BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
C. Pengembangan Budidaya Porang
1. Pengertian Pengembangan Budidaya Porang
Tanaman porang merupakan tanaman umbi-umbian yang mempunyai dua siklushidup dan masa dorman. Dua siklus hidup tumbuhan porang yaitu siklus vegetatif dan siklus generatif. Siklus vegetatif dimulai pada musim hujan dengan diawali pertumbuhan tunas, kemudian pertumbuhan akar pada tunas diatas umbi, diikuti oleh batang dan daunsemu. Pada masa kemarau, tanaman mengalami masa dorman (istirahat) dengan ditandai batang semu dan daunnya mengering selama 5- 6 bulan. Jika musim hujan berikutnya datang, tanaman porang yang sebelumnya mengalami masa vegatatif dan dorman akan memasuki siklus vegetatif atau siklus generatif. Jika memasuki siklus vegetatif, tanaman porang akan tumbuh batang dan daun, tetapi jika mengalami siklus generatif dari umbibunga akan keluar dan tidak ada daun. Bunga tersusun dari bunga yang menghasilkan buah dan biji Hidayah (2016).
Porang merupakan salah satu jenis tanaman umbi-umbian yang memiliki potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Porang juga mampu menghasilkan karbohidrat yang cukup tinggiglukomanan. Glukomanan merupakan polisakarida yang tersusun dari glukosa dan manosa yang multifungsi, dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok, berbagai macam industri, laboratorium kimia, dan obat-obatan. Umbi segar diperoleh 13% bahan kering yang terdiri dari 70% glukomanan dan 30% sisanya adalah pati Nurmalasari (2012).
Aspek Budidaya porang menurut Wahyono et al (2017) Mengoptimalkan
lahan di bawah tegakan yang mempunyai kondisi tanah yang suburuntuk budidaya Porang dengan menggunakan teknik budidaya yang telah teruji dan terstandarisasi, sehingga akan diperoleh produktivitas yang maksimal.
1) Bekerjasama dengan stake holder misalnya Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Lembaga Penelitian, serta Peneliti Porang dalam pendampingan budidaya Porang untuk mendapatkan produktivitas yang maksimal.
2) Guna meminimalisir kegagalan, pelu mengundang peneliti ataupun Tim ahli untuk mementukan lokasi yang cocok untuk Tanaman Porang
3) Mengantisipasi kondisi iklim yang tidak menentu dengan menggunakan teknik budidaya dengan pendampingan tenaga ahli dari instansi terkait.
4) Diadakan pelatihan budidaya Porang dengan menggunakan teknologi yang telah teruji dan tersdandarisasi.
Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain) adalah jenis tanaman yang tumbuh dalam hutan, namun beberapa tahun kebelakang tanaman porang sudah banyak dibudidayakan di lahan tegal. Syarat tumbuh porang pada ketinggian sekitar 0 - 700 mdpl, akan tetapi ketinggian yang paling bagus untuk penanaman porang antara 100 - 600 mdpl. Keadaan tanah yang tidak becek, subur dan gembur serta bertekstur lempung berpasir dan tidak ada segala jenis rumput liar adalah yang paling cocok untuk ditanami porang. Selain itu, keadaan tanah yang memiliki pH 6 – 7 merupakan yang paling bagus. Tumbuhan naungan untuk tanaman porang yang cocok berupa jati, mahoni, sono, dll, dengan tingkat kerapatan naungan 40% - 60%Elvira et al (2020)
Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan salah satu tanaman herba familia Araceae yang akan bertunas pada awal musim hujan dan umbinya dapat dipanen pada akhir musim kemarau. Umbi porang mengandung asam oksalat yang merupakan asam dikarboksilat yang memiliki dua atom C pada masing-masing gugus karboksilat. Asam oksalat pada tumbuhandisimpan dalam dua bentuk yaitu oksalat yang larut dalam air dan oksalat tidak larut dalam air.
Konsumsi oksalat dalam jumlah tinggi dapat menurunkan bioavailibilitas kalsium dalam tubuh dan dapat menyebabkan batu ginjal. Oksalat terlarut dihasilkan dari pengikatan oksalat dengan logam alkali yang larut dalam air. Oksalat tidaklarut dihasilkan dari persenyawaan kalsium dengan asam oksalat. Manfaat adanya kalsium oksalat merupakan pengikat racun oksalat, mengatur kalsium, dan sebagai pertahananterhadap herbivora. Penambahan pupuk P dan K berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman, keutuhan struktur sel, menjaga tekanan turgor sel, mengatur keseimbangan partikel, dan lain-lain, sedangkan pada porang berfungsi untuk membatasi produksi asam sitrat pada siklus Krebs yang mengakibatkan produksi dari asam lainnya seperti asam oksalat juga menurun.
Sintesis oksalat tertinggi terjadi pada fase pertengahan pertumbuhan porang, sedangkan pada fase akhir pertumbuhan biosintesis oksalat menurun. Pemberian pupuk P dan K dianggap efektif dalam dosis tinggi bila porangmelakukan biosintesis oksalat pada level optimum. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh antara kandungan oksalat pada tanaman porang dengan perlakuan pemberian pupuk P dan Kserta jenis dan dosis pupuk yang dapat menunrunkan kandungan oksalat.dikocok selama 15 menit dan
disaring dengankertas Whatman no.1 sehingga didapat filtrat. Filtrat ditambah dengan H2SO4 4 N sebanyak10 mL dan dititrasi dengan KMnO4 0,0892 N.
Proses titrasi dihentikan apabila larutan telah berubah warna menjadi merah muda.
Kemudian volume KMnO4 yang digunakan dicatat sebagai volume titrasi dan nilai titrasi dikonversi menjadi nilai kandungan oksalat terlarut dengan rumusSearafina & Dhiken (2013).
2. Tujuan Program Pengembangan Porang Tujuan dari kegiatan program ini adalah untuk:
a) Memperkenalkan komoditas yang saat ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
b) Memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar calon kampus tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Porang (cara budidaya, manfaat, penanganan pasca panen, dan pemasaran).
c) Memberikan teknologi keterampilan budidaya yang sederhana dan mudah dilakukan petani, namun intensif.
d) Memberikan ketrampilan gerak dalam penanganan pasca panen baik yang sederhana maupun yang modern.
e) Menumbuhkembangkan jiwakewirausahaan bagi kelompok masyarakat secara mandiri dalam pertanian berkelanjutan tanaman Porang(Sumarwoto et al., 2020).
3. Cara pengembangan budidaya porang
Menurut (Sumarwoto et al., 2020) dalam pengembangan budaya porang metode pendekatan yang digunakan dalam kegiatan PbM adalah metode RRA
(Rapid Rural Appresial)/PRA (Partisipatori Rural Appresial). RRA dan PRA adalah filosofi, suatu pendekatan metode yang dikenal dengan pemahaman desa objek kegiatan secara cepat, dengan prinsip yang digunakan:
a) Belajar secara cepat dan progresif, melalui eksplorasi yang terencana, penggunaan metode yang fleksibel, improvisasi, pengulangan serta menyesuaikan dengan proses belajar atau pemahaman.
b) Optimalisasi pertukaran, mengkaitkan biaya pemahaman dengan informasi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat di desa Bontomanai, dengan pertukaran antar kuantitas, kegayutan, keakuratan serta ketepatan waktu.
c) Pemberian fasilitas, artinya memberikan fasilitas penyelidikan, analisis, penyajian dan pemahaman oleh masyarakat di wilayah Desa Bontomanai, sehingga mereka dapat menyajikan dan memiliki hasilnya, sertamempelajarinya,
d) Kesadaran dan tanggung jawab diri yang kritis, artinya fasilitator secara terus-menerus menguji tingkah laku mereka dan mencoba melakukannya secara lebih baik,
e) Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat di desa Bontomanai dengan fasilitator, dan antar fasilitator yang berbeda, serta saling berbagi kegiatan, pelatihan dan pengalaman antar organisasi yang berbeda.
Dalam kegiatan PbM hal ini diawali dengan pengenalan dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, tentang segala hal yang berkaitan dengan porang dari hulu hingga hilir kepada perwakilan kelompok tani, tokoh masyarakat dan ibu-ibu
PKK setempat. Misalnya dalam membedakan antara porang dengan jenis iles-iles lain yang masih dalam satu famili.
Pengembangan tanaman porang sangat penting dilakukan diantaranya karena tanaman tersebut potensi ekonominya cukup tinggi. Ini akan sangat membantu dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Porang yang dikembangkan di hutanjuga menunjukkan hasil ekonomi tinggi. Harga jual porang di Jawa Timur pada tahun 2002 adalah Rp 800/kg dalam bentuk irisan kering dan dari tiap ha petani mendapat Rp 6,4 juta setiap bulan. Harga porang ini terus mengalami kenaikan, pada tingkat petani, di Jawa Timur harga umbi porang pada tahun 2008 sudah mencapai Rp 2000/kg, sedangkan harga umbi yang sudah dirajang dan dikeringkandengan ukuran 0,5- 1 cm berupa chips mencapai Rp 13.500/kg (Arifin, 2008; Romli, 2002 dalam Fauziyah, 2010). Hasil panen porang tidak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga diekspor.