• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

E. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini diangkat dari latar belakang masalah, kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan tinjauan pustaka.

Adapun fokus penelitian yang bersangkutan dari rumusan masalah adalah collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

ProsesCollaborative governance dalampengembangan budidaya porang didesa Bontomanai kecamatan Bungaya kabupaten Gowa

Face to Face Dialogue (Dialog Tatap Muka)

Trust Building (Membangun Kepercayaan

Commitment to The Procces (Berkomitmen terhadap Proses)

Shared Understanding (Berbagi Pemahaman)

Intermediate Outcomes (Tujuan Jangka Menengah)

Faktor

pendukungcollabo rative governance dalam

pengembangan budidaya porang

a) Sumber daya b) Otoritas

Terciptanya Collaborative Governance dalam pengembangan budidaya porang Didesa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

F. Fokus Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir yang ada diatas, maka fokus penelitian ini berfokus pada collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa.

Dengan menggunakan teori Ansel and Gash dalam (farid,2014) sebagai berikut:

1. Face to Face Dialogue (Dialog Tatap Muka) 2. Trust Building (Membangun Kepercayaan)

3. Commitment to The Procces (Berkomitmen terhadap Proses) 4. Shared Understanding (Berbagi Pemahaman)

5. Intermediate Outcomes (Tujuan Jangka Menengah) G. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Face to Face Dialogue

Face to Face Dialogue merupakan pertemuan formal dan non formal. Hal ini sama halnya dengan collaborative governance dalam pengembangan Budidaya porang didesa Bontomanai. Proses face to face dialogue atau dialog tatap muka yang dilakukan oleh para stakeholders berupa pertemuan formal dan non formal. Pertemuan formal meliputi kegiatan dialog tatap muka melalui musyawarah desa dan pelatihan-pelatihan.

Sedangkan pertemuan non formal meliputi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dan koordinasi langsung. Dimana pemerintah dinas pertanian dan pemerintah desa dan tanaman pangan hortikultura dan perkebunan, melakukan pertemuan formal dan non formal yaitu membahas secara

detail bagaimana kedepanya collaborative governance pengembangan budidaya porang ini bisa berjalan lancar di desa bontomanai

2. Trust Building Membangun Kepercayaan, kolaborasi bukan semata tentang negoisasi antar stakeholder, kolaborasi merupakan upaya untuk saling membangun kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan dapat dibentuk dari musyawarah desa yang dilakukan, dimana kesempatan pt biota gangga laut beserta dinas pemerintah tanaman pangan hortikultura beserta pemerintah desa meyakinkan masyarakat bahwa dalam kerja sama menanam dan mengembangkan budidaya porang bisa sangat bermanfaat bagi perekonomian masyarakat, dimana peran pemerintah disini sebagai fasilitator dan sebagai inovator untuk kerja sama kedepanya.

3. Commitment to The Process (Komitmen terhadap Proses)

Komitmen tentunya memiliki relasi yang kuat dalam proses kolaborasi.

Komitmen yang kuat merupakan motivasi untuk terlibat atau berpartisipasi dalam collaborative governance. Pelaksanaan commitment to the process dalam collaborative governance pengembangan budidaya porang didesa bontomanai sudah berjalan dengan baik. Komitmen dibentuk ketika berlangsungnya face to face dialogue khususnya ketika musyawarah desa.

Peran-peran tersebut terbagi atas peranan untuk menyediakan dana/pendampingan, memberikan motivasi, serta memberikan pelatihan- pelatihan. . Hal ini seperti yang terlihat pada peran dari Dinas Pertanian yang berkomitmen untuk menjadikan desabontomanai sebagai desa porang

sehingga masyarakt didesa bontomanai sangat termotivasi dan sangat bersemanagt dalam membudidayakan porang.

4. Share Understanding (Berbagi Pemahaman), Selain pemahaman terkait tujuan program, hal yang juga harus dipahami bersama yaitu terkait keuntungan BUM Desa dan masyarakat dan komitmen yang telah disepakati bersama oleh para stakeholder. Untuk menyatukan persepsi dari banyak stakeholders tidak mudah. Dibutuhkan usaha untuk menyadarkan porsi atau peran masing-masing stakeholders. Dari adanya dialog tatap muka lebih mudah melakukan komunikasi antar stakeholders, saling melengkapi kekurangan yang dibutuhkan, menyampaikan ide gagasan, dan menyampaikan masalah yang dihadapi dalam forum sehingga masalah dapat dipecahkan bersama-sama dalam pengembangan budidaya porang didesa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa

5. Intermediated Outcomes (Hasil Sementara),merupakan hasil sementara yang dicapai dalam pengembangan budidaya porang dimana hasil yang dimaksud disini belum dapat dirasakan oleh masyrakat luas, namun manfaat dari pengembangan porang ini suda dirasakan oleh masyarakat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 2 bulan setelah seminar proposal mulai dari 3 juni sampai 10 Agustus 2021

2. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan dikantor Desa Bontomanai dan lingkungan Desa Bontomanai kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, maksud dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui kolaborasi pemerintah dalam pengembangan budidaya porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitan

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian harus terjun langsung dilapangan untuk melakukan observasi sehingga dapat melihat langsung keadaan yang sebenarnya mengenai collaborative governancedalam pengembangan budidaya poran di Desa Bontomanai Kecamatan Bungayya Kabupaten Gowa

2. Tipe Peneltian

Adapun tipe penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu memberikan gambaran, mendeskripsikan, dan menjelaskan data, informasi ataupun pengalaman informan yang berkaitan dengan

collaborative governancedalam pengembangan budidaya poran di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

C. Sumber data

Sumber data dalam penelitian ada 2 yaitu:

1. Primer adalah data pertamayang dikumpulkan oleh peneliti melalui upaya pengambilan informasi di lapangan secara langsung. Oleh karena itu,data primer disebut sebagai informasi pertama atau informasi mentah 2. Sekunder yaitu data atau informasi yang sudah ada sebelumnya dan

sengaja dikumpulkan oleh peneliti untuk digunakan dan melengkapi kebutuhan data penelitian.Data sekunder jugadapat diperoleh melalui buku, publikasi pemerintah, catatan internal organisasi, laporan, jurnal, hingga berbagai situs yang berkaitan dengan informasi yangdicari.

D. Informan Penelitian

Informandalam penelitian ini ditentukan menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sample sumber data dengan pertimbangan tertentu. Dimana pertimbangan tertentu ini ialah orang yang dipilih karena dianggap banyak mengetahui dan dapat terlibat langsung dalam pemberdayaan petani tanaman porang di Desa bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Peneliti telah menentukaninforman dalam pelaksaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3.1Gambaran informan penelitian

N 0

Informan Inisial Jumlah

1 Muh idrus Sikki S.Pd. MS 1

2 Anzar, S.Tr.pt AR 1

3 Salmiah SH 1

4 Abdul Salam AM 1

5 Sulaiman, Sp., Mp SN 1

6 Fitriani, Sp.,Mm FI 1

Jumlah 6

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif Ada tiga teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut:

1. Teknik observasi

Peneliti dapat melakukan pengamatan secara langsung ke lokasi yang menjadi objek penelitian, sehingga peneliti dapat melihat dan menarik kesimpulan terhadap peran pemerintah dalam pemberdayaan petani tanaman porang di Kabupaten Gowa.

2. Teknik wawancara

Wawancara dilakukan agar memperkuat kesimpulan yang diperoleh hasil observasi. Wawancara dilakukan peneliti dengan cara tanya jawab langsung

secara lisan dengan informan yang dianggap mengetahui masalah yang diteliti.

Teknik wawancara ditetapkan secara purposive sampling, dengan informan yang dipilih oleh peneliti yang terdri dari 6 (enam) orang yang ditetapkan sebagai purposive sampling

3. Teknik dokumentasi

Dalam penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan terjun langsung ke lokasi untuk mengambil gambar yang sudah ada, sehingga peneliti dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti gambar kantor, struktur organisasi dan personalia, catatan-catatan, foto-foto dan sebagainya. Dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang telah dilakkan melalui metode observasi dan wawancara.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang dilakukan sebelum terjunlangsung di lapangan dan sesudahterjunlangsungdilapangan. Dalam penelitian ini digunakan teknis analisis data model Miles dan Huberman mulai dari proses reduksi data hingga verifikasi data. Berikut teknik penggumpulan data yang perlu diketahui, meliputi:

1. Reduksi kata

Tahap awal yang dilakukan ketika reduksi data adalah memilah-milah data baik yang data primer maupun data sekunder kedalam bagian-bagian sesuai dengan kode pertanyaan yang sama. Data yang kemudian tidak digunakan akan dieliminasi agar tidak mengganggu proses analisis. Dengan demikian, data yang

telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah proses analisis data.

2. Penyajian data

Setelah dilakukan pemilahan terhadap data yang telah dikumpulkan, maka langkah selanjutnya yaitu menyusun data tersebut kedalam kalimat-kalimat yang berguna untuk menjelaskan hasil penelitian. Data yang sesuai pembahasan kemudian disusun secara sistematis kedalam paragraph maupun table agar mudah dipahami.

3. Penarikan kesimpulan/ verifikasi

Ditahap ini, langkah yang dilakukan yaitu mengambil kesimpulan dari data-data yang telah dipilah dan disusun. Dari data yang telah telah terpilih tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang ada dirumusan masalah bagian awal.

G. Pengabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif menguji keabsahan data dapat dilakukan dengan pengecekan data dari berbagai sumber, teknik dan waktu. Adapun tiga macam trigulasi data yaitu:

1. Triangulasi Sumber yaitu cara untukmengecek informasi yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Kemudian dari beberapa sumber tersebut, data dideskripsikan dan dikategorikan berdasarkan pandangannya sama atau tidak.

2. Triangulasi Teknik yaitu cara mengecek informasi kesumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Jika mengembalikan informasi yang berbeda,

maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut dengan berbagaisumber informasi yang bersangkutan atau pihak lain untuk memastikan informasimana yang dianggap benar.

3. Triangulasi Waktu yaitu pengecekan informasi yang dilakukan dengan waktu

43 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab IV ini akan memaparkan hasil penelitian yang dilakukan terkait dengan judul Collaborative governance dalam pengembangan budidaya Porang di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Pada hasil penelitian ini juga akan memaparkan tentang profil Desa Bontomanai kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Gambaran umum kecamatan Bungaya kabupaten gowa Desa Bontomanai

Kecamatan Bungaya terletak di dataran tinggi (pegunungan) yang terdiri dari 7 desa/keluruhan berjarak sekitar 46 km dari Kota Sungguminasa Gowa. Desa Bontomanai merupakan salah satu daerah di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa dengan luas area 24,25 km2 dan memiliki luas lahan hutan merah sekitar 300 ha serta jumlah penduduk sebanyak 2.840 jiwa (BPS Kab. Gowa 2014).

Secara umum Desa Bontomanai termasuk kawasan lereng dan sebagian besar penduduknya bergerak pada sektor pertanian dan kehutanan.

Kabupaten Gowa menyuplai kebutuhan bagi daerah sekitarnya dikarenakan keadaan alamnya. Kabupaten seluas 1.883,32 kilometer persegi ini memiliki enam gunung, di mana yang tertinggi adalah Gunung Bawakaraeng. Daerah ini juga dilalui Sungai Jeneberang yang di daerah pertemuannya dengan Sungai Jenelata dibangun Waduk Bili-bili. Keuntungan alam ini menjadikan tanah Gowa kaya akan bahan galian, di samping tanahnya subur. Salah satu kecamatan yang ada

dalam kabupaten Gowa yaitu Kecamatan Bungaya. Bungaya berada di daerah pegunungan dengan batasbatas wilayah masing-masing Sebelah Utara Kecamatan Parangloe, Sebelah Selatan Kecamatan Tompbulu, Sebelah Barat Kabupaten Takalar dan Sebelah Timurdengan Keca matan Bontolempangan. Bunga terbagi dalam tujuh desa/kelurahan dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2005.

Sapaya merupakan Ibukota Kecamatan Bungaya berjarak sekitar 46 km dari Sungguminasa. Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 15.873 jiwayang terdiri dari laki-laki sebesar 7.710 jiwa dan perempuan sebesar 8.163 jiwa dan sekitar 99,98 persen beragama Islam. Fasilitas umum yang terdapat di Bungaya seperti sarana pendidikan antara lain Taman Kanak-Kanak sebanyak lima unit, Sekolah Dasar Negeri tiga unit Sekolah Dasar Inpres 13 unit, Sekolah Menengah Pertama empat unit, Sekolah Menengah Umum satu unit, Madrasah Ibtidaiyah tujuh unit, Madrasah Tsanawiah tujuh unit, Madrasah Aliyah empat unit. Terdapat beberapa sarana kesehatan, tempat ibadah (masjid), dan pasar. Penduduk Kecamatan Bungaya umumnya berprofesi sebagai petani utamanya petani padi/palawija, sayuran dan perkebunan, sedangkan sektor non pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup besar hal ini terlihat dari konstribusi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang telah mencapai 101,67 persen tahun 2010. Desa dan kelurahan di Kecamatan Bungaya masing-masing Buakang, Rannaloe, Bissoloro, Bontomanai, Manggempang, Sapaya, dan Jenebatu.

LUAS WILAYAH Luas total Desa Bontomanai : 1997 ha

Dusun Bontosuro :302 ha Dusun Botong I :445 ha Dusun Botong II :259 ha Dusun Tanetea :413 ha Dusun Mongcongan :578 ha

Untuk lebih jelasnya mengenai letak geografis dan luas wilayah dapat dilihat pada gambar 1 mengenai Peta Administrasi Desa Bontomanai kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, dan tabel 1 yaitu luas wilayah dan jumlah Dusun pada Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

Gambar 4.1 Peta Administrasi Desa Bontomanai

Jumlah dusun di Desa Bontomanai sendiri terdiri atas lima dusun yakni, Dusun Bontosuro, Dusun Botong I, Dusun Botong II, Dusun TaneteaDusun Mongcongan.

1. Visi Misi Pemerintah Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

VISI

“Terwujudnya desa sunggumanai yang handal dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan”

Desa bontomanai yang handal dalam peningkatan kualitas hidup.

Mengandum makna bahwa desa bontomanai dengan segenap potensi dan sumber daya yang berdaya saing kuat, bercita-cita menempatkan diri sebagai desa yang handal dalam peningkatan kualitas kesehatan dan mutu pendidikan masyarakat serta peningkatan daya beli masyarakat.

Desa bontomanai yang handal dalam penyelenggaraan pemerintahan.mengandum makna bahwa desa bontomanai dengan segenap potensi dan sumber daya yang berdaya saing kuat, bercita-cita menempatkan diri sebagai desa yang handal dalam membangun tata kelola pemerintahan yang baik berdasarkan prinsip-prinsip good govermance dalam fungsi dan peranannya sebagai koordinator, fasilitator, dan simulator bagi lahirnya inisiatif-inisiatif penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa.

MISI:

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada hak-hak masyarakat.

Meningkatkan penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik.

Meningkatkan penguatan kelembagaan desa dan peran masyarakat

Meningkatkan interkoneksitas wilayah dan keterkaitan sektor ekonomi Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam yang mengacu kelestarian lingkungan hidup

2. Struktur organisasi kantor Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa.

Gambar 4.2, Struktur organisasi Desa Bontomanai

Kabupaten Gowa menyuplai kebutuhan bagi daerah sekitarnya dikarenakan keadaan alamnya. Kabupaten seluas 1.883,32 kilometer persegi ini memiliki enam gunung, di mana yang tertinggi adalah Gunung Bawakaraeng.

Daerah ini juga dilalui Sungai Jeneberang yang di daerah pertemuannya dengan Sungai Jenelata dibangun Waduk Bili-bili. Keuntungan alam ini menjadikan tanah Gowa kaya akan bahan galian, di samping tanahnya subur. Salah satu kecamatan yang ada dalam kabupaten Gowa yaitu Kecamatan Bungaya. Bungaya berada di daerah pegunungan dengan batasbatas wilayah masing-masing Sebelah Utara Kecamatan Parangloe, Sebelah Selatan Kecamatan Tompbulu,

SebelahBaratKabupatenTakalardanSebelah Timurdengan Kecamatan Bontolempangan. Bunga terbagi dalam tujuh desa/kelurahan dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2005. Sapaya merupakan Ibukota Kecamatan Bungaya berjarak sekitar 46 km dari Sungguminasa. Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 15.873 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebesar 7.710 jiwa dan perempuan sebesar 8.163 jiwa dan sekitar 99,98 persen beragama Islam. Fasilitas umum yang terdapat di Bungaya seperti sarana pendidikan antara lain Taman Kanak-Kanak sebanyak lima unit, Sekolah Dasar Negeri tiga unit Sekolah Dasar Inpres 13 unit, Sekolah Menengah Pertama empat unit, Sekolah Menengah Umum satu unit, Madrasah Ibtidaiyah tujuh unit, Madrasah Tsanawiah tujuh unit, Madrasah Aliyah empat unit. Terdapat beberapa sarana kesehatan, tempat 34 ibadah (masjid), dan pasar. Penduduk Kecamatan Bungaya umumnya berprofesi sebagai petani utamanya petani padi/palawija, sayuran dan perkebunan, sedangkan sektor non pertanian terutama bergerak pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan cukup besar hal ini terlihat dari konstribusi penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang telah mencapai 101,67 persen tahun 2010. Desa dan kelurahan di Kecamatan Bungaya masing- masing Buakang, Rannaloe, Bissoloro, Bontomanai, Manggempang, Sapaya, dan Jenebatu.

B. Collaborative Governance Dalam pengembangan Budidaya Porang Di Desa Bontomanai Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa

Pemerintah Desa bontomanai serta Pemerintah Dinas Pertanian melaksanakan Program pengembangan budidaya porang di desa bontomanai

yang dimaksud Collaborative Governance dalam bentuk Program Pengembangan budidaya porang.Praktek pemerintahan yang terjadi dalam pengembangan budidaya porang berbasis collaborative governance. Alasan mendasar melakukan kolaborasi ini sebagai wujud dari collaborative governance karena penanganan lingkungan melibatkan organ pemerintah dan non pemerintah aktif bekerjasama. Ini mencirikan praktek governance.

Disamping itu, isu-isu seperti kepercayaan, kesepahaman, komitmen, kepemimpinan, kelembagaan dan sumber daya tampak dalam pengembangan budidaya porang.

Mengacu pada konsep kolaborasi, bahwa kolaborasi adalah suatu upaya untuk menggabungkan semua sektor baik pemerintahan maupun non pemerintah untuk mengelola, menata dan mengatur semua urusan bersama guna mencapai hasil yang efektif dan efesien. Dari penjelasan diatas tersebut, maka dalam penelitian ini akan diuraikan collaborative governance dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai kecamatan bungaya kabupaten gowa. Terdapat 7 item penting untuk mengukur keberhasilan kolaborasi dalam governance, yaitu meliputi: (1) Face to Face Dialogue (Dialog Tatap Muka) (2) Trust Building (Membangun Kepercayaan) (3) Commitment to The Process (Komitmen terhadap Proses), (4) Share Understanding (Berbagi Pemahaman), (5) Intermediated Outcomes (Hasil Sementara), (6) Sumber daya, (7) otoritas Hasil pengkajian terhadap ketujuh hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Face to Face Dialogue(Dialog Tatap Muka)

dialog atau komunikasi secara tatap muka antar pemangku kepentingan (stakeholders). Proses dari Collaborative Governance berorientasi pada konsensus atau kesepakatan, maka komunikasi tatap muka merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kolaborasi. Proses tatap muka ini adalah inti dari proses membangun kepercayaan, saling menghormati, pemahaman bersama, dan komitmen terhadap proses.Dalam penelitian iniproses face to face dialogue atau dialog tatap muka yang dilakukan oleh para stakeholder berupa pertemuan- pertemuan semi formal. Berdasarkan hasil wawancara semua stakeholder melakukan pertemuan secara formal membicrakan hal-hal apa saja yang harus direncanakan dan harus dilakukan dan dijalankan kedepanya sehingga kerja sma ini berjalan lancar dimana tugas para staheholder yaitu, Dinas pertanian, bertugas dia dalam face to face ini dia membicarakan atau merencanakan bahwsanya tugas dia disini sebagai fasilitator memberikan bibit kepada masyarakat dan juga sebagai pemateri atau sosialisasi yang melakulan pertemuan setiap satu kali dalam seminggu,kemudian Dinas tanaman pangan hortikultura, tugasnya yaitu dia menyarankan kepada kepala desa agar mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kerjasama pengembangan poran, dan Kepala desa bontomanai tugasnya sebagai pendengar dalm hal ini Masyrakat tugasnya mendengarkan dan menyimak dan memansukkan saran. sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Desa Bontomanai bapak Muh Idrus S.pdi, sebagai berikut:

“Saya disini sebagai pemerintah Desa Bontomanai yang memegang komitmen dan kepercayaanyang sesuatu yang tidak didapatkan dua kalinya yang dimana dalam pengembangan budidaya porang yang dimana dalam kerja sama ini saya beserta bumdes dan stakeholder lainya melakukan pertemuan secara formal

membuat perencanaan yang dimana dalam berkolaborasi ini bagaimana peran pemerintah mengajak masyarakat agar ikut serta dalam program ini dalam menanam porang, serta memberikan dukungan dan motivasi kepada masyarakat, kemudia menyusun rencana bagaimana dalam pengembangan budidaya porang ini bisa diterapkan dikalangan masyarakat dikarenakan pengembangan budidaya porang ini akan sangan amat menguntungkan bagi masyarakat.”

Begitupun yang dikatakan oleh pegawai dinas yaitu kasie dinas pertanian, Fitriani, SP.,MM, mengatakan:

“Dalam pengembangan budidaya porang kami disini selaku pemerintah dinas melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat bntomanai membicarakan bagaimana porang kedepanya bagaimana mengembangkan porang kedepanya dan bumdes disana sangat amat membantu beserta kepala desanya dikarenakan dalam pertemuan formal ini mereka bisa mengumpulkan masyarakt dan pemerintah lainya dalam pembahasan mengenai pengembangan porang kedepanya.”

Adapun yang dikatakan juga oleh bapak Sulaiman, Sp.,Mp selaku staf dinas pertanian ia mengatakan bahwa

“Kami sangat bangga kepada Desa bontomanai terutama pada Bumdesnya karna dalam pertemuan formal dalam membahasa perencanaan mengenai pengembangan budidaya porang ini bumdes desa tersebut sangat amat membatu dan sangat peduli.”

Berbeda dengan ucapan masyarakat ibu salmiah selaku petani porang ia mengatakan bahwa:

“Disini kami setelah adanya pertemuan antar pemerintah desa pemerintah dinas pangan tanaman hortikultura dalam melakukan perencanaan penanaman porang dan mendapat bantuan dari pemerintah desa dan dinas pertanian sangat mendukung karna kami dulu hanya menanama padi dan jagung sekarang ada tambahan porang yang kami tanam sehigga kami mendapatkan tambahan penghasilan. Dimana dalam pengembangan porang ini kami sebagai masyarakat ikut serta dalam perencanaan pemerintah ikut serta menanam porang dihalam rumah mauun dikebun dan disawah kami.”

Begitupun yang dikatan oleh bapak abdul salam sebagai masyarakat dan juga petani porang ia mengatakan bahwa:

“Dulunya saya hanya menjadi peternak sapi sekarang dengan adanya kerja sama pemerintah dengan masyarakat dalam menanam porang sata sangat senang karna saya memiliki tambahan penghasilan yg mana kalau dijual sangat memuaskan bagi saya dan saya bersyukur dengan itu.”

Adapun yang dikatakan oleh sekretaris Bumdes desa Bontomanai yaitu Ansar S.Tr.pt ia mengatakan bahwa:

“Kami selaku sekretaris bumdes bontomanai disisni saya melihat dalam kerja sama ini terdapat perencanaanyang sangan bagus bagaimana tidak didalam perencanaan kita melakukan kegiatan-kegiatan seperti mengajak masyarakat menanam porang dan bagaimana cara memupuk yang baik sehingga membuahkan hasil yang memuaskan untuk dipanen.”

Adapun hasil wawancara diatas dengan bapak MS ibu FI, bapak SN dan bapak AM dan ibu SA dapat disimpulkan bahwa kehadiran pemerintah dalam pemberdayaan petani tanaman porang ini sangat penting karena pemerintah selalu siap dalam memberikan informasi kepada petani jika petani bertanya tentang komoditi yang lagi tren. Pemerintah juga siap memfasilitasi dengan mengadakan penyuluhan kepada petani dan juga memberikan pelatihan-pelatihan tentang cara budidaya tanaman yang baik melalui penyuluhan pertanian.

2. Trust building (membagun kepercayaan)

Yaitu dimana Pemeritah desa dan pemerintah dinas pertanian bekerja sama dengan kelompok(Bumdes bontomanai) dimana bkerja sama dalam rangka meyakinkan masyrakat dalam pengembangan budidaya porang di desa bontomanai dengan cara melakukan penanaman porang dan bekerja sama dengan swasta dimana tempat penjualan porang tersebut serta memberikan jaminan sebagai tanda bahwa pengembangan porang sngat bermanfaat untuk perekonomian maka dari itu pemerintah memberi tau masyarakat nilai porang