BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Collaborative Governance Dalam pengembangan Budidaya Porang Di Desa
SebelahBaratKabupatenTakalardanSebelah Timurdengan Kecamatan Bontolempangan. Bunga terbagi dalam tujuh desa/kelurahan dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2005. Sapaya merupakan Ibukota Kecamatan Bungaya berjarak sekitar 46 km dari Sungguminasa. Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 15.873 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebesar 7.710 jiwa dan perempuan sebesar 8.163 jiwa dan sekitar 99,98 persen beragama Islam. Fasilitas umum yang terdapat di Bungaya seperti sarana pendidikan antara lain Taman Kanak-Kanak sebanyak lima unit, Sekolah Dasar Negeri tiga unit Sekolah Dasar Inpres 13 unit, Sekolah Menengah Pertama empat unit, Sekolah Menengah Umum satu unit, Madrasah Ibtidaiyah tujuh unit, Madrasah Tsanawiah tujuh unit, Madrasah Aliyah empat unit. Terdapat beberapa sarana kesehatan, tempat 34 ibadah (masjid), dan pasar. Penduduk Kecamatan Bungaya umumnya berprofesi sebagai petani utamanya petani padi/palawija, sayuran dan perkebunan, sedangkan sektor non pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup besar hal ini terlihat dari konstribusi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang telah mencapai 101,67 persen tahun 2010. Desa dan kelurahan di Kecamatan Bungaya masing- masing Buakang, Rannaloe, Bissoloro, Bontomanai, Manggempang, Sapaya, dan Jenebatu.
B. Collaborative Governance Dalam pengembangan Budidaya Porang Di
yang dimaksud Collaborative Governance dalam bentuk Program Pengembangan budidaya porang.Praktek pemerintahan yang terjadi dalam pengembangan budidaya porang berbasis collaborative governance. Alasan mendasar melakukan kolaborasi ini sebagai wujud dari collaborative governance karena penanganan lingkungan melibatkan organ pemerintah dan non pemerintah aktif bekerjasama. Ini mencirikan praktek governance.
Disamping itu, isu-isu seperti kepercayaan, kesepahaman, komitmen, kepemimpinan, kelembagaan dan sumber daya tampak dalam pengembangan budidaya porang.
Mengacu pada konsep kolaborasi, bahwa kolaborasi adalah suatu upaya untuk menggabungkan semua sektor baik pemerintahan maupun non pemerintah untuk mengelola, menata dan mengatur semua urusan bersama guna mencapai hasil yang efektif dan efesien. Dari penjelasan diatas tersebut, maka dalam penelitian ini akan diuraikan collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa. Terdapat 7 item penting untuk mengukur keberhasilan kolaborasi dalam governance, yaitu meliputi: (1) Face to Face Dialogue (Dialog Tatap Muka) (2) Trust Building (Membangun Kepercayaan) (3) Commitment to The Process (Komitmen terhadap Proses), (4) Share Understanding (Berbagi Pemahaman), (5) Intermediated Outcomes (Hasil Sementara), (6) Sumber daya, (7) otoritas Hasil pengkajian terhadap ketujuh hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Face to Face Dialogue(Dialog Tatap Muka)
dialog atau komunikasi secara tatap muka antar pemangku kepentingan (stakeholders). Proses dari Collaborative Governance berorientasi pada konsensus atau kesepakatan, maka komunikasi tatap muka merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kolaborasi. Proses tatap muka ini adalah inti dari proses membangun kepercayaan, saling menghormati, pemahaman bersama, dan komitmen terhadap proses.Dalam penelitian iniproses face to face dialogue atau dialog tatap muka yang dilakukan oleh para stakeholder berupa pertemuan- pertemuan semi formal. Berdasarkan hasil wawancara semua stakeholder melakukan pertemuan secara formal membicrakan hal-hal apa saja yang harus direncanakan dan harus dilakukan dan dijalankan kedepanya sehingga kerja sma ini berjalan lancar dimana tugas para staheholder yaitu, Dinas pertanian, bertugas dia dalam face to face ini dia membicarakan atau merencanakan bahwsanya tugas dia disini sebagai fasilitator memberikan bibit kepada masyarakat dan juga sebagai pemateri atau sosialisasi yang melakulan pertemuan setiap satu kali dalam seminggu,kemudian Dinas tanaman pangan hortikultura, tugasnya yaitu dia menyarankan kepada kepala desa agar mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kerjasama pengembangan poran, dan Kepala desa bontomanai tugasnya sebagai pendengar dalm hal ini Masyrakat tugasnya mendengarkan dan menyimak dan memansukkan saran. sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Desa Bontomanai bapak Muh Idrus S.pdi, sebagai berikut:
“Saya disini sebagai pemerintah Desa Bontomanai yang memegang komitmen dan kepercayaanyang sesuatu yang tidak didapatkan dua kalinya yang dimana dalam pengembangan budidaya porang yang dimana dalam kerja sama ini saya beserta bumdes dan stakeholder lainya melakukan pertemuan secara formal
membuat perencanaan yang dimana dalam berkolaborasi ini bagaimana peran pemerintah mengajak masyarakat agar ikut serta dalam program ini dalam menanam porang, serta memberikan dukungan dan motivasi kepada masyarakat, kemudia menyusun rencana bagaimana dalam pengembangan budidaya porang ini bisa diterapkan dikalangan masyarakat dikarenakan pengembangan budidaya porang ini akan sangan amat menguntungkan bagi masyarakat.”
Begitupun yang dikatakan oleh pegawai dinas yaitu kasie dinas pertanian, Fitriani, SP.,MM, mengatakan:
“Dalam pengembangan budidaya porang kami disini selaku pemerintah dinas melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat bntomanai membicarakan bagaimana porang kedepanya bagaimana mengembangkan porang kedepanya dan bumdes disana sangat amat membantu beserta kepala desanya dikarenakan dalam pertemuan formal ini mereka bisa mengumpulkan masyarakt dan pemerintah lainya dalam pembahasan mengenai pengembangan porang kedepanya.”
Adapun yang dikatakan juga oleh bapak Sulaiman, Sp.,Mp selaku staf dinas pertanian ia mengatakan bahwa
“Kami sangat bangga kepada Desa bontomanai terutama pada Bumdesnya karna dalam pertemuan formal dalam membahasa perencanaan mengenai pengembangan budidaya porang ini bumdes desa tersebut sangat amat membatu dan sangat peduli.”
Berbeda dengan ucapan masyarakat ibu salmiah selaku petani porang ia mengatakan bahwa:
“Disini kami setelah adanya pertemuan antar pemerintah desa pemerintah dinas pangan tanaman hortikultura dalam melakukan perencanaan penanaman porang dan mendapat bantuan dari pemerintah desa dan dinas pertanian sangat mendukung karna kami dulu hanya menanama padi dan jagung sekarang ada tambahan porang yang kami tanam sehigga kami mendapatkan tambahan penghasilan. Dimana dalam pengembangan porang ini kami sebagai masyarakat ikut serta dalam perencanaan pemerintah ikut serta menanam porang dihalam rumah mauun dikebun dan disawah kami.”
Begitupun yang dikatan oleh bapak abdul salam sebagai masyarakat dan juga petani porang ia mengatakan bahwa:
“Dulunya saya hanya menjadi peternak sapi sekarang dengan adanya kerja sama pemerintah dengan masyarakat dalam menanam porang sata sangat senang karna saya memiliki tambahan penghasilan yg mana kalau dijual sangat memuaskan bagi saya dan saya bersyukur dengan itu.”
Adapun yang dikatakan oleh sekretaris Bumdes desa Bontomanai yaitu Ansar S.Tr.pt ia mengatakan bahwa:
“Kami selaku sekretaris bumdes bontomanai disisni saya melihat dalam kerja sama ini terdapat perencanaanyang sangan bagus bagaimana tidak didalam perencanaan kita melakukan kegiatan-kegiatan seperti mengajak masyarakat menanam porang dan bagaimana cara memupuk yang baik sehingga membuahkan hasil yang memuaskan untuk dipanen.”
Adapun hasil wawancara diatas dengan bapak MS ibu FI, bapak SN dan bapak AM dan ibu SA dapat disimpulkan bahwa kehadiran pemerintah dalam pemberdayaan petani tanaman porang ini sangat penting karena pemerintah selalu siap dalam memberikan informasi kepada petani jika petani bertanya tentang komoditi yang lagi tren. Pemerintah juga siap memfasilitasi dengan mengadakan penyuluhan kepada petani dan juga memberikan pelatihan-pelatihan tentang cara budidaya tanaman yang baik melalui penyuluhan pertanian.
2. Trust building (membagun kepercayaan)
Yaitu dimana Pemeritah desa dan pemerintah dinas pertanian bekerja sama dengan kelompok(Bumdes bontomanai) dimana bkerja sama dalam rangka meyakinkan masyrakat dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai dengan cara melakukan penanaman porang dan bekerja sama dengan swasta dimana tempat penjualan porang tersebut serta memberikan jaminan sebagai tanda bahwa pengembangan porang sngat bermanfaat untuk perekonomian maka dari itu pemerintah memberi tau masyarakat nilai porang
serta swasta meyakinkan masyarakt bahwa benar harga porang sangat tinggi.
Membangun kepercayaan sangat tidak muda bagi desa bontomani oleh karena itu tugas para stakeholder disini dalam membangun kepercayaan terhadap masyarakat didesa tersebut guna menjalankan kerja sama dalam pengembangan budidaya porang yaitu, Dinas pertanian tugasnya memberikan bibit langsung serta melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, kemudian Dinas tanaman pangan hortikultura tugasnya mendatangkan langsung bibit dari luar negri dan memberikan kepada masyarakat dan kepala desa disana meyakinkan masyarakat bahwa memang penanaman porang akan sangat menguntungkan kedepanya, kemudian, Pt biota ganga laut yaitu meyakikan masyarakat bahwa harga porang sangat tinggi dengan cara mencari porang dengan mematok harga yang tinggi sehingga masyarakat peercya Kepala desa tugasnya mendorong masyarakat dan meyakinkan masyarakat bahwa dalam kerja sama ini sangat bagus dang sangat menguntungkan, danMasyarakat tugasnya disini menerima masukan dan menerima bantua mereka dan menjalankan kerja sma dengan cara mendengar dan melakukan penanaman.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada bapak MS beliau mengatakan bahwa:
“Dalam kerja sama ini orang yang terlibat dalam pengembangan budidaya porang yaitu bumdes dinas pertanian dan masyarak serta stakeholder lainya dimana bumdes disini sebagai pembawa porang ke pabrik dan swasta yang menerima, kemudian dinas pertanian sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai penanam.”
Hal yang sama dikatan oleh ibu FI dan Bapak ZN selaku staf pada dinas pertanian yang mengatkan bahwa:
“Dalam kerja sama ini dalam membangun kepercayaan pemerintah desa disana sangat amat membantu kami dikarenakan mereka yang meyakinkan masyarakat setempat bahwasanya penanaman porang ini kedepanya sangat bermanfaat bagi perekonomian masyarakat, nah dari sini peluang kami masuk kesana memberikan pelatihan dan memberikan bantuan suplait bibit agara masyarakat percya bahwa benar memang benar kami sangat ini bekerja sama dalam pengembangan porang didesa tersebut.”
Sama halnya dengan ucpan ibu SA dan bapak AM yang mengatakan bahwa:
Yaitu pak desa dan bumdes sendiri dan dinas pertanian
Begitupun yang dikatan oleh AR selaku sekretaris bumdes yaitu:
“Tidak lain yaitu pak desa sendiri beserta kami bumdes dan masyarakat dan dinas pertanian.”
Kesimpulan dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada bpk MS dan AR, AM dan FI Dan SN dapat disimpulkan bahwa pemerintah sebagai innovator yaitu pemerintah yang memberikan inovasi kepada petani misalnya bagaimana teknik-teknik budidaya porang dan pemerintah juga melakukan kerjasama dengan Swasta dalam jual beli porang.
2. Commitment to The Procces (Berkomitmen terhadap Proses)
Yaitu dimana pemerintah dinas pertanian memberikan motivasi kepada pemerintah desa bontomanai dengan memberikan arahan mengenai pengembangan budidaya porang sehingga pemerintah termotivasi dalam menanam porang dan meyakinkan masyarakat sehingga menanamn porang juga
dikarenakan pengembangan budidaya porang akan menghasilkan perekonomian tinggi terhadap masyarakat kedepanya karna harga jual belinya tinggi Dalam pelaksanaan collaborative governance pada pengembangan budidaya porang tersebut, para stakeholder yang terlibat menunjukkan komitmen masing-masing untuk menjalankan collaborative governance ini. Pemerintah desa yang memiliki otoritas tertinggi di Desa Bontomanai mengupayakan adanya koordinasi dan komunikasi antar stakeholder yang jelas melalui pertemuan-pertemuan rutin.
Upaya tersebut tentunya dilaksanakan untuk menghadirkan pola kerjasama yang baik dan tidak merugikan satu sama lain. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat dan pemerintah desa akhirnya termotivasi kepada dinas pertanian tanaman hortikal pangan kabupaten gowa agar iku berperan dalam menanam dan mengembangkan budidaya porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, berikut tugas para stakholder dalam berkomitmen terhadap proses yaitu, Dinas pertanian, Kepala Dinas Kepala Dinas, mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan seluruh kegiatan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan.Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, mempunyai tugas pokok membantu Kepala Dinas dalam melakukan penyusunan, pelaksanaan kebijakan, dan pemberian bimbingan teknis, serta pemantauan dan evaluasi di bidang tanaman pangan dan hortikultura meliputi : perbenihan dan perlindungan tanaman pangan dan hortikultura; .produksi tanaman pangan dan holtikultura,pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan dan hortikultura.sedangkanPT Biota ganga laut tuganya meyakinkan masyarakat dengan cara mematok harga porang dengan
nilai yang tinggi sehingga masyarakt bersemangat dalam menanam porang serta Kepala desa tugasnya memperlihatkan hasil jual beli porang terhadap masyarakat sehingga masyarakat ini termotivasi dan menanam porang bahwasanya akan benar mendapatkan hasil dan manfaat dikemudian hari
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada bapak MS sebagai kepala desa bahwa;
“Saya sebagai kepala desa bontomanai menyampaikan kepada masyarakat dan mendorong masyarakat agar menanam porang kaana tanaman porang ini akan sangat menguntungkan bagaimana tidak harga jual beli porang sangatlah tinggi oleh karena itu saya selaku kepala desa sangatsenang dan inginmasyarakt ikut serta dalam kerja sama ini karan tanaman ini akan menambah perekonomian pada masyarakat yang dulunya hanya menanam padi dan jagung sekarang suda ada tabahan dan itu sangat menjanjikan jika masyarakat bersunggu-sunggu menanam dan merawat.”
Sama hal yang dikatankan oleh ibu SA dan bapak berdasarkan wawancara yang telah dilakukan mereka mengatakan:
“Yang memotivasi kami disini yaitu pak idrus dia adalah kepala desa kami disini dia yang sangat mendorong dan memotivasi kami agar ikut serta menanam porang katanaya supaya ada tambahan penghasilan bagi kami yang dimana kami dulunya hanya menanam padi dan jagung dan berternak sekarang suda ada tanaman yang menghasilkan uang cuman dengan menanam dan merawatnya dengan baik kata ibu SA dan bapak AM.”
Beda hal yang dikatan oleh staf dinas pertanian yaitu ibu FI dan bapak ZN ia mengatakan bahwa:
“Kami yang memotivasi kepala desa bontomanai agar menanam dan mengembangkan tanaman liar ini dikarenakan tanaman ini dapat menghasilkan perekonomian pada masyarakat maupun peerintah dikarenakan harga tanaman ini sangat tinggi ungkapanya.”
Sama hal yang dikatakan dengan ibu SA dan Bapak AM dengan yang dikatan oleh AR selaku sekretaris Bumdes ia mengatakan:
“Kepala desa kami yang sangat memotivasi kami agar menanam porang dikarenakan dapat menabah perekonomian pada masyarakat dan akan mengungtukan juga bagi pemerintah.”
Berdasarkan hasil wawancara dari bapak MS dan ibu FI dan ibu SA dan bapak SN dan AM dan AR dapat isimpulkan bahwa pemerintah sangat berperan aktif dalam memengaruhi masyarakt atau bawahanya sehingga mereka ikut serta dalam suatu kerja sama dengan baik.
3. Shared Understanding (Berbagi Pemahaman)
Para aktor harus menyamakan pemahaman atau persepsi akan tujuan yang dapat mereka capai secara bersama, Dalam proses collaborative governance, harus memiliki pemahaman bersama untuk menjadi tujuan bersama. Pada pelaksanaan collaborative governance dalam upaya pengembangan budidaya porang proses shared understanding sudah berjalan dengan baik. Dimana masing- masing stakeholder ini sudah memiliki pemahaman yang selaras. Dimana para stakeholder ini memiliki pemahaman yang sama bahwa tujuan dari collaborative governance yang dilaksanakan bertujuan untuk memberdayakan pengembang budidaya porang. Kegiatan-kegiatan antar stakeholder pun tidak saling tumpang tindih. Berjalannya proses shared understanding ini tidak lepas dari peran proses face to face dialogue yang dilakukan oleh para stakeholder. Dengan berjalan baiknya face to face dialogue yang dilakukan mampu mengantisipasi kesalahpahaman yang berujung permbedaan pandangan. Proses shared understanding ini sendiri memudahkan dalam merenanakan langkah apa yang akan diambil oleh para stakeholder. Seperti halnya ketika budidaya ikan lele menemui hambatan, dengan kesepahaman yang baik antar stakeholder hambatan
tersebut mampu mampu diatasi.tugas atau peran para stakeholder yaitu, Dinas pertanian yaitu memberikan masukan dari setiap stakeholder lainya entah itu sesuatu yang baik yang mengacu pada pengembangan budidaya porang dengan cara melakukan sosialisasi setiap 2x seminggu kemudian betupula denganKepala desa bontomanai menerima segala keluhan baik buruk baik dari masyarakat atw stakeholder lainya, serta menyiapkan lahan untuk ditanami bibit porang kemudian Pt biota ganga laut meneriman semua masukan dan memaklumi masyarakat terhadap penjualan yang biasanya masyarakat menjual porang yang kasar batangnya sedangkan Dinas tanaman pangan hortikultura tugasnya merencanakan akan mendatangkan bibit dari luar untuk dibagaikan kepada desa bontomanai sehingga kedepanya penanaman porang bisa berjalan lancar
Berikut hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan bapak MS yaitu beliau mengatakan bahwa:
“Dalam pengembangan budidaya porang ini kami selaku stakeholder saling memahami,dimana dalam kerja sama pengembangan budidaya porang ini tiak selamanya berjalan lancar sesuai rencana kami akan tetapi kami para stakeholder bisa mengatasi hal itu dimana dalam berbagi pemahaman yg dimaksud didsini kami saling memahami kondisi kami supaya kerja sama dalam pengembangan budidaya porang bisa berjalan lancar dan bisa menguntungkan supaya tidak terjadi tumpang tindih kita selalu melakukan pertemuan secara formal dan mebicarakan hal-hal apa saya yg menggangu dan harus diselesaikan.”
Sama hal yang dikatakan oleh ibu SA dan bapak AM ia mengatakan bahwa:
“Kami sering melakukan pertemuan langsung dan melakukan sosialisasi bagaimana pengembangan porang kedepanya dan melakukan perencanaan baru misalnya menemukan suatu kendala dan bekerja sama dalam menegmbangkan dan melestarikan tamana porang ini..”
Sama halnya yang dikatakan oleh staf dinas pertanian yaitu ibu FI dan bpak SN ia mengatakan bahwa:
“Kami sering melakukan pertemuan dengan para staf dan dan masyaraat desa bontomanai melakukan pertemuan formal membicarakan atw lebih tepatnya menjelaskan rencana kami kedepanya bagaiamana tanaman porang ini bisa berjalan dengan baik dan kerja sama kami juga bagus kedepanya .”
Begitupun yang dikatakan oleh AR seaku sekretaris bumdes ia mengatakan bahwa:
“klw mengenai hal berbagi pemahaman disini itu kepala desa beserta stakeholder lainya menurut saya sangat bagus karna kenapa mereka mampu melewati hal-hal yang tidak diinginkan kemudian mereka bisa saling memahami misalnya sebagaian masyarakat masi minim menamam porang tapi mereka meyakinkan meraka dan memahami mereka .”
Berdasarkan hasil wawancara dari bapak MS dan ibu FI dan ibu SA dan bapak SN dan AM dan AR dapat isimpulkan bahwa pemerintah sangat aktif dan sangat mematau dan selalu mendorong masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam pengembangan budidaya porang.
4. Intermediate Outcomes (Tujuan Jangka Menengah)
Dari awal direncanangkannya kegiatan ini memiliki tujuan meningkatkan perekonomian dalam melakukan pengembangan budidaya porang agar mampu mandiri. Diharapkan hasil dari panen porang menjadi sumber pendapatan tetap bagi petani maupun masyarakat. Selain untuk mengembangkan budidaya porang dari segi ekonomi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melatih kemampuan interkasi bagi petani petanam porang dan kemampuan untuk bekerja lebih keras sehingga mendapatkan hasil yang lebih maksimal.untuk memperkirakan dan melihat hasil yang harus dicapai, dimana tugas Bumdes harus mengetahui berapa
dana yang harus terpakai atau yang dibutuhkan dan mengetahuai pemasukan pertahunya sehingga dalam pengembangan budidaya porang ini kedepanya bisa meningkat. Tugas dari masing-masing stakeholder yaitu:Dinas pertanian tugasnya menyiapkan bibit, menyiapkan materi kemudian Tanaman pangan dan hortikultura tugasnya mendatangkan bibit dari luar dan membawa langsung ke desa bontomanai dan melakukan penanaman porang secara langsung bersama dengan dinas pertanian staf desa dan bmdes dan masyarakat desa bontomanaiTugas kepala desa menyiapkan lahan dan meyakinkan masyarakat agar ikut serta dalam pengembangan budidaya porang ini dengan cara ikut serta dalam menanam porang sehingga ada hasil yg dicapai kedepanya meskipun belum maksimal setidaknya masyarakat suda merasakan. kemudian Masyarakat tugasnya adalah sebagai pendengar dan selaku peaksana dalam penanaman porang didesa bontomanai, Pt biota gangga laut tugasnya membeli porang dari masyarakat atau dari olahan bumdes didesa
Berdasarkan hasil wawancara dari bapak MS ia mengatakan bahwa:
“Berbicara tentang penilaian kami disini suda beberapa kali suda mendapatkan kunjungan dari dirjen tanaman pangan dan itu suda termasuk nilai A+ bagi kami dan yang kedua kami mempunyai sertifikat yang namanya sertifikat pengakuan dari provinsi sul-sel yang mengakui bahwa desa bontomanai adalah sebagai desa porang.”
Sama halnya yang dikatan oleh ibu SA dan bapak AM ia mengatakan bahwa:
“Hasil yang kami capai dari penanaman dan pegembagan porang ini suda lumayan banyak pertama kami suda beberapa kali panen kemudian kami sering dapat kungjungan dari dinas tanaman pangan.”
Berdasarkan hasil wawancara AR juga mengatakan bahwa:
Menurut saya dari hasil penanaman dalam kerja sama ini sangat baik bagaimana tidak sebagian masyarakat suda mendapatkan banyak uang dari hasil menjual porang menurut saya dalam penilaian ini mungkin suda cukup baik.
Sama halnya yang dikatan oleh ibu FI dan bapak SN ia mengatkan bahwa
Menurut kami yaa,, kalau dari hasil pencapaian dalam kerja sama ini mungkin suda amat jauh sebagaimana bumdes dan kepala desa sangat berperan penting terhadap masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara dari bapak MS dan ibu FI da ibu SA dan bapak SN dan AM dan AR dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam kerja sama ini dalam pengembangan budidaya porang sangat memuaskan baik pada masyarakat maupun pemerintah dikarenakan kerja sama ini berjalan dengan baik.
5. Sumber daya Manusia
Sumberdaya manusia merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi maupun kerja sama dimana tanpa adanya sumberdaya manusia maka semua perencanaan yang dilakukan tidak akan terlaksanakan begitupun dengan kolaborasi ini tanpa adanya bantuan dari pemerintah swasta maupun masyarakat maka tidak akan terlaksana.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilkukan oleh peneliti dengan bapak MS ia mengatakan bahwa: