BAB III INTERAKSI SOSIAL DAN PROSES SOSIAL
B. Ciri dan Syarat terjadinya Interaksi Sosial
1. ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang
2. ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol- simbol
3. ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa depan) yang menemukan sifat aksi yang sedang berlangsung.
4. ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat.
Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Antaraksi (interaksi) sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal-balik antara dua belah pihak, yaitu individu satu dengan individu atau kelompok lainnya dalam rangkan mencapai tujuan tertentu.
Terjadinya interaksi sosial sebagaimana dimaksud, karena adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan sosial. Menurut Roucek dan Warren (1984:189), interaksi sosial adalah salah satu masalah pokok, karena ia merupakan dasar segala proses sosial. Interaksi sosial merupakan proses timbal-balik, di mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dan dengan demikian, ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Orang mempengaruhi tingkah laku orang lain melalui kontak. Kontak ini mungkin berlangsung melalui organisme fisik, seperti dalam obralan, pendengaran, melakukan
gerakan pada beberapa bagian badan, melihat dan lain-lain atau secara tidak langsung melalui tulisan atau dengan cara berhubungan dari jauh.
Dalam proses sosial, baru dapat dikatakan interaksi sosial apabila telah memenuhi persyaratan sebagai aspek kehidupan bersama, yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi sosial.
1. Kontak Sosial
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk:
a. Antar-orang per-orang, misalnya apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui socialization, yaitu suatu proses di mana anggota masyarakat yang baru memepelajari norma- norma dan nilai-nilai masyarakat di mana dia menjadi anggota.
b. Antara orang-perorang dengan suatu kelompok. Misalnya, apabila seseorang bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai memaksa anggota-anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.
c. Antar suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Misalnya dua partai politik mengadakan kerjasama untuk mengalahkan partai politik ketiga di dalam pemilihan umum atau apabila dua buah organisasi keagamaan mengadakan kerjasama untuk melakukan sebuah kegiatan keagamaan.
2. Komunikasi Sosial.
Komunikasi adalah suatu proses saling memberikan tafsiran kepada atau dari perilaku pihak lain. Melalui tafsian pada perilaku pihak lain, seseorang mewujudkan perilaku sebagai reaksi terhadap
maksud atau peran yang ingin disampaikan oleh pihak lain.
Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan, gerak-gerik fisik ataupun perasaan. Selanjutnya dari sini timbul sikap dan ungkapan perasaan, seperti senang, ragu-ragu, takut atau menolak, bersahabat yang merupakan reaksi atas pesan yang diterima. Saat ada aksi dan reaksi itulah terjadi komunikasi.
Komunikasi sosial adalah syarat pokok lain dari pada proses sosial. Komunikasi sosial mengandung pengertian persamaan pandangan antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu.
Menurut Soekanto (2002), bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut) orang yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut. Dengan adanya sekelompok orang, dapat diketahui dan dipahami oleh pihak orang itu atau sekelompok orang lain. Hal ini berarti, apabila suatu hubungan sosial tidak terjadi komunikasi atau tidak saling mengetahui dan tidak saling memahami maksud masing-masing pihak, maka dalam keadaan demikian, tidak terjadi kontak sosial. Dalam komunikasi dapat terjadi banyak tafsiran terhadap perilaku dan sikap masing-masing orang yang sedang berhubungan, ini halnya jabatan tangan dapat ditafsirkan sebagai kesopanan, persahabatan, kerinduan, sikap kebanggaan, dan lain-lain.
Menurut Sitorus (2000), berlangsungnya suatu interaksi sosial dapat didasarkan pada berbagai faktor, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri, secara terpisah ataupun saling berkaitan.
a. imitasi adalah suatu proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain. Dalam interaksi sosial, imitasi dapat bersifat positif artinya imitasi tersebut mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun, imitasi juga dapat berpengaruh apabila yang dicontoh itu adalah perilaku-perilaku
menyimpang. Selain itu imitasi juga dapat melemahkan dan mematikan kreatifitas seseorang. Misalnya, seorang anak yang terus–menerus meniru dan mengikuti perintah atau kehendak orang lain, akhirnya tidak dapat mengembangkan daya kreativitasnya sendiri.
b. Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tesebut tanpa berpikir panjang. Sugesti terjadi karena terjadi pihak yang menerima anjuran tersebut tergugah secara emosional dan biasanya emosi ini menghambat daya pikir rasionalnya. Proses segesti lebih mudah terjadi apabila orang yang memberikan pandangan itu adalah orang yang berwibawa dan bersifat otoriter.
Mungkin juga bahwa sugesti terjadi kalau yang memberikan pandangan atau sikap itu adalah kelompok atau masyarakat.
c. Identifikasi adalah kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
Identifikasi lebih mendalam dari imitasi, karena dengan identifikasi, seseorang mencoba menempatkan diri dalam keadaan orang lain, ―mengidentikkan‖ dirinya dengan orang lain, bahkan menerima kepercayaan dan nilainya sendiri.
Proses identifikasi dapat membentuk kepribadian seseorang, misalnya seseorang merasa sedih melihat orang lain yang mengalami musibah atau merasa iba melihat oang cacat.
d. Simpati adalah perasaan ―tertarik‖ yang timbul dalam diri seseorang dan membuatnya seolah-olah berada dalam keadaan orang lain
3. Tindakan Sosial.
Menurut Sitorus (2000) bahwa, tindakan sosial sebagai perbuatan, perilaku atau aksi yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap tindakan diperoleh melalui proses belajar. Artinya, sebelum berbuat sesuatu, ia akan mengadakan seleksi atau pilihan terhadap berbagai alternatif untuk mencapai hasil yang lebih optimal. Apabila ditemukan suatu tindakan yang efektif, maka tindakan itu akan diulangi setiap kali masalah seperti itu akan timbul. Bila tindakan itu menguntungkan, maka tindakan itu akan dikomunikasikan kepada setiap individu atau kelompoknya. Lama- kelamaan tindakan itu akan makin mantap dan menjadi kebiasaan bagi kelompoknya. Dengan demikian, tindakan itu telah menjadi adat-istiadat yang memiliki nilai dan norma sosial dalam masyarakat.
Tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial, suatu tindakan dapat disebut ―tindakan sosial‖
apabila tindakan tersebut dilakukan dengan orientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain. Misalnya bila seseorang membaca puisi sebagai latihan untuk mengikuti lomba baca puisi, maka tindakan ini tidak dapat dikatakan sebagai tindakan sosial. Akan tetapi, bila membaca puisi dihadapan orang lain dan dewan juri pada saat lomba, maka tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai tindakan sosial. Hal ini karena tindakan tersebut berorientasi atau dipengaruhi oleh orang lain.
4. Proses Sosial.
Selo Soemardjan dan Soemardji Soelaeman (1964) mendefinisikan proses sosial sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Sedangkan Soekanto menyatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar dari proses sosial. Soerdjono Dirdojosisworo (1985) mengartikan proses sosial sebagai pengaruh
timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Proses sosial juga dapat diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lainnya. Pengaruh timbal-balik antara individu atau kelompok terlebih dahulu dilakukan setelah terjadinya interaksi sosial. Proses sosial merupakan bentuk khusus dari interaksi sosial.
Terjadinya proses sosial secara umum disebabkan oleh adanya kontak sosial dan komunikasi yang selanjutnya memberikan pengaruh timbal-balik pada kedua belah pihak. Dengan demikian proses sosial merupakan buah dari interaksi sosial.
C. Macam-macam Proses Sosial