• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harmful Algae Blooms (HABs )

Dalam dokumen biodiversitas fitoplankton yang berpotensi (Halaman 31-37)

BAB I PENDAHULUAN

E. Telaah Pustaka

5. Harmful Algae Blooms (HABs )

a. Pengertian Harmful Algae Bloom

Harmful Algae Blooms (HABs) atau Red tide adalah suatu keadaan air laut maupun air tawar mengalami perubahan warna menjadi merah, merah kecoklatan, merah oranye, ungu, kuning, hijau dan putih akibat dari ledakan populasi fitoplankton toksin (beracun).29 Red tide saat ini lebih dikenal dengan istilah Blooming,fitoplankton menghasilkan toksin dan menyebabkan kematian biota air, menimbulkan perubahan warna air menjadi merah.30

26Nybakken, J. W. “Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis”. Diterjemahkan oleh H.

M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. (Jakarta: PT Gramedia, 1992)

27Arinardi, O.H., Sutomo, A.B. “Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia”. (Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1997)

28 Nontji, A. “Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. (Bogor: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia - Pusat Penelitian Oseanografi, 2006)

29Rizky Nurdevita Sari. Identifikasi Fitoplankton Yang Berpotensi MenyebabkanHarmful Algae Blooms (Habs) Di Perairan Teluk Hurun” (Skripsi, FTK UIN Raden Intan Lampung, 2018),hlm.26.

30 Mujib, A.S., Ario D dan Yusli W. “Spatial distribution of Planktonic dinoflagellate in Makassar Waters, South Sulawesi. Jurnal Perikanan dan Kelautan vol. 3 No, 2012

Hingga saat ini, jumlah fitoplankton penyebab blooming bekisar hingga 50 spesies fitoplankton diantaranya adalah Ptychodiscus brevis, Prorocentrum, Gymnodiniumbreve, Cochlodinium sp., Alexandrium catenella dan Noctiluca Scintillans, dimana hampir sebagian besar kelompoknya terdiri dari kelas dinoflagelata (Dinophyceae) yang dapat menyebabkan kematian massal biota laut, perubahan struktur komunitas ekosistem perairan, bahkan keracunan/kematian pada manusia.31

Salah satu pemicu terjadinya peningkatan blooming adalah pemanasan global dan perubahan cuaca yang ekstrim. Curah hujan dengan intensitas yang tinggi berperan penting dalam menghantarkan unsur hara ke perairan yang dapat memicu eutrofikasi. Perubahan cuaca lokal yang secara spesifik dapat menimbulkan perubahan arah angin yang berdampak terhadap pola arus permukaan perairan, sehingga mempengaruhi pola sebaran blooming. Intensitas cahaya yang memadai serta suhu perairan yang hangat dapat memicu plankton di perairan berkembang pesat sehingga seringkali terjadi kompetisi antar spesies dan terjadi dominasi jenis tertentu.32

di Indonesia sendiri, blooming pertama kali terjadi pada tahun 1983 di Flores, selain itu juga pernah terjadi di Ujung Pandang pada tahun 1987 dan pada bulan Januari 1988 blooming terjadi di

31 Nasir A, Muhammad L dan Nurfadillah. “Ratio of Nutrient and Diatom Dinoflagellatecommunity In Spermonde Waters, South Sulawesi”. Jurnal Perikanan dan Kelautan, Vol 3 No. 1, 2012.

32 Rizky Nurdevita Sari. “Identifikasi Fitoplankton...,hlm.27

Kalimantan Timur. Di Teluk Jakarta juga terjadi peristiwa blooming pada tanggal 31 Juli 1986, pada kejadian ini, beberapa ikan mati mengapung diatas air laut. Awalnya masyarakat beranggapan bahwa hal ini disebabkan oleh pembuangan bahan kimia dan limbah ke laut, akan tetapi peneliti merasa bahwa perairan di Teluk Jakarta mengalami eutrofikasi dan menjadi faktor utama terjadinya blooming.33

Jumlah fitoplankton yang berlebihan disuatu perairan berpotensi menyebabkan kematian massal berbagai biota laut. Hal ini disebabkan karena fitoplankton dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut didalam air, dan dapat memenuhi insang ikan sehingga lendir pembersihnya menggumpal karena fitoplankton yang terlalu banyak dapat menyebabkan ikan sulit bernapas.34

Tabel 2.1. Kelompok, sifat, dan jenis alga berbahaya.

Kelompok Sifat Contoh spesies

Anoxious Kurang berbahaya, ledakan terjadi pada kondisi tertentu; dapat berkembang sangat padat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang drastis dan kematian masal ikan dan verterbrata.

Dinoflagellata

Gonyaulaxpolygramma

Noctilucascintillans

Scrippsiella trochoidea Cyanobacterium

Trichodesmiumerythraeum

33 Sutomo. “Kejadian Red tide dan Kematian Massal Udang Jebbung (Peaneusmurguensis) dan Udang Windu (Peaneusmonodon) dalam Budidaya Jaring Apung di Muara Keramat Kebo, Teluk Naga, Tanggerang”. (Bogor: Puslit Oseanografi LIPI,1993).

34 Rizky Nurdevita Sari. “Identifikasi Fitoplankton...,hlm.28

Kelompok Sifat Contoh spesies Beracun berat: menyebabkan

berbagai macam penyakit perut dan sistem syaraf:

Paralytic ShellfishPoisoning (PSP)

Dinoflagellata

Alexandriumacatenella

Alexandriumcatenella

Alexandriumcohorticula

Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP)

Amnesic Shellfish Poisoning (ASP)

Ciguatera Fishfood Poisoning (CFP)

Alexandrium fundyense

Alexandrium minutum

Alexandrium tamarense

Gymnodinum catenatum

Pyrodinium bahamense var.

Compressum Dinoflagellata

Dinophysis acuta

Dinophysis acuminata

Dinophysis fortii

Dinophysis norvegica

Dinophysis mitra

Dinophysis rotundata

Prorocentrum lima Diatom

Nitzschia

Neurotoxic Shellfish Poisoning (NSP)

Racun Cyanobacterium

pseudodelicama

Nitzschia pungens f.

multiseries

Nitzschia pseudoseriata Dinoflagellata

Gambierdiscus toxicus

Ostreopsis sp.

Prorocentrum sp.

Dinoflagellata

Cochlodinium polykrikoides

Gymnodinium breve Cyanobacterium

Anabaena flos-aquae

Microcytis aeroginosa

Nodularia spumigena

Perusak sistem pernapasan

Tidak beracun, secara fisik mengganggu sistem pernafasan

Diatom

Chaetoceros convolutes Dinoflagellata

Cochlodinium polykrikoides

Gymnodinium mikimotoi Prymnessiophyta

Chrysocromulina polylepis

avertebrata dan ikan karena penyumbatan, terutama di waktu kepadatan tinggi

Chrysocromulina leadbeateri

Prymaesium parvum

Prymaesium patelliferum Raphidophyta

Heterosigma akashiwo Chattonella antique

b. Faktor Penyebab Blooming Fitoplankton

Ada 4 faktor yang dapat menyebabkan terjadinya blooming yaitu:

1. Unsur hara yang berlebihan (eutrofikasi).35 2. Perubahan cuaca yang ekstrim

3. Adanya gejala upwelling

4. Adanya curah hujan yang tinggi yang dapat menyebabkan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.

Keempat faktor tersebut merupakan penyebab terjadinya blooming fitoplankton dari spesies Gymnodiniales yang berwarna merah. Namun, bila ekosistem air kembali seimbang atau normal, spesies ini akan hilang dengan sendirinya. Blooming biasanya terjadi pada perairan pantai dan muara.

Blooming fitoplankton dapat terjadi akibat faktor alam seperti sirkulasi nutrien di perairan, upwelling dan downwelling, masuknya nutrien yang terbawa aliran sungai, peningkatan suhu (saat perubahan

35 Barokah et all. JPB Kelautan dan Perikanan Vol. 11 No. 2. (Jakarta,2016)

musim), dan curah hujan.36 Beberapa Peneliti menyatakan bahwa peningkatan populasi spesies fitoplankton penyebab Harmful Algae Blooms (HABs) berkaitan dengan adanya peningkatan kadar nutrient seperti nitrat, urea, fosfat, silica, senyawa karbon terlarut, senyawa nitrogen yang terlarut dalam air.37

terjadinya blooming C. polykrikoides dikarenakan laju pemanfaatan posfor dan nutrient N meningkat, Peran manusia (anthropogenic effect) dan pengkayaan unsur hara dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan munculnya fenomena Harmful Algae Blooms (HABs) dari spesies C. Polykrikoides.38

Dalam dokumen biodiversitas fitoplankton yang berpotensi (Halaman 31-37)

Dokumen terkait