BAB II INDIVIDU DAN MASYARAKAT
B. Pengertian Masyarakat
Istilah masyarakat berasal dan bahasa Arab yaitu “syaraka”
yang berarti ikut serta (berserikat), berpartisipasi. Sedangkan kata
―musyaraka‖ berarti saling bergaul. Di dalam bahasa lnggris dipakai istilah “society” yang sebelumnya berasal dan kata latin
“socius”, berarti ―kawan‖ (Koentjoroningrat, 1980). Dalam buku yang ditulis oleh Abdul Syani (1997) yang berjudul, Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial, dijelaskan bahwa perkataan masyarakat berasal dari kata musyawarah (arab), yang artinya bersama-sama, kemudian berubah menjadi masyrakat, yang artinya berkumpul bersama, hidup bersama dengan saling berhubungan dan saling mempengaruhi, selanjutnya mendapatkan kesepakatan menjadi masyarakat (Indonesia).
Dalam bahasa Inggris, kata masyarakat diterjemahkan menjadi dua pengertian, yaitu society dan community. Berkaitan dengan istilah Community Arthur Hilin menjelaskan bahwa: “A definition of community must be inclusive enough to take account, of the variety of both physical and social forms which community take”
Ciri dari community ditekankan pada kehidupan bersama dengan bersandar pada lokalitas dan derajat hubungan sosial atau atau sentimen. Community ini oleh Hassan Shadily (1983) disebut sebagai peguyung yang memperlihatkan rasa sentiment yang sama seperti terdapat dalam Gemennshaft. Anggota-anggotanya mencari kepuasan berdasarkan adat kebiasaan dan sentimen (faktor primer), kemudian diikuti atau diperkuat oleh lokalitas (factor sekunder).
Lebih jauh berkaitan dengan masyarakat, Abdul Syani (1987), menjelaskan bahwa masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, memandang community sebagai unsur statis, yang community tenbentuk dalam suatu wadah atau tempat dengan batas-batas tertentu, maka ia menunjukkan bagian dan kesatuan-kesatuan masyarakatsehingga ia dapat pula disebut sebagai masyarakat setempat, misalnya kampong, atau kota-
kota kecil. Masyarakat setempat adalah suatu wadah dan wilayah dari kehidupan sekelompok orang yang ditandai oleh adanya hubun sosial. Di samping itu, dilengkapi pula oleh adanya perasaan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang timbul atas akibat dan adanya pergaulan hidup atau hidup bersama manusia. Kedua, community dipandang sebagai unsur yang dinamis, artinya menyangkut suatu proses-(nya) yang terbentuk melalui faktor psikologis dan hubungan antarmanusia, maka di dalamnya ada yang sifatnya fugsional. Dalam hal ini dapat diambil contoh tentang masyarakat pegawai negeri sipil, masyarakat ekonomi, masyarakat, mahasiswa, dan sebagainya.
Dari kedua ciri khusus yang dikemukakan di atas, berarti dapat diduga bahwa apabila suatu masyarakat tidak memenuhi ciri- ciri tersebut, maka ia dapat disebut masyarakat dalam arti society.
Masyarakat dalam pengertian society terdapat interaksi sosial, perhitungan-perhitungan rasional dan like interest, hubungan- hubungan menjadi bersifat pamrih dan ekonomis (Syani, 2002).
Dalam rangka mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang masyarakat, berikut ini dijelaskan berbagai pendapat para ahli tentang masyarakat.
Menurut Ralph Linton (1936) mengemukakan, bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Pengertian ini menunjukkan adanya syarat-syarat sehingga disebut masyarakat, yakni adanya pengalaman hidup bersama dalam jangka waktu cukup lama dan adanya kerja sama di antara anggota kelompok, memiliki pikiran atau perasaan menjadi bagian dan satu kesatuan kelompoknya. Pengalaman hidup bersama menimbulkan kerja sama, adaptasi terhadap organisasi dan pola tingkah laku anggota-anggota. Faktor waktu memegang peranan penting, sebab setelah hidup bersama dalam waktu cukup lama, maka terjadi
proses adaptasi terhadap organisasi tingkah laku serta kesadaran berkelompok.
Sedagkan menuurt John Lewis Gillin dan John Philip Gillin lebih sering disingkat Gillin dan Gillin (1954) mengatakan, bahwa masyarakat itu adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil. Pengertian yang dikemukakan oleh Gillin dan Gillin menunjukkan bahwa masyarakat itu meliputi kelompok manusia yang kecil sampai dengan kelompok manusia dalam suatu masyarakat yang sangat besar, seperti suatu negara. Seperti diketahui, suatu negara juga memiliki kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama dan keteratuan.
Sementara itu, menuurt Steinmentz, seorang ahli sosiologi Belanda memberi batasan tentang masyarakat sebagai kelompok manusia yang terbesar yang meliputi pengelompokan- pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan erat dan teratur. Pengertian ini juga menujukkan bahwa suatu masyarakat mencakup kelompok manusia yang kecil sampai dengan yang sangat besar, termasuk Negara. Sedangkan menuurt Melville J. Herskovits atau akrab dipanggil Herkovits (1955) mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan yang mengikuti satu cara hidup tertentu.
Pengertian ini menekankan adanya ikatan anggota kelompok untuk mengikuti cara-cara hidup tertentu yang ada di dalam kelompok masyarakat.
Auguste Comte (1896) bapak sosiologi mengemukakan pengertian tentang masyarakat, bahwa masyarakat merupakan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan relitas-realitas baru yang berkembang menurut pola perkembangan yang tersendiri.
Masyarakat dapat membentuk kepribadian yang khas bagi manusia, sehingga tanpa adanya kelompok, manusia yang dengan atau
sendirinya bertalian secara golongan besar atau kecil dan beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain.
Koentjaraningrat (1980: 160) seorang antropolog Indoensia merumuskan definisi masyarakat sebagai berikut: masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Hampir senada dengan defenisi yang diberikan Koentjaraningrat, Selo Soemardjan seorang sosiolog mengatakan, bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.