• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metodologi Penelitian

Dalam dokumen FITNAH DALAM AL-QUR`AN - repository iiq (Halaman 31-36)

BAB I: PENDAHULUAN

F. Metodologi Penelitian

Dalam melakukan penelitian terhadap permasalahan di atas, penulis menggunakan metodologi penelitian sebagai berikut:

1. JenisPenelitian

Jenis penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian pustaka (library research) yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengkaji bahan penelitian.20 Dengan menghadirkan Al-Qur`an sebagai sumber primer. Untuk membahas persoalan, penulis menggunakan metode maudhu‟i (tematik) sebagai salah satu metode tafsir Al-Qur‟an. Untuk memahami makna mufradat, penulis menggunakan Mu‟jam Muqâyas al- Lugah, Lisân al-„Arab, danal-Mu‟jam al-Mufahras li al-Fâz Al-Qur`an al- Karîm dan kamus-kamus lain yang diperlukan agar dapat memaknai secara tepat.

2. SumberPenelitian

Untuk menghasilkan kajian ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, penulis menggunakan sumber-sumber dari beberapa pakar.

19 Quraish Shihab, “Menabur Pesan Ilahi, Al-Qur‟an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat” dalam Jurnal Studi al-Qur‟an, Vol. 1, 2006, h. 17

20 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: YayasanObor Indonesia, 2008), Cet. ke-1, h. 3

14

Meski demikian, penulis masih tetap menggunakan Tafsîr al-Munîr Fî al-

„Aqîdah Wa as-Syari‟âh Wa al-Manhâj. Sebagai referensi utama (premier), juga menggunakan sejumlah referensi sekunder dari kitab-kitab tafsir dan hadis yang dapat menunjang penelitian, di antaranya adalah buku Ulum Al- Qur‟an, Tafsir Kementrian Agama, Tafsir Al-Misbah, dan beberapa kitab lainnya.

3. TeknikPengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis mengumpulkan dengan penelusuran kepustakaan dari berbagai sumber dibeberapa perpustakaan serta mencari informasi terkait di artikel-artikel dan jurnal-jurnal sebagai bahan yang selanjutnya di tela‟ah secara intens sehingga dapat mendukung penjelasan dan pembuktian suatu masalah. Penulis mengidentifikasi kata fitnah di berbagai kamus. Setelah data-data terkumpul, penulis mencari penafsiran mengenai lafaz fitnah dalam Tafsîr al-Munîr Fî al-„Aqîdah Wa as-Syarî‟âh Wa al-Manhâj karya Wahbah az-Zuhailî.

Selain metode kepustakaan, penulis juga menggunakan metode yang di sebut dengan analisis dokumen, yaitu mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan, jurnal dan lain sebagainya. Lalu mempelajari isi dari dokumen tersebut.21

4. Teknik Analisis Data

Penerapan dalam penelitian ini adalah analisisisi (analysys content).

Metode analisis ini berdasarkan fakta dan data-data yang menjadi isi atau materi suatu buku. Metode analisis ini di gunakan untuk menganalisis data yang telah di kumpulkan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif yaitu berusaha untuk menggambarkan apa yang ada, pendapat

21 Prasetyo Irawan, Metode Penelitian, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), Cet.

ke-5, h. 8.14

yang sedang tumbuh, prosedur yang ada berlangsung serta yang berkembang.22

Dalam penelitian ini penulis menggambarkan pandangan Wahbah az-Zuhailî mengenai fitnah yang bermakna ujian dalam Al-Qur`an.

Kemudian penulis juga membandingkan antara data atau informasi dari tafsir yang satu dengan yang lainnya dan membandingkan hasil analisis objek yang satu dengan yang lainnya.

G. Sistematika Penulisan

Teknik penulisan proposal skripsi ini berpedoman pada buku yang berjudul Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Skripsi dan Skripsi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta 2017. Seluruh pembahasan yang tercakup pada skripsi ini, akan penulis tuangkan ke dalam beberapa bab-bab tertentu sesuai dengan tema pokoknya masing-masing.

Bab Pertama, bab ini merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan, dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. Diadakannya pendahuluan sebelum masuk pada pembahasan karena untuk memperoleh dan menghimpun berbagai informasi tentang penelitian yang akan dilakukan. Sehingga dengan adanya pendahuluan dapat mengetahui dengan pasti sesuatu apa yang akan diteliti, dapat mengetahui bagaimana cara memperoleh data atau informasi, dapat menentukan cara yang tepat untuk menganalisis data, dapat mengetahui cara mengambil kesimpulan, serta dengan pendahuluan peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dilakukan dan dapat dilaksanakan.

22 Sanapiah Faisal, MetodologiPenelitianPendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 119

16

Bab kedua, pada bab ini penulis akan membahas gambaran tentang fitnah yang meliputi: Pengertian fitnah, kosakata fitnah dalam Al-Qur‟an, derivasi kata fitnah dalam Al-Qur`an, macam-macam makna fitnah yang ada dalam Al-Qur‟an. Sebelum membahas pada penafsiran tentang fitnah, maka penulis menjelaskan gambaran pengetahuan tentang fitnah ini terlebih dahulu karena untuk menangkap pemahaman makna fitnah dalam Al-Qur‟an dan menjelaskan perbedaan makna fitnah dalam bahasa sehari- hari. Sehingga dengan adanya gambaran umum tentang fitnah ini dapat mengambil maksud yang tersimpul dari kata fitnah itu sendiri.Bab ketiga, merupakan penjelasan mengenai objek yang akan diteliti, yaitu meliputi:

Uraian biografi, kitab tafsir Wahbah az-Zuhaili dan kitab tafsir Imam as- Syaukani, serta hasil penafsiran keduanya terhadap ayat-ayat fitnah dalam Al-Qur‟an. Sebelum masuk pada penafsiran maka alangkah lebih baik mengenal para mufassir terlebih dahulu, hal ini karena untuk lebih mengetahui biografi-biografi para mufassir mulai dari riwayat kehidupannya, karya-karya tulisnya, serta mampu mengetahui cara dan gaya yang digunakan oleh mufassir dalam menafirkan Al-Qur‟an. Pada bab ini juga bisa menjadi bahan untuk kepentingan analisis bab IV.

Bab keempat, pada bab ini merupakan pembahasan dalam penafsiran Wahbah az-Zuhaili terhadap ayat-ayat fitnah yang bermakna ujian dalam Al-Qur‟an, analisa terhadap ayat-ayat fitnah yang bermakna ujian serta relevansi lafaz fitnah yang bermakna ujian dalam kehidupan sekarang. Setelah mengetahui biografi mufassir, maka pada bab IV ini masuk pada inti dari penelitian yaitu menguraikan tentang analisis ayat- ayat fitnah yang bermakna ujian dalam tafsir Al-Munîr.

Bab kelima, pada bab ini merupakan penutup yang meliputi kesimpulan dan saran. Pada bab akhir berisi kesimpulan karena untuk memudahkan pembaca memahami keseluruhan inti dalam penelitian atau

skripsi ini. Sehingga pembaca mendapat wawasan lebih mudah dari adanya penelitian ini.

19 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG FITNAH A. Pengertian Fitnah

Fitnah di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan dengan perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang seperti, menodai nama baik ataupun merugikan kehormatan orang lain.1

Sedangkan kata fitnah berasal dari bahasa arab yaitu al-fitnatu (

َُةَنْ تِفْل ََا

).

Di dalam kitab Mu‟jam Muqâyas al-Lugâh dijelaskan bahwamenurut bahasa, fitnah berasal dari kata

َََت ََ ف

yang tersusun dari huruf

ن - ت - ف

yang

menunjukkan makna ujian dan cobaan.2

Ibnu A„râbi menguraikan bahwa fitnah di dalam kitab Lisânul „Arâb, adalah cobaan, ujian, harta, anak-anak, kekafiran, perbedaan pendapat manusia, membakar dengan api dan juga dikatakan bahwa fitnah itu bermakna kezaliman.3

Sebagaimana Ahmad Al-Mubayyadah mengutip dalam kitab Fath al- Bâri menerangkan bahwa asal makna fitnah adalah ujian, kemudian kata itu digunakan untuk makna akibat dari ujian tersebut, kemudian digunakan untuk sesuatu yang tidak disukai yang diakibatkan oleh ujian atau ujian yang akibatnya tidak enak, kemudian digunakan pada sesuatu yang tidak menyenangkan, kemudian kepada sesuatu yang tidak diinginkan atau sesuatu

1Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahas Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996) h. 277

2Ahmad bin Fâris bin Zakariyâ, Mu‟jam Muqâyîs al-Lugah, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1319H/ 979 M), Jilid. IV, h. 472

3Ibnu Manzhûr, Lisân al-„Arab, (Kairo: Dâr al-Ma‟ârif, 1119), hal. 3344

yang berakhir tidak baik seperti kufur, dosa, pembakaran, ataupun pelecehan.4

Kemudian pendapat Sa„id Hawa bahwa fitnah secara istilah yaitu penetap syari„at yang digunakan secara mutlak untuk menggambarkan pertikaian yang tidak jelas akhirnya antar kaum muslimin, fitnah juga digunakan secara mutlak pada tersebar luasnya berbagai pemikiran- pemikiran yang aneh, juga dikatakan secara mutlak pada cengkraman yang dilakukan oleh orang-orang kafir atau orang-orang zalim terhadap orang- orang beriman atau pun pada kekacauan yang terjadi dengan tanpa jelas permasalahannya dalam dinamika politik, fanatisme golongan, serta penyerangan dan penyerbuan yang disebabkan oleh fanatisme. Istilah fitnah juga diartikan secara mutlak pada apa saja yang menodai manusia terhadap agamanya, baik berupa harta, pangkat atau kehormatan diri. Termasuk juga dalam cakupan terminologi fitnah adalah provokasi antar manusia dan upaya untuk memecah belah sesama manusia.5

Berikutnya di dalam Ensiklopedi Al-Qur`an, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata fitnah berasal dari kata dasar fatana yang berarti

“membakar logam emas atau perak untuk menguji kemurniannya”. Kata fitnah juga berarti membakar secara mutlak, meneliti, kekafiran, perbedaan pendapat, kezaliman, hukuman dan kenikmatan hidup. Kata yang maknanya hampir menyerupai makna fitnah adalah al-bala‟, yang juga banyak disebut dalam Al-Qur‟an. Semua kata yang berasal dari kata itu pada dasarnya

4 Muhammad Ahmad Al-Mubayyadah, Ensiklopedi Akhir Zaman, Terj: Ahmad Dzulfikar, (Surakarta: Granada Mediatama, 2017), h. 500

5 Sa‟id Hawa, al-Asâs fi as-Sunnah wa fiqhuhâ qism al-„Aqâ‟id al-Islamiyyah, (Mesir: Dâr as-Salâm, 1992), Cet. 2, h. 523

21

mengandung makna menguji atau mencoba. Itulah sebabnya maka syaitan disebut juga al-fitani karena ia merupakan ujian bagi keimanan manusia.6

Berdasarkan beberapa uraian dan pendapat para ulama, penulis dapat menyimpulkan bahwa kata fitnah yang ada dalam Al-Qur`an tidak hanya terfokus pada satu makna saja, akan tetapi mengandung berbagai jenis makna, diantaranya yaitu ujian atau cobaan, syirik, kezaliman, kesesatan, kekacauan, dan siksaan. Namun jika ditinjau melalui definisi-definisi yang telah dipaparkan oleh beberapa ulama terhadap makna fitnah, identiknya kata fitnah lebih spesifik pada makna ujian.

B. Kata Fitnah dan Derivasinya dalam Al-Qur’an

Kata fitnah dengan segala bentuk derivasinya disebutkan dalam Al- Qur`an sebanyak enam puluh kali. Di dalam kitab al-Mu‟jam al-Mufahras li al-Fâz Al-Qur`an al-Karîm dijelaskan bahwa kata fitnah dalam bentuk fi„il mâdhi disebutkan sebanyak sebelas kali, dalam bentuk fi„il mudâri‟

disebutkan sebanyak dua belas kali, dalam bentuk isim fâ„il disebutkan satu kali, isim maf„ûl satu kali dan isim mashdar disebutkan tiga puluh lima kali.7 Berikut penjabaran kata fitnah dan derivasinya dalam Al-Qur`an :

1. Kata fitnah dalam bentuk fi„il mâdhi

Kata fitnah dalam bentuk fi‟il mâdhi disebutkan sebanyak sebelas kali pada lima macam lafaz yang berbeda dalam Al-Qur`an, yaitu:

6 M. Quraish Shihab, Esiklopedi Al-Qur‟an (Jakarta: Yayasan Bimantara, 1997), h.

100 7Muhammad Fuâd „Abdul Bâqî, Al-Mu„jam Al-Mufahras li Alfâz Al-Qur`an Al- Karîm, (Beirût: Dâr Al-Fikr, 1992), h. 510

a. Lafaz fatannâ

( اَّنَ تَ ف )

disebutkan sebanyak tujuh kali di dalam Al- Qur`an.Terdapat pada QS. al-An`âm [6]: 53 ,QS. Tâhâ [20]: 85, QS. al-„Ankabût [29]: 3, QS. Sâd [38]: 34, QS. ad-Dukhân [44]:

17, QS. Tâhâ [20]: 40, QS. Sâd [38]: 24.

b. Lafaz fatantum

(َْمُتْنَ تَ ف)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an terdapat pada QS. al-Hadîd [57]: 14.

c. Lafaz futintum

(َْمُتْنِتُف)

yang disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an terdapat pada QS. Tâhâ [20]: 90.

d. Lafaz fatanû

(اْوُ نَ تَ ف)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. al-Burûj [85]: 10.

e. Lafaz futinû

(اْوُ نِتُف

) disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. an-Nahl [16]: 110.

2. Kata fitnah dalam bentuk fi‟il mudhâri„

Kata fitnah dalam bentuk fi‟il mudhâri‟ disebutkan sebanyak dua belas kali pada sembilan macam lafaz, yaitu:

a. Lafaz taftinnî

(َِّنِتْفَ ت)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. at-Taubah [9]: 49

b. Lafaz linaftinahum

(َْمُهَ نِتْفَ نِل)

disebutkan sebanyak dua kali di dalam Al-Qur`an terdapat pada QS. Tâhâ [20]: 131 dan QS. al- Jinn [72]: 17.

c. Lafaz yaftinakum

(َْمُكَنِتْفَ ي)

disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an pada QS. an-Nisâ [4]: 101.

d. Lafaz yaftinannakum

(َْمُكَّنَ نِتْفَ ي)

disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an pada QS. al-A‟râf [7]: 27.

23

e. Lafaz yaftinahum

(َْمُهَ نِتْفَ ي)

disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an pada QS. Yûnus [10]: 83.

f. Lafaz yaftinûka

(ََكْوُ نِتْفَ ي

) disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. al-Mâidah [5]: 49.

g. Lafaz layaftinûka

(ََكْوُ نِتْفَ يَل)

disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an pada QS. al-Isrâ [17]: 73.

h. Lafaz tuftanûn

(نْوُ نَ تْفُ ت)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. an-Naml [27]: 47.

i. Lafaz yuftanûn

(نْوُ نَ تْفُ ي)

disebutkan sebanyak tiga kali di dalam Al-Qur`an. Terdapat pada QS. at-Taubah [9]: 126 dan QS. al-

„Ankabut [29]: 2. QS. az-Zâriyât [51]: 13.

3. Kata fitnah dalam bentuk isim mashdar

Kata fitnah dalam bentuk isim mashdar disebutkan sebanyak tiga puluh lima kali pada sebelas macam lafaz yang berbeda, yaitu:

a. Lafaz futûnan

(أًنْوُ تُ ف)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. Tâhâ [20]: 40.

b. Lafaz fitnatun

(ٌَةَنْ تِف)

disebutkan sebanyak sebelas kali di dalam Al- Qur`an. Terdapat pada QS. al-Baqarah [2]: 102, 193, QS. al- Mâidah [5]: 71, QS. al-Anfâl [8]: 28, 39, 73 QS. al-Anbiyâ` [21]:

111, QS. al-Hajj [22]: 11, QS. an-Nûr [24]: 63, QS. az-Zumar [39]: 49 dan QS. at-Thagâbûn [64]: 15

c. Lafaz al-fitnatu

( ََا َُةَنْ تِفْل)

yang disebutkan sebanyak dua kali di dalam Al-Qur`an. Terdapat pada QS. al-Baqarah [2]: 191 dan QS.

al-Baqarah [2]: 217.

d. Lafaz al-fitnati

( ََا َِةَنْ تِفْل)

yang disebutkan sebanyak tiga kali di dalam Al-Qur`an. Terdapat pada QS. âli-`Imrân [3]: 7, QS. an- Nisâ [4]: 91 dan QS. at-Taubah [9]: 49.

e. Lafaz alfitnata

(ََةَنْ تِفْلا)

disebutkan sebanyak tiga kali di dalam Al- Qur`an. Terdapat pada QS. at-Taubah [9]: 47, QS. at-Taubah [9]:

48 dan QS. al-Ahzâb [33]: 14.

f. Lafaz fitnatan

(ًَةَنْ تِف)

disebutkan sebanyak 10 kali di dalam Al- Qur`an. Terdapat pada QS. al-anfâl [8]: 25, QS. Yûnûs [10]: 85, QS. al-Isrâ` [17]: 60, QS. al-Anbiyâ` [21]: 35, QS. al-Hajj [22]:

53, QS. al-Furqân [25]: 20, QS. as-Safât [37]: 63, QS. al-Qamar [54]: 27, QS. al-Mudatsir [74]: 31 dan QS. al-Mumtahanah [60]: 5.

g. Lafaz fitnata

(ََةَنْ تِف)

yang disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. al-„Ankabût [29]: 10.

h. Lafaz fitnatahum

(َْمُهَ تَنْ تِف)

disebutkan satu kali di dalam Al-Qur`an pada QS. al-An‟âm [6]: 23.

i. Lafaz fiitnatuka

(ََكُتَنْ تِف)

yang disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an. Terdapat pada QS. al-A‟rof [7]: 155.

j. Lafaz fitnatakum

(َْمُكَتَنْ تِف)

yang disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an pada QS. az-Zariyât [51]: 14.

k. Lafaz fitnatahu

(َُوَتَنْ تِف)َ

yang disebutkan satu kali di dalam Al- Qur`an. Terdapat pada QS. al-Mâidah [5]: 41.

4. Kata fitnah dalam bentuk isim fâ„il

Kata fitnah dalam bentul isim fâ‟il disebutkan satu kali yaitu pada lafaz bifâtinîn

(َْيِنِتاَفِب)

dalam QS. as-Safât [37]: 162.

25

5. Kata fitnah dalam bentuk isim maf‟ûl:

Kata fitnah dalam bentuk isim maf‟ûl disebutkan satu kali pada lafaz al-maftûn

( نْوُ تْفَمْل) ََا

dalam QS. al-Qalam [68]: 6.

Melalui pemaparan di atas telah diketahui mengenai kata fitnah dan derivasinya dalam Al-Qur`an kemudian penulis ingin memaparkan makna fitnah berdasarkan terjemah Al-Qur‟an Departemen Agama, sebagaimana gambaran umumnya:

No Makna Fitnah Jumlah Ayat

01. Gila 1 kali QS. al-Qalam [68]: 6

02. Kekacauan 8 kali

al-Baqarah [2]: 193, âli-Imrân [3]:7, QS. al-Anfâl [8]: 73, dan

QS. at-Taubah [9]: 47, 48, 49 (

َِّنِتْفَ ت

) (

َِةَنْ تِفْلا

), QS. al-Ahzâb [33]:

14

03. Sesat 2 kali

QS. al-Mâidah [5]: 41 dan QS.

as-Safât [37]: 162 04. Memalingkan 2 kali

QS. al-Mâidah [5]: 49 QS. al- Isrâ [17]: 73

05. Munafik 1 kali QS. al-An„âm [6]: 53 06 Bencana 1 kali QS. al-Mâidah [5]: 71 07 Diserang 1 kali QS. an-Nisâ [4]: 101

08 Syirik 4 kali

QS. al-Baqarah [2]: 191, 217, QS. al-Anfâl [8]: 39 dan QS. an-

Nisâ [4]: 91 09 Mencelakakan 1 kali QS.al-Hadîd [57]: 14 10 Tertipu 1 kali QS. al-A‟râf [7]: 27

11 Siksaan 5 kali.

QS. al-Anfâl [8]: 25, QS. Yûnûs [10]: 83, QS. as-Saffât [37]: 63 dan QS. az-Zariyât [51]: 13, 14

12 Ujian 33 kali

QS. al-Baqarah [2]: 102, QS. al- An‟âm [6]: 53, QS. al-A„râf [7]:

155, QS. al-Anfâl [8]: 28, QS.

at-Taubah [9]: 126, QS. Yûnûs [10]: 85, QS. an-Nahl [16]: 110,

QS. al-Isrâ [17]: 60, QS. Tâhâ [20]: 40 (

ََكَاّنَ تَ ف

), (

ًَانْوُ تُ ف)

85, 90,

131, QS. al-Anbiyâ [21]: 35, 111, QS. al-Hajj [22]: 11, 53, QS. an-Nûr [24]: 63, QS. Al- Furqân [25]: 20, QS. an-Naml [27]: 47, QS. al-„Ankabût [29]:

2,3, 10, QS. Sâd [38]: 24, 34, QS. az-Zummar [39]: 49, QS.

ad-Dukhân [44]: 17, QS. al- Qamar [54]: 27, QS. at- Taghabûn [64]: 15, QS. al- Mumtahanah [60]: 5, QS. al-Jinn

27

[72]: 17, dan QS. al-Mudatsîr [74]: 31, QS. al-Bûrûj [85]: 10

Melalui pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa kata fitnah dalam Al-Qur`an memiliki dua belas makna yang berbeda yaitu kekacauan disebutkan delapan kali, sesat dan memalingkan, masing-masing disebutkan disebutkan dua kali, syirik disebutkan empat kali, munafik, gila, bencana, diserang, mencelakakan, dan tertipu masing-masing disebutkan satu kali, siksaan disebutkan lima kali, dan ujian disebutkan sebanyak tiga pulu tiga kali dalam Al-Qur`an. Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa makna fitnah yang ada dalam Al-Qur`an sangat berbeda dengan makna fitnah yang di pahami oleh masyarakat pada umumnya.

C. Jenis-jenis Fitnah

Melalui pembahasan di atas telah dipaparkan mengenai pengertian fitnah dan berbagai makna fitnah yang ada dalam Al-Qur`an. Namun, terdapat jenis-jenis fitnah yang sering Rasullullah saw ceritakan kepada Sahabat Nabi. Tertulis dalam hadits yang diriwayatkan Abû Dâud, sebagai berikut:

َُنْبَِوَّللاَُدْبَعَ ِنَِثَّدَحَ،ِةَيرِغُمْلاَوُبَأَاَنَ ثَّدَحَ،ُّيِصْمِْلْاٍَديِعَسَِنْبََناَمْثُعَُنْبَ َيََْيََاَنَ ثَّدَح

َِوَّللاََدْبَعَ ُتْعَِسََ:َلاَقَ،ِّيِسْنَعْلاٍَئِناَىَِنْبَِْيرَمُعَْنَعَ،َةَبْتُعَُنْبَُء َلََعْلاَ ِنَِثَّدَحَ،ٍِلِاَس

ََ يَ،َرَمُعََنْب

ََرَكَذَ َّتََّحَاَىِرْكِذَ ِفََِرَ ثْكَأَفَََتِفْلاََرَكَذَفَ،ِوَّللاَ ِلوُسَرََدْنِعَاًدوُعُ قَاَّنُكَ:ُلوُق

ٌَبَرَىََيِىَ"َ:َلاَقَ؟ِس َلَْحَْلْاَُةَنْ تِفَاَمَوَِوَّللاَ َلوُسَرَاَيَ:ٌلِئاَقَ َلاَقَ فَ،ِس َلَْحَْلْاََةَنْ تِف

ََخَدَ،ِءاَّرَّسلاَُةَنْ تِفََُّثَُ،ٌبْرَحَو

َ، ِّنِِمَُوَّنَأَُمُعْزَ يَ ِتِْيَ بَ ِلْىَأَْنِمَ ٍلُجَرَْيَمَدَقَ ِتَْتََْنِمَاَهُ ن

ََُّثَُ،ٍعَلِضَىَلَعٍَكِرَوَكٍَلُجَرَىَلَعَُساَّنلاَُحِلَطْصَيََُّثَُ،َنوُقَّ تُمْلاَيِئاَيِلْوَأَاََّنَِّإَوَ، ِّنِِمََسْيَلَو

َِذَىَْنِمَاًدَحَأَُعَدَتَ َلََ،ِءاَمْيَىُّدلاَُةَنْ تِف

َ، ْتَضَقْ ناَ:َليِقَاَذِإَفَ،ًةَمْطَلَُوْتَمَطَلَ َّلَِإَِةَّمُْلْاَِه

َ،ِْيَطاَطْسُفَ َلَِإَ ُساَّنلاََيرِصَيَ َّتََّحَ،اًرِفاَكَيِسُْيَُوَ،اًنِمْؤُمَاَهيِفَُلُجَّرلاَُحِبْصُيَ ْتَداََتَ

:ص[َِويِفََقاَفِنَ َلٍََناَيُِإَِطاَطْسُف اَيُِإَ َلََ ٍقاَفِنَِطاَطْسُفَوَ،] 59

َْمُكاَذََناَكَاَذِإَفَ،ِويِفََن

"َِهِدَغَْنِمَْوَأَ،ِوِمْوَ يَْنِمَ،َلاَّجَّدلاَاوُرِظَتْ ناَف

َ )دوادَاوبأَهاور(

8

“Yahya bin Utsman bin Sa„îd al-Himsî menyampaikan kepada kami dari Abû al-Mughîroh, dari „Abdullah bin Sâlim, dari „Alâ`

binUYtbah, dari Umair bin Hani`al-„Ansi yang mengatakan, aku medengar „Abdullah bin „Umar berkata: “Kami sednag duduk bersama Rasulullah dan beliau berbicara tentang berbagai fitnah (akhir zaman). Beliau banyak memberikan penjelasan tentang hal itu hingga akhirnya berbicara tentang fitnah al-ahlâs. Seseorng bertanya, “Wahai Rasulullah, aoakah fitnah al-ahlâs itu?” Beliau menjawab, “ (Fitnah yang di dalamnya terdapat) pelarian dan peperangan. Kemudian, akan ada fitnah as-sarrâ` (kesenangan) yang keluar dari di bawah kedua kaki seseorang dari ahlul baitku. Dia mengaku bahwa dirinya termasuk golonganku, padahal dia bukan golonganku. Sebenarnya, orang-rang yang dekat denganku adalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian, orang-orang mengangkat seorang pemimpin yang tidak layak memimpin. Lalu terjadilah fitnah ad-duhaimâ` (dahsyat), yaitu fitnah yang tidak akan membiarkan seorangpun dari umatku lolos. Ia akan menampar semua umatku.

Ketika orang mengira fitnah itu telah selesai, ternyata masih berkelanjutan. Dalam fitnah itu akan ada orang yang pada pagi hari beriman, tetapi pada sore harinya ia menjadi kafir. Pada akhirnya orang-orang terpecah ke dalam dua bagian, yaitu kelompok iman yang tidak tercampur dengan kemunafikan dan kelompok munafik yang tidak ada keimanan di dalamnya. Jika mereka sudah seperti itu maka tunggulah Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya.” (HR.

Abû Dâud)

Hadits diatas merupakan sumber pokok tentang penjelasan Nabi saw mengenai jenis-jenis fitnah yang menerpa umat muslim. Disebutkan bahwa

8 Abû Dâud Sulaiman ibn Al-Asy„ats A-Adzi As-Sijistani, Sunan Abî Dâud, Kitab

Dzikrul fitan wa dalâiluhâ, tt. Juz. 4 , h. 94

29

terdapat tiga jenis fitnah yang sering Rasullullah saw ceritakan kepada Sahabat Nabi, yaitu:

1. Fitnah Al-Ahlâs

Al-Ahlâs merupakan jamak dari lafal al-halas, yaitu kain yang melekat pada punggung unta, letaknya di bawah pelana. Fitnah ini diserupakan dengan alas pelana karena terdapat persamaan dari sisi terus menerus menempel atau terjadi.9

Imam al-Khathabi menjelaskan bahwa “Fitnah ini disambungkan dengan kata ahlas karena fitnah ini terus-menerus terjadi dan berkepanjangan dalam waktu yang lama.”10 Fitnah ini disebut juga sebagai fitnah yang muncul untuk memecah-belah umat menjadi sekian banyak kelompok, menimpakan kezaliman terhadap sesama manusia.11

Berdasarkan pemaparan di atas, pendapat mengenai hal ini bahwasannya fitnah ini adalah fitnah yang cukup berbahaya bagi umat muslim. Terpecahnya umat sudah mulai nampak terlebih dalam situasi saat ini, tidak sedikit di antara seorang muslim yang saling membunuh di antara satu dengan yang lainnya hanya karena adanya perbedaan pendapat di antara mereka.

2. Fitnah As-Sarra`

Imam Ali Al-Qâri menyatakan yang dimaksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan manusia, berupa kesehatan, kekayaan, juga terbebas dari bahaya maupun bencana. Fitnah ini disambungkan

9 Muhammad Ahmad Al-Mubayyadah, Ensiklopedi Akhir Zaman, Terj: Ahmad Dzulfikar, (Surakarta: Granada Mediatama, 2017), h. 525

10Abû Fatiah Al-Adnâni, Fitnah dan Petaka Akhir Zaman, (Surakarta: Granada Mediatama, 2007), h. 1

11 Muhammad Ahmad Al-Mubayyadah, Ensiklopedi Akhir Zaman, Terj: Ahmad Dzulfikar, h. 526

dengan sarra` karena terjadinya disebabkan adanya berbagai kemaksiatan di dalam kehidupan yang mewah.12

Fitnah ini berkaitan dengan kondisi seseorang yang penuh dengan kenikmatan dan kemewahan yang sedang dialami. Penyebab datangnya fitnah ini adalah karena adanya keinginan seseorang untuk selalu memperoleh kesenangan terhadap dunia.13

Wujud dari fitnah As-Sarra` ini sudah terlihat jelas terhadap seseorang yang terlena dengan kenikmatan dunia. Tidak sedikit pada sebagian orang yang masih rela berbuat dosa hanya untuk mendapatkan kepuasan dunia.

3. Fitnah Ad-Duhaimâ`

Kata duhaimâ` merupakan bentuk tasghîr dari kata duhamâ`, yang berarti hitam kelam dan gelap. Puncak dari fitnah ini adalah terpecahnya umat manusia menjadi dua kelompok, yaitu kelompok mukmin sejati tanpa adanya sedikit kemunafikan di dalam hatinya dan kelompok munafik sejati tanpa adanya sedikit keimanan di dalam hatinya. Kelompok mukmin sejati adalah mereka yang bersama para mujahidin, membelanya dan memberikan dukungan baik secara moril ataupun materi. Sedangkan kelompok munafik adalah umat islam yang memberikan bantuan dan pembelan kepada para thâgut dalam memerangi kaum muslimin.14

Fitnah ini adalah fitnah yang paling berbahaya diantara fitnah Al- Ahlâs dan fitnah As-Sarra`. Dapat dikatakan bahwa fitnah ini sangat mirip dengan fitnah Dajjal karena pengaruh yang diakibatkan terhadap umat ini hampir sama dengan pengaruh fitnah Dajjal.15

12 Abû Fatiah Al-Adnâni, Fitnah dan Petaka Akhir Zaman, h. 111

13Muhammad Ahmad Al-Mubayyadah, Ensiklopedi Akhir Zaman, Terj: Ahmad Dzulfikar, h. 528

14 Abû Fatiah Al-Adnâni, Fitnah dan Petaka Akhir Zaman, h. 112

15Muhammad Ahmad Al-Mubayyadah, Ensiklopedi Akhir Zaman, Terj: Ahmad Dzulfikar, h. 529

Dalam dokumen FITNAH DALAM AL-QUR`AN - repository iiq (Halaman 31-36)

Dokumen terkait