BAB III: MENGENAL WAHBAH AZ-ZUHAILÎ DAN TAFSIRNYA
B. Mengenal Tafir Al-Munîr
5. Corak Penafsiran
Setelah mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Wahbah az- Zuhailî ketika menyusun kitab Tafsîr Al-Munîr Fî Al-„Aqîdah Wa As-
Syarî'ah Wa Al-Manhaj dapat terlihat bahwa dalam men afsirkan dipengaruhi oleh latar belakang keilmuannya, yaitu hukum Islam
dan Filsafat Hukum. Di dalam tafsir ini memiliki corak fikih yang kental.
Nuasa fiqih ini dilihat ketika menjelaskan ayat-ayat Al-Qur`an mengenai hukum dengan porses istinbath, sehingga mampu mengeluarkan hukum dari
38 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Terj: Abdul Hayyie al-Kattani, Jilid I, h. xviii
59
ayat yang dijelaskannya dan ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur`an mengambil pendapat-pendapat para imam madzhab fiqh.39
Selain corak fikih, tafsir ini memiliki nuansa sastra, budaya dan kemasyarakatan (al-âdâb al-Ijtimâ‟i). sebagaimana yang dimaksud al-âdâb al-Ijtimâ‟i adalah suatu corak dalam penafsiran yang menjelaskan petunjuk- petunjuk Al-Qur`an yang terkait langsung dengan kehidupan masyarakat serta usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami.40
Dari melihat kriteria-kriteria yang ada, dapat disimpulkan bahwa corak pada Tafsîr Al-Munîr Fî Al-„Aqîdah Wa As-Syarî'ah Wa Al-Manhaj adalah keselarasan antara nuansa fikih dan al-âdâb al-Ijtimâ‟i.
6. Sumber-Sumber Penafsiran
Diantara keistimewaan tafsir ini adalah terletak pada anikekayaan dan kelengkapan referensinya, baik dengan memakai referensi dari penafsiran ulama klasik maupun modern. Dan juga dari buku-buku seputar Al-Qur`anul Karîm baik mengenai sejarahnya, penjelasan sebab-sebab turunnya, i‟rab yang membantu menjelaskan banyak ayat, juga disertai dengan tarjih terhadap pendapat para ulama dan ahli tafsir secara akurat dan jauh dari fanatisme.41
Dalam menyusun kitab Tafsir al-Munîr ini, Wahbah az-Zuhailî menggunakan sumbe-sumber dari Tafsîr bi al-Ma‟tsûr dan Tafsîr bi al-
39 Jani Rani, Kelemahan-kelemahan dalam Manâhuj Al-Mufassirîn, dalam Jurnal Ushuluddin, Vol. XVIII, No. 2 , Juli, 2012, h. 171
40 M. Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur`an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat”, h. 108
41 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Terj: Abdul Hayyie al-Kattani, Jilid 1, hlm. xvii
Ra‟yi. Beliau menggunakan gaya bahasa dan ungkapan yang jelas, yaitu dengan gaya bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi generasi saat ini.
Diantara sumber-sumber referensi yang digunakan dalam Tafsir al- Munîr ini yaitu, terkait dengan bidang akidah, akhlak, dan penjelasan ayat- ayat Allah SWT. di alam semesta beliau merujuk kepada: Fakhruddîn ar- Râzî dalam Tafsîr al-Kabîr, Abû Hâtim al-Andalûsî dalam Tafsîr al-Bahr al- Muhît, al-Alûsî dalam Tafsîr Rûh al-Ma‟ânî dan az-Zamakhsyârî dalam Tafsîr al-Kassyâf.
Terkait dalam penjelasan kisah-kisah Al-Qur`an dan sejarah, beliau menggunakan Tafsîr al-Khâzin dan al-Baghawî. Sedangkan dalam penjelasan hukum-hukum fiqh, beliau merujuk pada al-Qurthubî dalam kitab al-Jâmi‟fî Ahkâm Al-Qur`an, Ibnu Katsîr dalam Tafsîr Al-Qur`an al-„Azîm, al-Jassâs dalam Tafsîr Ahkâm Al-Qur`an dan Ibnu al-„Arabî dalam Tafsîr Ahkâm Al-Qur`an.42
Ketika menjelaskan masalah kebahasaan, beliau merujuk kepada az- Zamakhsyârî dalam Tafsîr al-Kassyâf dan Abû Hayyan dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhît. Sedangkan dalam pembahasan qirâ‟ât beliau merujuk pada an- Nasafî dalam Tafsîr an-Nasafî, Ibnu al- Anbârî dalam kitab al-Bayân fî Gâribi Al-Qur`an, serta Ibnu al-Jazarî dalam kitabnya an-Nasyr fî al-Qirâ‟âti al-„Asyr. Sedangkan dalam bidang sains dan teori-teori ilmu alam, beliau merujuk kepada Tantâwî Jauharî dalam kitabnya al-Jawâhir fî Tafsîr Al- Qur`an al-Karîm, dsb.43
42 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. I, h. xix
43 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. I, h. xix
61 BAB IV
PENAFSIRAN FITNAH DALAM AL-QUR`AN MENURUT WAHBAH AZ-ZUHAILÎ
Term fitnah dalam Al-Qur`an memiliki berbagai makna, diantaranya ada yang bermakna ujian atau cobaan, siksaan, syirik, kemunafikan, sesat, serangan, bencana, memalingkan, gila (tidak memiliki akal) dan siksaan.
Namun, pada penelitian ini, penulis hanya memfokuskan terhadap ayat fitnah yang bermakna ujian pada QS. al-An`âm [6]: 53, QS. al-Anbiyâ [21]: 35, QS. al-Furqân [25]: 20, QS. al-„Ankabût [29]: 2 dan 3, QS. az-Zumar [39]:
49. Pembatasan ini dilakukan dengan pertimbangan teoritis dan pragmatis.
Secara teoritis, agar penulis dapat menjaga keteraturan kajian, dalam penelitian ini, maka penulis memerlukan sebagian kasus yang mewakili fenomena yang didiskusikan. Secara pragmatis, pada perkembangan zaman yang semakin kompleks saat ini, pembatasan pada aspek fitnah yang bermakna ujian menurut Al-Qur`an memiliki kekuatan dan relevansi yang cukup tinggi. Berikut penafsiran Wahbah az-Zuhailî mengenai Fitnah yang bermakna ujian:
A. Penafsiran Wahbah Az-Zuhailî Terhadap Fitnah bermakna Ujian 1. Ujian Terhadap Manusia dan Jin
Fitnah bermakna ujian terhadap manusia dan jin terdapat pada QS.
Al-Jinn [72]: 16- 17
“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan meri minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). “Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscahya akan dimasukkan- Nya ke dalam azab yang sangat berat.” QS. Al-Jinn [72]: 16-17 Setelah menjelaskan jenis pertama dari isi wahyu yang disampaikan kepada rasul, Allah SWT menyebutkan jenis kedua isi wahyu yang disampaikan kepada rasul.
Pada ayat ke enam belas dalam surah ini, Allah SWT menyebutkan isi wahyu yang disampaikan kepada rasul, bahwasannya diwahyukan kepadaku jika jin dan manusia istiqamah pada jalan islam, maka Allah SWT akan memberi kebaikan kepada mereka. Kemudian pada ayat ke tujuh belas dalam surat ini Allah SWT menjelaskan bahwa ia benar-benar akan memberi mereka kebaikan yang banyak dan luas untuk menguji mereka. Hal ini untuk mengetahui rasa syukur mereka tehadap nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka. Jika mereka taat pada perintah agama, maka mereka akan mendapatkan pahala. Jika mereka membangkang-Nya, maka mereka akan mendapat siksaan di akhirat.1
Barang siapa yang berpaling dari Al-Qur`an, dia tidak melakukan perintah-perintah dan tidak meninggalkan larangan, maka Allah SWT akan memberi azab yang berat dan sulit yang tidak ada kenyamanan sama sekali di dalamnya.2
Jin mengetahui dan meyakini bahwa mereka tidak mampu mengalahkan Allah SWT. Mereka tidak mampu melelepaskan diri dari-Nya
1 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, (Beirut: Dâr Al-Fikr, 2009), Cet. 10, Jilid. 15, h. 184
2 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 15, h. 184
63
dimanapun mereka berada, baik di bumi atau ketika mereka ingin melarikan diri dari bumi menuju langit.3
Sebagian manusia dan bangsa jin ketika mendengarkan Al-Qur`an, mereka beregegas beriman kepada Allah SWT dan membenarkan risalah Nabi Muhammad saw. Hal ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw diutus kepada bangsa manusia dan jin. Allah SWT sama sekali tidak mengutus utusan dari jin, tidak pula dari orang badui atau perempuan.4 Berkaitan dengan hal ini Allah SWT menjelaskan dalam firmannya:
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri.
Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya.” (QS. Yûsûf [12]: 109)
Demikian bangsa jin setelah mendengarkan Al-Qur`an berbeda-beda dalam menyikapinya. Di antara mereka ada yang islam dan ada yang kafir.
Barang siapa yang masuk islam, mereka telah mencari keselamatan untuk diri mereka sendiri karena mereka telah menuju kepada jalan kebenaran.
3 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 15, h. 185
4 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 15, h. 185
Dan barang siapa yang berpaling dari jalan kebenaran serta keimanan, mereka akan masuk ke dalam neraka jahannam.5
Melalui penafsiran di atas, dapat diketahui bahwa lafaz dalam tafsir Al-Munîr mengandung makna ujian yang ditujukan kepada jin dan manusia yang berupa kelapangan hidup. Allah SWT memberi mereka kelapangan hidup untuk menguji dan mengamati siapa di antara mereka yang mensyukuri nikmatnya dan siapa pula yang mengingkarinya.
2. Ujian Terhadap Sesama Manusia
Fitnah bermakna ujian yang ditujukkan terhadap sebagian manusia kepada sebagian lainnya disebutkan dalam QS. Al-Furqân [25]: 20
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad) melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar- pasar. Dan kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat. (QS. al-Furqân [25]: 20)
Ayat di atas masih memiliki kaitan terhadap ayat ke tujuh dalam surat ini, yaitu:
5 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 15, h. 186
65
“Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?” (QS. Al-Furqân [25]: 7
Pada ayat ke tujuh di atas, Allah SWT menjelaskan mengenai kaum musyrikin yang merendahkan Nabi Muhammad bahwasannya tidak ada kelebihan sedikitpun di dalam dirinya, maka dari itu mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad tidak pantas diangkat menjadi rasul. Kemudian pada ayat ini merupakan sebuah jawaban atas pernyataan kaum musyrikin
ِقاَوْسلأا ِفى ِىشَْيََو ،َماَعَّطلا ُلُكْأي ِلْوُسَّرلا اَذَى ِلاَم .
Pada ayat ini Allah SWT menolak kecaman mereka dengan menerangkan bahwa nabi-nabi sebelum Muhammad juga makan dan minum juga berdagang di pasar.6Menurut Al-Wahidi dan Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Az-Zuhailî, sebab turunnya ayat ini ketika kaum musyrikin menghina kemiskinan Rasulullah saw, mereka berkata, “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar?” Beliau pun sedih, lantas turunlah ayat
:
7
6 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 41
7 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 42
Pada QS. al-Furqân [25]: 20 ini Allah SWT menjelaskan bahwasannya para rasul sama seperti manusia pada umumnya, para rasul tersebut juga makan, minum bahkan berdagang di pasar. Rasul diberi keistimewaan dengan mukjizat yang merupakan bukti atas kebenaran risalah yang telah diberi Allah SWT.8 Hal ini juga di terangkan dalam QS. Al- Anbiyâ` [21]: 8
“Dan Kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan dan mereka tidak (pula) hidup kekal.” (QS. Al-Anbiyâ` [21]: 8
Kemudian pada firman Allah SWT
menunjukkan bahwa dunia merupakan tempat ujian. Allah SWT menguji sebagian manusia dengan sebagian lainnya baik berupa kenikmatan maupun kesengsaraan untuk mengetahui siapa manusia yang taat dan siapa manusia yang berbuat maksiat. Manusia memiliki keadaan dan tingkatan yang berbeda-beda dalam kondisinya masing-masing, adanya orang yang kaya dan orang yang miskin, adanya orang yang berilmu dan orang yang bodoh serta adanya orang yang sehat dan orang yang sakit.9
Orang yang telah diberi kenikmatan bertanggung jawab terhadap orang yang tidak diberi kenikmatan. Allah SWT mampu memberikan kenikmatan dunia dan seisinya terhadap para Rasul-Nya yang mulia. Akan tetapi, Allah SWT menghendaki para Rasul-Nya untuk berpaling dari dunia dan mencurahkan kemampuan serta aktivitas mereka untuk akhirat semata agar mereka menjadi panutan bagi manusia lainnya. Sebagaimana Allah
8 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid 10, h. 42
9 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 42
67
SWT juga berkehendak untuk menguji manusia dengan para rasul, begitu juga sebaliknya, hal ini untuk mengetahui orang yang taat dan jauh dari maksiat, serta memberi kedamaian dari caci maki atau hinaan.10
Dengan demikian setiap orang akan diuji dengan permasalahan yang berbeda-beda, adakalanya ujian itu berupa kenikmatan dan juga adakalanya berupa kesengsaraan. Orang yang diberi kenikmatan bertanggung jawab terhadap orang yang tidak diberi kenikmatan serta tidak boleh menyombongkan diri. Dan orang yang tidak diberi kenikmatan tidak boleh merasa iri. Masing-masing harus sabar untuk tetap berada dalam kebenaran.11
Allah SWT memerintahkan untuk terus bersabar dalam setiap kondisi, agar keimanan seseorang tetap terjaga. Selain itu, Allah SWT juga memerintahkan untuk tidak mengeluh dan tetap istiqomah di jalan kebenaran.12
Kemudian Wahbah Az-Zuhailî mengutip penjelasan dalam tafsîr Al- Qurtûbi yang menerangkan bahwa dalam kitab Shahîh Bukhâri diriwayatkan bahwasannya Rasulullah saw pernah diberi dua pilihan untuk menjadi seorang nabi yang berwujud malaikat atau seorang rasul yang berwujud manusia. Muqathil berkata, “Sesungguhnya ayat ini turun mengenai Abû Jahal bin Hisyâm, Walid bin Mughirah, Ash bin Wâ„il dan para pemuka Quraisy lainnya ketika mereka melihat kondisi Abû Dzar, Abdullah bin Mas„ûd, Ammar, Bilal, Shuhaib, dan Shâlim budak Abû Hudzaifah. Para
10 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 43
11 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 43
12 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 43
pemuka Quraisy tersebut berkata, “Apakah kita akan masuk islam dan menjadi miskin seperti mereka-mereka?” kemudian Allah SWT berfirman kepada kaum Musilimin tersebut dengan lafaz (
) tidaklah kalian bersabar atas kekafiran dan gangguan ini. Seakan-akan Allah SWT menjadikan sikap kaum kafir tersebut sebagai ujian bagi kaum Muslimin.13 Dan ketika kaum Muslimin mampu untuk bersabar, Allah SWT menurunkan QS. Al-Mu`minûn [23]: 111
“Sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka, Sungguh mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan” (QS. Al-Mu`minûn [23]: 111) Melalui pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa lafaz
mengandung makna ujian yang berupa adanya kenikmatan dan kesengsaraan. Ayat di atas merupakan landasan bahwasannya Allah SWT menjadikan sebagian manusia sebagai ujian terhadap sebagian manusia lainnya, baik ujian itu berupa kenikmatan maupun berupa kesengsaraan.
Salah satu contohnya seperti, Orang kaya diuji dengan keberadaan orang miskin, dengan demikan maka orang kaya harus menyantuninya dan tidak boleh meremehkannya. Adapun sebaliknya, orang miskin diuji dengan keberadaan orang kaya, dengan demikian maka ia tidak boleh merasa iri terhadapnya dan harus terus berusaha untuk mendapatkan rezeki.
Jangan sampai dengan adanya kenikmatan, mereka menjadi lalai bahkan lupa dalam beribadah. Begitupun dengan orang yang diuji dengan kesengsaraan, jangan sampai ia putus asa, tidak berusaha, bahkan sampai meninggalkan keimanannya. Maka dari itu, orang-orang yang diberi ujian
13 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 10, h. 43
69
berupa kenikmatan maupun berupa kesengsaraan, masing-masing dari keduanya harus sabar untuk tetap berada dalam kebenaran dan menyerahkan seluruh perkara kepada Allah SWT.
3. Ujian yang Allah SWT Berikan Terhadap Orang-Orang Beriman Fitnah bermakna ujian terhadap orang-orang beriman disebutkan dalam QS. Al-Anfâl [8]: 28 dan QS. Al-„Ankabût [29]: 2-3
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar” (QS. Al-Anfâl [8]: 28)
Pada ayat sebelumnya Allah SWT telah menyebutkan bahwa Allah SWT telah memberi rezeki kepada para hamba-Nya dengan segala sesuatu yang baik dan memberi mereka berbagai nikmat yang banyak. Kemudian, Allah SWT melarang manusia untuk berkhianat dalam masalah harta rampasan perang dan lainnya yang termasuk dalam kategori beban-beban syari‟ât. Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang beriman agar tidak menghianati Allah SWT dan Rasulullah dengan tidak melaksanakan fardhu-fardhu yang sudah ditentukan. Dan juga memberi peringatan agar tidak menghianati amanah yang sudah diberikan Allah SWT dengan tidak menjaganya. Amanah yang dimaksud adalah semua amal perbuatan yang telah dibebankan oleh Allah SWT kepada para hambanya, seperti kewajiban- kewajiban dan hukum-hukum yang telah ditentukan. 14
14 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 5, h. 313
Kemudian pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat seseorang berlaku khianat adalah cinta kepada harta dan anak, Allah SWT mengingatkan bahwa seorang yang berakal harus waspada terhadap bahaya dan mudharat dari rasa cinta itu. Seperti pada lafaz
maksudnya ialah sesugguhnya harta dan anak adalah ujian dari Allah SWT. Harta dan anak bisa menjadi penyebab terjebaknya seseorang kepada dosa dan azab karena ia dapat menyibukkan hati dengan dunia. Hal ini karena fitrah manusia adalah cinta kepada harta, tamak dalam mengumpulkan dan menyimpannya lalu bersifat kikir. Sehingga ia tidak menunaikan hak-hak Allah SWT dan tidak berbuat baik kepada para fakir miskin. Ia tidak menginfakannya kepada jalan kebaikan. 15
Fitrahnya manusia juga adalah cinta kepada anak. Terlalu mencintai anak ini juga terkadang membuat seseorang terjerumus untuk mencari harta dengan cara yang haram. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaknya lebih berhati-hati terhadap harta dan anak. Ia harus mencari rezeki dari jalan yang halal dan memberi makan anak-anaknya dari sesuatu yang halal sehingga tubuh mereka tidak tumbuh dari sesuatu yang haram. Seorang anak juga tidak boleh menjadi penyebab orang tua menjadi kikir. Begitupun orang tua, tidak boleh lengah dalam mendidik anaknya untuk memiliki akhlak yang mulia, berpegang teguh pada hukum-hukum agama serta menjauhinya dari berbagai maksiat dan hal-hal yang haram. 16
Kemudian Allah SWT menutup ayat di atas dengan akhir yang sangat menyentuh. Dia berfirman
artinya, pahala, hadiah,
15 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 5, h. 314
16 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 5, h. 314
71
dan surga Allah SWT lebih baik dari pada harta dan anak-anak, karena boleh jadi diantara mereka ada yang akhirnya menjadi musuhmu. Penutup ayat di atas juga merupakan sebuah peringatan bahwa kebahagiaan di akhirat jauh lebih baik dari kebahagiaan di dunia, karena akhirat lebih mulia, kemenangannya lebih sempurna dan kenikmatannya lebih kekal karena akan slalu ada sampai batas yang tidak ditentukan waktunya atau sampai tiada batas waktunya. Allah SWT berkuasa penuh yang memiliki dunia beserta isinya juga akhirat. Semestinya manusia lebih mengutamakan pahala dari Allah SWT dengan memerhatikan dan menjaga hukum-hukum agamanya mengenai harta dan anak-anak. Serta bersikap zuhud terhadap dunia dan tidak terlalu tamak dalam mengumpulkan harta dan berlebihan dalam mencintai anak-anak sehingga terjerumus ke dalam bencana.17 Seperti firman Allah SWT QS. Al-Kahfi [18]: 46
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang lurus terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”
(QS. Al-Kahfi [18]: 46)
Kemudian sebagaimana Wahbah Az-Zuhailî mengutip pendapat Ar- Râzi, yang menjelaskan bahwa ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil bahwa menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah lebih utama daripada menikah karena amalan-amalan sunnah. Karena menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah itu mendatangkan pahala yang besar disisi Allah SWT. Sementara menikah, mendatangkan anak dan mengharuskan akan
17 Wahbah Az-Zuhailî, at-Tafsî>r al-Munî>r fî al-„Aqî>dah wa as-Syarî„ah wa al- Manhâj, Jilid. 5, h. 315