• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipe-Tipe Organisasi Sosial

Dalam dokumen PENGANTAR SOSIOLOGI (Halaman 163-166)

BAB XI SISTEM SOSIAL

D. Tipe-Tipe Organisasi Sosial

Prinsipnya ada perilaku tertentu yang menjadi citra organisasi (kampus). Citra organisasi perguruan tinggi dijaga oleh semua komponen organisasi kampus.

Suatu organisasi sosial memiliki daftar anggota yang terinci.

perlu ditegaskan di sini, bahwa keanggotaan dalam suatu organisasi biasanya melalui prosedur-prosedur resmi yang diatur di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, dengan masuknya seorang dalam suatu organisasi, maka mereka mempunyai hak dan kewajiban tertentu sesuai dengan ketentuan yang ada dalam organisasi.

4. Sifat hirarkhi.

Suatu organisasi memiliki sifat hirarkhi, yaitu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida. Sifat hirarkhi menempatkan beberapa orang pada posisi lebih tinggi dari anggota lainnya. Peran mereka yang berbeda secara hirarkhis juga berbeda menyolok. Dengan sifat hirarkhi dalam organisasi, maka kita dapat mengenal struktur organisasi. Dalam struktur organisasi dapat diketahui dan digambarkan pola hubungan antar-unsur yang menyangkut kekuasaan serta wewenang.

Menurut Schein (1991) di dalam sebuah organisasi ada koordinasi, tujuan bersama, pembagian kerja, dan integrasi.

Koordinasi muncul dari adanya kenyataan bahwa setiap individu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan dan harapannya seorang diri, setelah beberapa orang mengkoordinir usaha bersama dari pada kalau mereka melakukan sendiri-sendiri.

1. Organisasi Normatif

Dalam tipe organisasi normatif, pihak elit menjalankan organisasi atau mengawasi anggota, lebih dominan menggunakan kekuasaan normatif (persuasive). Sedangkan bentuk partisipasi anggota dalam organisasi adalah partisipasi dengan komitmen moral. Partisipasi dengan komitmen moral merupakan partisipasi anggota yang sangat tinggi karena pada diri anggota terdapat nilai- nilai dan norma-norma organisasi yang sudah mendarah daging.

Secara otomatis, anggota mempunyai tanggung jawab moral untuk menampilkan perilaku yang sesuai dengan norma-norma organisasi.

Pemimpin-pemimpin organisasi normatif umumnya mempunyai kharisma di mata para anggota. Pemimpin organisasi yang kharismatik cenderung paternalistic. Pengikut organisasi dengan penuh kerelaan berperilaku sesuai dengan norma-norma organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, organisasi-organisasi keagamaan mempunyai kecenderungan bersifat yang besar untuk dikategorikan organisasi normatif.

2. Organisasi Utilitarian

Pihak elite mengawasi anggota dominan menggunakan kekuasaan utilitarian (renumeratif). Partisipasi anggota berdasarkan komitmen perhitungan (calculative comitment) yaitu suatu partisipasi yang didasarkan pada pemikiran yaitu suatu partisipasi yang didasarkan pada pemikiran hubungan bisnis, perhitungan ekonomi, atau sangat memperhitungkan untung rugi. Organisasi-organisasi ekonomi seperti perseroan, firma, dan konglomerat merupakan contoh organisasi yang cenderung bersifat ulitarian.

Kekuasaan ulitarian didasarkan pada kepemilikan aset-aset ekonomi, yaitu modal. Dalam konsep kekuasaan ulitarian aset ekonomi digunakan untuk mempengaruhi perilaku orang lain.

Pengikut organisasi ini bila merasa dirugikan akan mengurangi

partisipasinya. Misalnya, sekelompok buruh yang merasa dirugikan karena upah yang diterima di bawah patokan upah minimum akan melakukan pemogokan, unjuk rasa atau menurunkan produktivitasnya.

3. Organisasi koersi

Pihak elit sebagai penguasa lebih dominan menggunakan kekuasaan koersi dalam mengawasi anggotanya. Koersi adalah segala jenis paksaan, ancaman, dan intimidasi yang digunakan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dalam organisasi koersi, partisipasi anggota bersifat keterasingan (alenation), yaitu keterlibatan anggota terjadi karena diselimuti oleh unsur keterpaksaan, ketakutan, dan kadang-kadang kekecewaan.

Organisasi-organisasi mafia di Italia, Triad di Hongkong, dan Yakuza di Jepang merupakan jenis organisasi koersi.

Berdasarkan hubungan antara pemimpin dengan anggota organisasi dan proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin atau anggota, Margono Slamet (1996) membagi tipe organisasi menjadi empat jenis, yaitu: leader-oriented organization, patriarchal (leadership) organization, bureaucracy, dan democratic organization. Leader oriented organization dicirikan oleh adanya putusan yang selalu dilakukan oleh pemimpin dan anggota diarahkan untuk memenuhi unsur kepatuhan dan pengabdian. Partriarchal (leadership) organization dicirikan adanya hubungan pimpinan-anggota seperti hubungan bapak dengan anak. Dalam hal ini si anak (pengikut) membutuhkan perlindungan dari si bapak (pemimpin). Ciri lain dari tipe organisasi yang kedua ini adalah pengambilan keputusan yang selalu memerlukan restu atau persetujuan pemimpim, meskipun keputusan dibuat oleh anggota. Bureucracy mempunyai ciri pengaturan yang sesuai dengan struktur, beroperasi sesuai dengan struktur, beroperasi sesuai seperangkat peraturan/

ketentuan yang berlaku, dan keputusan dapat diambil tanpa

menghubungkan dengan pemimpin atau pemegang kekuasaan tertentu. Tipe organisasi yang terakhir yakni democratic organization dicirikan oleh adanya hak suara dari anggota, keputusan diambil secara bersama, pemimpin tunduk pada keputusan bersama, dan pemimpin memberi arahan, tidak memberi perintah semata.

Berbeda dengan Margono Slamet, Schein (1991) membagi jenis organisasi menjadi tiga, yaitu organisasi formal, organisasi sosial, dan organisasi informal. Organisasi formal adalah organisasi yang mengkoordinasi sejumlah kegiatan manusia yang direncanakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan bersama melalui pembagian tugas dan fungsi serta melalui serangkaian wewenang dan tanggung jawab. Organisasi sosial adalah organisasi yang pola koordinasinya dilakukan dengan spontan atau secara tidak langsung muncul dari interaksi orang tanpa melibatkan koordinasi rasional untuk mencapai tujuan bersama yang jelas.

Organisasi informal adalah organisasi yang pola koordinasinya lahir dari kalangan angota-anggota organisasi formal yang tidak ada dalam cetak biru. Apa yang dikerjakan oleh anggota dalam organisasi formal tersebut tidak hanya sebatas hal-hal yang formal tetapi juga hal lain yang tidak ada ketentuannya. Proporsi koordinasi yang di luar ketentuan fomal lebih banyak dibanding yang tertulis secara formal.

Aplikasi tipe-tipe organisasi dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mutlak sesuai dengan kategori di atas. Tipe-tipe organisasi bisa merupakan kombinasi diantara dua atau tiga tipe. Misalnya kombinasi tipe utilitarian dan normatif serta utilitarian dan koersi

Dalam dokumen PENGANTAR SOSIOLOGI (Halaman 163-166)