BAB I PENDAHULUAN
E. Telaah Pustaka
6. Dampak Blooming Alga
musim), dan curah hujan.36 Beberapa Peneliti menyatakan bahwa peningkatan populasi spesies fitoplankton penyebab Harmful Algae Blooms (HABs) berkaitan dengan adanya peningkatan kadar nutrient seperti nitrat, urea, fosfat, silica, senyawa karbon terlarut, senyawa nitrogen yang terlarut dalam air.37
terjadinya blooming C. polykrikoides dikarenakan laju pemanfaatan posfor dan nutrient N meningkat, Peran manusia (anthropogenic effect) dan pengkayaan unsur hara dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan munculnya fenomena Harmful Algae Blooms (HABs) dari spesies C. Polykrikoides.38
Perairan yang dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi dan memicu terjadinya blooming fitoplankton.41
Blooming fitoplankton yang menyebabkan perubahan warna air laut menjadi coklat kemerahan diakibatkan oleh fitoplankton dari kelas dinoflagellata (Dinophyceae) dari spesies Cochlodinium, yang jika didiamkan sekitar 5 menit akan membentuk gumpalan gel coklat dan sangat licin yang disebabkan oleh Lapisan selulose yang dapat menyebabkan kerusakan atau gangguan jaringan epitel insang pada ikan sehingga mati lemas.42
Spesies C. polykrikoides merupakan jenis fitoplankton yang berbahaya karna dapat menghasilkan toksin kimia, pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian ikan karena terlalu banyak mengkonsumsi oksigen yang terlarut dalam air laut.43
F. Kerangka Berpikir
Plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti arus pergerakan air, plankton dibagi menjadi 2 macam yaitu fitoplankton yang berasal dari jasad nabati dan zooplankton yang berasal dari jasad hewani.
Fitoplankton berperan penting dalam ekosistem perairan karena berperan sebagai produsen utama perairan, namun beberapa spesies
41 Rizky Nurdevita Sari. “Identifikasi Fitoplankton...,hlm.36
42 Ibid
43 Muawanah, T Haryono, W Widiatmoko dan R Purnomowati. “Fenomena Out Break HABs (Harmful Algal Blooms) di Teluk Lampung”. Buletin Budidaya Laut No. 39. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. (Lampung, 2015)
fitoplankton jenis toksik dapat menyebabkan blooming jika terjadi ledakan (kemunculan secara berlebihan). Hal inilah pentingnya dilakukan penelitian mengenai fitoplankton yang berpotensi menyebabkan harmfull algae blooms(HABs) di Teluk Gerupuk.
Gambar 4.1. Bagan Kerangka Berpikir G. Metode Penelitian
Plankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air
Plankton di bagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok fitoplankton (Plankton tumbuhan) dan zooplankton (Plankton hewan)
Beberapa spesies fitoplankton dapat mendatangkan masalah melalui produksi toksin.
Terjadinya ledakan fitoplankton jenis toksik (beracun) dapat menyebabkanHarmful Algae Bloom (HAB)
Mengidentifikasi spesies fitoplankton penyebab Harmful Algae Bloomdi Teluk Gerupuk
1. Desain Penelitian a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah deskriptif eksploratif.
b. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
2. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis fitoplankton yang terdapat di Teluk Gerupuk Lombok Tengah.
b. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah jenis fitoplankton yang tertangkap dalam penyaringan air laut yang di ambil di Teluk Gerupuk dengan menggunakan jaring plankton (plankton net).
c. Teknik Sampling
Penelitian ini tentang biodiversitas fitoplankton yang berpotensi menyebabkan harmful algae bloom di Teluk Gerupuk Lombok Tengah. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengidentifikasian dan penghitungan plankton dilakukan dengan menggunakan cara total strip counting serta pengidentifikasian menggunakan buku identifikasi plankton (Identification guide of plankton) Illustrations Of The Marine Plankton Of Japan by Dr. Isamu Yamaji. Adapun data tentang struktur komunitas plankton yang akan dianalisis yaitu indeks
keanekaragaman Shannon-Wienner, dominansi, dan indeks kemerataan.
Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada area keramba jarring apung di perairan Teluk Gerupuk Lombok Tengah, kemudian menentukan 5 stasiun pengambilan sampel yaitu stasiun I, II, III, IV, dan V. Setiap stasiun memiliki jarak 100 meter.
3. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Teluk Gerupuk Lombok Tengah dengan pengambilan sampel di 5 stasiun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember. Dan pengambilan sampel air laut dilakukan pada pagi hari. Penelitian inidi lakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pengambilan sampel di lapangan dan tahap pengamatan di laboratorium.
4. Variabel Penelitian
Variabel utama dalam penelitian ini adalah Biodiversitas Fitoplankton yang Berpotensi Menyebabkan Harmful Algae Bloom Di Teluk Gerupuk Lombok Tengah.
5. Alat dan Bahan a. Alat
Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini ialah, Mikroskop, Kamera, Jaring plankton (plankton net), Ember, Kaca benda + cover glass, Botol sampel volume 100 mL, Buku identifikasi plankton, Kertas label, Refractometer, Thermometer,
Alat tulis, Alat ukur pH, Pipet tetes, Spuit 10 cc, dan Kuteks bening.
b. Bahan
Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini ialah, Air sampel, Formalin 4%, dan Aquades.
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:
a. Observasi
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi langsung ke lapangan dan mengambil sampel menggunakan jaring plankton (plankton net).
Gambar 5.1. Pantai di Teluk Gerupuk b. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan cara menyaring air sebanyak 100 Liter pada setiap stasiun, dengan munggunakan ember yang bervolume 20 liter dan dilakukan sebanyak 5 kali penyaringan. Tiap stasiun memiliki jarak masing- masing 100 m.
Gambar 5.2. Peta Teluk Gerupuk c. Identifikasi fitoplankton
Identifikasi fitoplankton akan dilakukan di Laboratorium Biologi Dasar FMIPA UNRAM. Jarak antar stasiun I dengan stasiun II ialah 100 m, stasiun II dengan stasiun III ialah 100 m, stasiun III dengan stasiun IV ialah 100 m, stasiun IV dengan stasiun V ialah 100 m. Ukuran plot pada tiap stasiun ialah 3x3 . d. Analisis Data
Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan cara menyaring air sebanyak 100 Liter pada setiap stasiun, dengan munggunakan ember yang bervolume 20 liter dan dilakukan sebanyak 5 kali penyaringan.
Kemudian sampel fitoplankton yang sudah tersaring menggunakan plankton net akan terjaring dan tertampung dalam tabung pengumpul plankton yang berada diujung jaring plankton net dan mempunyai ukuran 50 mL. Selanjutnya sampel plankton yang sudah terjaring akan dipindahkan kedalam botol sampel 100 ml dan diawetkan menggunakan formalin 4% dan diberi label,
pada label dituliskan nomor stasiun pengambilan sampel kemudian disimpan didalam ruangan yang gelap.
Setelah sampel didapatkan kemudian diidenfitifikasi di laboratorium dengan mengambil larutan sampel dari 50 ml air mengguanakn pipet tetes dan diteteskan diatas Sedgewick Rafter Counting Cells untuk diamati dibawah mikroskop. Pengamatan dilakukan dengan metode total strip counting menggunakan tiga garis pandang, yaitu mengamati bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Selanjutnya diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
e. Data Penunjang
Data penunjang yang akan dihitung meliputi Suhu, pH air, salinitas, dan kedalaman. Data ini diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi komunitas plankton.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data meliputi:
1. Indeks Keanekaragaman (H’)
Indeks ini digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis biota perairan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung indeks ini adalah persamaan Shanon-Weiner (Basmi, 1999).
Pi = �� untuk H’ = -Σ (Pi Ln Pi).
Keterangan :
H’ = Indeks Keanekaragaman
Pi = Jumlah individu spesies ke-i dibagi jumlah total individu Lnpi = Ln Jumlah individu spesies ke-i dibagi jumlah total individu dengan kriteria :
H’ ≤ 1 : Keanekaragaman kecil 1 < H ≤ 3 : Keanekaragaman sedang H’ > 3 : Keanekaragaman tinggi
Selanjutnya indeks keanekaragaman yang diperoleh pada tiap stasiun dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan indeks keanekaragaman pada tiap stasiun yang diteliti.
2. Indeks Dominansi (C)
Untuk mengetahui adanya dominansi jenis tertentu di perairan dapat digunakan Indeks Dominansi Simpson (Odum, 1993), yaitu sebagai berikut :
C = ∑�= �/�
Keterangan :
C = Indeks dominansi Simpson ni = Jumlah individu jenis ke-i N = Jumlah total individu S = Jumlah genus
Indeks Dominansi antara 0-1
D = 0, berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas dalam keadaan stabil.
D = 1, berarti terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas labil, karena terjadi tekanan ekologis (stres).
3. Indeks Kemerataan (E)
Indeks ini menunjukkan pola sebaran biota, yaitu merata atau tidak.
Jika nilai indeks kemerataan relatif tinggi maka keberadaan setiap jenis biota di perairan dalam kondisi merata
� = � ����’
Keterangan :
E = Indeks keseragaman
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener S = Jumlah genus yang ditemukan
H’Max = Nilai Keanekaragaman Maksimum = Ln S
Nilai E Kondisi struktur komunitas Kategori
>0,81 Sangat merata Sangat baik
0,61 – 0,80 Lebih merata Baik
0,41 – 0,60 Merata Sedang
0,21 – 0,40 Cukup merata Buruk
< 0,20 Tidak merata Sangat buruk
BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 1 s/d 31 Desember 2019, yang dimulai dari tahap survey lokasi, persiapan alat dan bahan, pengambilan sampel dan tahap pengidentifikasian fitoplankton. Sampel fitoplankton diambil pada lapisan permukaan kolom air yaitu pada kedalaman 0.5 meter dari permukaan. Sedangkan, lokasi penelitian terdiri dari 5 stasiun yaitu Stasiun 1 (keramba benih ikan dan benih lobter), stasiun 2 (keramba rumput laut), stasiun 3 (keramba kosong), stasiun 4 (keramba ikan bawal dan lobster), stasiun 5 (luar keramba). Berikut ini adalah peta Teluk Gerupuk yang memperlihatkan lokasi pengambilan sampel.
Gambar 6.1. Lokasi pengambilan sampel
Gambar 6.2. Peta Lokasi stasiun pengambilan sampel
Tabel 3.1. Letak Geografis Lokasi Pengambilan Sampel Fitoplankton di Perairan Teluk Gerupuk
Stasiun LokasiStasiun LetakGeografis
1 Keramba Benih Ikan dan Benih Lobster S8°54’46”E116°20’57”
2 Keramba Rumput Laut S8°54’41”E116°20’59”
3 Keramba Kosong S8°54’41”E116°20’52”
4 Keramba Ikan dan Lobster S8°54’36”E116°20’48”
5 Luar Keramba S8°54’34”E116°20’49”
Data dibawah ini menyajikan perbandingan Kelimpahan Fitoplankton Non HAB dan Fitoplankton HAB di Teluk Gerupuk. Dari gambar tersebut bisa dilihat bahwa rasio fitoplankton non HAB lebih besar dari rasio fitoplankton HAB, Persentase kelimpahan fitoplankton HAB dari masing-masing kelas yang ditemukan pada 5 stasiun diperairan Teluk
Gerupuk terdiri dari filum Bacillariophyta sebesar 82 %, Cyanophyta sebesar 16 % dan Miozoa sebesar 2 %.
Gambar 6.3. Rasio fitoplankton Non HAB dengan Fitoplankton HAB di perairan Teluk Gerupuk
Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 3.2. Sedangkan total spesies individu/mL fitoplankton disajikan pada tabel 3.3
Nilai parameter Fisika yang meliputi suhu berkisar antara 32°C- 33°C, dengan kedalaman 0,5 m dari permukaan laut, sedangkan Nilai parameter Kimia yang meliputi pH berkisar antara 7-9, dengan salinitas 43-510/00.
Tabel 3.2 Parameter Fisika dan Kimia Lokasi Sampling Pada 5 Stasiun di Perairan Teluk Gerupuk
Parameter Station
1 2 3 4 5
Fisika
Suhu (0C) 32°C 33°C 33°C 33°C 33°C
Kedalaman (m) 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5
Kimia
Salinitas(0/00) 430/00 440/00 510/00 510/00 430/00
pH 8 7 8 9 8
64%
36% fitoplankton Non
HAB
fitoplankton HAB
Tabel 3.3 Jumlah spesies fitoplankton yang ditemukan di Perairan Teluk Gerupuk
Filum Kelas Jumlah
spesies*
Bacillariophyta
Mediophyceae 32
Cosciodiscophyceae 14
Bacillariophyceae 54
Miozoa
Dinophyceae 15
Cyanophyta
Cyanophyceae 8
Jumlah spesies 123
*Ket.lampiaran II
Berdasarkan hasil kajian diperoleh sebanyak 9 genus fitoplankton HAB yang ditemukan di perairan Teluk Gerupuk. Namun, selama penelitian berlangsung, spesies HAB tidak menunjukkan adanya kejadian Red tide atau menyebabkan adanya kematian pada ikan atau organisme lain di lokasi penelitian.
Tabel 3.4 Komposisi Spesies Fitoplankton Yang Berpotensi Harmful Algae Blooms (HABs) Pada 5 Stasiun di PerairanTelukGerupuk
Filum Genus Station
1 2 3 4 5
Bacillariophyta
Nitzschia sp. 18 14 41 58 8
Amphora sp. - - 4 6 1
Chaetoceros sp. 1460 462 205 289 111
Bacteriastrum sp 91 43 63 15 - Miozoa
Prorocentrum sp. 3 6 8 11 8
Alexandrium sp. 1 - 1 1 -
Ceratium sp. 2 5 2 - 3
Protoperidinium sp. - - 2 6 6
Cyanophyta
Trichodesmium sp. 56 137 175 121 76
Jumlah Individu 1.631 667 501 507 213
Nilai Indek Ekologi Fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HAB yang meliputi Keanekaragaman (H’), Kemerataan (E), dan Dominansi (D) dipaparkan pada tabel 3.5 dan Grafik yang disajikan pada gambar 6.4.
Tabel 3.5 Nilai Indeks Ekologi Fitoplankton HAB Pada 5 Stasiun di Perairan Teluk Gerupuk
Spesies Station
1 2 3 4 5
Keanekaragaman (H’) 0,45 0,91 1,35 1,21 1,13
Kemerataan (E) 0,06 0,14 0,21 0,19 0,21
Dominansi (D) 0,80 0,52 0,31 0,39 0,40
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
1 2 3 4 5
Stasiun
INDEKS
H' E D
Gambar 6.4 Indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi dari fitoplankton HAB di Perairan Teluk Gerupuk
Nilai Indek Ekologi Fitoplankton Non HAB yang meliputi Keanekaragaman (H’), Kemerataan (E), dan Dominansi (D) dipaparkan
pada tabel 3.6.
Tabel 3.6 Nilai Indeks Ekologi Fitoplankton Pada 5 Stasiun di Perairan Teluk Gerupuk
Spesies Station
1 2 3 4 5
Keanekaragaman (H’) 2,52 1,81 3,18 3,10 2,23
Kemerataan (E) 0,33 0,23 0,44 0,45 0,39
Dominansi (D) 0,13 0,34 0,05 0,06 0,20
Fitoplankton penyebab Harmful Algae Blooms (HABs) di teluk gerupuk teridentifikasi sebanyak 9 Genus, antara lain: Chaetoceros, Nitzschia, Bacteriastrum, Prorocentrum,Alexandrium, Ceratium, Amphora, Protoperidinium dan Trichodesmium yang terdiri dari filum Bacillariophyta, Cyanophyta, dan Miozoa.
A A B C
Gambar 6.5 Fitoplankton Harmful Algae Bloom (HAB) yang ditemukan di perairan Teluk Gerupuk A. Chaetoceros. sp.., B. Bacteriastrum.sp., C.Prorocentrum.sp., D. Alexandrium.
sp.,E.Ceratium.sp.,F. Protoperidinium.sp., G. Nitzschia.sp.,H. Trichodesmium.sp., I. Amphora.sp.
G
I
H E F D
BAB III PEMBAHASAN
Ekosistem air laut dibagi menjadi beberapa macam (estuari, pantai batu, pantai pasir, terumbu karang, laut dalam). Teluk Gerupuk merupakan kawasan pengembangan budidaya laut yang termasuk kedalam tipe laut estuari, hal ini diperkuat dengan adanya penelitian dari Tarunamulia et al (2015) yang menyatakan bahwa dibagian pantai teluk gerupuk terdapat tambak air payau yang dikelola secara tradisional. Daerah Estuari membentuk zona transisi antara bioma air tawar dan laut karena merupakan pencampuran dua jenis air yang berbeda. Air pantai mendapat banyak muatan dari zat organik dan anorganik dari darat, suplai nutrisi dari darat dan kawasan mangrove serta limbah industri rumah tangga.
Bertambahnya pemukiman penduduk, kegiatan industri rumah tangga, dan usaha pertanian serta peternakan dapat berpengaruh terhadap kualitas perairan Teluk Gerupuk (Sri Endah Purnamaningtyas el al, 2019) karena limbah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut umumnya langsung dibuang ke perairan dan akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia dan biologi di perairan tersebut yang akan berimbas terhadap kehidupan fitoplankton.
Harmful Algae Blooms (HABs) adalah ledakan fitoplankton jenis toksik (beracun) yang disebabkan oleh konsentrasi nitrat dan fosfat yang berlebihan diperairan.( aryanto choirun, 2015) fenomena HAB juga dapat diakibatkan oleh perubahan iklim di laut, peningkatan kesuburan perairan
akibat aktivitas industri atau rumah tangga di wilayah pesisir, perubahan pola nutrien di perairan akibat masuknya air dari daratan dalam jumlah yang cukup besar. Fenomena HAB memiliki dampak negatif terhadap kelangsungan ekosistem pesisir, kegiatan perikanan, industri budidaya bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia.(Giri Rohmad Barokah et al,2019) Hasil penelitian yang telah dilaksanakan di Teluk Gerupuk menemukan bahwa rasio fitoplankton HAB sebanyak 36 % dan fitoplankton non HAB sebanyak 64 %.
1. Biologi dan Morfologi Fitoplankton HAB a. Bacillariophyta
Kelas fitoplankton yang termasuk dalam filum Bacillariophyta antara lain, Coscinodiscophyceae, Mediophyceae, dan Bacillariophyceae. Dominasi Bacillariophyceae dalam air pantai dilaporkan dalam sejumlah penelitian, seperti Astrid Wulan Junaedi (2017), Muliyana Ambarwati (2019), dan Noverita D takarina et al (2019). Nontji (2006) menyatakan bahwa Bacillariophyceae adalah kelas fitoplankton yang umum dijumpai di perairan Indonesia dalam jumlah besar. Bacillariophyceae juga fitoplankton paling banyak ditemukan di ekosistem terumbu karang alami dan buatan, perairan PLTU Paiton, (Muliyana Ambarwati, 2019). Di Pandeglang Banten, fitoplankton juga didominasi oleh Bacillariophyceae (Noverita D takarina et al, 2019). Di perairan pesisir laut kota Makassar, fitoplankton jenis skeletonema dari kelas Bacillariophyceae merupakan genus yang
paling melipah (Astrid Wulan Junaidi, 2017). Dalam penelitian Rahmatullah et al (2016) menunjukkan bahwa kelas Bacillariophyceae sebagai kosmopolitan serta memiliki toleransi dan daya adaptasi yang tinggi. Sifat kosmopolitan ini diketahui bahwa Bacillariophyceae mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan disekitarnya dibandingkan dengan kelas lainnya, sedangkan pada penelitian Mirna Dwirastina dan arif wibowo (2015) melaporkan bahwa kelas Bacillariophycae bersifat kosmopolit yang tahan terhadap kondisi ekstrim, mudah beradaptasi dan mempunyai daya reproduksi yang sangat tinggi.
Tingginya kelimpahan diatom juga dapat disebabkan oleh ketersediaan cahaya dan mempunyai sifat eurythermal dan euryhaline, dimana pertumbuhan optimumnya memerlukan suhu pada kisaran 25-30°C, salinitas antara 28 ‰ -30 ‰, serta memerlukan sinar matahari.
Selama penelitian, spesies dari kelas Bacillariophycae ditemukan sebanyak 100 spesies, namun spesies yang paling dominan ialah Chaetoceros sp. hal ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Endah Purnamaningtyas et al yang menyatakan bahwa Chaetoceros sp. merupakan diatom yang paling melimpah diantara diatom lainnya disetiap stasiun yang ditemukan di Teluk Gerupuk.
b. Miozoa
Kelas yang termasuk dalam filum ini ialah Dinophyceae.
Arianto Choirun et al (2015) menyatakan bahwa Kelas Dinophyceae lebih banyak diketemukan daripada kelas Bacillariophyceae. Hal ini dikarenakan kelas Dinophyceae dapat membentuk sista (cysta) sebagai tahap istirahat. Sista ini mengendap di dasar laut dan istirahat sampai kondisi lingkungan mendukung kembali untuk tumbuh, Dinophyceae bersifat prokariotik dan eukariotik. Namun dalam penelitian ini, kelas Dinophycae ditemukan lebih sedikit dibandingkan kelas Bacillariophycae, menurut Pipit Sandra Aprilia (2019) hal ini dikarenakan sebagian besar spesies dari kelas Dinophyceae tumbuh dengan lambat, dan pembelahan ganda terjadi dengan kisaran waktu antara 1-15 hari tergantung dari jenisnya.
Spesies yang termasuk dalam kelas Dinophyceae antara lain Alexandrium catenella, Tripos furca, Ceratium tripos, Ceratium kofoidii, Ceratium macroaros, Prorocentrum lima, Prorocentrum emarginatum, Prorocentrum mexicanum, Prorocentrum convacum, Prorocentrum gracile, Protoperidinium subpyriforme, Protoperidinium steinii, Protoperidinium conicum, Podolampas elegans, Triposolenia bicornis, Anggota spesies dari kelompok Dinophyceae diketahui paling banyak mempunyai spesies-spesies yang bersifat toksik.
c. Cyanophyta
Kelas Cyanophyceae termasuk dalam filum Cyanophyta.
(Nontji, 2007) menyebutkan bahwa kelas Cyanophyceae biasanya jarang dijumpai, (Panda et al, 2012) juga menyatakan bahwa kelas cyanophycae merupakan kelas fitoplankton yang paling sedikit dijumpai.
Pada penelitian sebelumnya di perairan teluk gerupuk, tidak ada spesies fitoplankton yang ditemukan dari kelas cyanophyceae (Sri Endah Purnamaningtyas et al, 2019), sedangkan Rahmatullah et al (2016) melaporkan, diperairan estuari Kuala Rigaih kelas cyanophyceae merupakan kelas dengan kelimpahan terendah yakni hanya 11 spesies.
Spesies yang termasuk dalam kelas cyanophyceae antara lain Lyngbya birgei, Trichodesmium erythraeum, Trichodesmium hildebrandtii, Trichodesmium thiebautii, Trichodesmium lacustre, Merismopedia elegans, Spirulina major, Spirulina subsalsa
2. Komposisi Fitoplankton HAB
Kelimpahan dan konsentrasi fitoplankton dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia seperti suhu, kedalaman, salinitas, pH dan ketersediaan nutrien yang merupakan faktor pembatas produksi fitoplankton di perairan. (sri endah purnamaningtyas et al,2019).
Menurut penelitian Giri Rohmad Barokah et al (2016), fitoplankton yang ditemukan pada musim barat lebih beragam dan
lebih tinggi kelimpahannya dibandingkan pada musim timur. Hal ini disebabkan oleh intensitas hujan yang lebih tinggi pada saat pengambilan sampel di musim timur, sedangkan pada musim barat intensitas hujan relatif rendah. Kondisi ini disebabkan karena pada musim penghujan salinitas, suhu dan penitrasi cahaya yang masuk ke perairan menjadi rendah serta konsentrasi nutrien pada musim penghujan akan lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau, Selain itu tingkat kekeruhan perairan pada musim penghujan juga lebih tinggi karena pengaruh sedimen yang terbawa dari aliran sungai yang masuk ke badan perairan.
Penelitian dari Mirna Dwirastina dan Arif Wibowo (2015) di perairan sungai Manna Bengkulu selatan juga mengatakan bahwa kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi pada bulan Mei karena musim kemarau, proses dekomposisi bahan organik pada musim kemarau terjadi lebih cepat karena masa tinggal air disungai lebih lama, sehingga unsur-unsur hara dapat dimanfaatkan secara optimum oleh fitoplankton untuk tumbuh, arus air juga tidak terlalu deras dan dapat memudahkan penetrasi cahaya matahari masuk kedalam perairan.
3. Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan Dominansi Fitoplankton.
a. Nilai indeks keanekaragaman
Nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominasi dapat digunakan untuk menilai stabilitas komunitas fitoplankton
di lautan (Duarte et al. 2012). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman berkisar antara 1,81 hingga 3,18.
Menurut Rizky Nurdevita Sari (2018), nilai indeks keanekaragaman H' ˃ 3 menunjukkan jenis fitoplankton yang lebih beragam dan memiliki korelasi dengan kondisi lingkungan.
Semakin tinggi indeks keanekaragaman maka semakin baik pula kondisi lingkungannya dan semakin stabil kondisi komunitas biota perairannya.
Nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun 3 yakni 3,18. Sedangkan nilai keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yakni 1,81. (Muliyana Ambarwati, 2019) menyatakan bahwa Perbedaan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton disebabkan karena perbedaan jumlah total individu, selain itu, juga disebabkan oleh kualitas air yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti posisi atau letak stasiun, adanya kegiatan manusia yang mempengaruhi naik turunnya unsur hara (nitrat dan fosfat) yang masuk ke perairan dan faktor alamiah seperti pergerakan arus, angin, dan turbulensi massa air.
Akibat dari penurunan keanekaragaman fitoplankton juga diduga karena adanya kompetensi secara eksklusif antar spesies, akan tetapi pada status trofik yang semakin tinggi dapat menyebabkan turunnya keanekaragaman fitoplankton yang disebabkan oleh stres. Tinggi dan rendahnya nilai keanekaragaman fitoplankton juga dipengaruhi oleh kedangkalan suatu perairan.
Perairan yang dangkal cenderung memiliki nilai keanekaragaman
yang lebih tinggi daripada perairan yang lebih dalam dikarenakan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam perairan dangkal dapat menembus keseluruh badan air hingga dasar perairan. (Pipit Sandra Aprilia, 2019)
b. Nilai indeks kemerataan
Kemerataan adalah gambaran seberapa besar penyebaran kesamaan jumlah individu di tingkat komunitas (Odum 1971).
Nilai indeks kemerataan (E) berkisar antara 0,23 hingga 0,45,.
Nilai indeks kemerataan tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 3 yakni sebesar 0,45 dan 0,44 Ini menunjukkan bahwa penyebaran setiap takson fitoplankton cenderung sama (merata) dan kondisi lingkungan cukup stabil, sedangkan nilai indeks terendah terdapat pada stasiun 2 yakni sebesar 0,23 dan disusul oleh stasiun 1 dan 5 sebesar 0,33 dan 0,39 hal ini menunjukkan bahwa penyebaran setiap takson cukup merata dan kondisi tidak stabil karena mengalami tekanan.(Dash 2001).
c. Nilai indeks dominansi
Indeks dominasi digunakan untuk menentukan apakah ada spesies tunggal yang berhasil mengubah komunitas. Menurut Dash (2001), indeks mendominasi antara nilai 0 dan 1. Jika nilai indeks mencapai 0, itu berarti tidak ada spesies yang menang. Di sisi lain, jika nilai D dapat 1, berarti ada satu spesies yang menang. Nilai indeks dominasi (D) pada stasiun 3 dan 4 ialah 0,05 dan 0,06 yang menunjukkan bahwa tidak ada spesies fitoplankton yang mendominasi. Sedangkan pada stasiun 1,2, dan 5 ialah 0,13,
0,34, dan 0,20 hal ini menunjukkan bahwa struktur komunitas labil karena terjadi tekanan ekologis (stres).
Hal ini berimplikasi pada nilai indeks kemerataan dan juga berdampak pada indeks keanekaragaman fitoplankton, dimana pada stasiun 3 dan 4 nilai indeks keanekaragaman tinggi karena struktur komunitas dalam keadaan stabil sedangkan indeks keanekaragaman pada stasiun 1,2, dan 5 rendah karena adanya tekanan ekologis yang mengakibatkan struktur komunitas labil hal ini diduga disebabkan oleh pergerakan arus yang disebabkan oleh ombak yang tinggi karena stasiun 1, 2, dan 5 yang berada jauh dari pesisir pantai dan beredekatan dengan tempat kegiatan wisata bahari (surfing) sehingga menyebabkan nilai indeks keanekaragaman pada stasiun ini rendah.
4. Korelasi Keberadaan Fitoplankton HAB dan Kualitas Perairan Teluk Gerupuk
Pengelompokan stasiun yang diperoleh menunjukkan ada sebanyak 3 zona. Pengelompokan habitat dibuat berdasarkan indeks keanekaragaman fitoplankton dan 3 zona dihasilkan dari pengelompokan tersebut. Stasiun 3 dan 4 memiliki indeks kesamaan 98,21% dan antara stasiun 1 dan 5 indeks kesamaan adalah 96,90%, sedangkan Stasiun 2 tidak mirip dengan stasiun lain. Zona 1 terdiri dari Stasiun 3 dan 4, zona 2 terdiri dari Stasiun 1 dan 5 dan zona 3 dibentuk dari stasiun 2. Stasiun 2 tidak memiliki kesamaan dengan stasiun lain karena stasiun ini nilai indeks keanekaragamannya