• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Collaborative governance merupakan suatu forum yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, collaborative governance merupakan kondisi yang mana pemerintah untuk memenuhi tujuan publik melalui kolaborasi antar organisasi maupun individu, kemudian collaborative governance adalah

kondisi ketika pemerintah dan swasta berupaya mencapai suatu tujuan bersama untuk masyarakat.

Pembahasan hasil penelitian collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa sebagai berikut:

1. Face to Face Dialogue (Dialog Tatap Muka)

Berdasarkan hasil wawancara semua stakeholder melakukan pertemuan secara formal membicrakan hal-hal apa saja yang harus direncanakan dan harus dilakukan dan dijalankan kedepanya sehingga kerja sma ini berjalan lancar dimana tugas para staheholder yaitu:

a. Dinas pertanian, bertugas dia dalam face to face ini dia membicarakan atau merencanakan bahwsanya tugas dia disini sebagai fasilitator memberikan bibit kepada masyarakat dan juga sebagai pemateri atau sosialisasi yang melakulan pertemuan setiap satu kali dalam seminggu

b. Dinas tanaman pangan hortikultura, tugasnya yaitu dia menyarankan kepada kepala desa agar mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kerjasama pengembangan porang ini

c. Kepala desa bontomanai tugasnya sebagai pendengar dalm hal ini d. Masyrakat tugasnya mendengarkan dan menyimak dan

memansukkan saran

Pemerintah sebagai fasilitator membuat suatu perencanaan dalam menjalakan kerja sama antara pemerintah swasta maupun masyarakat guna untuk menjalankan suatu kerja sama yang baik maka perlu melakukan suatu perencanaan untuk memudahkan suatu pekerjan. Seperti memberikan rancangan bagaimana cara memupuk atau menanam porang serta melakukan perencanaan bagaimana cara agar porang ini bisa berkembang dengan baik dan menghasilkan buah yang bagus.

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti bahwa pemerintah sebagai fasilitator sudah dilaksanakan dengan baik karena pemerintah dinas tanaman pangan hortikultura dan dinas pertanian suda melakukan tugas dengan baik karena suda memberi mereka bantuan bibit porang serta pupuk begitupun dengan pelatihan-pelatihan setiap minggunya.

2. Trust Building (Membangun Kepercayaan)

Membangun kepercayaan sangat tidak muda bagi desa bontomani oleh karena itu tugas para stakeholder didini dalam membangun kepercayaan terhadap masyarakat didesa tersebut guna menjalankan kerja sama dalam pengembangan budidaya porang yaitu:

a. Dinas pertanian tugasnya memberikan bibit langsung serta melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat

b. Dinas tanaman pangan hortikultura tugasnya mendatangkan langsung bibit dari luar negri dan memberikan kepada masyarakat

dan kepala desa disana meyakinkan masyarakat bahwa memang penanaman porang akan sangat menguntungkan kedepanya

c. Pt biota ganga laut yaitu meyakikan masyarakat bahwa harga porang sangat tinggi dengan cara mencari porang dengan mematok harga yang tinggi sehingga masyarakat peercya

d. Kepala desa tugasnya mendorong masyarakat dan meyakinkan masyarakat bahwa dalam kerja sama ini sangat bagus dang sangat menguntungkan

e. Masyarakat tugasnya disini menerima masukan dan menerima bantua mereka dan menjalankan kerja sma dengan cara mendengar dan melakukan penanaman

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, membangun kepercayaan dalam kolaborasi ini suda sangat baik karena para stakeholder ini berperan aktif dalam collaborative governace dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai kecamatan bungaya kabuaten gowa meskipun sebagian masyarakat belum sepenuhnya ada yang percaya.

3. Commitment to The Procces (Berkomitmen terhadap Proses)

Yang artinya pemerintah memberikan motivasi kepda masyarakat atau mendorong masyarakat agar ikut terhadap apa yang iya kerjakan, seperti pemerintah dinas pertanian memberikan motivasi kepada pemerintah desa bontomanai dengan memberikan arahan mengenai pengembangan budidaya porang sehingga pemerintah termotivasi dalam

menanam porang dan meyakinkan masyarakat sehingga menanamn porang juga dikarenakan pengembangan budidaya porang akan menghasilkan perekonomian tinggi terhadap masyarakat kedepanya karna harga jual belinya tinggi

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat dan pemerintah desa akhirnya termotivasi kepada dinas pertanian tanaman hortikal pangan kabupaten gowa agar iku berperan dalam menanam dan mengembangkan budidaya porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, berikut tugas para stakholder dalam berkomitmen terhadap proses yaitu;

a. Dinas pertanian, Kepala Dinas Kepala Dinas, mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan seluruh kegiatan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan.

b. Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, mempunyai tugas pokok membantu Kepala Dinas dalam melakukan penyusunan, pelaksanaan kebijakan, dan pemberian bimbingan teknis, serta pemantauan dan evaluasi di bidang tanaman pangan dan hortikultura meliputi : a.perbenihan dan perlindungan tanaman pangan dan hortikultura; b.produksi tanaman pangan dan holtikultura; c.pengolahan dan pemasaran hasil tanaman pangan dan hortikultura.

c. PT Biota ganga laut tuganya meyakinkan masyarakat dengan cara mematok harga porang dengan nilai yang tinggi sehingga masyarakt bersemangat dalam menanam porang

d. Kepala desa tugasnya memperlihatkan hasil jual beli porang terhadap masyarakat sehingga masyarakat ini termotivasi dan menanam porang bahwasanya akan benar mendapatkan hasil dan manfaat dikemudian hari

4. Shared Understanding (Berbagi Pemahaman)

menyamakan pemahaman atau persepsi akan tujuan yang dapat mereka capai secara bersama.Pada pelaksanaan collaborative governance dalam upaya pengembangan budidaya porang proses shared understanding sudah berjalan dengan baik. Dimana masing-masing stakeholder ini sudah memiliki pemahaman yang selaras. Dimana para stakeholder ini memiliki pemahaman yang sama bahwa tujuan dari collaborative governance yang dilaksanakan bertujuan untuk memberdayakan pengembang budidaya porang. Kegiatan-kegiatan antar stakeholder pun tidak saling tumpang tindih. Berjalannya proses shared understanding ini tidak lepas dari peran proses face to face dialogue yang dilakukan oleh para stakeholder.Dengan berjalan baiknya face to face dialogue yang dilakukan mampu mengantisipasi kesalahpahaman yang berujung permbedaan pandangan. Proses shared understanding ini sendiri memudahkan dalam merenanakan langkah apa yang akan diambil oleh para stakeholder.

Dimana dalam share understanding (berbagi pemahaman) tugas atau peran para stakeholder yaitu;

a. Dinas pertanian yaitu memberikan masukan dari setiap stakeholder lainya entah itu sesuatu yang baik yang mengacu pada pengembangan budidaya porang dengan cara melakukan sosialisasi setiap 2x seminggu kemudian betupula dengan

b. Kepala desa bontomanai menerima segala keluhan baik buruk baik dari masyarakat atw stakeholder lainya, serta menyiapkan lahan untuk ditanami bibit porang

c. Pt biota ganga laut meneriman semua masukan dan memaklumi masyarakat terhadap penjualan yang biasanya masyarakat menjual porang yang kasar batangnya

d. Dinas tanaman pangan hortikultura tugasnya merencanakan akan mendatangkan bibit dari luar untuk dibagaikan kepada desa bontomanai sehingga kedepanya penanaman porang bisa brjalan lancar

Artinya pemerintah memberikan pemahamankepada pekerja dalam sesuatu pekerjaan guna untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam bekerja sama kepada masyarakat dan seluruh staf desa pada desa bontomanai dalam collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa guna mendapatkan hasil kerja yang baik.

5. Intermediate Outcomes (Tujuan Jangka Menengah)

Dalam collaborative governance ini memiliki Intermediate outcomes yaitu pengembangan budidaya porang dari segi ekonomi. Dari

awal direncanangkannya kegiatan ini memiliki tujuan meningkatkan perekonomian dalam melakukan pengembangan budidaya porang agar mampu mandiri. Diharapkan hasil dari panen porang menjadi sumber pendapatan tetap bagi petani maupun masyarakat. Selain untuk mengembangkan budidaya porang dari segi ekonomi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melatih kemampuan interkasi bagi petani petanam porang dan kemampuan untuk bekerja lebih keras sehingga mendapatkan hasil yang lebih amksimal. Tugas dari masing-masing stakeholder yaitu:

b. Dinas pertanian tugasnya menyiapkan bibit, menyiapkan materi c. Tanaman pangan dan hortikultura tugasnya mendatangkan bibit dari

luar dan membawa langsung ke desa bontomanai dan melakukan penanaman porang secara langsung bersama dengan dinas pertanian staf desa dan bmdes dan masyarakat desa bontomanai

d. Tugas kepala desa menyiapkan lahan dan meyakinkan masyarakat agar ikut serta dalam pengembangan budidaya porang ini dengan cara ikut serta dalam menanam porang sehingga ada hasil yg dicapai kedepanya meskipun belum maksimal setidaknya masyarakat suda merasakan

e. Masyarakat tugasnya adalah sebagai pendengar dan selaku peaksana dalam penanaman porang didesa bontomanai

f. Pt biota gangga laut tugasnya membeli porang dari masyarakat atau dari olahan bumdes didesa

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang mengatakan bahwa dalam tujuan jangka menengah ini pemerintah desa bontomanai beserta stakeholder lainya sangat bagus dan sangat bermanfaat bagaimana tidak dalam jangka menega ini meskipun masyarakat belum merasakan sepenuhnya manfaat dari kerja sama ini akan tetapi masyarakat suda merasakanya meskipun belum maksimal.

6. Sumber Daya Manusia.

Sumberdaya manusia merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi maupun kerja sama dimana tanpa adanya sumberdaya manusia maka semua perencanaan yang dilakukan tidak akan terlaksanakan begitupun dengan kolaborasi ini tanpa adanya bantuan dari pemerintah swasta maupun masyarakat maka tidak akan terlaksana.

Berdasaran hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang mengatakan bahwa sumberdaya dalam kerja sama ini sangat bagus dan terlaksana meskipun belum terlaksna dengan baik dikarenakan masi banyak masyarakat dan pemerintah yang masih lalai dalam kolaborasi pengembangan budidaya porang, akan tetapi kerja sama ini tetap beranjut dan pemerintah memotivasi dan mendorong masyarakat agar ikut dalam kerja sama ini.

7. Otoritas

Yaitu hak melakukan untuk menjalankan kekuasan yang dimana kepala desa disini yang memegang kuasa dalam kolaborasi pengembangan budidaya porang.

Berdasarkan hasil penelitian oleh peneliti yang mengatakan bahwa otoritas dalam artian orang yang menjalankan kekuasaan didalam kerja sama ini dimana orang tersebut adalah pemerintah atau kepala desa di Desa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa yang dimana dia yang menjalankan kuasa apabila tidak mendapatkan kuasa atau izin maka kerja sama dalam pengembangan budidaya porang ini di Desa Bontomanai kecamatan Bungaya kabupaten Gowa.

74

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil peneliitian yang dilakukan oleh penulis deengan judul collaborative governance dalaam pengembangan budidaya porang diDesa Bontomanai kecamatan Bungaya kabupaaten Gowa dapat disimpulkan bahwa:

1. Untuk melihat terciptanya proses collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di desa Bontomanai dapat dilihat melalui 7 indikator proses collaborative governance yaitu:

perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan, penilaian, sumber daya alam, otoritas.

2. Kerja sama serta Peran serta penerapanteknologi inovasi menjadi faktor kunci penentu keberhasilan pengembangan porang.

B. Saran

Berdasarkan hasil uraian dari kesimpulan diatas makaa penulis menyarankan saran-saran terkait proses collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang didesa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa

1. Adanya peningkatan dari masyarakat serta dinas pertanian dalam proses pengembangan budidaya porang didesa bontomanai

2. Meningkatkan keterlibatan masyarakat atau petani porang dalam mengembangkan budidaya porang didesa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa

3. Diharapkan juga meningkaatkan pemberiaan fasilitas kepada petani porang mengenai bantuan bibiit serta pupuk terhaadap masyaraakat.

76

DAFTAR PUSTAKA

Asti, A. N. (2018). Collaborative Governance dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kawasan Pertambangan. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 4(1), 27–35.

https://doi.org/10.21776/ub.jiap.2019.004.01.4

Astuti, R. A., Warsono, H., & Rachim, A. (2020). Collaborative Governance Dalam Perspektif Administrasi Publik. Universitas Diponegoro Press.

Batara, A. surahman, Syafar, M., & Palluturi, S. (2018). Pentingnya kolaborasi Stakeholder Dalam Mewujudkan Terminal sehat Di Sulawesi Selatan.

Cahyono, S. (2020). Collaborative Governance Dalam Pembinaan Narkotika Dilembaga Permasyaarakatan Kelas II Sinjai.

Dewi, R. T. (2012). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Collaborative Governance dalam Pengembagan Industri Kecil (Studi Kasus Tentang Kerajinan Reyog dan Pertunjukan Reyog Di Kabupaten Ponorogo). 1–123.

Dwiyanto, A. (2017). Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik.

Gadjah Mada University Press.

Elvira, A. A., Hindarti, S., & Khoiriyah, N. (2020). KELUARGA ( Study Kasus : Di Desa Selur , Kecamatan Ngrayun , Kabupaten Ponorogo ). 10.

Farid, M. (2014). Collaborative governance dalam pengembangan badan usaha milik desa ( bum desa ) di desa bandungrejo kecamatan ngasem kabupaten bojonegoro ( studi pada pemerintah desa bandungrejo , pt . Pertamina ep cepu , dan institute development of society ) Ninin Erni. 1–10.

Fatwadi, M. (2015). Bahan Ajar Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Agenda Membangun Tim Efektif Koordinasi Dan Kolaborasi. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia.

Harmawan, B. N. (2016). collaborative governance dalam program pengembangan budaya daerah melalui Bayuwangi Ethno Carnival.

Hidayah, R. (2016). Budidaya Umbi Porang Secara Intensif,. UGM PRess.

Yogyakarta, June, 27. https://doi.org/10.13140/RG.2.1.3487.9600

Kurniasih, D.-. (2017). Model Penguatan Kelembagaan Pada Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (Slbm) Di Kabupaten Banyumas (Suatu Pendekatan Collaborative Governance). Sosiohumaniora, 19(1), 1–7.

https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v19i1.7888

Nopriono, & Suswanta. (2019). Pemberdayaan Masyarakat dalam Perspektif Kebijakan Publik. In JPK: Jurnal Pemerintahan dan Kebijakan (Vol. 1, Issue 1, pp. 7–8).

Nurmalasari, I. R. (2012). Pengaruh Intensitas Naungan dan konsentrasi Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan dan Hasil Porang ( Amorphhallus oncophylus).

Rozikin, M., Wismanu, R. E., & Muttaqin, A. (2019). Pengembangan, model collaborative governance dalam analisis tourism, potensi pariwisata berbasis indigenous. 44(12), 2–8.

Searafina, I., & Dhiken, A. (2013). Kandungan Oksalat Umbi Porang ( Amorphhallus mueleri blume ) Hasil penanaman dan perlakuan Pupuk P dan K.

Solikhin, M. (2019). Collaborative governance dalam upaya pemberdayaan

penyandang kecamatan balong kabupaten ponorogo miftahul solikhin

abstrak. Publika, 7,no 7, 7.

Https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/publika/article/view/31135 Sugiono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta cv.

Sumarwoto, Padmini, O., & Puspitaningrum, dewi A. (2020). Pengembangan Budidaya Porang di Lahan Bawa tegakan pohon di desa pacarejo, kecamatan semanu, kabupaten Gunung Kidul.

Suroso. (2016). Strategi pengembangan komoditi tanaman porang (amorphophallus oncophyllus) di desa kalirejo kecamatan kokap kabupaten kulon progo diy. Strategi pengembangan komoditi tanaman porang (amorphophallus oncophyllus) di desa kalirejo kecamatan kokap kabupaten kulon progo diy, 1–19.

Syaifullah, L. O. (2018). Collabotative Governance Konsep dan Aplikasi. Cv budi utama.

Wahyono, A., Arifianto, A. S., Wahyono, D. N., & Riskiawan, H. Y. (2017).

Prospek ekonomi kebijakan pemanfaatan produktivitas lahan tidur untuk pengembangan porang dan jamur tiram di Jawa Timur. Cakrawala, 11(2), 171–180.

Wargadinata, E. (2016). Kepemimpinan Kolaboratif. Jurnal Ilmiah Administrasi Pemerintahan Daerah, 8(1), 1–12.

Yuliani, S., & Rosyida, G. P. D. (2017). Kolaborasi Dalam Perencanaan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Di Kelurahan Semanggi Kota Surakarta.

L A M

P

I

R

A

N

Kantor Desa Bontomanai

Tanah yang telah digemburkan ditanami tanaman porang

Tanaman porang yang berusia 10 bulan

Katak porang

Wawancara dengan bapak Sulaiman, SP.,MP (Staf dinas pertanian)

Wawancara dengan ibu Salmia (Masyarakat penanam porang)

Wawancara dengan kak Ansar, S.Tr.,pt (Sekretaris Bumdes)

Wawancara dengan Bapak Muh Idrus Sikki S.Pd (Kepala Desa Bontomanai)

Wawancara dengan Ibu Fitriani, Sp.,Mm (Kasih Dinas Pertanian)

Pelatihan Keterampilan Pengelolaan dan Pemanfaatan Porang

Penerimaan Penghargaan Porang Kepala Desa Bontomanai

LAMPIRAN PERSURATAKAN