyaan ditanyakan pada reponden berulang pada waktu yang berbeda (misal sebulan kemudian), dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsistendengan jawabannya.
2) One Shot atau diukur sekali saja. Disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain. Pada umumnya pengukuran dilakukan dengan One Shot dengan beberapa pertanyaan Pengujian reliabilitas dimulai dengan menguji validitas terlebih dahulu.
Jadi jika pertanyaan tidak valid, maka pertanyaan tersebut dibuang. Pertanyaan- pertanyaan yang sudah valid kemudian baru secara bersama-sama diukur reliabilitasnya
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
42 E. LATIHANDalam Buku Analisis Data Kesehatan (Sutanto, 2006) diuraikan langkah-langkah dalam melakukan uji validitas dan realibilitas terhadap kuesioner yang bertujuan untuk mengetahui tingkat stress pekerja industri berikut:
1. Apakah anda sering terpaksa bekerja lembur?
1.tidak pernah 2.jarang 3.kadang-kadang 4.sering 5.selalu 2. Menurut anda, apakah dalam hidup ini perlu bersaing?
1.tidak pernah 2.jarang 3.kadang-kadang 4.perlu 5.sangat perlu 3. Apakah anda mudah marah?
1.tidak 2.jarang 3.kadang-kadang 4.sering 5.Ya 4. Apakah anda sering terjadi konflik dengan keluarga?
1.tidak 2.jarang 3.kadang-kadang 4.sering 5.Ya 5. Apakah anda sering terjadi konflik dengan teman kerja?
1.tidak 2.jarang 3.kadang-kadang 4.sering 5.Ya
Kuesioner tersebut diujikan kepada 15 responden dengan hasil berikut:
Ujilah kelima pertanyaan diatas apakah sudah valid dan reliabel
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
43 Penyelesaian:Langkahnya:
1. Masukkan data tersebut ke SPSS 2. Klik ‘Analyze’
3. Pilih ‘Scale’
4. Pilih ‘Reliability Analysis’
Gambar 37. Kotak Dialog Uji Validitas Realibilitas 1
5. Masukkan semua variabel ke dalam kotak ‘Items’ (ingat variabel yang masuk hanya variabel yang akan diuji saja, yaitu P1, P2, P3, P4 dan P5) bentuknya sbb:
Gambar 38. Kotak Dialog Uji Validitas Realibilitas 2
6. Pada ‘Model’, biarkan pilihan pada ‘Alpha’
7. Klik Option ‘Statistics’
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
44Gambar 39. Kotak Dialog Uji Validitas Realibilitas 3
8. Pada bagian ‘Descriptives for’ klik pilihan ‘ítem’, Scale if Item deleted.
9. Klik ‘Continue’
10. Klik ‘OK’., terlihat hasil outputnya sbb :
Gambar 40. Output Uji Validitas Realibilitas 1
Gambar 41. Output Uji Validitas Realibilitas 2
Interpretasi:
Hasil analisis reliability memperlihatkan dua bagian. Bagian utama menunjukkan hasil statistik deskriptif masing-masing variabel dalam bentuk mean, varian dll. Pada bagian kedua memperlihatkan hasil dari proses validitas dan reliabilitas. Kaidah yang berlaku bahwa pengujian dimulai dengan menguji validitas kuesioner baru dilanjutkan uji reliabilitas.
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
45 1. UJI VALIDITASUji validitas suatu kuesioner dilakukan dengan cara membandingkan nilai r tabel dengan nilai r hitung.
a. Menentukan nilai r tabel
Untuk menentukan besar nilai r tabel, maka digunakan tabel r berikut:
Tabel 3. “r” Tabel
DF Alpha = 0,005 DF Alpha = 0,005
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
0,997 0,950 0,878 0,811 0,754 0,707 0,666 0,632 0,602 0,572 0,553 0,532 0,514 0,497 0,482
16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
0,468 0,456 0,444 0,433 0,423 0,413 0,404 0,398 0,388 0,381 0,374 0,367 0,361 0,355 0,349
Dengan rumus: 𝒅𝒇 = 𝒏 − 𝟐
Maka dari data pada latihan di atas didapatkan nilai df = 15-2=13, sehingga pada tingkat kemaknaan 5%, didapat nilai r tabel = 0,514
b. Menentukan nilai r hasil perhitungan
Nilai r hitung dapat dilihat pada output SPSS pada kolom “Corrected item-Total Correlation”
c. Menetukan hasil uji validitas
Hasil uji validitas terhadap masing-masing pertanyaan dilakukan dengan cara membandingkan nilai r hitung masing-masing pertanyaan dengan nilai r tabel yang sudah didapatkan (0,514)
Maka berdasarkan data latihan di atas disimpulkan dari 5 pertanyaan, ada satu pertanyaan yang tidak valid (P2) sebab nilai r hitungnya (0,3275) lebih rendah dari nilai r tabelnya (0,514). Kemudian untuk pertanyaan P1, P3,P4 dan P5 dinyatakan valid.
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
46 Langkah selanjutnya melakukan analisis lagi dengan mengeluarkan pertanyaan yang tidak valid. Lakukan prosedur/langkah seperti di atas yaitu :1. Klik ‘Analyze’
2. Pilih ‘Scale’
3. Pilih ‘Reliability Analysis’
4. Masukkan keempat variabel ke dalam kotak ‘Items’ (variabel P2 tidak ikut dianalisis)
5. Klik “OK” Kemudian muncul tampilan Output sbb:
Gambar 42. Output Uji Validitas Realibilitas 3
Interpretasi:
Sekarang terlihat bahwa dari keempat pertanyaan, semua mempunyai nilai r hasil (Corrected item-Total Correlation) berada di atas dari niali r tabel (r=0,514), sehingga dapat disimpulkan keempat pertanyaan tersebut valid.
2. Uji Realibilitas
Setelah semua pertanyaan valid semua, analisis dilanjutkan dengan uji reliabilitas dengan cara membandingkan nilai r hasil dengan r tabel.dalam uji reliabilitas sebagai nilai r hasil adalah nilai “Alpha” (terletak di akhir output). Ketentuannya: bila r Alpha > r tabel, maka pertanyaan tersebut reliabel
Dari hasil uji di atas ternyata, nilai r Alpha (0,993) lebih besar dibandingkan dengan nilai r table (0,514), maka keempat pertanyaan di atas dinyatakan reliabel.
Desi Rusmiati, S.SiT, M.KM
47 A. PENGERTIANTidak jarang suatu penelitian memiliki data yang berupa kategorik, bahkan dalam beberapa keadaan data numerik diubah menjadi data kategorik melalui suatu pengklasifikasian atau pengelompokan. Untuk menguji apakah ada hubungan antara dua variabel kategorik atau untuk menguji apakah ada perbedaan proporsi dua atau lebih kelompok maka statistik uji yang tepat adalah Uji Chi Square (Kai Kuadrat)
Misalnya ingin mengetahui hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian menyusui eksklusif. Dimana pengamatan dilakukan terhadap ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan pendidikan rendah kemudian mengamati bagaimana perilaku menyusuinya apakah menyusui secara eksklusif atau tidak. Apabila pengamatan diatas disusun didalam suatu tabel, maka tabel tersebut dinamakan tabel kontingensi (tabel silang). Dari data tersebut dapat dilakukan uji statistik dengan uji kai kuadrat untuk melihat ada tidaknya asosiasi/hubungan antara dua sifat/variabel tersebut (pendidikan dan menyusui eksklusif).
Secara spesifik uji chi square dapat digunakan untuk menentukan/menguji:
1. Ada tidaknya hubungan/asosiasi antara 2 variabel (test of independency)
2. Apakah suatu kelompok homogen dengan sub kelompok lain (test of homogenity) 3. Apakah ada kesesuaian antara pengamatan dengan parameter tertentu yang
dispesifikasikan (Goodness of fit).
Secara umum tidak ada asumsi yang harus dipenuhi untuk uji χ2, karena distribusi χ2 ini termasuk free-distribution. Secara lebih jelas berikut ketentuan-ketentuan penting dalam menggunakan uji Chi Square (Machfoedz, 2010):
1. Jumlah sampelcukup besar
2. Pengamatan bersifat independen (uppaired)
3. Perhitungan untuk menguji hipotesis menggunakan kai kuadrat datanya harus diskrit baik berupa data frekuensi atau data kategori, jadi skala nominal atau ordinal, atau data kontinyu yang telah dikelompokan menjadi data kategori.
4. Jumlah frekuensi yang diharapkan (Expected = E) harus sama dengan jumlah frekuensi yang diamati atau diobservasi (O)
5. Bila derajat kebebasan = 1 (tabel 2x2) maka tidak boleh ada nilai ekspektasi (E) yang sangat kecil. Bila nilai yang diharapkan terletak dalam satu sel terlalu kecil (<5) dan digunakan uji chi square maka akan dapat menimbulkan taksiran yang berlebih (over estimate), hindari penggunaan chi square.