• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-Jenis Kelompok Sosial

Dalam dokumen PENGANTAR SOSIOLOGI (Halaman 73-78)

BAB V KELOMPOK SOSIAL

D. Jenis-Jenis Kelompok Sosial

Solidaritas Mekanik Solidaritas Organik 3. Hukun refresif dominant

4. Individualitas rendah

5. Konsensus terhadap pola-pola normatif itu penting.

6. Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang

7. Secara relatif saling ketergantungan itu rendah.

8. Bersifat primitif (pedesaan).

3. Hukum restitutif dominant 4. Individualitas tingg.

5. Konsensus pada nilai - nilai abstrak dan umum itu penting.

6. Badan - badan control social yang menghukum orang yang menyimpang.

7. Saling ketergantungan yang tinggi.

8. Bersifat industri perkotaan.

a. Ukurannya kecil, sering lebih kecil dari 20 atau 30 orang anggota,

b. Hubungan bersifat pribadi dan akrab di antara anggota.

c. Lebih mengutamakan komunikasi tatap muka.

d. Lebih permanen, para anggota berada bersama dalam periode waktu yang ralatif panjang.

e. Para anggota saling mengenal secara baik dan mempunyai perasaan loyalitas yang kuat.

f. Bersifat informal.

g. Keputusan dalam kelompok lebih bersifat tradisional dan kurang rasional.

Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang memiliki anggota yang lebih banyak, tidak selalu saling mengenal, tidak langsung fungsional, rasional dan lebih banyak ditujukan pada tujuan pribadi, anggota-anggota yang lain dan usaha kelompok merupakan alat. Kelompok sekuder timbal berdasarkan kepentingan yang sifatnya mencari untung rugi.

Adapun ciri-ciri kelompok sekunder adalah:

a. Ukuran besar

b. Hubungan bersifat tidak pribadi dan jauh antara sesama anggota,

c. Sedikit saja komunikasi tatap muka,

d. Bersifat temporal. Para anggota berada bersama-sama dalam waktu yang relatif singkat.

e. Anggota tidak saling mengenal secara baik.

f. Bersifat lebih formal, kelompok sering mempunyai nama, pegawai, tempat dan waktu pertemuan yang teratur dan tetap.

g. Keputusan-keputusan dalam kelompok lebih rasional dan menekankan pada efisiensi.

3. Gemeinschaft dan Gesselschaft.

Gemeinschaft dan Gesselschaft adalah pokok pikiran tentang kelompok masyarakat yang dicetuskan oleh Ferdinand Tonnies.

Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan bersifat kekal. Dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan; kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis. Kelompok Gemeinschaft memiliki beberapa ciri pokok, yaitu:

a. intimate, artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali, b. private, artinya hubungan berisfat pribadi, yaitu khusus

untuk beberapa orang saja.

c. Exclusive, artinya bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk kita saja dan tidak untuk orang-orang lain di luar kita.

Sedangkan geselschaft adalah kelompok yang didasarkan oleh ikatan lahiriah yang jangka waktunya hanya terbatas. Bentuk kelompok gesellschaft ini terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal-balik, misalnya ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik atau industri dan lain sebagainya.

4. Formal Group dan informal Group.

Formal group disebut demikian karena bersifat formal, dimana hubungan antara anggotanya dibentuk dengan sengaja berdasarkan aturan-aturan atau hukum yang diterima bersama.

Sedangkan informal group karena terjadinya pertemuan berulang-ulang secara pribadi yang tidak didasarkan pada suatu aturan atau hukum tertentu.

5. Membership Group dan Reference Group.

Menurut Robert K. Merton membership group merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota

kelompok tersebut. Membership group sama dengan informal group.

Sedangkan reference group adalah kelompok sosial yang dijadikan sebagai anggota dari sutau kelompok sosial tertentu. Reference group adalah kelompok yang identifikasinya, walaupun ia bukan anggota dari kelompok itu. Secara umum reference group merupakan kelompok yang menurut pandangan seseorang mengakui, menerima dan mengidentifikasikan dirinya tanpa harus menjadi anggotanya.

Menurut Robert K. Merton mengemukakan bahwa reference group dapat dikelompokkan menjadi dua tipe umum, yaitu:

a. Tipe normatif, yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang

b. Tipe perbandingan, yang merupakan pegangan bagi inidividu di dalam menilai kepribadiannya.

Di samping kelompok sosial yang teratur seperti di atas, terdapat juga kelompok sosial yang tidak teratur, misalnya kerumunan, publik dan lain sebagainya beserta bentuk-bentuknya.

Secara garis besar, kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur tadi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu kerumunan dan publik.

1. Kerumunan (crowd). Ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya batas kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingga dapat mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera mati setelah orang-orangnya bubar, dan karena itu kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara (temporer).

Bentuk-bentuk umum kerumunan menurut Davis (1960:354) adalah sebagai berikut:

a. kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial

1). khalayak penonton atau pendengar formal, contohnya penonton film, atau orang-orang yang menghadiri khotbah keagamaan.

2). Kelompok ekspresif yang telah direncanakan, contahnya orang yang sedang berpesta, berdansa dan sebagainya.

b. kerumunan yang bersifat sementara (cusual crowd).

1). kerumunan yang kurang menyenangkan 2). kerumunan orang-orang yang sedang panik 3). kerumunan penonton.

c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum.

1). kerumunan yang bertindak emosional

2). kerumunan yang bersifat immoral (Basrowi, 2005: 58) 2. Publik (Masyarakat Umum)

Menurut Soekanto (2002:148), bahwa publik berbeda dengan kerumunan. Hal ini karena publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi mislanya, pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, televise, film dan lain sebagainya. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi, karena jumlahnya yang sangat besar, maka tak ada pusat perhatian yang tajam dan karena itu, kesatuan juga tak ada. Setiap aksi publik diprakarsai oleh keinginan individu (misalnya pemungutan suara dalam pemilihan umum) dan ternyata individu-individu dalam suatu publik masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang sesungguhnya dan juga masih lebih mementingkan kepentingan-kepentingan pribadi dari pada mereka yang bergabung dalam kerumunan.

Dalam dokumen PENGANTAR SOSIOLOGI (Halaman 73-78)